Makalah

Blog ini berisi berbagai macam makalah kuliah.

Perangkat Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Modul Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Skripsi

Masih dalam pengembangan.

Lain-lain

Masih dalam pengembangan.

Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Aliran Etika dan Akhlak

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kedudukan akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang penting, sebagai individu maupun masyarakat dan bangsa, sebab jatuh bangunnya suatu masyarakat tergantung kepada bagaimana akhlaknya. Apabila akhlaknya baik, maka sejahteralah lahir batinnya, apabila akhlaknya rusak, maka rusaklah lahir dan batinnya. .....

Ilmu akhlak merupakan bagian dari ilmu agama yang perlu dipelajari dan dikuasai. Berangkat dari keingintahuan tentang berbagai aliran akhlak maka kami menulis makalah berjudul “Aliran Etika dan Akhlak”. Saya memilih judul ini karena aliran dalam akhlak ini sangat banyak macamnya.
B.    Batasan Masalah
Yang menjadi batasan dalam penulisan makalah ini adalah mengenai beberapa aliran-aliran dalam filsafat serta perbandingannya terhadap akhlak Islam.
C.    Rumusan Masalah
Yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1.    Apa pengertian akhlak?
2.    Kenapa akhlak Islam harus ada?
3.    Kapan kita harus menerapkan akhlak Islam itu?
4.    Siapa saja yang harus memahami akhlak Islam itu?
5.    Bagaimana kita menerapkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari?

D.    Tujuan Penulisan
Makalah ini dimaksudkan untuk membahas tentang berbagai aliran dalam akhlak dan juga untuk memenuhi tugas mata kuliah Al-Islam II. Serta penulis dapat sedikit berbagai pemikiran dengan para pembaca sekalian.  
E.    Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan, membahas mengenai latar belakang penulisan, batasan masalah, rumusan masalah, tujuan, dan sistematika.
Bab II Pembahasan, membahas Perbandingan Akhlak dan Etika, Aliran Ajaran Islam, dan Pengertian Akhlak dan Etika
Bab III Penutup, bab ini membahas tentang kesimpulan dari pembahasan makalah ini.


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akhlak dan Etika
Secara etimologis, akhlak berasal dari bahasa Arab, jama’ah dari khuluqun artinya budi pekerti, tingkah laku, tabi’at, dan lain-lain. Akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terpuji dan yang tercela, baik perkataan maupun perbuatan manusialahir dan batin (Hamzah Ya’qoub).
Dikatakan pula, akhlak adalah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengerjarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mereka yang terakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.
Sedangkan etika ialah ilmu tentang tingkah laku manusia, prinsip-prinsip yang sistematis tentang tindakan moral yang betul, bagian filsafat yang memperkembangkan teori tentang tindakan, hujah-hujahnya dan tujuannya yang diarahkan kepada makna tindakan.
 Dengan kata lain, etika adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan perbuatan buruk manusia sejauh yang dapat dipahami oleh pikiran manusia. Untuk mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian baik dan buruk bagi semua manusia dalam ruang dan waktu tertentu. Sesuatu hal dikatakan baik bila ia mendatangkan rahmat dan memberikan perasaan senang atau bahagia. (Sesuatu dikatakan baik bila ia dihargai secara positif). Segala yang tercela. Perbuatan buruk berarti perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku.
Kriteria perbuatan baik atau buruk yang akan diuraikan di bawah ini sebatas berbagai aliran atau faham yang pernah dan terus berkembang sampai saat ini. Khusus penilaian perbuatan baik dan buruk menurut agama, adat kebiasaan, dan kebudayaan tidak akan dibahas disini.
1.    Aliran Etika Naturalisme
Aliran ini berpendirian bahwa sesuatu dalam dunia ini menuju kepada suatu tujuan dengan memenuhi panggilan nature/alam setiap sesuatu akan dapat sampai kepada kesempurnaan. Yang menjadi ukuran baik dan buruknya perbuatan manusia adalah perbuatan yang sesuai dengan fitrajh / naluri manusia itu sendiri.
Yang menjadi ukuran baik atau buruk adalah :”apakah sesuai dengan keadaan alam”, apabila alami maka itu dikatakan baik, sedangkan apabila tidak alami dipandang buruk. Jean Jack Rousseau mengemukakan bahwa kemajuan, pengetahuan dan kebudayaan adalah menjadi perusak alam semesta.
2.    Aliran Etika Hedonisme
Aliran hedonisme berpendapat bahwa aliran baik dan buruk adalah kebahagiaan karenanya suatu perbuatan dapat mendatangkan kebahagiaan maka perbuatan itu baik dan sebaliknya perbuatan itu buruk apabila mendatangkan penderitaan.
Menurut aliran ini, setiap manusia selalu menginginkan kebahagiaan yang merupakan dorongan daripada tabiatnya dan ternyata kebahagiaan merupakan tujuan akhir dari hidup manusia, oleh karenanya jalan yang mengantarkan ke arahnya dipandang sebagai keutamaan (perbuatan mulia / baik).
Maksud dari kebahagiaan dari aliran ini adalah hedone, yakni kelezatan, kenikmatan, dan kepuasan rasa serta terhindar dari penderitaan. Ada juga yang mengartikan kelezatan adalah ketentraman jiwa yang berarti keimbangan badan.
Oleh karena itu,menurut aliran ini kelezatan merupakan ukuran dari perbuatan, jadi perbuatan dipandang baik menurut kadar kelezatan yang terdapat pada perbuatan yang dilakukan seseorang dan sebaliknya perbuatan itu buruk menurut kadar penderitaan yang ada pada diri seseorang tersebut.
Aliran hedonisme, bahkan tidak hanya mengajarkan agar manusia mencari kelezatan, karena pada dasarnya tiap-tiap perbuatan ini tidak sunyi dari kelezatan tetapi aliran ini justru menyatakan hendaklah manusia itu mencari sebesar-besar kelezatan, dan seandainya dia disuruh memilih diantara beberapa perbuatan wajib ia memilih yang paling besar kelezatannya.
Maksud paham ini adalah manusia hendaknya mencari kelezatan sebesar-besarnya. Dan setiap perbuatannya diarahkan pada kelezatan. Jika terjadi keraguan dalam memilih suatu perbuatan harus diperhitungkan banyak sedikitnya kelezatan dan kepedihannya. Sesuatu yang baik apabila diri seorang yang melakukan perbuatan mengarah kepada tujuan.
Aliran hedonisme terbagi menjadi dua, yaitu:
a.    Egoistic Hedonisme
Dalam aliran ini dinyatakan bahaw ukuran kebaikan adalah kelezatan diri pribadi orang yang berbuat. Karena itu, dalam aliran ini mengharuskan kepada para pengikutnya agar mengerahkan segala perbuatannya untuk mengahasilkan kelezatan tersebut yang sebesar-besarnya.
b.    Universalistic Hedonisme
Aliran ini mendasarkan ukuran baik dan buruk pada “kebahagiaan umum”. Aliran ini mengharusakan agar manusia dalam hidupnya mencari kebahagiaan yang sebesar-besarnya untuk sesama manusia dan bahkan pada sekalian mahkluk yang berperasaan. Jadi baik buruknya sesuatu didasarkan atas ada kesenangan atau tidaknya sesuatu itu bagi umat manusia. Kalau memang sesuatu itu lebih banyak kelezatannya dan membawa kemanfaatan maka hal itu baik tapi sebaliknya kalau membawa akibat penderitaan maka hal itu berarti buruk.
3.    Aliran Etika Utilitarisme
Paham ini berpendapat bahwa yang baik adalah yang bermanfaat hasilnya dan yang buruk hasilnya tidak bermanfaat. Manfaat disini adalah kebahagiaan untuk sebanyak-banyak manusia dari segi jumlah atau nilai.
Maksud dari paham ini adalah agar manusia dapat mencari kebahagiaan sebesar-besarnya untuk sesama manusia atau semua mahkluk yang memiliki perasaan.
Kelezatan menurut paham ini bukan kelezatan yang melakukan perbuatan itu saja tetapi kelezatan semua orang yang ada hubungannya dengan perbuatan itu. Wajib bagi si pembuat dikala menghitung buah perbuatannya, jangan sampai berat sebelah darinya tetapi harus menjadikan sama antara kebaikan dirinya dan kebaikan orang lain.
4.    Aliran Etika Idealisme
Aliran Idealisme dipelopori oleh Immanuel Kant (1724-1804) seorang berkebangsaan Jerman. Pokok-pokok pandangan etika idealisme dapat disimpulkan sebagai berikut:
a.    Wujud yang paling dalam arti kenyataan (hakikat) ialah kerohanian. Seorang berbuat baik pada prinsipnya bukan karena dianjurkan oleh orang lain melainkan timbul dari dirinya sendiri dan rasa kewajiban.
b.    Faktor yang paling penting mempengaruhi manusia adalah “kemauan” yang melahirkan tindakan konkret dan menjadi pokok di sini adalah “kemauan baik”.
c.    Dari kemauan yang baik itulah dihubungkan dengan sesuatu hal yang menyempurnakannya yaitu “rasa kewajiban”.
Menurut aliran ini “kemauan” merupakan faktor terpenting dari wujudnya tindakan-tindakan yang nyata. Kemauan perlu disempurnaka dengan perasaan kewajiban agar terwujud tindakan yang baik.
5.    Aliran Etika Vitalisme
Perbuatan baik menurut aliran ini adalah orang yang kuat, dapat memaksakan dan menekankan kehendaknya. Agar berlaku dan ditaati oleh orang-orang yang lemah. Manusia hendaknya mempunyai daya hidup atau vitalita untuk menguasai dunia dan keselamatan manusia tergantung daya hidupnya.
Aliran ini merupakan bantahan terhadap aliran naturalism sebab menurut faham vitalisme yang menjadi ukuran baik dan buruk itu bukan alam tetapi “vitae” atau hidup (yang sangat diperlukan untuk hidup). Aliran ini terdiri dari dua kelompok yaitu (1) vitalisme pessimistis (negative vitalistis) dan (2) vitalisme optimistis. Kelompok pertama terkenal dengan ungkapan “homo homini lupus” artinya “manusia adalah serigala bagi manusia yang lain”. Sedangkan menurut aliran kedua “perang adalah halal”, sebab orang yang berperang itulah (yang menang) yang akan memegang kekuasaan. Tokoh terkenal aliran vitalisme adalah F. Niettsche yang banyak memberikan pengaruh terhadap Adolf Hitler.
6.    Aliran Etika Teologi
Aliran ini menyatakan bahwa baik dan buruknya perbuatan sekarang tergantung dari ketaantan terhadap ajaran Tuhan lewat kitab sucinya. Hanya saja aliran ini tidak menyebutkan dengan jelas Tuhan dan Kitab sucinya.
Yang menjadi ukuran baik-buruknya perbuatan manusia adalah didasarkan kepada ajaran Tuhan. Segala perbuatan yang diperintah Tuhan itu perbuatan yang baik dan segala perbuatan yang dilarang oleh Tuhan itu perbuatan buruk.

B.    Aliran Ajaran Islam
Menurut paham ini bahwa penentuan baik dan buruk dalam ajaran Islam harus didasarkan pada petunjuk Al-Quraan dan As-Sunnah. Ada beberapa istilah yang mengacu kepada yang baik, diantaranya Al-Khair lawannya As-Syarr.
Adanya berbagai istilah yang demikian variatif yang diberikan Al-Quran dan Al Hadis itu menunjukan bahwa penjelasan sesuatu yang baik menurut ajaran agama Islam jauh lebih lengkap dan komprehensif karena meliputi kebaikan yang bermanfaat bagi akal, ruhani, jiwa, kesejahteraan di dunia dan akhirat, serta akhlak yang mulia.
Dalam persoalan akidah (tauhid, kalam, teologi) ada aliran mu’tazilah yang hampir sama dengan paham rasionalisme. Meskipun aliran mu’tazilah berpendapat bahwa persoalan baik dan buruk bisa diketahui oleh akal, tetapi aliran ini juga setuju bahwa mengenal dan bersyukur atas nikmat yang diberi Alloh adalah wajib. Mu’tazilah juga tetap berpegang pada firman Alloh dan sabda Rasulnya.
Kebenaran itu sangat subjektif dan bermacam-macam. Benar menurut ilmu hitung berlainan dengan benar menurut ilmu politik Demikian pula benar menurut seseorang berlainan dengan benar menurut yang lainnya berdasarkan kepentingannya. Sehingga kebenaran bersifat relative.
Meskipun begitu secara objektif kebenaran itu hanya ada satu, tak ada dua kebenaran yang bertentangan. Bila ada dua kebenaran yang bertentangan, pasti salah satunya saja yang benar atau kedua-duanya salah. Secara objektif peraturan juga hanya satu dan tak mungkin mengandung hal-hal yang bertentangan didalamnya. Pada hakikatnya yang benar itu pasti dan hanya satu. Kebenaran yang pasti adalah kebenaran yang didasarkan pada peraturan yang dibuat Alloh Swt, Dzat Yang Maha Esa.
C.    Perbandingan Akhlak dan Etika
Akhlak merupakan sebuah wahyu dari Allah dan bersifat mutlaq tidak dapat di rubah-rubah. Sedangkan etika merupakan sebuah dasar pikiran manusia yang bersifat relatif sehingga bisa berubah-ubah, tapi jika jika etika tersebut merupakan hasil dari izma-izma para ulama bisa bersifat mutlaq.
Persamaan akhlak dengan etika adalah karena keduanya membahas masalah baik dan buruk, tentang tingkah laku manusia, serta bertujuan agar manusia mempunyai budi perkerti yang baik.
Sedangkan yang menjadi perbedaanya, rujukan akhlak adalah Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Karena bersumber dari dari Al-Qur’an dan sunnah Rasul, mutlak kebenarannya. Sedangkan etika merupakan cabang dari filsafat, filsafat tingkah laku,. Dasar filsafat adalah akal budi pekerti manusia, karena dasarnya adalah pikiran , maka kebenarannya nisbi, relatif.
Akhlak berkaitan dengan keyakinan seorang muslim terhadap nilai-nilai keimanannya, sedangkan etika tidak demikian. Akhlak berlaku universal sedangkan etika berlaku parsial.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Aliran dalam akhlak ternyata sangat beragam diantaranya yaitu Aliran Hedonisme, Aliran Utilitarianisme, Aliran Idealisme, Aliran Naturalisme, Aliran Theologis, Aliran Vitalisme, dan masih banyak lagi aliran-aliran yang lainnya.
Yang menjadi pembeda antara akhlak dengan etika adalah akhlak merupakan sebuah wahyu dari Allah dan bersifat mutlaq tidak dapat di rubah-rubah. Sedangkan etika merupakan sebuah dasar pikiran manusia yang bersifat relatif sehingga bisa berubah-ubah, tapi jika jika etika tersebut merupakan hasil dari izma-izma para ulama bisa bersifat mutlaq.
Oleh karena itu kita harus bisa menjadi seseorang yang bisa mengikuti Al-Quran dan Al- Hadist dan mentauladani nabi Muhamad SAW. Supaya kita tidak menjadi orang-orang yang salah lagkah.

DAFTAR PUSTAKA

Gandaatamaja, Muhtar, Ahmad Saefurrizal. 2000: Kuliah Al-Isla Akidah, Syari’ah, dan Akhlak. Lembaga Pendidikan dan Dakwah Al-Hikmah. Bandung.
www.google.com  
www.wikipedia.com

makalah Akhlak dan tasawuf

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Baik dan buruk merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Kita

misalnya mengatakan orang itu baik dan orang itu buruk. Masalahnya apakah yang disebut baik dan buruk itu? Dan apa ukuran atau indicator yang dapat digunakan untuk menilai pebuatan itu baik atau buruk? Dan apakah baik dan buruk itu merupakan sesuatu yang mutlak atau relative? Dan bagaimana pandangan islam terhadap baik dan buruk berikut hal-hal yang tekait dengan keduanya itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dicarikan jawabannya sehingga pada saat kita menilai sesuatu itu baik atau buruk memiliki patokan atau indicator yang pasti. Untuk itu pada makalah ini akan dibahas pengertian baik dan buruk, ukuran untuk menilai baik dan buruk, sifat baik dan buruk, serta pandangan islam mengenai baik dan buruk. Pembahasan masalah ini kita masukkan disini karena berkaitan dengan pembahasan tentang akhlak, sehingga dikatakan bahwa ilmu akhlak ini membahas tentang tingkah laku dan perbuatan manusia dan menetapkannya baik atau buruk.


B. Tujuan
Untuk mengetahui masalah yang disebut baik dan buruk, indicator yang dapat digunakan untuk menilai  baik dan buruk dan pandangan islam terhadap baik dan buruk.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian baik dan buruk
Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khair dalam bahasa arab, atau good dalam bahasa inggris. Louis Ma'luf dalam kitabnya, Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan (Louis Ma'luf,Mujid,(Beirut:al-Katatulikiyah,t.t),hlm.198.).. Sementara itu dalam Websters New Twentieth century dictionary, dikatakan bahwa baik adalah suatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya (Webster's New Twentieth Century Dictionary , hlm .789.). Selanjutnya yang baik itu juga adalah suatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan yang memberikan kepuasan (Hombay, AS., EU Gaterby, H.Wakefield,The Advance leaner's Dictionary Of Current English, (London:Oxford University Dictionary , hlm.401).Yang baik itu juga dapat diartikan sesuatu yang sesuai dengan keinginan(Webster's World University Dictionary, hlm.401.). Dan disebut baik itu juga dapat pula berarti sesuatu yang mendatangkankan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia (Ensiklopedi Indonesia, Bagian I, hlm.362.). Dan selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa secara umum bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu yang diiginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik, jika tingkah laku tersebut menuju kesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang kongkret (Achmad Charris Zubair, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990), cet.II, hlm.81.).. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa yang disebut baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Definisi kebaikan tersebut terkesan antroposentris, yakni memusat dan bertolak dari sesuatu yang menguntungkan dan membahagiakan manusia.

Mengetahui sesuatu yang baik sebagaimana yang disebutkan diatas akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk. Dalam bahasa arab, istilah buruk dikenal dengan syarr, dan diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik, tidak seperti yang seharusnya, tak sempurna dalam kwalitas, dibawah standar, kurang dalam nilai, tak mencukupi, keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, yang tercela dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian yang dikatakan buruk adalah suatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik dan tidak disukai kehadirannya.


B. Penentuan baik dan buruk
1. Baik buruk menurut aliran adat istiadat (sosialisme)
Menurut aliran ini baik buruk ditentukan berdasarkan adapt istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh masyarakat. Orang yang mengikuti adapt dipandang baik dan yang menentang dianggap buruk, dan perlu dihukum secara adat.

Ahmad Amin mengatakan bahwa setiap bangsa menpunyai adat dan menganggap baik jika, mengdidik anak-anaknya secara adat istiadat, menanamkan perasaan mereka bahwa adat akan membawa kepada kesucian sehingga apabila seseorang menyalahi adat sangat dicela dan dianggap keluar dari golongan bangsanya (Asmaran As, op. cit, hlm.30.).

Didalam masyarakat kita jumpai adat istiadat ang berkenaan dengan cara berpakaian, makan, minum, cakap-cakap, dan sebagainya. Orang yang mengikuti cara yang demikian itulah yang dianggap baik. Kelompok yang menilai baik dan buruk berdasarkan adat istiadat ini dalam tinjauan filsafat dikenal dengan istilah aliran sosialisme.

2. Baik buruk menurut aliran Hedonisme
Aliran Hedonisme adalah aliran filsafat yang terhitung tua karena berakar pada filsafat yunani, khususnya pemikiran filsafat Epicurus ( 341-270 SM), yang selanjutnya dikembangkan oleh cyrenics dan belakangan ditumbuh kembangkan oleh Freud (Ahmad Amin, loc. Cit,. hlm.92; Poedjawijatna,loc,.cit., hlm.44.).

Paham ini menyatakan perbuatan baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan nafsu biologis. Epicurus sebagai peletak dasar paham ini mengatakan bahwa kebahagian atau kelezatan itu adalah tujuan manusia. Tidak ada kebaikan dalam hidup selain kelezatan dan tidak ada keburukan kecuali penderitaan.

Hedonisme model pertama yang individualistik lebih banyak mewarnai masyarakat barat yang bercorak liberal dan kapitalis, sementara hedonisme model kedua yang sosialistik banyak mewarnai masyarakat eropa yang komunis.

3. Baik dan buruk menurut paham intuisisme (humanisme)
Intuisi adalah kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk. Dengan sekilas tampa melihat buah atau akibatnya9. Kekuatan batin atau yang disebut juga sebagai kata hati adalah merupakan potensi rohaniah yang secara fitrah telah ada pada diri setiap orang. Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusia mempunyai kekuatan instinct batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang10. Kekuatan batin ini terkadang berbeda refleksinya, karena pengaruh masa dan lingkungan, akan tetapi pada dasarnya ia tetap sama dan berakar pada tubuh maanusia. Apabila ia melihat suatu perbuatan, ia mendapat semacam ilham yang dapat memberitahu nilai perbuatan itu, lalu menetapkan hukum baik dan buruknya. Oleh karna itu kebanyakan manusia sepakat mengenai keutamaan seperti benar, dermawan, berani dan mereka juga sepakat menilai buruk terhadap suatu perbuatan yang salah, kikir dan pengecut.

Poedjawijatna mengatakan bahwa menurut aliran ini yang baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia, yaitu kemanusiaannya cenderung kepada kebaikan. Penentuan terhadap baik buruknya tindakan yang kongkret adalah perbuatan yang sesuai dengan kata hati orang yang bertindak. Dengan demikian ukuran baik buruk suatu perbuatan menurut paham ini adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia, dan tidak menentang atau mengurangi keputusan hati (Poedjawijatna, op, cit.,hlm.49). Secara batin setiap orang pasti tidak akan dapat membohongi kata hatinya.jika suatu ketika seseorang yang mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya, hal yang demikian hanya dapat dilakukan atau ditrima oleh ucapannya, tetapi kata hatinya tetap tidak mengakui kebohongan itu.

4. Baik dan buruk menurut paham Utilitarianisme
Secara harfiah berarti berguna. Menurut paham ini bahwa yang baik adalah yang berguna.Jika ini berlaku bagi perorangan,disebut individual,dan jika berlaku bagi masyarakat dan Negara disebut social.

Pada masa sekarang ini,kemajuan dibidang teknik cukup meningkat,dan kegunaanlah yang menentukan segala-galanya.Namun demikian paham ini cenderung ektrim dan melihatkegunaan hanya dari sudut pandang materialistik.Kegunn bisa diterima jika hal-hal yang digunakan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.Nabi misalnya menilai orang yang baik adalah memberi manfaat bagi yang lainnya.( HR.Bukhari).

5. Baik buruk menurut paham Religiosisme.
Menurut paham ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak tuhan,sedangkan perbuatan buruk adalah sebaliknaya.Dalam paham ini keyakianan teologis,yakni keimanan kepada tuhan memegang peranan penting,karna tidak mungkin orang mau babuat sesui dengan kehendak tuhan jika bersangkutan tidak beriman kepadaNya.

Diketahui didunia ini terdapat bermacam-macam agama ,dan masing-masimg menentuken bik dan buruk menurut ukurannya masing-masing.Agama Hindu,Budha,Yahudi,Kristen dan Islam misalnya ,masing-masing memiliki tolak ukur tentang baik dan buruk yang dengan yang lainnya berbeda-beda.


C. Sifat Dari Baik Dan Buruk
Sifat dan corak baik buruk yang didasarkan pada pandangan filsafat adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri,yakni berubah dan tidan universal.Nilai baik dan buruk bersifat relative.

Sifat baik dan buruk berguna sesui zamannya ,dan ini dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan ketentuan baik dan burukyang terdapat dalam ajaranAhlak yang besumber dari ajaran islam.


D. Baik Buruk Menurut Ajaran Islam.
Ajaran islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah S.W.T.,menurut ajran agama islam penentuan baiak dan buruk harus didasarkan pada Al-quran dan Hadist.Didalam Al-quran maupun hadist banyak dijumpai istilah yang mengcu pada yang baik dan yang buruk. Diantara istilah yang mengacu pada hal yang baik misalnya al-hasanah,thayyibah,khair,mahmudah ,karimah dan al-birr.

1. Al-hasanah
Al-Raghib Asfahani mengemukakan bahwa sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau yang dipandang baik adalah hasanah.Hasanah  dibagi menjadi tiga ,pertama hasnah dari segi akal,kedua hasnah dari segi nafsu/keinginan dan hasanah dari panca indra (Al-Raghib al-Asfahani, Mu'jam Mufradat al-fadz al-Qur'an, (Beirut:Dar al-Fikr, t.t.).hlm.117.). Lawan dari hasanah adalah Al-sayyiah. Yang termasuk hasanah mislnya keuntungan,kelapangan rezeki dan kemenangan.

2. Al-thayyibah
Kata Al-thayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatuyang memberikan kelezatan kepada panca indra dan jiwa,seperti makanan ,pakaian,dan tempat tinggal dan sebagainya (Ibid., hlm.321.). Lawan dari Al-thayyibah adalah Al-qhabibah yang artinya buruk.

3. Al-khair
Kata Al-khair digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baikoleh seluruh umat manusia,seperti berakal,adil,keutamaan dan segala sesuatu yang ber manfaat.Lawannya adalah Al-syarr (Ibid., hlm. 163.).

4.Karimah
Kata Al-karimah digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan ahlak yang terpuji yang ditampakkan pada kehidupan sehari-hari (Ibid., hlm. 446.).Selanjutnya kata karimah biassa digunakan untuk menunjukkan perbuatan yang terpuji yang sekalanya besar,seperti menafkahkan hartanya dijalan Allah dan berbuat baik pada orang tua.

5. Al-mahmudah
Kata ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utamasebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai Allah SWT (Ibid., hlm. 163.). Dengan demikian kata Al-mahmudah lebih menunjukkan pada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual.

6.Al-birr
Kata Al-birr digunakan untuk menunjukkan pad upaya memperluas melakukan perbuatan yang baik.Kata tesebut terkadang digunakan sebagai sifat Allah dan terkadang juga untuk manusia.Jika kata tersebut diguanakan untuk sifat Allah ,maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan pahala yang besar,dan jika digunakan untuk manusia , maka yang dimaksud adalah ketaatannya (Ibid., hlm. 37.).


DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad, Etika (ilmu ahlak),(ter.) Farid Ma'ruf,dari judul asli al- Akhlaq, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983),cet.III.
Asfahani,al-Raghib,Mu'Jam Mufradat Alfadz Al-Qur'an,(Beirut:Dar al-Fikr,t,t.).
Charis Zubair, Ahmad, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990)cet II.
Nata, Abuddin, MA,,Dr.H, Aklak Tasawuf, JAKARTA, PT Raja Grafindo Jakarta, 2002

baik dan buruk dari berbagai aliran

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Baik dan buruk adalah persoalan yang pertama kali muncul di kalangan para filsuf Yunani. Persoalan ini pula yang menjadi pembicaraan utama dalam kajian ilmu akhlak dan ilmu estetika. Sebelum membahas lebih dalam tentang baik dan buruk alangkah baiknya untuk memahami kedua istilah tersebut yaitu baik dan buruk. Istilah baik dan buruk merupakan dua kata yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia.
Bahkan, setiap filsuf hampir mebicarakan persoalan ini, terutama para filsuf dari kalangan Marxisme. Di kalangan para teolog, persoalan ini memunculkan perdebatan yang sengit diantara aliran – aliran. Mu’tazilah, umpanya, berpendapat bahwa akal manusia mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Ini berbeda dengan aliran Ahlus Sunnah wa Jamaah, diantaranya Asy’ariyyah. Mereka berpendapat bahwa penentu baik dan buruk mutlak merupakan otoritas wahyu, bukan domain akal.
Pembicaraan mengenai baik dan buruk penting karena dua alasan. Pertama, persoalan ini menjadi pembahasan utama ilmu akhlak sekaligus menjadi inti keberagaman seseorang. Kedua, mengetahui pandangan Islam tentang persoalan ini di tengah maraknya berbagai aliran yang memperbincangkan persoalan ini.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian baik dan buruk ?
2.      Apa saja aliran baik dan buruk ?
3.      Bagaimana sifat baik dan buruk ?
4.      Apa saja ruang lingkup baik dan buruk ?

C.     Tujuan Pembahasan
1.      Untuk mengetahui pengertian baik dan buruk.
2.      Untuk mengetahui aliran baik dan buruk.
3.      Untuk mengetahui sifat baik dan buruk.
4.      Untuk mengetahui ruang lingkup baik dan buruk.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN BAIK DAN BURUK
Pengertian baik secara bahasa adalah terjemahan dari kata khoir dalam bahasa Arab, atau good dalam bahasa Inggris. Louis Ma`luf dalam kitab Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan[1]. Selanjutnya, yang baik itu juga adalah sesuatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan dan memberikan kepuasan. Yang baik itu juga sesuatu yang sesuai dengan keinginan.[2] Dan yang disebut baik itu adalah sesuatu yang mendatangkan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia. Adapula pendapat bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu yang diinginkan, diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik, apabila hal tersebut menuju kesempurnaan manusia. Sedangkan kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang kongkrit.
Dari beberapa kutipan diatas, menggambarkan bahwa yang disebut baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Dengan mengetahui sesuatu yang baik, maka akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk. Dalam bahasa Arab, yang buruk itu dikenal dengan istilah syarr. Dan diartikan dengan sesuatu yang tidak baik, tidak seperti yang seharusnya, tak sempurna dalam kualitas, dibawah standar, kurang dalam nilai, keji jahat, tidak bermoral dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat  yang berlaku. Dengan demikian yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik.
Definisi diatas, memberikan kesan bahwa sesuatu yang disebut baik atau buruk itu relatif sekali, karena tergantung pada pandangan dan penilaian masing-masing yang merumuskan. Dengan demikian nilai baik atau buruk menurut pengertian tersebut bersifat relatif dan subyektif, karena bergantung kepada individu yang menilainya.[3]

Dalam mendefinisikan baik buruk, setiap orang pasti berbeda- beda. Sebab sumber penentu baik dan benar, yaitu Tuhan dan manusia, wahyu dan akal, agama dan filsafat.
B.     Beberapa Aliran Baik dan Buruk
Perkembangan pemikiran manusia selalu berubah, begitu juga patokan yang digunakan orang untuk menentukan baik dan buruk manusia. Keadaan yang demikian ini menurut Poedjawijatna terpengaruh oleh pandangan  filsafat tentang manusia yaitu antropologia metafisika. Beliau menyebutkan sejumlah pandangan filsafat yang digunakan dalam menilai baik dan buruk, yaitu hedonisme, utilitarianisme, vitalisme, sosialisme, religiosisme dan humanisme.[4] Sedangkan Asmaran As. Menyebutkan ada empat aliran filsafat  yaitu adat kebiasan, hedonisme, intuisi, dan evolusi[5].
Beberapa kutipan tersebut diatas saling melengkapi dan dapat disimpulkan bahwa diantara aliran-aliran filsafat yang mempengaruhi dalam penentuan baik dan buruk ini adalah aliran adat istiadat, hedonisme, intuisisme (humanisme), utilitarianisme, vitalisme, religiousisme, dan evolusisme. Dari berbagai kutipan tersebut diatas beberapa aliran filsafat yang mempengaruhi pemikiran akhlak dapat dikemukakan secara ringkas berikut ini.;
1.      Baik dan Buruk Menurut Aliran Adat Istiadat (Sosialisme)
Baik dan buruk menurut aliran ini ditentukan berdasarkan adat istiadat yang berlaku dan dipegangi oleh masyarakat. Orang yang mengikuti dan berpegang teguh pada adat dipandang baik, dan orang yang menentang tidak mengikuti adat-istiadat dipandang buruk dan mendapat hukuman secara adat. Adat istiadat selanjutnya dipandang sebagai pendapat umum. Ahmad Amin mengatakan bahwa tiap bangsa atau daerah mempunyai adat tertentu mengenai baik dan buruk.[6]
Di masyarakat akan kita jumpai adat-istiadat yang berkenaan dengan cara berpakaian, makan, minum dan sebagainya. Orang yang mengikuti cara yang demikian itulah yang dianggap orang baik, dan orang yang mengingkarinya adalah orang yang buruk. Kelompok yang menilai baik dan buruk menurut adat ini dalam pandangan filsafat di kenal dengan aliran sosialisme. Paham ini muncul dari anggapan karena masyarakat itu terdiri dari manusia, maka masyarakatlah yang menentukan nilai  baik dan buruk perbuatan manusia itu sendiri. Karena hakikat dari adat itu sendiri sebenarnya adalah produk budaya manusia yang sifatnya nisbi dan relatif, maka nilai baik dan buruk tersebut juga sangat relatif juga.
2.      Baik & Buruk Menurut Aliran Hedonisme
Aliran ini adalah aliran filsafat yang bersumber pada pemikiran filsafat Yunani Kuno. Terutama pemikiran filsafat Epicurus (341-270 SM), kemudian dikembangkan oleh Cyrenics, berikutnya dikembangkan oleh Freud.[7] Menurut paham ini, bahwa perbuatan yang baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kelezatan, kenikmatan dan kepuasan nafsu biologis.
Aliran ini tidak mengatakan bahwa semua perbuatan mengandung kelezatan, melainkan ada pula yang mendatangkan kepedihan atau kesengsaraan. Epicurus sebagai peletak dasar paham ini mengatakan bahwa kebahagiaan atau kelezatan itu adalah tujuan semua manusia hidup didunia. Tidak ada kebaikan dalam hidup selain kelezatan dan tidak ada keburukan kecuali penderitaan. Sedangkan akhlak adalah berbuat untuk menghasilkan kelezatan, kemulyaan, dan kebahagiaan. Keutamaan tidak mempunyai nilai tersendiri, melainkan nilainya terletak pada kelezatan yang mengiringinya.
Disini, Epicurus lebih mementingkan kelezatan akal dan rohani daripada kelezatan badan. Yang dapat merancang dan merencanakan kelezatan itu adalah akal dan jiwa (rohani). Oleh karena itu kelezatan akal dan jiwa lebih lama dan lebih kekal daripada kelezatan badan. Tahap berikutnya, paham Hedonisme ada dua corak, yaitu pertama individual, kedua, universal. Pertama, berpendapat bahwa yang dipentingkan terlebih dahulu adalah mencari kelezatan dan kepuasan sebesar-besarnya untuk dirinya sendiri (individualistik). Kedua, memandang bahwa perbuatan yang baik itu adalah yang mementingkan kebahagiaan untuk kebutuhan sesama manusia atau orang banyak bahkan semua makhluk yang berperasaan. Sejalan dengan paham ini, maka perbuatan yang dianggap baik dan utama apabila perbuatan itu menghasilkan kebahagiaan bersama. Berlaku benar misalnya menjadi utama karena ia menghasilkan kebahagiaan bagi masyarakat dan kita dapat mempercayai orang lain, karena orang tersebut menunjukkan sikap yang benar.
3.      Baik dan Buruk Menurut Paham Intuisisme (Humanisme)
Intuisi adalah kekuatan batik yang dapat menetukan sesuatu baik atau buruk dengan sekilas tanpa melihat buah atau akibatnya. Kekuatan batin atau suara hati adalah merupakan potensi rohaniah yang secara fitrah telah ada pada diri manusia. Paham ini berpendapat bahwa setiap manusia mempunyai kekuatan insting batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang. Kekuatan batin kadang berbeda refleksinya, karena pengaruh masa, tempat dan lingkungan. Akan tetapi dasarnya tetap sama dan berakar pada tubuh manusia. Misal, apabila ia melihat suatu perbuatan, maka ia mendapat semacam ilham atau petunjuk yang dapat memberi tahu nilai perbuatan itu, lalu menetapkan hukum baik dan buruknya. Oleh karena itu, manusia sepakat tentang keutamaan seperti benar, dermawan, berani. Mereka juga sepakat menilai buruk terhadap perbuatan yang salah, pendusta, dan pengecut.
Kekuatan batin adalah merupakan kekuatan yang telah ada dalam diri jiwa manusia. Kita telah diberi kemampuan untuk membedakan antara baik dan buruk, sebagaimana kita diberi mata untuk melihat dan telingat untuk mendengar. Paham ini berpendapat bahwa yang baik adalah perbuatan yang sesuai dengan penilaian yang diberikan oleh hati nurani. Sedangkan perbuatan buruk adalah perbuatan yang menurut hati nurami dipandang buruk. Paham ini dikenal dengan paham humanisme.[8]Penentuan baik dan buruk perbuatan melalui hatinurani yang dibimbing oleh ilham atau intuisi  ini banyak dianut dan dikembangkan  oleh para pemmikir akhlak dari kalangan Islam.

4.      Baik dan Buruk Menurut Paham Utilitarianisme
Secara bahasa utilis berarti berguna. Paham ini berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna. Kalau ukuran ini berlaku bagi perorangan disebut individual, dan jika berlaku bagi masyarakat dan negara disebut sosial. Paham ini mendapatkan perhatian dizaman sekarang. Di abad sekarang ini, kemajuan dibidang teknologi meningkat tajam, dan kegunaanlah yang menentukan segala sesuatunya. Kelemahannya paham ini adalah hanya melihat kegunaan dari sudut materialistik. Misal, orang tua jumpo semakin kurang mendapatkan penghargaan, karena secara material sudah tidak lagi kegunaannya. Padahal kedua orang tua tetap berguna untuk dimintai nasihat, doa dan pengalaman masa lalu yang sangat berharga.[9]
Paham ini juga menjelaskan arti kegunaan tidak hanya yang berhubungan dengan materi, melainkan melalui sifat rohani yang bisa diterima akal. Dan kegunaan bisa diterima jika yang digunakan itu hal-hal yang tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Disini Nabi juga menilai bahwa orang yang baik adalah orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain (HR. Bukhari)
5.      Baik dan Buruk Menurut Paham Vitalisme
Paham ini berpendapat bahwa yang baik adalah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang menaklukkan orang lain yang lemah dianggap sebagai yang baik. Paham ini lebih cenderung pada sikap binatang, dan berlaku hukum siapa yang kuat dan menang itulah yang baik. Paham ini pernah dipraktekkan oleh para penguasa di zaman feodalisme terhadap kaum yang lemah, tertindas dan bodoh. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimiliki, ia dapat mengembangkan pola hidup feodalisme, kolonialisme dan diktator. Kekuatan dan kekuasaan menjadi lambang dan status sosial untuk dihormati. Ucapan, perbuatan dan aturan yang dikeluarkan menjadi pegangan masyarakat meskipun salah.
Dalam masyarakat yang sudah maju, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sudah banyak dikuasai oleh masyarakat, maka paham vitalisme tidak akan mendapatkan tempat lagi, kemudian beralih dengan sifat demokratis.
6.      Baik dan Buruk Menurut Paham Religiosisme
Paham ini berpendapat bahwa yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan perbuatan buruk adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Paham ini, terhadap keyakinan teologis yaitu keimanan kepada Tuhan sangat memegang peranan penting. Karena tidak mungkin orang berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan, apabila yang melakukan tidak beriman kepada-Nya.
Perlu diketahui, bahwa di dunia ini ada bermacam-macam  agama yang dianut, dan masing-masing agama menentukan baik buruk menurut ukurannya agama masing-masing. Agama Hindu, Budha, Yahudi, Kristen dan Islam, masing-masing agama tersebut memiliki pandangan dan tolok ukur tentang baik dan buruk antara yang satu dengan lainnya berbeda-beda dan juga ada persamaannya. terdapat [10]
7.      Baik dan Buruk Menurut Paham Evolusi
Paham ini mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mengalami evolusi, yaitu berkembang dari apa adanya sampai pada kesempurnaan. Paham seperti ini tidak hanya berlaku pada benda-benda yang tampak, seperti binatang, manusia dan tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga berlaku pada benda yang tidak dapat dilihat dan diraba oleh indra, seperti moral dan akhlak.
Salah seorang ahli filsafat Inggris bernama Herbert Spencer (1820-1903) berpendapat bahwa perbuatan akhlak itu tumbuh secara sederhana, kemudian berangsur-angsur meningkat sedikit demi sedikit berjalan kearah cita-cita yang dianggap sebagai tujuan. Perbuatan itu baik apabila dekat dengan cita-cita tersebut, dan buruk apabila jauh daripada cita-cita tersebut. Adapun tujuan manusia dalam hidup ini ialah untuk mencapai cita-cta tujuan atau mendekatinya.
Paham ini, bahwa cita-cita manusia dalam hidup adalah untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan. Kebahagiaan disini berkembang menurut keadaan yang mengitarinya. Kalau perbuatan manusia sesuai dengan keadaan yang diharapkan yaitu lezat dan bahagia, maka hidupnya akan bahagia dan senang, begitu juga sebaliknya. Paham ini yang menjadikan ukuran perbuatan baik manusia adalah merubah diri sesuai dengan keadaan yang berlaku. Paham ini juga sesuai dengan pendapat Darwin (1809-1882). Dia menjelaskan bahwa perkembangan alam didasari oleh ketentuan alam, perjuangan hidup, dan kekal bagi yang lebih pantas.[11]
Herbert Spencer ( 1820-1903 ) salah seorang ahli filsafat Inggris yang berpendapat evolusi ini mengatakan bahwa perbuatan akhlak itu tumbuh secara sederhana, kemudian berangsur meningkat sedikit demi sedikit berjalan ke arah cita-cita yabg dianggap sebagai tujuan. Perbuatan itu baik bila dekat dengan cita-cita itu dan buruk bila jauh dari padanya. Sedang tujuan manusia dalam hidup ini ialah mencapai cita-cita atau paling tidak mendekatinya sedikit mungkin.
            Cita-cita manusia dalam hidup ini – menurut paham ini – adalah untuk mencapai kesenangan dan kebahagiaan. Kebahagiaan di sini berkembang menurut keadaan yang mengelilinginya. Dapat dilihat bahwa perbuatan manusia terkadang sesuai dengan keadaan yang mengelilinginya, maka hidupnya akan senang dan bahagia. Oleh karena itu menjadi keharusan untuk mengubah dirinya menurut keadaan yang ada di sekelilingnya, sehingga dengan demikian sampailah ia kepada kesempurnaan atau kebahagiaan yang menjadi tujuannya.
            Tampaknya bahwa Spencer menjadikan ukuran perbuatan manusia itu ialah mengubah diri sesuai dengan keadaan yang mengelilinginya. Suatu perbuatan dikatakan baik bila menghasilkan lezat dan bahagia dan ini bisa terjadi bila cocok dengan keadaan di sekitarnya.
            Dalam sejarah paham evolusi, Darwin ( 1809-1882 ) adalah seorang ahli pengetahuan yang paling banyak mengemukakan teorinya. Dia memberikan penjelasan tentang paham ini dalam bukunya The Origin of Species. Dikatakan bahwa perkembangan alam ini didasari oleh ketentuan-ketentuan berikut :
1)      Ketentuan alam ( selection of nature )
2)      Perjuangan hidup ( struggle for life )
3)      Kekal bagi yang lebih pantas ( survival for the fit test )
Yang dimaksud dengan ketentuan alam adalah bahwa ala mini menyaring segala yang maujud (ada) mana yang pantas dan bertahan akan terus hidup, dan mana yang tidak pantas dan lemah tidak akan bertahan hidup.
            Berdasarkan cirri-ciri hokum alam yang terus berkembang ini dipergunakan untuk menentukan baik dan buruk. Namun ikut sertanya berubah dan berkembangnya ketentuan baik buruk  sesuai dengan perkembangan ala mini akan berakibat menyesatkan, karena ada yang dikembangkan itu boleh jadi tidak sesuai dengan morma yang berlaku secara umum dan telah diakui kebenarannya.
8.      Deontologi
Menurut aliran ini, suatu tindakan dianggap baik bukan berdasarkan tujuan atau dampak perbuatan itu, tetapi berdasarkan tindakan itu sendiri. Dengan kata lain, perbuatan tersebut bernilai moral karena tindakan itu dilaksanakan berdasarkan kewajiban yang memang harus dilaksanakan, terlepas dari tujuan atau akibat dari tindakan itu.

C.    Sifat Baik dan Buruk
Sifat baik dan buruk yang didasarkan pada pandangan filsafat adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri, yaitu berubah, relatif nisbi dan tidak universal. Dengan demikian sifat baik buruk yang dihasilkan berdasarkan melalui pemikiran filsafat tersebut menjadi relatif dan nisbi, yaitu dapat terus berubah. Sifat baik buruk tersebut yang dikemukakan sifatnya subyektif, lokal dan temporal. Oleh karena itu nilai baik buruk juga sifatnya relatif.
Perlu ada ketentuan batasan baik dan buruk yang didasarkan pada nilai-nilai universal, yaitu pandangan intuisisme. pendapat yang demikian itu tetap berguna yaitu untuk menjabarkan ketentuan baik buruk yang terdapat dalam ajaran akhlak yang bersumber dari ajaran Islam.

D.    Ruang Lingkup Baik dan Buruk dalam Islam
Ajaran Islam bersumber dari wahyu Allah SWT berupa al-Qur`an yang dalam penjabarannya dicontohkan oleh Sunah Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam ajaran Islam mendapatkan perhatian besar. Istilah baik dan buruk menurut Islam harus didasarkan pada petunjuk al-Qur`an dan al-Hadis. Kalau kita perhatikan, istilah baik dan buruk dapat kita jumpai dalam Qur`an maupun Hadis, seperti al-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, al-birr, dan azizah.[12]
Al-hasanah menurut al-Raghib al-Afahani adalah suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau dipandang baik. Kemudian al-hasanah dibagi menjadi tiga bagian. Yaitu, pertama; hasanah dari segi akal, kedua, hasanah dari segi hawa nafsu atau keinginan dan ketiga, hasanah dari segi pancaindra, sedangkan Lawan dari al-hasanah adalah al-sayyiah . Yang termasuk al-hasanah adalah keuntungan, kelapangan rezeki, dan kemenangan. Adapun yang termasuk al-sayyiah seperti kesempitan, kelaparan, dan keterbelakangan.
Adapun kata at-thayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang memberikam kelezatan kepada panca indra dan jiwa. Seperti makanan pakaian, tempat tinggal dan sebagainya. Adapun lawannya adalah al-qabihah yang artinya buruk[13]. Berikutnya, kata al-khoir digunakan untuk menunjukkan suatu yang baik oleh seluruh umat manusia. Seperti berakal, adil, keutamaan dan semua yang bermanfaat bagi manusia. Lawan dari al-khoir adalah as-syarr. Seperti pada ayat[14]QS.al-Baqarah, 2 : 158.
Adapun kata al-mahmudah dipakai untuk sesuatu yang utama sebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai Allah SWT. Kata mahmudah lebih cenderung pada arti yang bersifat bathin dan spiritual. Seperti ayat.[15]QS.al-Isra`,17:79.
Berikutnya, kata al-karimah digunakan untuk perbuatan dan akhlak terpuji yang dimunculkan dalam realitas kehidupan sehari-hari.[16] Kata al-karimah biasa digunakan untuk perbuatan yang terpuji dalam sekala besar. Seperti menafkahkan hartanya dijalan Allah, berbuat baik kepada kedua orang tua dan lainnya.
Selanjutnya, adalah kata al-birr,[17] dipakai untuk menunjuk pada upaya memperluas atau memperbanyak melakukan perbuatan yang baik. Kata tersebut bisa dipakai untuk sifat Allah dan bisa untuk sifat manusia. Kalau kata tersebut dipakai untuk sifat Allah, maka maksudnya bahwa Allah memberikan balasan pahala yang besar. Kemudian kalau dipakai untuk manusia,  maka yang dimaksud adalah untuk ketaatan dan ketundukan seorang hamba. Seperti pada ayat[18]QS. Al-Baqoroh, 2:177
Penjelasan al-birr dalam hadis juga disebutkan, yaitu ada salah seorang sahabat Nabi SAW bernama Wabishah bin Ma`bad berkunjung kepada Nabi SAW. Beliau menyapa dengan bersabda:
Engkau datang menanyakan tentang al-birr (kebaikan) ? ” Benar, wahai Rasul” jawab Wabishah, “Tanyailah hatimu!” al-birr adalah sesuatu yang tenang terhadap jiwa, dan yang tentram terhadap hati, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati dan membimbangkan dada, walaupun setelah orang memberimu fatwa.
 Dalam hadis lain, Nabi menjelaskan al-birr dengan sabdanya:
Al-birr adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang beredar dihatimu dan kamu tidak suka orang lain mengetahuinya. (HR. Ahmad)
Dalam hadis tersebut kata al-birr dihubungkan dengan ketenangan jiwa dan akhlak terpuji, ini merupakan kebalikan dari dosa.[19] Jadi al-birr artinya akhlak yang mulia. Dari berbagai istilah kebaikan yang telah disebutkan dalam al-hadis maupun al-Qur`an adalah menunjukkan bahwa penjelasan tentang kebaikan menurut ajaran Islam lebih lengkap dibandingkan  dengan arti kebaikan yang disebutkan sebelumnya. Seperti firman Allah [20]QS. Al-Bayyinah, 98:5.
Dalam hadis juga disebutkan berikut ini,

Segala amal perbuatan akan sah kalau diserta dengan niat, dan semua perbuatan seorang itu dinilai sesuai dengan niatnya. (HR. Buhkari Muslim)
Perbuatan yang dinilai baik dalam Islam adalah perbuatan yang sesuai dengan petunjuk Qur`an dan Sunnah. Seperti taat kepada Allah dan Rasul-Nya, berbuat baik kepada kedua orang tua, saling menolong dan mendoakan dalam kebaikan, menepati  janji, menyayangi anak yatim, amanah, jujur, ikhlas, ridho dan sabar merupakan perbuatan yang baik. Sedangkan perbuatan buruk adalah perbuatan yang bertentangan dengan Qur`an dan Sunnah. Seperti bersikap membangkang terhadap perintah agama, durhaka kepada ibu bapak, saling bertengkar, dendam, mengingkari janji, curang, khianat, riya, sombong, putus asa dan lain sebagainya[21].Namun demikian al-Quran dan al-Sunnah bukanlah sumber ajaran yang eksklusif atau tertutup. Kedua sumber tadi bersikap terbuka untuk menghargai bahkan menampung pendapat akal pikiran, adat istiadat dan sebagainya yang dibuat oleh manusia dengan catatan semua itu tetap sejalan dengan petunjuk al-Quran dan al-Sunnah. Ketentuan baik dan buruk yang didasarkan pada logika dan filsafat dengan berbagai aliran sebagaimana disebutkan diatas, dan tertampung dalam istilah etika atau ketentuan baik dan buruk yang didasarkan pada istilah adat istiadat tetap dihargai dan diakui keberadaannya. Ketentuan baik buruk yang terdapat dalam etika dan moral dapat digunakan sebagai sarana atau alat untuk menjabarkan ketentuan baik dan buruk yang ada dalam al-Qur’an.





BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Dengan demikian yang dikatakan buruk itu adalah sesuatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik. Aliran-aliran filsafat yang mempengaruhi dalam penentuan baik dan buruk ini adalah aliran adat istiadat, hedonisme, intuisisme (humanisme), utilitarianisme, vitalisme, religiousisme, dan evolusisme.
Baik atau buruk itu relatif sekali, karena tergantung pada pandangan dan penilaian masing-masing yang merumuskan. Dengan demikian nilai baik atau buruk menurut pengertian tersebut bersifat relatif dan subyektif, karena bergantung kepada individu yang menilainya.
Ajaran Islam bersumber dari wahyu Allah SWT berupa al-Qur`an yang dalam penjabarannya dicontohkan oleh Sunah Nabi Muhammad SAW. Masalah akhlak dalam ajaran Islam mendapatkan perhatian besar. Istilah baik dan buruk menurut Islam harus didasarkan pada petunjuk al-Qur`an dan al-Hadis. Kalau kita perhatikan, istilah baik dan buruk dapat kita jumpai dalam Qur`an maupun Hadis, seperti al-hasanah, thayyibah, khairah, karimah, mahmudah, al-birr, dan azizah.


B.     SARAN
Dalam menjalani kehidupan sekarang ini pembaca disarankan dalam menentukan baik buruknya segala sesuatu berpegang pada Al – qur’an dan As- sunnah karena Al – Quran sebagai pedoman hidup yang berlaku sepanjang masa dan As- Sunnah sebagai penjelas dan penguat Al Qur’an.




DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon. Akhlak Tasawuf.Bandung : Pustaka Setia.2010
Hidayat, Nur.Bahan Ajar Akhlak Tasawuf.Yogkarta: Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Uin Sunan Kalijaga.2012
Nur Hidayat.2011.http://arrifaiahmad.blogspot.com/2011/07/hand-out-akhlaq-tasawuf-oleh-nur.html. Diakses pada tanggal 1 November 2013.
Abdurrahman.2011.http://abdurrahmanteh.blogspot.com/2011/04/baik-dan-buruk-menurut-perspektif.html. Diakses pada tanggal 1 November 2013.
Rifki Isma Risma.2013.http://rifkiismarismailblog.wordpress.com/2013/01/20/mengurai-landasan-pengetahuan-filsafat-ontologi/. Diakses pada tanggal 1 November 2013.



[1] Louis Ma`luf, Munjid, al-Maktabah al-Katulikiyah, tt. Beirut, hlm. 198
[2]  Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.104
[3]   Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.106
[4] Poedjawijatna, Etika Filsafat Tingkah Laku, Bina Aksara, Jakarta, 1982, hlm. 43
[5] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.107
[6] Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Bulan Bintang, Jakarta, 1983, hlm. 87
[7] Ahmad Amin, Etika ….,  hlm. 92

[8]Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.112
[9] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.114
[10] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.116
[11] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.119
[12]  Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.120
[13] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.120
[14] Qur`an Digital
[15] Qur`an Digital
[16]  Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.121
[17]  Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.122
[18] Qur`an Digital
[19]  Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.12
[20] Qur`an Digital
[21]  Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf……….., hlm.126

Baik dan Buruk

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Baik dan buruk merupakan dua istilah yang banyak digunakan untuk menentukan suatu perbuatan yang dilakukan seseorang. Kita  misalnya mengatakan orang itu baik dan orang itu buruk. Masalahnya apakah yang disebut baik dan buruk itu? Dan apa ukuran atau indicator yang dapat digunakan untuk menilai pebuatan itu baik atau buruk? Dan apakah baik dan buruk itu merupakan sesuatu yang mutlak atau relative? Dan bagaimana pandangan islam terhadap baik dan buruk berikut hal-hal yang tekait dengan keduanya itu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dicarikan jawabannya sehingga pada saat kita menilai sesuatu itu baik atau buruk memiliki patokan atau indicator yang pasti. Untuk itu pada makalah ini akan dibahas pengertian baik dan buruk, ukuran untuk menilai baik dan buruk, sifat baik dan buruk, serta pandangan islam mengenai baik dan buruk. Pembahasan masalah ini kita masukkan disini karena berkaitan dengan pembahasan tentang akhlak, sehingga dikatakan bahwa ilmu akhlak ini membahas tentang tingkah laku dan perbuatan manusia dan menetapkannya baik atau buruk.

2. Tujuan

            Penulis membuat makalah yang bertujuan untuk menentukan kadar baik buruk seseorang dalam kategori islam yang berpedoman kepada al-qur’an dan Hadist.


3. Permasalahan

            Pada makalah ini penulis mengemukan beberapa permasalahan, yaitu:

    Apakah pengertian baik dan buruk
    Bagaimana penentuan baik dan buruk
    Bagaimana sikap baik dan buruk
    Bagaimana baik dan buruk dalam ajaran islam


BAB II

PEMBAHASAN


A.    Pengertian baik dan buruk
Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khair dalam bahasa arab, atau good dalam bahasa inggris. Louis Ma’luf dalam kitabnya, Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan1. Sementara itu dalam Websters New Twentieth century dictionary, dikatakan bahwa baik adalah suatu yang menimbulkan rasa keharuan dalam kepuasan, kesenangan, persesuaian dan seterusnya2. Selanjutnya yang baik itu juga adalah suatu yang mempunyai nilai kebenaran atau nilai yang diharapkan yang memberikan kepuasan3. Yang baik itu juga dapat diartikan sesuatu yang sesuai dengan keinginan4. Dan disebut baik itu juga dapat pula berarti sesuatu yang mendatangkankan rahmat, memberikan perasaan senang atau bahagia5. Dan selain itu ada pula pendapat yang mengatakan bahwa secara umum bahwa yang disebut baik atau kebaikan adalah sesuatu yang diiginkan, yang diusahakan dan menjadi tujuan manusia. Tingkah laku manusia adalah baik, jika tingkah laku tersebut menuju kesempurnaan manusia. Kebaikan disebut nilai (value), apabila kebaikan itu bagi seseorang menjadi kebaikan yang kongkret6. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa yang disebut baik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan yang luhur, bermartabat, menyenangkan dan disukai manusia. Definisi kebaikan tersebut terkesan antroposentris, yakni memusat dan bertolak dari sesuatu yang menguntungkan dan membahagiakan manusia.

Mengetahui sesuatu yang baik sebagaimana yang disebutkan diatas akan mempermudah dalam mengetahui yang buruk. Dalam bahasa arab, istilah buruk dikenal dengan syarr, dan diartikan sebagai sesuatu yang tidak baik, tidak seperti yang seharusnya, tak sempurna dalam kwalitas, dibawah standar, kurang dalam nilai, tak mencukupi, keji, jahat, tidak bermoral, tidak menyenangkan, tidak dapat disetujui, tidak dapat diterima, yang tercela dan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku. Dengan demikian yang dikatakan buruk adalah suatu yang dinilai sebaliknya dari yang baik dan tidak disukai kehadirannya.


B.     Penentuan baik dan buruk

1. Baik buruk menurut aliran adat istiadat (sosialisme)

Menurut aliran ini baik buruk ditentukan berdasarkan adapt istiadat yang berlaku dan dipegang teguh oleh masyarakat. Orang yang mengikuti adapt dipandang baik dan yang menentang dianggap buruk, dan perlu dihukum secara adat.

Ahmad Amin mengatakan bahwa setiap bangsa menpunyai adat dan menganggap baik jika, mengdidik anak-anaknya secara adat istiadat, menanamkan perasaan mereka bahwa adat akan membawa kepada kesucian sehingga apabila seseorang menyalahi adat sangat dicela dan dianggap keluar dari golongan bangsanya[8].

Didalam masyarakat kita jumpai adat istiadat ang berkenaan dengan cara berpakaian, makan, minum, cakap-cakap, dan sebagainya. Orang yang mengikuti cara yang demikian itulah yang dianggap baik. Kelompok yang menilai baik dan buruk berdasarkan adat istiadat ini dalam tinjauan filsafat dikenal dengan istilah aliran sosialisme.

2. Baik buruk menurut aliran Hedonisme

  Aliran Hedonisme adalah aliran filsafat yang terhitung tua karena berakar pada filsafat yunani, khususnya pemikiran filsafat Epicurus ( 341-270 SM), yang selanjutnya dikembangkan oleh cyrenics dan belakangan ditumbuh kembangkan oleh Freud[9].

Paham ini menyatakan perbuatan baik adalah perbuatan yang banyak mendatangkan kenikmatan, kelezatan dan kepuasan nafsu biologis. Epicurus sebagai peletak dasar paham ini mengatakan bahwa kebahagian atau kelezatan itu adalah tujuan manusia. Tidak ada kebaikan dalam hidup selain kelezatan dan tidak ada keburukan kecuali penderitaan.

Hedonisme model pertama yang individualistik lebih banyak mewarnai masyarakat barat yang bercorak liberal dan kapitalis, sementara hedonisme model kedua yang sosialistik banyak mewarnai masyarakat eropa yang komunis.

3.     Baik dan buruk menurut paham intuisisme (humanisme)

Intuisi adalah kekuatan batin yang dapat menentukan sesuatu sebagai baik atau buruk. Dengan sekilas tampa melihat buah atau akibatnya9. Kekuatan batin atau yang disebut juga sebagai kata hati adalah merupakan potensi rohaniah yang secara fitrah telah ada pada diri setiap orang. Paham ini berpendapat bahwa pada setiap manusia mempunyai kekuatan instinct batin yang dapat membedakan baik dan buruk dengan sekilas pandang10. Kekuatan batin ini terkadang berbeda refleksinya, karena pengaruh masa dan lingkungan, akan tetapi pada dasarnya ia tetap sama dan berakar pada tubuh maanusia. Apabila ia melihat suatu perbuatan, ia mendapat semacam ilham yang dapat memberitahu nilai perbuatan itu, lalu menetapkan hukum baik dan buruknya. Oleh karna itu kebanyakan manusia sepakat mengenai keutamaan seperti benar, dermawan, berani dan mereka juga sepakat menilai buruk terhadap suatu perbuatan yang salah, kikir dan pengecut.

Poedjawijatna mengatakan bahwa menurut aliran ini yang baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia, yaitu kemanusiaannya cenderung kepada kebaikan. Penentuan terhadap baik buruknya tindakan yang kongkret adalah perbuatan yang sesuai dengan kata hati orang yang bertindak. Dengan demikian ukuran baik buruk suatu perbuatan menurut paham ini adalah tindakan yang sesuai dengan derajat manusia, dan tidak menentang atau mengurangi keputusan hati[10]. Secara batin setiap orang pasti tidak akan dapat membohongi kata hatinya.jika suatu ketika seseorang yang mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya, hal yang demikian hanya dapat dilakukan atau ditrima oleh ucapannya, tetapi kata hatinya tetap tidak mengakui kebohongan itu.

4. Baik dan buruk menurut paham Utilitarianisme

Secara harfiah berarti berguna. Menurut paham ini bahwa yang baik adalah yang berguna.Jika ini berlaku bagi perorangan,disebut individual,dan jika berlaku bagi masyarakat dan Negara disebut social.

Pada masa sekarang ini,kemajuan dibidang teknik cukup meningkat,dan kegunaanlah yang menentukan segala-galanya.Namun demikian paham ini cenderung ektrim dan melihatkegunaan hanya dari sudut pandang materialistik.Kegunn bisa diterima jika hal-hal yang digunakan tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain.Nabi misalnya menilai orang yang baik adalah memberi manfaat bagi yang lainnya.( HR.Bukhari).

5. Baik buruk menurut paham Religiosisme.

   Menurut paham ini yang dianggap baik adalah perbuatan yang sesuai dengan kehendak tuhan,sedangkan perbuatan buruk adalah sebaliknaya.Dalam paham ini keyakianan teologis,yakni keimanan kepada tuhan memegang peranan penting,karna tidak mungkin orang mau babuat sesui dengan kehendak tuhan jika bersangkutan tidak beriman kepadaNya.

   Diketahui didunia ini terdapat bermacam-macam agama ,dan masing-masimg menentuken bik dan buruk menurut ukurannya masing-masing.Agama Hindu,Budha,Yahudi,Kristen dan Islam misalnya ,masing-masing memiliki tolak ukur tentang baik dan buruk yang dengan yang lainnya berbeda-beda.

C. Sifat Dari Baik Dan Buruk

       Sifat dan corak baik buruk yang didasarkan pada pandangan filsafat adalah sesuai dengan sifat dari filsafat itu sendiri,yakni berubah dan tidan universal.Nilai baik dan buruk bersifat relative.

Sifat baik dan buruk berguna sesui zamannya ,dan ini dapat dimanfaatkan untuk menjabarkan ketentuan baik dan burukyang terdapat dalam ajaranAhlak yang besumber dari ajaran islam.


D. Baik Buruk Menurut Ajaran Islam.

       Ajaran islam adalah ajaran yang bersumberkan wahyu Allah S.W.T.,menurut ajran agama islam penentuan baiak dan buruk harus didasarkan pada Al-quran dan Hadist.Didalam Al-quran maupun hadist banyak dijumpai istilah yang mengcu pada yang baik dan yang buruk. Diantara istilah yang mengacu pada hal yang baik misalnya al-hasanah,thayyibah,khair,mahmudah ,karimah dan al-birr.

1. Al-hasanah

  Al-Raghib Asfahani mengemukakan bahwa sesuatu yang digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang disukai atau yang dipandang baik adalah hasanah.Hasanah  dibagi menjadi tiga ,pertama hasnah dari segi akal,kedua hasnah dari segi nafsu/keinginan dan hasanah dari panca indra[11].Lawan dari hasanah adalah Al-sayyiah. Yang termasuk hasanah mislnya keuntungan,kelapangan rezeki dan kemenangan.

2. Al-thayyibah

Kata Al-thayyibah khusus digunakan untuk menggambarkan sesuatuyang memberikan kelezatan kepada panca indra dan jiwa,seperti makanan ,pakaian,dan tempat tinggal dan sebagainya[12].Lawan dari Al-thayyibah adalah Al-qhabibah yang artinya buruk.

3. Al-khair

     Kata Al-khair digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang baikoleh seluruh umat manusia,seperti berakal,adil,keutamaan dan segala sesuatu yang ber manfaat.Lawannya adalah Al-syarr[13].

4.Karimah

Kata Al-karimah digunakan untuk menunjukkan pada perbuatan dan ahlak yang terpuji yang ditampakkan pada kehidupan sehari-hari[14].Selanjutnya kata karimah biassa digunakan untuk menunjukkan perbuatan yang terpuji yang sekalanya besar,seperti menafkahkan hartanya dijalan Allah dan berbuat baik pada orang tua.

5. Al-mahmudah

  Kata ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang utamasebagai akibat dari melakukan sesuatu yang disukai Allah SWT[15]. Denga demikian kata Al-mahmudah lebih menunjukkan pada kebaikan yang bersifat batin dan spiritual.

6.Al-birr

  Kata Al-birr digunakan untuk menunjukkan pad upaya memperluas melakukan perbuatan yang baik.Kata tesebut terkadang digunakan sebagai sifat Allah dan terkadang juga untuk manusia.Jika kata tersebut diguanakan untuk sifat Allah ,maka maksudnya adalah bahwa Allah memberikan pahala yang besar,dan jika digunakan untuk manusia , maka yang dimaksud adalah ketaatannya[16].


BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan diatas dapat kita tarik beberapa kesimpulan yang mendasari penulisan ini, diantaranya:

a. Dari segi bahasa baik adalah terjemahan dari kata khair dalam bahasa arab, atau good dalam bahasa inggris. Louis Ma’luf dalam kitabnya, Munjid, mengatakan bahwa yang disebut baik adalah sesuatu yang telah mencapai kesempurnaan.

b. Penetuan baik dan buruk dapat dilihat dari beberapa aspek, diantaranya:

Baik buruk menurut aliran adat istiadat (sosialisme),Baik buruk menurut aliran Hedonisme,Baik dan buruk menurut paham intuisisme (humanisme), Baik dan buruk menurut paham Utilitarianisme,Baik buruk menurut paham Religiosisme.

c. Ada baik dan buruk yang dibahas dalam ajaran islam,diantaranya: Al-hasanah, Al-thayyibah, Al-khair, Karimah, Al-mahmudah, Al-birr.



Daftar Pustaka

Amin, Ahmad, Etika (ilmu ahlak),(ter.) Farid Ma’ruf,dari judul asli al- Akhlaq, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983),cet.III.

Asfahani,al-Raghib,Mu’jam Mufradat Alfadz Al-Qur’an,(Beirut:Dar al-Fikr,t,t.).

Charis Zubair, Ahmad, Kuliah Etika, (Jakarta: Rajawali Pers, 1990)cet II.

Nata, Abuddin, MA,,Dr.H, Aklak Tasawuf, JAKARTA, PT Raja Grafindo Jakarta, 2002

7 Ahmad Amin op, hlm.87.

8 Ahmad Amin, loc. Cit,. hlm.92; Poedjawijatna,loc,.cit., hlm.44.

9 Asmaran As, op. cit, hlm.30.

10 Ahmad Amin, loc. cit., hlm.105.

[10] Poedjawijatna, op, cit.,hlm.49

[11] Al-Raghib al-Asfahani, Mu’jam Mufradat al-fadz al-Qur’an, (Beirut:Dar al-Fikr, t.t.).hlm.117.

[12] Ibid., hlm.321.

[13] Ibid., hlm. 163.

[14] Ibid., hlm. 446.

[15] Ibid., hlm. 163.

[16] Ibid., hlm. 37.

Istilah dan Sumber Akhlak

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Pengertian akhlak itu bermacam-macam pendapat. Akhlak pada umumnya menerangkan tentang perilaku atau perbuatan manusia. Akhlak itu sangat penting bagi manusia. Akhlak manusia itu ada dua, yaitu akhlak yng baik dan akhlak yang buruk. Akhlak merupakan kehendak manusia dan sumber akhlakpun bermacam-macam.
Untuk meraih kesempurnaan akhlak, seseorang harus ,melatih diri dan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang harus melatih diri dan membiasakan diri berfikir dan berkehendak baik. Akhlak seseorang bukanlah tindakan yang direncankan pada saat-saat tertentu saja. Akhlak juga juga merupakan keutuhan kehendak dan perbuatan yang melekat pada seseorang yang akan tampak pada perilakunya sehari-hari.
Akhlak juga memiliki istilah lain yaitu etika, moral dan kesusilaan. Akhlak itu tersumber dari agama dan dari bukan agama. Akhlak bagi manusia itu sangatlah penting, karena sifat seseorang itu akan terlihat dri akhlaknya. Banyak manfaat yang didapat dari ilmu tentang akhlak.

    B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.      Apa pengertian dari akhlak?
2.      Apa istilah lain dari akhlak?
3.      Akhlak itu tersumber dari apa?

    C.     Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan tujuan sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui pengertian akhlak
2.      Untuk mengetahui istilah lain dari akhlak
3.      Untuk mengetahui akhlak itu tersumber dari aapa saja.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian  akidah akhlak
Akidah adalah suatu yang dianut oleh manusia dan diyakininya, apakah berwujud agama atau lainnya. (Djamaris, 1996). Akhlak menurut Asmaran (1992: 1) adalah sifat yang dimiliki manusia sejak lahir yang selalu ada padanya. Prof.Dr.Ahmad Amin mengatakan bahwa “akhlak adalah kebiasaan kehendak” (Asmaran, 1992: 1). Ahmad Amin menerangkan bahwa “ ilmu akhlak adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang manusia kepada orang lain, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukan jalan untuk melakukan apa-apa yang harus diperbuat” (Asmaran, 1992: 5).
                 H. M. Rasyidi mengatakan bahwa “ ilmu akhlak adalah suatu pengetahuan yang membicarakan tentang kebiasaan-kebiasaan pada manusia, yakni budi pekerti mereka dan prinsip-prinsip yang mereka gunakan sebagai kebiasaan.”. Ilmu akhlak menurut Al-ustad Jaad Al-Maula adalah ilmu yang digunakan untuk mempertimbangkan perbuatan dan perkataan manusia. (Djatnika, 1992: 30-31).
Menurut Mahdi Ahkam “ ilmu akhlak adalah ilmu yang menyelidiki perbuatan manusia dari arah baik dan buruk, atau ilmu percontohan tertinggi untuk perbuatan manusia”. Dan “ ilmu akhlak adalah ilmu yng menyelidiki aturan-aturan yang menguasai perbuatan manusia dan menyelidiki tujuan yang terakhir bagi manusia”. (Djatnika, 1992: 31).
Akhlak berasal dari bahasa arab “akhlaq” yang merupakan bentuk jamak dari “khuluq”. Secara bahasa “akhlak” mempunyai arti budi pekerti , tabiat, dan watak. Dalam kebahasaan akhlak sering disinonimkan dengan moral dan etika. Menurut istilah yang dijelaskan oleh Ibnu Maskawih “akhlak adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan”. (Saputra, 2004: 30).
Menurut Abdul hamid yusuf akhlak adalah ilmu yang memberikan keterangan tentang perbuatan yang mulia dan memberikan cara-cara untuk melakukannya. (Mahjuddin, 2004: 9), sedangkan menurut Ja’ad maulana “akhlak adalah ilmu yang menyelidiki gerak  jiwa manusia, apa yang dibiasakan mereka dari perbuatan dan perkatan dan menyingkap hakikat-hakikat baik dan buruk”. (Zahruddin, 2000: 6). Akhlak menurut Ahmad amin adalah kehendak yang biasa dilakukan. Artinya segala sesuatu yang kehendak yang terbiasa dilakukan, disebut akhlak. (Amin, 1995: 62).
Pengertian akhlak juga dikemukakan oleh Imam al-ghozali, menurut dia “ akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran”. (Mustofa, 1997: 12), sedangkan menurut pendapat Hamzah ya’qub “ akhlak adalah ilmu yang menentukan antara yang baik dan buruk, antara yang terpuji dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin”. (Saebani, 2000: 25).
Menurut imam al-ghozali akhlak adalah” suatu sifatyang tertanam dalam jiwa yang dapat memunculkan perbuatan-perbuatan dengan tanpa memerlukan pertimbangan pemikiran.” Sedangkan menurut Ibrahim anis “ khlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang melahirkan bermacam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.” ( Solihin, 2005: 18-19).
B.     Istilah lain dari akhlak
Dalam pembahasan akhlak atau ilmu akhlak ada beberapa istilah yang sering digunakan untuk mengatakan akhlak atau ilmu akhlak tersebut. Istilah-istilah itu adalah:
   1.     Etika
Perkataan etika berasal dari bahasa yunani ethos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus istilah pendidikan dan umum dikatakan bahwa etika adalah bagian dari filsafat yang mengajarkan keluhuran budi (baik dan buruk). Menurut Dr. H. Hamzah ya’qub “ etika adalah ilmuyang menyelidiki mana yang baik dan mana yang buruk dengan memperhatikan amal perbuatan manusia sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran”.( Asmaran, 1992: 7). Etika menurut Ki Hajar Dewantara “ etika adalah ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia semuanya”. (Saputra, 2004: 59).
2  2.     Moral
Perkataan moral berasl dari bahasa Latin mores yaitu jamak dari mos  yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah baik buruk perbuatan dan perkataan. Moral merupakan istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktivitas manusia dengan nilai atau hukum baik dan buruk. Perbedaan antara moral dan etika yaitu, etika lebih banyak bersifat teoritis sedangkan moral lebih banyak bersifat praktis. Etika memandang tingkah laku manusia saecara umum, sedangkan moral secara lokal. Moral menyatakan ukuran, sedangkan etika menjelaskan ukuran itu.( Asmaran, 1992: 8-9).
   3.      Kesusilaan
Kesusilaan berasal dari kata susila yang mendapat awalan ke dan akhiran an. Susila berasal dari bahasa sansekerta, yaitu su dan sila. Su yang berarti baik, bagus dan sila berarti dasar, prinsip, peraturan hidup atau norma. Didalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan, susila berarti sopan, beradab, baik budi bahasanya dan kesusilaan sama dengan kesopanan. Kata susila selanjutnya digunakan untuk arti sebagai aturan hidup yang lebih baik. Orang susila adalah orang yang berkelakuan baik, sedangkan orang yang asusila adalah orang yangberkelakuan buruk.
  C.      Sumber Akhlak
    1.  Akhlak yang bersumber pada agama
Secara umum akhlak yang bersumber dari agama akan menyangkut dua hal penting, yaitu akhlak mrerupakan bukti dari keyakinan seseorang kepada yang gaib dan sangsi dari masyarakat apabila seseorang tidak melaksakan perbuatan sesuai dengan aturan yang ditetapkan dalam agama. Dalam Islam akhlak bersumber pada al-Quran dan As-sunah.  Al-Quran sebagai sumber utama dan pertama bagi agama Islam mengandung bimbingan, petunjuk, penjelas, dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Al-Quran juga sebagai sumber akhlak yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan manusia. As-sunah juga merupakan sumber akhlak dalam Islam.
   2.    Akhlak yang bersumber bukan pada agama
Berlandaskan atas pemikiran manusia semata, maka sumber akhlak dalam pandangan ini amatlah banyak. Dalam kehidupan masyarakat sukar dilihat manakah sumber akhlak yang paling berpengaruh.akan tetapi dari berbagai sumber akhlak yang bukan pada agama itu pada dasarnya dapat dikelompokan menjadi dua yaitu insting dan pengalaman.  Insting adalah semacam suara hati kecil. Selain insting, pengalaman juga dikatakan sebagai sumber akhlak yang bukan berasal dari agama. (Saputra, 2004: 32-36).

   D.  Cara merubah akhlak
Cara merubah akhlak itu melalui pergaulan dengan orang-orang yng soleh. Hal ini merupakan suatu kebenaran yang telah diterima dn dibuktian oleh pengalaman. Setiap orang yang sehat pikirannya tidak dapat membantah kebenaran hukum ilahi ini. Begitu bergunanya pergaulan tersebut di dunia ini, sehingga jangankan manusia bahkan sesuatuakan mempengaruhi dan dipengaruhi lingkungannya. (Soma, 2000: 145).


BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa akhlak adalah ilmu yang menerangkan tentang perilaku atau perbuatan manusia. Akhlak itu sangat penting bagi manusia. Sifat seseorang dapat dilihat dari akhlak seseorang tersebut. Kemuliaan akhlak sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia yang penuh dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Islam sebagai agama yang dibawa nabi Muhammad saw adalah agama yang sempurna dan menghendaki kesempurnaan akhlak manusia. Akhlak itu terbagi menjadi dua, yaotu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Dalam kehidupan sehari-hari manusia seringkali melakukan akhlak terpuji tapi dibarengi juga dengan akhlak tercela.
Etika, moral dan kesusilaan dibutuhkan dalam rangka menjabarkan ketentuan akhlak yang terdapat di dalam al-Quran. Di sinilah letak peranan dari etika, moral dan kesusilaan terhadap akhlak. Pada sisi lain akhlak juga berperan untuk memberikan batas-batas umum dan universal, agar apa yang dijabarkan dalam etika, moral dan kesusilaan tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang luhur dan tidak membawa manusia menjadi sesat.

DAFTAR PUSTAKA
Amin, Ahmad. 1995. Etika ilmu akhlak. Jakarta: Bulan Bintang.
Asmaran. 1992.
Djamaris, zainal arifin. 1996. Islam akidah dan syariah. Jakarta: PT Raja grafindo persada.
Mahjuddin,2004.  konsep dasar pendidikan akhlak. Jakarta : kalam mulia.
Mustofa, 1997. Akhlak tasawuf. Bandung : pustaka setia.
Saebani, bani dan Abdul hamid. Ilmu akhlak. Bandung : pustaka setia.
Saputra, thoyib sah. Aqidah akhlak. Jakarta : karya Toha saputra.
Solihin, M dan Rosyida anwar M. 2005. Akhlak tasawuf. Bandung : Nuansa.
Soma, Hajaruddin Syafari. 2000. Menanggulangi Remaja Kriminal Islam sebagai alternativ. Bandung: Nuansa.
Zahruddin dan Hasanuddin sinaga. Pengantar studi akhlak. Jakarta : Raja grafindo persada.

Minggu, 17 Maret 2013

Akhlak, Etika, Moral dan Budi Pekerti

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

KATA PENGANTAR


Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT serta rahmat dan karunianya akan terselesaikannya Makalah tentang pelajaran Aqidah Ahklak dapat kami selesaikan dengan baik.

Makalah ini telah kami rangkai dengan semaksimal mungkin, dan kami berharap kepada teman-teman agar dapat mempelajari isi dari makalah ini dengan baik.
Akhirnya, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu sehingga saran dan kritik yang membangun akan kami terima dengan hati terbuka agar dapat meningkatkan kualitas makalah ini.


Penulis



DAFTAR ISI


Kata Pengantar        i
Daftar Isi        ii

Bab 1 PENDAHULUAN        1
A.    Tujuan        1
B.    Permasalahan        1
C.    Batasan Masalah  

Bab 2 PEMBAHASAN        2
A.    Pengertian Akhlak, Etika, Moral dan Budi Pekerti        2
B.    Persamaan Akhlak, Etika, Moral dan Budi Pekerti        3
C.    Perbedaan Akhlak, Etika, Moral dan Budi Pekerti        4

Bab 3 PENUTUP        6
A.    Kritik        6
B.    Saran        6

Daftar Pustaka        7



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Tujuan
Tujuan kami menyusun makalah ini adalah :
-    Menambah wawasan dan pengetahuan
-    Menjadikan makalah ini sebagai motifasi dalam belajar dan supaya lebih aktif dalam mengikuti pelajaran.

B.    Permasalahan
Permasalahan yang kita bahas adalah :
-    Pengertian akhlak, etika, moral dan budi pekerti
-    Persamaan akhlak, etika, moral dan budi pekerti
-    Perbedaan akhlak, etika, moral dan budi pekerti

C.    Batasan Masalah
Materi-materi yang kami ambil ini bersumber dari beberapa buku danyang telah kami ringkas dengan sebaik mungkin.


BAB II
PEMBAHASAN


A.    Pengertian dari Akhlak, Etika, Moral dan Budi Pekerti
1.    Pengertian Akhlak
Akhlak berasal dari bahasa Arab “Akhlak” yang merupakan bentuk jamak dari “Khuluq”. Secara bahasa “akhlak” berarti budi pekerti, tabi’at, watak. Dalam kebahasaan akhlak sering disinonimkan dengan moral dan etika.
Secara istilah, akhlak didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut :
a.    Prof. Sr. Ahmad Amin mendefinisikan akhlak sebagai kehendak yang biasa dilakukan. Artinya, segala sesuatu kehendak yang terbiasa dilakukan disebut akhlak.
b.    Sementara itu Ibnu Maskawih mengemukakan bahwa akhlak adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan (sebelumnya).
c.    Sedangkan Al-Ghazali memberikan definisi, akhlak adalah segala sifat yang tertanam dalam hati, yang menimbulkan kegiatan-kegiatan dengan ringan dan mudah tanpamemerlukan pemikiran sebagai pertimbangan.

Dari definisi-definisi tersebut ada kesamaan dalam hal ini :
a.    Akhlak berpangkal pada hati, jiwa atau kehendak, kemudian
b.    Diwujudkan dalam perbuatan sebagai kebiasaan (bukan perbuatan yang dibuat-buat, tetapi sewajarnya).

2.    Pengertian Etika
Etika (etimologik), berasal dari kata Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Istilah lain yang identik dengan etika adalah :
a.    Susila (Sansekerta) yang lebih menujuk kepada dasar-sadar, prinsip, aturan hidup, (atau sila) yang lebih baik (su).
b.    Akhlak (Arab) moral berarti akhlak. Etika berarti ilmu akhlak.

Etika dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari segala soal kebaikan (dan keburukan) di dalam hidup manusia semuanya, teristimewa yang mengenal gerak-gerik fikiran dan rasa yang dapat merupakan pertimbangan dan perasaan, sampai mengenal tujuannya yang dapat merupakan perbuatan.
3.    Pengertian Moral
Secara bahasa moral berasal dari kata Latin “Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga adat atau cara hidup. Moral dan etika sama artinya, tetapi dalam pemakaian sehari-hari ada sedikit perbedaan. Moral dan atau moralitas dipakai untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika dipakai untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang ada.
Contoh :
-    Perbuatan itu bermoral
-    Sesuai dengan norma Etika

4.    Pengertian Budi Pekerti
Kata budi mempunyai makna sebagai berikut :
a.    Alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk,
b.    Tabiat, akhlak, watak, orang yang baik
c.    Perbuatan baik, kebaikan
d.    Daya uapaya, ikhtiar
e.    Akal

Sedangkan kata pekerti bermakna tingkah laku, perangai, akhlak dan watak, berbudiberarti mempunyai budi, bijaksana, berakal, berkelakuan baik, murahhati dan baik hati.

B.    Persamaan dari Akhlak, Etika, Moral, dan Budi Pekerti

Untuk lebih mudah dalam memahami persamaan antara akhlak, moral, etika dan budi pekerti terlebih dahulu kita lihat definisi darimasing-masing tersebut. Akhlak, menurut Ibnu Maskawih adalah perilaku jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan tanpa melalui pertimbangan (sebelumnya). Akhlak merupakan salah satu aspek ajaran Islam disamping aqidah, ibadah, dan muamalah. Akhlak menyangkut sikap dan tingkah laku seseorang muslim terhadap Tuhannya, sesama manusia dan alam.
Moral dapat diartikan dengan baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban dan sebagainya. Bermoral berarti mempunyai pertimbangan baik buruk, berakhlak baik.
Etika berasal dari bahasa Yunani “Ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Etika juga bisa dimaknai denga : (1) Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), (2) Kumpulan asas / nilai yang berkenaan dengan akhlak, (3) Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan / msayarakat.
Budi pekerti, berarti tingkah laku,perangai, akhlak, watak. Budi perkerti : (1) mempunyai Budi; (2) Bijaksana, berakal (3) Berkelakuan baik (4) Murah Hati, baik hati.
Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa persamaan antara akhlak, moral, etika, dan budi pekerti adalah sebagaiberikut :
a.    Objek pembahasannya adalah tingkah laku, perbuatan, maupun perilaku.
b.    Perilaku yang dibahas adalah perilaku seseorang yang baik maupun yang buruk.

C.    Perbedaan dari Ahklak, Etika, Moral dan Budi Pekerti

1.    Pengertian Akhlak
“Ahklak berasal dari bahasa Arab, “Akhlak”yang merupakan bentuk jamak dari “Khuluq” secara bahasa “Akhlak” mempunyai arti budi pekerti, tabiat, watak. Sedangkan menurut istilah, akhlak didefinisikan oleh beberapa ahli sebagaiberikut :
a.    Imam Al-Ghazali dalambukunya ‘Ihya Ulumuddin” menyatakan sebagai berikut : “Akhlak ialah “ sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan segalaperbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan pertimbangan”.
b.    Dr. Ahmad Amin dalam bukunya “Al-Akhlak” menyatakan bahwa akhlak ialah ilmu untuk menetapkan ukuran segala perbuatan manusia yang baik atau yang buru, yang benar atau yang salah, atau yang hak atau yang bathil.
2.    Pengertian Etika
Etika berasal dari kata Yunani “ethos” yang berarti watak kesusilaan atau adat. Etika juga bermakna ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak), kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak, nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golonganataumasyarakat.

3.    Pengertian Moral
Moral berasal dari kata latin ‘Mos” yang dalam bentuk jamaknya “Mores” yang berarti juga adat atau cara hidup. Moral juga diartikan dengan baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban.

4.    Pengertian Budi Pekerti
Budi pekerti merupakan rangkaian dari dua kata yaitu budi dan pekerti. Budi bermakna alat batin yang merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk. Sedangkan pekerti adalah tingkah laku, perangai, akhlak, watak. Berbudi berarti mempunyai budi, bijaksana, berakal, berkelakuan baik, murah hati dan baik hati.


BAB III
PENUTUP


A.    Kritik
Pada zaman modern ini Akhlak, Moral, etika, dan Budi Pekerti telah di abaikan oleh para penerus bangsa. Apakah itu yang di namakan penerus bangsa. Oleh karena itu perbaikilah Akhlak, Moral, Etika, dan Budi Pekerti sebelum terlambat.

B.    Saran
Untuk teman-teman pembaca, pesan dari kami adalah dapat menerapakan Akhlah, Moral, Etika dan Budi Pekerti yang baik di dalam masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA


Budiarto, Sri. 2007. Akidah Akhlak : Surakarta

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

Akhlak Mulia

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Salah satu misi Kerasulan Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan sejarah mencatat bahwa faktor pendukung keberhasilan dakwah Beliau itu antara lain karena dukungan akhlaknya yang prima, hingga hal ini dinyatakan oleh Allah didalam Al-Qur’an.
Kepada umat manusia, khususnya yang beriman kepada Allah diharuskan agar keluhuran akhlak dan budi Rasulullah SAW dapat dijadikan contoh dalam khidupan sehari-hari. Mereka yang mematuhi perintah ini dijamin keselamatan hidupnya baik didunia maupun akhirat. Oleh sebab itu pemakalah mengangkat tema yang berkenaan tentang aspek-aspek yang mempengaruhi pembentukan akhlak mulia.
B.     Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan agar para mahasiswa bias memahami criteria akhlak mulia dan faktor apa saja yang bias mempengaruhi pembentukan akhlak mulia, dengan harapan agar kedepannya para pembaca bisa memiliki akhlaqul karimah.
C.    Rumusan Masalah
1.      Pengertian Akhlak Mulia
2.      Aspek-aspek Pembentukan Akhlak
3.      Metode Pembinaan Akhlak
4.      Manfaat Akhlak Mulia




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akhlak Mulia
Menurut Al-Ghazali, akhlah mulia atau terpuji adalah “Menghilangkan semua adat kebiasaan yang tercela yang sudah digariskan dalam agama Islam serta menjauhkan diri dari perbuatan tercela tersebut, kemudian membiasakan adat kebiasaan yang baik, melakukannya dan mencintainya ”[1]. Menurut Quraish Shihab akhlak mulia adalah akhlak yang menggunakan ketentuan Allah sebagai tolak ukur dan tolak ukur kelakuan baik mestilah merujuk kepada ketentuan Allah.
Ada beberapa hal yang mendorong sesorang untuk berbuat baik, diantaranya :
1.      Karena bujukan atau ancaman dari manusia lain
2.      Mengharap pujian atau karena takut mendapat cela
3.      Karena kebaikan dirinya (dorongan hati nurani)
4.      Mengharapkan pahala dan surga
5.      Takut kepada azab Allah
6.      Mengharap keridhoan Allah semata
Akhlak mulia berarti sifat-sifat atau tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma ajaran Islam. Akhlak mulia dapat kita tiru dari keteladanan sosok pribadi Rasulullah SAW. Beliau memenuhi kewajiban dan menunaikan amanah, menyuruh manusia kepada Tauhid yang lurus, pemimpin rakyat tanpa pilih kasih, dan beragam sifat mulia lainnya. Dengan berbagai sifat dan perbuatannya, didalam berbagai bidang dan keadaan beliau menjadi panutan contoh dan suri tauladan bagi manusia.
Arab
Artinya :  Sesungguhnya aku diatas hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak (H.R. Malik)

Arab
Artinya :  Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat)Allah dan (kedatangan)hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al-Ahzab : 21)
B.     Aspek-aspek yang mempengaruhi Pembentukan Akhlak
1.      Insting (Naluri)
Insting merupakan seperangkat tabiat yang dibawa manusia sejak lahir. Para psikolog menjelaskan bahwa insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong lahirnya tingkah laku.
Arab
Artinya : Manusia itu diberi hasrat atau keinginan, misalnya kepada wanita, anak-anak dan kekayaan yang melimpah. (Q.S Ali Imran : 14)
Segenap naluri insting manusia merupakan paket intern dengan kehidupan manusia yang secara fitrah sudah ada dan tanpa perlu dipelajari lebih dahulu. Dengan potensi naluri tersebut manusia dapat menghasilkan aneka corak perilaku yang sesuai dengan corak instingnya.
2.      Adat atau Kebiasaan
Adat atau kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama sehingga menjadi kebiasaan. Perbuatan yang telah menjadi adat kebiasaan tidak cukup hanya diulang-ulang saja tetapi harus disertai kesukaan dan kecenderungan hati terhadapnya.
3.      Wirotsah (Keturunan)
Secar istilah Wirotsah adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok (orang tua) kepada cabang (anak keturunan)[2]. Wirotsah juga dapat dikatakan sebagai factor pembawaan dari dalam yang berbentuk kecenderungan, bakat, akal dan lain-lain. Sifat-sifat asasi anak merupakan pantulan dari sifat-sifat asasi orang tuanya. Terkadang anak mewarisi sebagian besar dari salah satu sifat orang tuanya. Meskipun keturunan tidak berperan mutlak tetapi keturunan tersebut bisa menjadikan seseorang untuk beraktual mazmumah maupun mahmudiah.
4.      Lingkungan
Lingkungan sangat berpengaruh terhadap pembentukan akhlak seseorang, baik itu lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat.
Arab
Artinya : Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut Ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati,agar kamu bersyukur (Q.S An Nahl : 78)
Dalam ayat diatas memberi petunjuk bahwa seorang manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui segala sesuatu oleh sebab itu manusia memiliki potensi untuk dididik. Potensi tersebut bisa dididik melalui pengalaman yang timbul dilingkungan sekitar anak. Jika lingkungan tempat tinggal ia tinggal bersikap baik maka anak pun akan cendrung bersikap baik. Sebaliknya jika lingkungannya buruk maka anak akan cenderung bersikap buruk.
            Arab
Artinya : Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang membentuk anak itu menjadi yahudi, nasrani atau majusi (H.R. Bukhari)
Hadits tersebut menjelaskan bahwa lingkungan keluarga (dalam hal ini adalah kedua orang tua) adalah sebagai pelaksana utama dalam pendidikan akhlak anak. Ajaran Islam sudah memberi petunjuk yang lengkap kepada orang tua dalam membina akhlak anak. Jadi apabila orng tua ingin anaknya berakhlak mulia, maka sedari dini hendaklah anak-anaknya ditanami dengan nilai-nilai Islam. Sebagai orng tua yang berpengaruh terhadap pembentukan dan keprobadian anak, seharusnyalah orang tua memperhatikan pada pergaulan anak dilingkungan sekolah maupun di masyarakat. Karena lingkungan sangat berpengaruh pada proses pembentukan akhlak seseorang. Melalui kerja sama yang baik antara orang tua, guru disekolah dan tokoh-tokoh masyarakat, maka aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang diajarkan akan terbentuk pada diri anak.  
5.      Al-Qiyam
Al-Qiyam adalah nilai-nilai Islam yang telah dipelajari selama seseorang hidup. Aspek ini sangat mempengaruhi terbentuknya akhlak mulia dalam diri seseorang. Pedoman akhlak mulia atau akhlak Islami adalah Al-Quran dan Hadits. Melalui pemahaman tentang nilai-nilai ke Islaman yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits, seseorang bisa mengamalkan nilai-nilai tersebut. Sehingga tanpa disadari nilai-nilai tersebut menyatu dalam kepribadiannya dan terbentuklah akhlak mulia.
C.    Metode Pembinaan Akhlak
Islam sangat memperhatikan pembinaan Akhlak, sehingga didalam Islam pembinaan jiwa harus didahulukan dari pada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik akan lahir perbuatan-perbuatan yang baik, yang akan mempermudah menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin[3]. Hasil analisis Muhammad Al-Ghazali menyatakan bahwa dalam rukun Islam terkandung konsep pembinaan akhlak.
1.      Mengucapkan dua kalimah syahadat. Kalimat yang mengandung pernyataan bahwa selama hidup, manusia yang hanya tunduk dan patuh pada aturan Allah dan Rasul-Nya, sudah dapat dipastikan menjadi orang yang berakhlak baik atau mulia.
2.      Mengerjakan sholat lima waktu
Arab
Artinya : Bahwasanya aku menerima sholat hanya dari orang yang bertawadhu’ dengan sholatnya kepada keagungan-Ku yang tidak terus-menerus berdosa, menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk dzikir kepada-Ku, kasih sayang kepada fakir miskin, Ibnu sabil, janda serta mengasihi orang yang mendapat musibah. (H.R. Al-Bazaar)
Pada hadist Qudsi diatas menjelaskan bahwa sholat diharapkan dapat menghasilkan akhlak yang mulia. Selain itu sholat khususnya jika dilakukan berjama’ah akan menghasilkan kesahajaan.
3.      Membayar Zakat. Didalam membayar zakat mengandung didikan akhlak, agar orang yang melaksanakannya dapat membersihkan dirinya dari sifat kikir, mementingkan diri sendiri dan membersihkan hartanya dari hak orang lain.
4.      Puasa. Puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum dalam waktu terbatas, tetapi juga mendidik agar bisa menahan diri dari keinginan untuk melakukan perbuatan keji yang dilarang.
5.      Ibadah Haji. Didalam ibadah haji diamping harus menguasai ilmunya, juga harus sehat fisiknya, ada kemauan keras, bersabar dalam menjalankannya, mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan rela meninggalkan tanah air, harta dan keluarganya. Adapun pembinaan akhlak lainnya adalah dengan cara :
a.       Pembiasaan yang dilakukan sejak kecil dan berlangsung kontinyu
b.      Dengan cara paksaan yang lama kelamaan tidak lagi terasa dipaksa.
c.       Melalui keteladanan
d.      Dengan cara menuntut ilmu
D.    Manfaat Akhlak Mulia
1.      Memperkuat dan menyempurnakan agama
2.      Mempermudah perhitungan amal di akhirat
3.      Menghilangkan kesulitan
4.      Selamat hidup di dunia dan akherat
Arab
Artinya : Selama umat itu akhlaknya baik ia akan tetap eksis, dan jika akhlaknya sirna, maka ia pun akan binasa (Syair Syauki Bey)




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Akhlak mulia adalah sifat atau tingkah laku seseorang yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang terdapat pada kitab Al-Qur’an dan Sunah Rasul. Aspek-aspek yang mempengaruhi terbentuknya akhlak seseorang adalah :
1.      Insting – Naluri
2.      Lingkungan
3.      Keturunan
4.      Adat kebiasaan
5.      Al-Qiyam
B.     Saran
Jika dalam makalah kelompok empat ini terdapat berbagai kesalahan, kekurangan dan kekeliruan. Pemakalah meminta maaf kepada para pembaca, selain itu para pemakalah menanti kritik dan saran dari para pembaca, agar makalah selanjutnya bisa lebih baik.


DAFTAR PUSTAKA
Asmaran As. 1994. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : Raja Grafindo. cet. ke-2
Mustafa, Ahmad. 1997. Akhlak Tasawuf. Bandung : Pustaka Setia. cet . ke-2
Nata, Abudin. 2003. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Raja Grafindo Persada. cet. ke-5
Zahruddin AR dan Hasanuddin Sinaga. 2004. Pengantar Studi Akhlak. Raja Grafindo Persada



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... .... ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................... .... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah ............................................................................... 1
B.     Tujuan ...........................................................................................................
C.      Rumusan Masalah ........................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian Akhlak Mulia ..............................................................................
B.     Aspek-aspekyang mempengaruhi pembentukan Akhlak...............................
C.     Metode Pembinaan Akhlak...........................................................................
D.    Manfaat Akhlak Mulia..............................................................................
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ...................................................................................................
B.      Saran ............................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA



[1] Asmaran As, Pengantar Studi Akhlak,Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet ke-2. Hlm.204
[2] Zahruddin AR et-al. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Hlm.97
[3] Abudin Nata. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2003. Hlm.158

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites