Makalah

Blog ini berisi berbagai macam makalah kuliah.

Perangkat Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Modul Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Skripsi

Masih dalam pengembangan.

Lain-lain

Masih dalam pengembangan.

Tampilkan postingan dengan label SPI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SPI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 April 2014

Sejarah perkembangan abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN
Kemajuan kebudayaan islam pada masa Daulah Abbasiyah sering dianggap sebagai sebuah nostalgia untuk umat islam, yang tidak akan terwujud lagi dizaman sekarang. Kemajuan baik dalam segala bidang, sekarang dimiliki oleh Barat, dan dengan berbagai upaya Barat tetap mempertahanksn. Namun, tentu  tidak akan menjadi nostalgia ketika faktor-faktor penyebab Daulah Abbasiyah mencapai kejayaan tersebut  juga sedikit-demi sedikit  kembali dipegang dan dimiliki lagi oleh umat islam. Dibalik kemajuan yang sekarang dimiliki oleh Barat, sungguh tidak dapat dipungkiri kontribusi umat islam yang sangat besar untuk  mewujudkannya, walaupun sekarang terkadang dikaburkan kalau tidak boleh dikatakan dihilangkan kontribusi tersebut. Supaya seolah-olah kemajuan kebudayaan Barat adalah dengan diri sendiri, tidak ada sumbangsih  dari kebudayaan/peradaban Islam.
Membangkitkan kepercayaan umat  Islam akan potensi dan kekuatan diri sendiri itu merupakan upaya tersendiri. Salah satu caranya tiada lain melalui pembacaan sejarah kembali tentang masa-masa kemajuan kebudayaan islam tersebut. Oleh karena itu kami mencoba menarik dan menggali kembali kemajuan-kemajuan peradaban islam itu dalam tulisan ini. Agar nantinya bisa diambil hikah serta semangatnya oleh para pembaca sekalian.



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Sejarah Berdirinya Bani Abbasiyah
Berdirinya dinasti abbasiyah tak bisa dilepaskan dari muncuknya berbagai masalah di periode-periode akhir dinasti ummayah. Masalah masalah tersebut kemudian bertemu dengan masalah yang lain yang memiliki keterkaitan. Ketidak puasan di sana-sini yang ditampakkan lewat berbagai macam pemberontakanjelas menjadi pekerjaan rumah yang serius bagi kelangsungan hidup bani ummayah, yang kemudian menjadi momentum yang tepat untuk menjatuhkan dinasti ummayah yang dimotori oleh abu al-abbas al-saffah.[1]
Pada saat yang sama pula banyak ketidak puasan akan pemerintahan yang dibawa oleh para khalifah bani ummayah, kemudian muncullah gerakan propaganda untuk menjatuhkan daulah bani ummayah dari kekuasan. Gerakan yang digalang keluarga al-abbas ini awalnya bersifat rahasia  kemudian berlanjut secar terang-terangan, setelah dirasa mempunyai kekuatan dan dukungan dari rakyat. Setelah perjuangan bani abbas menuju tampuk kekuasaan dan tidak ditutup-tutupi lagi, terjadilah pertempuran antara abu muslim dari bani abbasiyah menggempur khalifah marwan dari daulah bani ummayah, yang kemudian ditandai dengan terbunuhnya khalifah marwan di mesir. Dengan demikian berakhirlah riwayat dinasti ummayah dan lahirlah dinasti abbasiyah.[2]
Pada masa ini peradaban islam mengalami banyak kemajuan. Hal itu ditandai dengan dengan ilmu pengetahuan , yang diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa yunani kedalam bahasa arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir. Imperium kedua dalam di dunia islam yang menggantikan daulah ummayah ini ini setelah terjadi revolusi sosial yang dipelopori oleh para keturunan bani abbas yang tak luput oleh dukungan golongan oposisi terhadap bani ummayah seperti kaum syiah, khawarij, qadariyah, mawali, dan suku arab bagian selatan.
Kemajuan peradaban abbasiyah sebagiannya disebabkan oleh stabilitas politik dan kemakmuran ekonomi kerajaan ini. Pusat kekuasaan abbasiyah berada di baghdad. Daerah ini bertumpu pada pertanian dengan sistem kanan dan irigasi di sungai eufrat dan tigris yang mengalir sampai teluk persia. Perdangan juga menjadi tumpuan kehidupan masyarakat baghhdad yang menjadi kota transit perdangan antar wilayah timur seperti persia, india, china dan nusantara.[3] Dan pada masa ini masyarakat islam juga mengalami kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat pesat.
B.  Kemajuan-Kemajuan Kebudayaan Islam Pada Masa Abbasiyah
Sejarah telah mengukir bahwa pada masa dinasti abbasiyah, umat islam benar-benar berada di puncak kejayaan dan memimpin peradaban dunia pada saat itu. Masa pemerintahan ini merupakan golden age dalam perjalanan sejarah peradaban islam terutama pada masa khalifah harun al-rasyid dan khalifah al-makmun. Umat islam sesungguhnya telah banyak dipacu untuk mengembangkan dan memberikan inovasi serta kreativitas dalam upaya membawa umat kepada keutuhan dan kesempurnaan hidup. Dari perjalanan dan rentang sejarah, ternyata pergantian dinasti ummayah kepada dinasti abbasiyah tidak hanya pergantian kepemimpinan. Lebih dari itu, pergantian tersebut telah menorehkan wajah dunia islam dalam refleksi pengembangan wawasan dan disiplin ilmu pengetahuan.[4] Dimana peningkatan itu sempat menjadi kiblat bagi perkembangan keilmuan dunia pada saat itu.
1.    Kemajuan Di Bidang Keagamaan
Ilmu pengetahuan agama telah berkembang pada msa daulah bani ummayah. Namun pada masa dinasti abbasiyah, ia mengalami perkembangan  dan kemajuan yang luar biasa. Masa ini melahirkan ulama-ulama besar vternama dan karya-karya agung dalam berbagai bidangimu agama. Misalnya dalam bidang ilmu tafsir, ilmu hadits, ilm kalam, dan ilmu fiqih.[5]
a.    Ilmu Tafsir
Pada masa abbasiyah ini, ilmu tafsir mengakami perkembangan yang sangat pesat dengan dilakukannya penafsiran secara sistematis , berangkai dan menyeluruh serta terpisah dari hadis. Dan pada masa ini pula muncul beberapa lairan dengan tafsirnya masing-masing, seperti ahlusunnah, syi’ah, dan mu’tazilah.
Ahli tafsir yang terkenal pada bidang tafsir bi al ma’tsur masa ini adalah al subhi (w. 127 H), muqatil bin sulaiman (w. 150 H). sedangkan dari tafsir bi al ra’yi yang sebagian dipelopori oleh golongan mu’tazilah adalah abu bakar al ‘asham (w. 240 H) dan ibnu jarwi al’asadi (w. 387 H).
b.    Ilmu Hadis
Pada masa daulah bani abbasiyah, kegiatan dalam bidang pengkodifikasian hadis dilakukan pula dengan giat sebagai nkelanjutan dari usaha para ulama sebelumnya. Perlu diketahui bahwa pengkodifikasian hadis sebelum masa abbasiyah dilakukan tanpa mengadakan penyaringan, sehingga bercampur antara hadis nabi saw. Dan yang bukan nabi saw.. berkenaan dengan kaeutamaan hadis sebagai sumber kedua setelah al quran, maka para ulama islam pada masa abbasiyah ini berusaha semaksimal mungkin menyaring hadist-hadist rasululah agar diterima sebagai sumber hukum.
Para ulama hadis yang terkenal pada masa ini adalah imam bukhari (w. 256 H), dengan bukunya shahih bukhari. Kemudian abu muslim al jajjaj (w. 261 H) berasal dari nisabur dengan karyanya shahih muslim. Kemudian ibnu majah (w. 273 H), abu dawud (w. 275 H), al turmudzi (w. 279 H) dan an nasa’I (w. 303 H). karya-karya mereka dikenal dengan nama al kutubu al sittah.[6]
c.    Ilmu Kalam
Pada masa ini muncul ulama-ulama besar di bidang ilmu kalam, baik dari kalangan mu’tazilah maupun ahlusunnah waljama’ah. Dari kalangan mu’tazilah dikenal antara lain abu huzail al allaf (w. 235 H), al junnaj (w. 290 H0, al jahiz (w. 255 H), al nizam (w. 231 H). sedangkan dari golongan ahlusunnah wal jama’ah ada al asy’ari (w. 234 H), al baqillani (w. 497 H), al ghazali (w. 505 H) dan al maturudi (w. 333 H). Pengembangan ilmu kalam pada masa ini mempunyai peran yan cukup besar yaitu dalam menjaga akidah islam dengan menggunakan argumentasi manthiq dan filosofi rasional.
d.   Ilmu Fiqih
Diantara kebanggaan  zaman pemerintahan daulah bani abbasiyah adalah terdaptnya empat imam madzhab yang ulung ketika itu. Yang mereka itu adalah, imam syafi’I, imam malik, imam abu hanifah, dan imam ahmad bin hambal. Keempat imam madzhab tersebut dengan karya-karya mereka merupakan para ulama fikih yang paling agung dan tiada bandingannya di dunia islam waktu itu.
2.    Kemajuan Ilmu-Ilmu Umum
Pada masa pemerintahan daulah Abbasiyah mengalami kemajuan dalam bidang pengetahuan dan teknologi. Hal ini disebabkan para khalifah memfokuskan pada pengembangan pengetahuan dan teknologi. Mereka menterjemahkan berbagai karya-karya baik dari bahasa Yunani, Persia, dan lain-lain. Kemajuan bidang pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai meliputi:
·      Geometri, perhatian cendekiawan muslim terhadap geometri dibuktikan oleh karya-karya matematika. Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi telah menciptakan ilmu Aljabar. Kata al-Jabar berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibah. Ahli geometri muslim lain abad itu ialah Kamaluddin ibn Yunus, Abdul Malik asy-Syirazi yang telah menulis sebuah risalah tentang Conics karya Apollonius dan Muhammad ibnul Husain menulis sebuah risalah tentang “Kompas yang sempurna dengan memakai semua bentuk kerucut yang dapat digambar”. Juga al-Hasan al-Marrakusy telah menulis tentang geometri dan gromonics.
·      Trigonometri, pengantar kepada risalah astronomi dari Jabir ibnu Aflah dari Seville, ditulis oleh Islah al-Majisti pada pertengahan abad, berisi tentang teori-teori trigonometrikal. Dalam bidang astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolobe. Al-Fargani yang dikenal di Eropa dengan nama al-Faragnus menulis ringkasan ilmu astronomi yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis.
·      Geografi, al-Mas’udi ahli dalam ilmu geografi diantara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma’aadzin al-Jawahir.
·      Antidote (penawar racun), ibnu Sarabi menulis sebuah risalah elemen kimia penangkal racun dalam versi Hebrew dan Latin. Penerjemahan dalam bahasa Latin (mungkin suatu adaptasi atau pembesaran) terbukti menjadi lebih populer dan lebih berpengaruh daripada karya aslinya dalam bahasa Arab.
·      Di bidang kimia terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan sesuatu zat tertentu.
·      Ilmu kedokteran dikenal nama al-Razi dan ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya ilmu kedokteran berada di tangan ibn Sina. Ibnu Sina yang juga seorang filosuf berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Diantara karyanya adalah al-Qanun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah.
·      Bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitami, yang di Eropa dikenal dengan nama al-Hazen. Dia terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya, bendalah yang mengirim cahaya ke mata.
·      Filsafat, tokoh yang terkenal adalah al-Farabi, ibn Sina dan ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logika, jiwa, kenegaraan, etika, dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah al-Syifa’. Ibn Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga disana terdapat aliran yang disebut dengan Averroisme.[7]
3.    Kemajuan Bidang Kesenian
Kesenian yang berkembang pada masa dulah bani abbasiyah ini adalah musik. Banyak risalah musikal telah ditulis oleh tokoh dari sekolah Maragha, Nasiruddin Tusi dan Qutubuddin asy-Syirazi, tetapi lebih banyak teoritikus besar pada waktu itu adalah orang-orang Persia lainnya. Safiuddin adalah salah seorang penemu skala paling sistematis yang disebut paling sempurna dari yang pernah ditemukan.
C.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
a)      Para Khalifah tetap dari keturunan Arab, sedang para menteri, panglima, Gubernur dan para pegawai lainnya dipilih dari keturunan Persia dan mawali .
b)      Kota Baghdad digunakan sebagai ibu kota negara, yang menjadi pusat kegiatan politik, ekonomi sosial dan kebudayaan.
c)      Ilmu pengetahuan dipandang sebagai suatu yang sangat penting dan mulia.
Kebebasan berfikir sebagai HAM diakui sepenuhnya .
d)     Para menteri turunan Persia diberi kekuasaan penuh untuk menjalankan tugasnya.
e)      Stabilitas ekonomi dan politik pada masa pemerintahan Daulah Bani Abbasiyah.
f)       Banyak cendekiawan yang diangkat menjadi pegawai pemerintah dan istana, di samping menjadi wazir mereka juga menjadi pendidik anak-anak khalifah.



BAB III
KESIMPULAN
Daulah Abbasiyah merupakan lanjutan dari pemerintahan Daulah Umayyah.
Dinamakan Daulah Abbasiyah karena para pendirinya adalah keturunan Abbas, paman Nabi. Daulah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah as-Safah. Kekuasaannya berlansung dari tahun 750-1258 M. Di dalam Daulah Bani Abbasiyah terdapat ciri-ciri yang menonjol yang tidak terdapat di zaman bani Umayyah, antara lain :
1.    Dengan berpindahnya ibu kota ke Baghdad, pemerintahan Bani Abbas menjadi jauh dari pengaruh Arab. Sedangkan Dinasti Bani Umayyah sangat berorientasi kepada Arab.
2.    Ketentaraan profesional baru terbentuk pada masa pemerintahan Bani Abbas.
Sebelumnya belum ada tentara Khusus yang profesional.
3.    Para ilmuwan yang lahir dari peradaban abbasiyah adalah para ilmuwan yang sangat dikenal di berbagai pelosok dunia. Buku-buku karya mereka juga menjadi acuan utama bagi para ilmuwan lainnya, baik di Barat maupun di Timur.
 Bidang Astronomi: Al-Fazari, Al- Fargani (Al-Faragnus), Jabir Batany, Musa bin Syakir, dan Abu Ja’far Muhammad.
·         Bidang Kedokteran: Ibnu Sina (Avicenna), Ibnu Masiwaihi, Ibnu Sahal, Ali bin Abbas, Al-Razi, Ibn Rusyd, dan Al-Zahawi.
·         Bidang Optika: Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythani (al-Hazen).
·         Bidang Kimia: Jabir ibn Hayyan dan Ibn Baitar.
·         Bidang Matematika: Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi, Tsabit ibn Qurrah al-Hirany, dan Musa bin Syakir.
·         Bidang Sejarah: Al-Mas’udi dan Ibn Sa’ad.
·         Bidang Filsafat: Al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd, dan Musa bin Syakir.
·         Bidang Tafsir: Ibn Jarir ath Tabary, Ibn Athiyah al-Andalusy, Abu Bakar Asam, dan Ibn Jaru al-Asady.

DAFTAR PUSTAKA

Fu’adi, Imam. 2011 . Sejarah Peradaban Islam . Yogyakarta : Teras
http://makalah-ibnu.blogspot.com/2008/09/bani-abbasiyah.html
Malik, Maman A. . 2005. Sejarah Kebudayaan Islam . Yogyakarta : Pokja Akademik
Rofiq, Choirul. 2009 . Sejarah Peradaban Islam . Ponorogo : STAIN Ponorogo Press


[1] Imam fu’adi, sejarah peradaban islam, (yogyakarta : teras, 2011) hlm. 105
[2] ibid, hlm. 111
[3] Maman A. malik dkk, sejarah kebudayaan islam , (yogyakarta : pokja akademik, 2005) hlm. 113
[4] Choirul rofiq, sejarah peradaban islam, (yogyakarta : nadi offset, 2009) hlm. 151.
[5] Maman A. malik dkk, sejarah kebudayaan islam , (yogyakarta : pokja akademik, 2005) hlm. 124
[6] Maman A. malik dkk, sejarah kebudayaan islam , (yogyakarta : pokja akademik, 2005) hlm. 128
[7] http://makalah-ibnu.blogspot.com/2008/09/bani-abbasiyah.html

Sabtu, 03 Agustus 2013

Daulah Abbasiyah

PENDAHULUAN
Kata Daulah berasal dari bahasa Arab. Dalam bahasa Indonesia kata atau kalimat Daulah mempunyai arti Negara. Attabik Ali, dalam kamusnya menyebutkan Daulah adalah negara, bangsa dan pemerintahan. Dalam bahasa Inggris Daulah adalah nation dan juga dapat diartikan dengan pemerintahan suatu negara.
Daulah Abbasiyah adalah salah satu Daulah Islam yang membawa Islam dan masyarakatnya kepada masa kejayaan. Daulah Abbasiyah ini merupakan Daulah Islam sangat maju, ini dapat kita lihat pada kurun waktu yang cukup lama.
Daulah Abbasiyah adalah kelanjutan Daulah Umayyah. Daulah ini cukup lama memimpin dunia Islam. Para sarjana membagi masa Abbasiyah ini dalam beberapa periode, mulai dari berdirinya sampai keruntuhannya.
Dalam makalah ini akan dibahas segi pertumbuhan dan perkembangan Islam pada masa Bani Abbasiyah. Pada masa ini Islam mengalami berbagai kemajuan dalam berbagai bidang, baik itu ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.

BAB II
PEMBAHASAN
A.            Latar Belakang Berdirinya Daulah Abbasiyah
Pemerintahan Abbasiyah adalah berketurunan dari pada al-Abbas paman Nabi SAW. pendiri kerajaan al-Abbas ialah Abdullah al-Saffah bin Muuhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas, dan pendiriannya dianggap suatu kemenangan bagi idea yang dianjurkan oleh kalangan Bani Hasyim setelah kewafatan Rasulullah SAW. agar jabatan khalifah diserahkan kepada keluarga Rasul dan sanak saudaranya.
Daulah Abbasiyah adalah Negara yang melanjutkan kekuasaan Daulah Umayyah. Sejarah peralihan kekuasaan dari daulah Umayyah kepada Daulah Abbasiyah bermula ketika Bani Hasyim menuntut agar kepemimpinan Islam berada di  tangan mereka, karena mereka adalah keluarga terdekat Nabi SAW tuntutan itu sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi baru menjelma menjadi gerakan ketika  Bani Umayyah naik tahta dengan mengalahkan Ali bin Thalib dan bersikap keras terhadap Bani Hasyim.
Propaganda Abbasiyah dimulai sejak Umar bin Abdul Aziz (717-720 M) menjadi khalifah Daulah Umayyah. Umar memimpin dengan adil. Ketentraman dan stabilitas negara memberi kesempatan kepada gerakan Abbasiyah untuk menyusun dan merencanakan gerakanya yang berpusat di al-Muhaymah. Pemimpinya waktu itu adalah Ali bin Abdullah bin abbas, seorang zahid. Dia kemudian digantikan oleh anaknya, Muhammad, yang memperluas gerakan. Dia menetapkan tiga kota sebagai pusat gerakan.
Yaitu al-Humayah sebagai pusat perencanaan dan organisasi, Kufah sebagai kota penghubung, dan Khurasan sebagai pusat gerakan praktis. Muhammad wafat pada 125H/743 M dan digantikan anaknya. Abrahim al-Imam. Sebagai panglima perang, dipilih seorang kuat dari Khurasan yang bernama ‘Abu Muslim al Khurasani. Abu Muslim berhasil merebut Khurasan dan kemudian menyusul kemenangan demi kemenagan. Pada awal 132H/749 M Ibrahim al-Imam tertangkap oleh pemerintahan Daulah Umayah dan dipenjarakan sampai meninggal. Dia digantikan oleh saudaranya, Abu Abbas. Tidak lama setelah itu dua bala tentara, Abbasiyah dan Umawiyah, bertempur di dekat sungai zab bagian hulu. Dalam pertampuran itu Bani Abbas mendapat kemenangan, dan bala tentaranya terus menuju ke kota Syam (suriah); disini kota demi kota dapat dikuasainya.
Tahun kemudian (132H/ 750 M) itu dijadikan tahun awal berdirinya Daulah Abbasiyah. Khalifah pertamanya adalah Abu Abbas as-Saffah. Daulah ini berlangsung sampai tahun 656H/ 1258 M. masa yang panjang itu dilaluinya dengan pola pemerintahan yang berubah-ubah sesuai perubahan politik, sosial, budaya dan penguasa. Berdasarkan perbedaan pola dan perubahan politik itu, para sejarawan membagi masa yang dilalui Daulah Abbasiyah dalam lima periode.
1. Periode pertama (132- H/750 M-232 H/847 M). Walaupun Abu Abbas adalah pendiri pertama daulah ini. Pemerintahannya hanya singkat (750-754). Pembina daulah ini adalah Abu Ja’far al-Mansur. Dia dengan keras menghadapi lawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa di kucilkan dari kekuasaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, ia menyingkirkian satu persatu tokoh besar sezamannya yang mungkin menjadi pesaing baginya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang telah ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Suriyah dan Mesir, akhirnya terbunuh di tangan Abu Muslim al-Khurasani karena tidak bersedia membaitnya. Abu Muslim sendiri, karena dikawatirkan akan menjadi pesaing baginya, akhirnya dihukum  mati oleh khalifah pada 755.
Untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas negara yang baru berdiri itu, al-Mansur kemudian memindahkan ibukota dari al-Hasyimiyah, dekat Kufah, ke kota yang baru dibangunnya, Baghdad. Pada tahun 767 disana ia menertibkan pemerintahannya dengan mengangkat aparat yang duduk dalam lembaga esksekutif dan yudikatif. Dalam lembaga eksekutif dia mengangkat wazir (menteri) sebagai koordinator departemen; dia juga mengangkat lembaga protokol negara, sekretaris negara, dan kepolisian negara di samping mengembangkan angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad bin Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak  masa Bani Umayah dilanjutkan dengan tambahan bagus, yakni selain untuk mengantar surat, juga untuk menghimpun seluruh informasi di daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berlangsung dengan lancar. Para direktur jawatan pos juga bertugas melaporkan kegiatan gubernur setempat kepada khalifah.
Jabatan wazir yang menggabungkan sebagian fungsi perdana menteri dengan menteri dalam negeri itu selama lebih dari 50 tahun berada di tangan keluarga Baramikah atau Barmak. Suatu keluarga yang terpandang yang berasal dari Balkh, Persia(Iran). Wazir pertama adalah Khalid bin Barmak, yang kemudian digantikan anaknya, Yahya bin Khalid. Yang terakhir ini kemudian mengangkat salah seorang anaknya, Ja’far bin Yahya, menjadi wazir muda.
PENGUASA ABBASIYAH
NAMA                                                               BERKUASA TAHUN
BANI ABBAS
1.        Abu Abbas as-Saffah                                    132 H/750 M-137 H/754 M
2.        Abu Ja’far al-Mansur                         137 H/754 M-159 H/775 M
3.        al-Mahdi                                                       159 H/775 M-169 H/785 M
4.        al-Hadi                                                          169 H/785 M-170 H/786 M
5.        Harun al-Rasyid                                             170 H/786 M-194 H/809 M
6.        al-Amin                                                         194 H/809 M-198 H/813 M
7.        al-Ma’mun                                                    198 H/813 M-218 H/833 M
8.        al-Mu’tasim                                                   218 H/833 M-228 H/842 M
9.        al-Wasiq                                                       228 H/842 M-232 H/847 M
10.     al-Mutawakkil                                               232 H/847 M-247 H/861 M
11.     al-Muntasir                                                    247 H/861 M-248 H/862 M
12.     al-Musta’in                                                    248 H/862 M-252 H/866 M
13.     al-Mu’taz                                                      252 H/866 M-256 H/869 M
14.     al-Muhtadi                                                     256 H/869 M-257 H/870 M
15.     al-Mu’tamid                                                  257 H/870 M-279 H/892 M
16.     al-Mu’tadid                                                   279 H/892 M-290 H/902 M
17.     al-Muktafi                                                     290 H/902 M-296 H/908 M
18.     al-Muqtadir                                                   296 H/908 M-320 H/932 M
BANI BUWAIHI
19.     al-Qahir                                                         320 H/932 M-323 H 924 M
20.     ar-Radi                                                          323 H/924 M-329 H/940 M
21.     al-Muttaqi                                                     329 H/940 M-333 H/944 M
22.     al-Muktakfi                                                   333 H/944 M-335 H/946 M
23.     al-Muti                                                          335 H/946 M-364 H/974 M
24.     al-Ta’i                                                           364 H/974 M-381 H/991 M
25.     al-Qadir                                                        381 H/991 M-423 H/1031 M
26.     al-Qa’im                                                        423 H/1031 M-468 H/1075 M
BANI SELJUK
27.     al-Muqtadi                                                    468 H/1075 M-487 H/1094 M
28.     al-Mustazir                                                    487 H/1094 M-512 H/1118 M
29.     al-Mustarshid                                                512 H/1118 M-530 H/1135 M
30.     ar-Rasyid                                                      530 H/1135 M-531 H/1136 M
31.     al- Muqtafi                                                    531 H/1136 M-555 H/1160 M
32.     al-Mustanjid                                                  555 H/1160 M-566 H/1170 M
33.     al-Mustadi                                                     566 H/1170 M-576 H/1180 M
34.     an-Nasir                                                        576 H/1180 M-622 H/1225 M
35.     az-Zahir                                                         622 H/1225 M-623 H/1226 M
36.     al- Mustansir                                     623 H/1226 M-640 H/1242 M
37.     al-Musta’sim                                     640 H/1242 M-656 H/1258 M
Kalau dasar-dasar pemerintahan Daulah Abbasiyah ini telah diletakan dan dibangun oleh Abu Abbas as-Saffah dan Abu Ja’far al-Mansur, maka puncak keemasan dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, mulai dari khalifah al-Mahdi (775-785). Puncak popularitas daulah ini berada pada zaman khalifai Harun ar-Rasyid (786-809) dan putranya al-Ma’mun (813-833).
2. Periode kedua 232-847 M-334 H/945 M). Pilihan khalifah al-Must’in terhadap unsur Turki dala ketentaraan terutama dilatarbelakangi adanya persaingan antara golonganArab dan Persia pada masa al-Ma’mun dan sebelumnya. Al-Musta’in dan khalifah sesudahnya, al-Wasiq, mampu mengendalikan mereka. Akan tetapi khalifah al-Mutawakkil yang merupakan awal dari periode ini adalah seorang khalifah yang lemah. Pada masanya orang Turki dapat merebut kekuasaan dengan cepat setelah al-Mutawakkil wafat. Merekalah yang memilih dan mengangkat khalifah sesuai dengan kehendak mereka. Dengan demikian kekuasaan tidak lagi berada di tangan bani Abbas, meskipun mereka menjabat sebagai khalifah. Sebenarnya ada usaha untuk lepas dari tentara Turki itu, tetapi usaha itu selalu gagal. Pada 892, Baghdad kembali menjadi ibukota. Kehidupan Intelektual terus berkembang.
Setelah orang Turki mulai melemah karena ada persaingan diantara mereka sendiri, khalifah ar-Radi menyerahkan kekhalifahan kekuasaan kepada Muhammad bin Ra’iq, gubernur Wasith dan Bashrah. Khalifah memberinya gelar “Amirul Umara” (panglima dari para panglima). Namun demikian, keadaan Bani Abbas tidak lebih baik. Dari dua belas khalifah pada periode ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahta dengan paksa.
Pada periode ini memang ada beberapa pemberontakan, seperti pemberontakan Zanj di dataran rendah Irak Selatan dan pemberontakan Qaramitahyang berpusat di Bahrain, tetapi bukan itu penyebab gagalnya mereka mewujudka kesatuan politikDaulah Abbasiyah. Faktor penting penyebab kemunduran Bani Abbaspada periode ini adalah sebagai berikut. a) luasnya wilayah kekuasaan Bani Abbasiyah yang harus dikendalikan, sementara komonikasi lambat. Bersamaan dengan itu, tingkat saling percaya di kalangan para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. b) dengan propesionalisasi tentara, ketergantungan  dengan merekamenjadi sangat tinggi. c) kesulitan keuangan karena beban pembiayaan  tentara sangat besar. Setelah kekuasaan militer merosot, khalifah tidak sanggup memaksa pengiriman pajak ke Baghdad.
3. Periode ketiga (334 H/945 M-447 H/1055 M). Pada periode ini, Daulah Abbasiyah berada di bawah kekuasaan Buwaihi. Keadaan khalifah lebih buruk daripada masa sebelumnya, terutama karena  Bani Buwaihi adalah penganut aliran Syi’ah. Khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintahkan dan diberi gaji. Bani Buwaihi membagi kekuasaannya kepada tiga bersaudara: Ali untuk wilayah bagian selatan negeri Persia, Hasan untuk wilayah bagian utara, dan Ahmad untuk wilayah al-Ahwaz, Wasit dan Baghdad. Dengan demikian, Baghdad pada periode ini tidak lagi merupakan pusat pemerintahan Islam karena telah pindah ke Syiraz tempat memerintahnya Ali bin Buwaihi, yang memiliki kekuasaan Bani Buwaihi. Meskipun demikian, dalam bidang ilmu pengetahuan Daulah Abbasiyah terus mengalami kemajuan pada periode ini. Pada masa ini muncul para pemikir besar seperti al-Farabi (870-950). Ibnu Sina (980-1013) al-Biruni (973-1048). Ibnu Maskawai (930-1030). Dan kelompok studi Ikhwan as-Safa. Bidang ekonomi, pertanian, dan perdagangan juga mengalami kemajuan yang dsiikuti dengan pembangunan Kanal Mesjid dan rumah sakit.
Pada masa Bani Buwaihi berkuasa di Baghda telah terjadi beberapa kali kerusuhan aliran antara Ahlisunnah dan Syi’ah. Pemberontakan tentara, dan sebaginya.
4. Periode Keempat (447 H/1055 M-590 H/1199 H). Periode ini ditandai dengan kekuasaan Bani Saljuk atas Daulah Abbasiyah. Kehadirahn Bani Saljuk ini adalah atas “undangan” khalifah untuk melumpuhkan kekuatan Bani Buwaihi di Baghdad. Keadaan khalifah memang membaik. Paling tidak karena kewibawaannya dalam bidang agama kembali setelah beberapa lama dikuasai orang Syi’ah.
Sebagaimana pada periode sebelumnya, ilmu pengetahuan juga berkembang pada periode ini. Nizam al-Mulk, perdana menteri pada masa Alp Arslan dan Malik Syah, mendirikan Madrasah Nizammiyah (1067) dan Madrasah Hanafiyah di Baghdad. Cabang-cabang Madrasah Nizamiyah didirikan hamper pada setiap kota di Irak dan di Khurasan. Madrasah ini menjadi model bagi perguruan tinggi di kemudian hari. Dari madrasah ini lahir banyak cendekiawan dalam berbagai disiplin ilmu. Diantara cedekiawan Islam yang dilahirkan dan berkembang pada periode ini adalah az-Zamakhsary, penulis dalam bidang tafsir dan ushuluddin (teologi), al-Qusyairi dalam bidang tafsir, al-Gazali dalam bidang ilmu kalam dan tasauf, dan Umar Hayyam dalam bidang ilmu perbintangan.
Dalam bidang politik, pusat kekuasaan tidak terletak di kota Baghdad. Mereka membagi wilayah kekuasaan menjadi beberapa provinsi dengan seorang gubernur untuk mengepalai masing-masing provinsi tersebut. Pada masa pusat kekuasaan melemah, masing-masing provinsi tersebut memerdekakan diri. Konflik-konflik dan peperangan yang terjadi diantara mereka melemahkan mereka sendiri, dan sedikit demi sedikit kekuasaan politik khalifah menguat kembali, terutama untuk negeri Irak. Kekuasaan mereka tersebut berakhir di Irak di tangan KhawarizmSyah pada 590 H/1199 M.
5. Periode Kelima (590 H/1199 M-655 H/1258 M). Pada periode ini khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu. Mereka merdeka dan berkuasa, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Sempitnya wilayah kekuasaan khal;ifah menunju8kan kelemahan politiknya. Pada masa inilah datang tentara Mongol dan Tartar menghancurluluhkan Bahgdad tanpa perlahan pada 656 H/1258 M.
Faktor Daulah Abbasiyah menjadi lemah dan kemudian hancur dapat dikelompokan menjadi kelompok Intern dan faktor esktern. Diantara factor Intern adalah (a) adanya persaingan tidak sehat antara beberapa bangsa yang terhimpun dalam Daulah Abbasiyah, terutama Arab, Persia, Dan Turki; (b) adanya konflik aliran pemikiran dalam Islam yang menyebabkan timbulnya konflik berdarah. (c) munculnya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dari kekuasaan pusat di Baghdad; dan (d) kemerosotan ekonomi akibat kemunduran politik. Adapun ekstern, antaralain : (a) perang salib yang terjadi dalam beberapa gelombang dan (b) hadirnya tentara Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan dan meguasai kota Baghdad. Yang terakhir inilah yang secara langsung menyebabkan hancurnya Daulah Abbbasiyah.[1]
B. Sistem Pemerintahan Abbasiyah
Pemerintahan kekhalifahan Abbasiyah bertumpu pada banyak sistem yang pernah dipraktikkan oleh bangsa-bangsa sebelumnya, baik yang Muslim maupun non-Muslim. Dasar-dasar pemerintahan Abbasiyah diletakkan oleh Khalifah kedua, Abu Ja’far al-Mansur yang dikenal sebagai pembangun Khilafah tersebut. Sedangkan sebagai pendiri ialah Abdul Abbas as-Saffah. Dukungan dan sumbangan bangsa Persia kentara sekali ketika Abbasiyah berdiri dengan munculnya Abu Muslim al-Khurasani, dan memang wilayah operasional bangsa ini berada di bekas keruntuhan kerajaan Persia. Kebangkitan orang-orang Persia itu antara lain juga karena sudah bosannya mereka terhadap kebijaksanaan pemerintahan Umayyah yang diskriminatif terhadap bangsa non-Arab yang menjadikan mereka warga kelas dua yang disebut dengan kaum Mawalli. Maka, tidak mengherankan bila kekhalifahan Abbasiyah mengambil nilai-nilai dalam sistem pemerintahannya.
Bangsa Persia mempercayai adanya hak agung raja-raja yang didapat dari Tuhan. Oleh karena itu para khalifah Abbasiyah memperoleh kekuasaan untuk mengatur Negara langsung dari Allah, bukan dengan rakyat, yang berbeda dengan sistem kekhalifahan yang diterapkan oleh Khulafaurrasyidin yang dipilih oleh rakyat. Kekuasaan mereka tertinggi diletakkan pada ulama, sehingga pemerintahannya merupakan sistem teokrasi. Khalifah bukan saja berkuasa dibidang pemerintahan duniawi tetapi mereka juga berhak memimpin agama yang mendasarkan pemerintahannya pada agama. Abbasiyah memprotes Umayyah yang mementingkan kemegahan duniawi. Dinasti baru tersebut juga ingin mempertahankan bidang keagamaan, dan menggunakan simbol-simbol yang dianggap suci bagi mereka dengan menyertakan mantel dan tongkat Nabi ketika dilaksanakan pelantikan khalifah dan upcara-upacara keagamaan. Khalifah Abbasiyah juga menggunakan gelar Imam untuk menunjukkan aspek keagamaannya. Gelar itu telah lama dipakai kelompok Syiah. Dalam hal pengangkatan putra mahkota, Abbasiyah meniru sistem yang dilaksanakan oleh Umayyah, yakni menetapkan dua orang putra mahkota sebagai pengganti pendahulunya.[2]
C. Masa Kejayaan Daulah Abbasiyah
Kejayaan daulah Bani Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid (170-193 H/78-809 M) dan anaknya, al-Makmun (198-218 H/813-833 M). ketika ar-Rasyid memerintah, Negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walau ada juga pemberontakan, dan luas wilayahnya mulai dari Afrika Utara hingga ke India. Pada masanya hidup pula para filosof, pujangga, ahli baca al-Quran dan para ulama di bidang agama. Didirikan pula perpustakaan yang diberi nama Baitul Hikmah, di dalamnya orang dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Khalifah harun ar-Rasyid sebagai orang yang taat beragama, menunaikan ibadah haji setiap tahun yang diikuti oleh keluarga dan pejabat-pejabatnya serta para ulama, dan berderma kepada fakir miskin.
Pada masanya berkembang ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu pengetahuan agama, seperti ilmu al-Quran, qira’at, hadis, fiqih, kalam, bahasa dan sastra. Empat mazhab fiqih tumbuh berkembangpada masa Abbasiyah ini. Imam Abu Hanifah yang meniggal di Bagdad tahun 150/677 adalah pendiri mazhab Hanafi. Imam Malik ibn Anas yang banyak menulis hadis dan pendiri mazhab Maliki itu wafat di Madinah tahun 179/795. Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i yang meninggal di Mesir tahun 204/819 adalah pendiri mazhab Syafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal pendiri mazhab Hanbali meniggal dunia tahun 241/855. disamping itu berkembang pula ilmu filsafat, logika, matematika, metafisika, alam, geometri, aljabar, aritmatika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran dan kimia. Ilmu-ilmu umum masuk ke dalam Islam melalui terjemahan dari bahasa Yunani dan Persia ke dalam bahasa Arab, disamping dari bahasa India. Dalam masa pemerintahan al-Makmun pengaruh Yunani sangat kuat. Di antara para penterjemah yang masyhur saat itu adalah Hanun ibn Ishak, seorang Kristen Nestorian yang banyak menterjemahkan buku-buku berbahasa Yunani ke bahasa Arab. Ia terjemahkan kitab Republik dari Plato, dan kitab Kategori, Metafisika, Magna Moralia dari Aristoteles. India juga mengilhami perkembangan filasafat, kesusasteraan dan ilmu pasti dalam Islam. Al-Khawarizmi (wafat kira-kira 850 M) menyusun ringkasan astronomi berdasarkan ilmu Yunani dan India. Penulisan sejarah berkembang pada saat itu, diantara para penulis sejarah ialah Ibnu Ishak, Ibn Hisyam dan at-Tabari, al-Maqrizi dan lain-lain. Ilmu bumi memudahkan perjalanan kaum Muslimin ke penjuru dunia, antara lain ke India, Srilangka, dan Melayu.
Khalifah Harun merupakan penguasa yang paling kuat di dunia pada saat itu, tidak ada yang menyamainya dalam hal keluasan wilayah yang diperintahnya, dan kekuatan pemerintahannya serta ketinggian kebudayaan dan peradaban yang berkembang di negaranya. Khalifah harun berada pada tingkat yang lebih tinggi peradabannya dan lebih besar kekuasaannya bila dibandingkan dengan Karel Agung di Eropa yang menjalin persahabatan dengannya karena motif saling memanfaatkan. Harun bersahabat dengan Karel untuk menghadapi Daulah Umayyah di Andalusia, sementara Karel berkepentingan dengan Khalifah yang tersohor itu untuk menghadapi Byzantium. Bagdad sebagai ibu kota Abbasiyah tidak ada bandingannya ketika itu, walau dengan Konstantinopel sebagai ibu kota Byzantium sekalipun.
Dalam masa itu berkumpul para seniman di Bagdad seperti Abu Nawas, salah seorang penyair yang terkenal, dan dihasilkan pula banyak karya seni sastra yang indah seperti Alf lailah wa lailah “Seribu Satu Malam”, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Arabian Night. Pelabuhan-pelabuhan Abbasiyah disinggahi oleh kapal-kapal dari seluruh prnjuru dunia, seperti junjung dari Cina, yang membawa barang dagangannya (porselen, sutera dan minyak kesturi), kapal-kapal dari India dan Nusantara yang membawa barang-barang tambang, rempah-rempah dan cat, sedangkan batu manikin, lazuardi dan budak datang dari Turki di Asia Tengah. Madu, lilin, kulit dan budak kulit putih datang dari Skandinavia dan Rusia, sementara itu gading, emas-bubuk dan budak kulit hitan datang dari Afrika Timur. Dari Bandar-bandar itu diekspor barang-barang hasil industri, perhiasan, kaca-logam, mutiara-gelas dan rempah-rempah ke Timur Jauh, Afrika dan Eropa.
Bagdad sebagai ibu kota kekhalifahan Abbasiyah yang didirikan oleh Khalifah al-Mansur mencapai puncak kejayaannya dimasa ar-Rasyid walau kota itu belum limapuluh tahun dibangun. Kemegahan dan kemakmuran tercermin dalam istana Khalifah yang luasnya sepertiga dari kota Bagdad yang bundar itu dengan dilengkapi bangunan-bangunan sayap dan ruang audensi yang dipenuhi berbagai perlengkapan yang terindah. Kemewahan istana itu muncul terutama dalam upacara-upacara penobatan Khalifah, perkawinan, keberangkatan haji, dan jamuan untuk para duta Negara asing. Perkawinan al-Makmun, putra ar-Rasyid, dengan Buran, anak seorang wazirnya, al-Hasan ibn Sahal, tahun 825, merupakan pesta pora yang sangat meriah sehingga dapat dikatakan pemborosan yang besar. Betapa tidak, seribu butir mutiara yang besar-besar yang terletak di atas baki emas ditaburkan ke arah mempelai berdua yang berdiri di atas hamparan tikar yang dihiasi dengan mutiara dan batu nilam. Banyak hadiah yang berupa tanah, hamba sahaya dan barang berharga lainnya diberikan kepada keluarga Khalifah dan para pejabat tinggi Negara, dan masih banyak contoh lain.
D.Masa Kemunduran dan Kejauhan Abbasiyah
Sebagaimana dijelaskan hanya pada periode pertama pemerintahan bani Abbas mencapai masa keemasannya. Setelah itu pemerintahan dinasti Abbas mulai menurun dan mengalami kemunduran. Diantara sebab-sebab kemunduran itu adalah hidup mewah yang terjadi pada para khalifah Abbas dan keluarganya serta para pejabatnya karena harta kekuasaan yang melimpah dari hasil wilayah yang luas. Ditambah lagi dengan industri olahan yang melimpah dan tanah yang subur serta pendapatan pajak dari pelabuhan-pelabuhan yang menghubungkan antara dunia barat dan timur. Kondisi tersebut diperburuk oleh lemahnya para khalifah, sehingga mereka berada di bawah pengaruh para pengawalnya yang menguasai keadaan yang terdiri dari orang-orang Turki. Disamping itu adanya dinasti-dinasti yang memerdekakan diri terhadap pemerintahan pusat, Bagdad. Bahkan dinasti-dinasti seperti bani Umayah di Spanyol dan Fatimiyah di Afrika Utara dan Mesir menjadi saingan Abbas.[3] Selain itu juga serangan-serangan yang dilakukan oleh pasukan salib ke Palestina yang berjalan begitu lama dengan jatuh dan bangunnya pasukan Muslimin memperlemah kekuasaan bani Abbas juga. Selain itu juga banyak faktor-faktor yang lain yang menyebabkan dinasti Abbas menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan antara satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
●        Persaingan antar agama
●        Kemerosotan ekonomi
●        Konflik keagamaan
●        Ancaman dari luar
Akhir dari kekuasaan Abbas adalah ketika Bagdad dihancurkan oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Hulaku Khan, 658 H/1258 M. Ia adalah seorang saudara Qubilay Khan yang berkuasa di Cina hingga Asia Tenggara, dan saudara Mongke Khan yang menugaskannya untuk mengembalikan wilayah-wilayah sebelah barat dari Cina itu kepangkuannya lagi. Bagdad dibumi hanguskan dan diratakan dengan tanah. Khalifah bani Abbas yang terakhir dan keluarganya, al-Musta’in dibunuh, buku-buku di Baitul Hikmah dibakar dan dibuang ke sungai Tigris sehingga berubahlah warna air sungai tersebut yang jernih bersih menjadi hitam kelam karena lenturan tinta yang ada pada buku-buku itu.[4]
E. Peradaban Pada Masa Daulah Abbasiyah
Dengan kebangkitan Dinasti Abbasiyah ke panggung kekuasaan pada 750, sejarah Islam memasuki fase baru. Sejak masa ini berakhirlah riwayat entitas politik Islam yang didominasi oleh golongan aristokrasi Arab. Sebaliknya, sejak periode ini pula kaum muslim Arab dan non-Arab bergandengan tangan. tidak hanya dalam menegakkan entitas politik Islam, tetapi juga membangun dan mengembangkan peradaban Islam. Para khalifah Dinasti Abbasiyah sendiri berusaha membangun suatu entitas politik Islam universal berdasarkan prinsip kesetaraan antara kaum muslim Arab dan non-Arab.
Dalam kaitan itulah pada masa Dinasti Abbasiyah banyak kalangan mawali mulai memasuki angkatan bersenjata dan pemerintahan, sehingga mencapai kedudukan penting, seperti panglima dan wazir (perdana menteri). Terdapat pula di antara mereka yang mengabdikan diri sepenuhnya kepada pengembangan berbagai cabang keilmuan, sehingga mencapai tingkat ulama dan pemikir terkemuka. Dengan begitu, kaum mawali mempunyai peranan penting dalam memajukan peradaban Islam.
Karakter utama tatanan sosial-politik Abbasiyah adalah kosmopolitanisme. Sifat ini berkaitan erat dengan asal-usul kebangkitan Dinasti Abbasiyah itu sendiri ke singgasana kekuasaan. Revolusi Abbasiyah selalu menekankan semangat universalisme, yang pada gilirannya mengejawantah di dalam tatanan sosial politik yang tumbuh dan berkembang seusai revolusi. Golongan aristokrat militer Arab yang dominan pada masa Dinasti Umayyah kini digantikan oleh kelompok aristokrat baru yang merupakan semacam gabungan kalangan Arab dan non-Arab, khususnya orang Persia. Diskriminasi sosial dalam batas tertentu masih ada, tetapi tidak lagi berdasarkan asal-usul etnisitas Selain itu. kekayaan. kekuasaan dan kedudukan sosial tidak lagi didominasi golongan Arab, karena kalangan non-Arab juga mulai merambah ke dalam bidang-bidang ini. Hasilnya, kaum aristokrat lama pribumi kini diterima golongan Arab ke dalam kemitraan sepenuhnya. Perbedaan atau gap antara para penakluk dan yang ditaklukkan juga semakin menghilang.
Selanjutnya, golongan aristokrasi yang baru muncul tersebut pada hakikatnya lebih bersifat sipil daripada militer, sebagaimana yang terdapat pada masa Dinasti Umayyah. Kosmopolitanisme Abbasiyah terlihat lebih jelas dalam peranan yang dimainkan orang Persia. Mereka adalah kelompok non-Arab yang paling dominan bahkan sejak saat dimulainya Revolusi Abbasiyah. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau setelah Dinasti Abbasiyah terbentuk, orang Persia merupakan lapisan yang paling banyak di dalam angkatan bersenjata dan birokrasi. Orang Persia juga berperanan penting dalam perkembangan aspek budaya dan peradaban Islam.
Pada pihak lain, golongan Arab tetap merupakan unsur yang khas dalam masyarakat Islam, tidak hanya pada masa awal Dinasti Abbasiyah, tetapi juga sampai waktu-waktu lebih akhir. Meskipun kebanyakan aristokrasi Arab yang asli semakin terasimilasi ke dalam masyarakat lokal, terutama di wilayah sekitar pusat kekuasaan Abbasiyah, kabilah dan kelompok masyarakat Arab tertentu tetap mempertahankan kemurnian kearaban mereka.
Penggolongan kelompok Arab dan non-Arab, khususnya Persia, dalam Dinasti Abbasiyah jelas tidak perlu dibesar-besarkan. sebab pada saat yang sama kedua kelompok itu juga menjalin kerjasama yang harmonis dalam suasana kosmopolitanisme Abbasiyah. Kerjasama kedua kelompok besar ini terlihat jelas pada tradisi Dinasti Abbasiyah itu sendiri. Khalifah yang merupakan keturunan keluarga Nabi Muhammad SAW yakni Bani Hasyim. secara kokoh mempertahankan identitas Arabnya. Para khalifah Abbasiyah di masa awal dinasti mendidik anak-anak mereka bukan hanya tentang Islam, tetapi juga mengenai sastra dan tradisi Arab. Para khalifah setelah Khalifah Harun ar-Rasyid (memerintah 786-809) yang mempunyai ibu non-Arab tetap mempertahankan identitas Arab mereka melalui garis ayah. Lebih jauh, khalifah Abbasiyah lebih senang memiliki pengawal dan pengiring keturunan bangsawan Arab. Orang Arab juga merupakan bagian terbesar angkatan bersenjata Abbasiyah awal. meskipun kemudian mereka lebih banyak menjadi militer cadangan. Dengan cara seperti ini para khalifah Abbasiyah mempertahankan warna Arab dalam penampilan dinasti mereka.
Tradisi politik yang dikembangkan Dinasti Abbasiyah ini berbeda jauh dengan tradisi politik Islam pada masa sebelumnya. Khalifah pertama (al-Khulafa' ar-Rasyidun) di Madinah menerapkan tradisi politik yang sederhana. sesuai dengan tradisi dan kebudayaan Arab yang serba bersahaja. Para khalifah ini tidak mempertahankan jarak dengan warga Negara; bahkan akses untuk menemui mereka secara langsung sangat mudah dan terbuka. Mengikuti contoh Nabi Muhammad SAW, mereka mengambil keputusan-keputusan setelah bermusyawarah secara hati-hati dan seksama dengan anggota terkemuka umat.
Strata sosial perkotaan Abbasiyah: 1) golongan elit (khassah): aristocrat, bangsawan (a’yân), dan penguasa (amîr). 2) golongan orang kebanyakan (âmmah): sebagian besar warganegara, termasuk orang kaya.
KEMAKMURAN EKONOMI: BASIS PERADABAN ISLAM
Perluasan wilayah kekuasaan Islam, selain menimbulkan perubahan penting dalam kehidupan sosial-politik, seperti dikemukakan di atas, juga menimbulkan perubahan mendasar dalam kehidupan ekonomi. Konsolidasi kekuasaan kaum muslim di dalam satu kekuasaan kekhalifahan telah menggerakkan perubahan besar tidak hanya dalam kehidupan ekonomi di wilayah kekuasaan Islam, tetapi juga menimbulkan perubahan penting dalam pertanian, usaha komersial, dan perdagangan Internasional
Terwujudnya kekuasaan kekhalifahan tunggal, lebih jauh lagi, memungkinkan transformasi wilayah amat luas, yang terbentang dari perbatasan Cina dan Lautan Hindia di sebelah timur sampai ke pesisir Lautan Atlantik di sebelah barat, menjadi satu unit ekonomi raksasa yang tunggal. Manfaat yang diperoleh dari kenyataan ini amat luar biasa. Terdapat setidak-tidaknya tiga konsekuensi ekonomis dari kenyataan ini: Pertama. komoditas yang diproduksi di satu tempat tertentu dapat tersedia di tempat lain sehingga mendorong terciptanya keseragaman barang (consumergoods) di antara orang yang berada dalam wilayah yang begitu luas; Kedua, pusat kekuasaan muslim yang terletak di Timur Tengah memungkinkan terjadinya penyebaran inovasi teknologi ke tempat lain yang jauh; dan ketiga, terjadinya kemajuan transportasi, navigasi teknis serta terapannya, pembuatan kapal, dan kartografi serta geografi.
Sebagaimana diisyaratkan di atas, industri yang paling sukses berkembang pada masa Dinasti Abbasiyah adalah penenunan tekstil yang mencakup produksi kain, bahan pakaian, dan karpet. Bahan-bahan utama yang digunakan dalam industri adalah kapas, sutera, dan wol. Semua bahan ini terdapat dalam jumlah yang melimpah di berbagai wilayah kekuasaan Islam. Industri lain yang juga berkembang pesat adalah barang pecah-belah, keramik, dan parfum. Juga berkembang industri kertas yang diambil alih dari Cina sejak masa awal Dinasti Abbasiyah.
Adalah Dinasti Abbasiyah yang memperoleh paling banyak manfaat dari perkembangan ekonomi yang terjadi setelah ekspansi kekuasaan kaum muslim. Selesainya perluasan kekuasaan muslim di Timur Tengah secara relatif mendatangkan manfaat besar di bidang ekonomi yang sepenuhnya hanya bisa diwujudkan setelah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Yang terpenting adalah bahwa perluasan kekuasaan mendatangkan kemakmuran bagi perbendaharaan negara (baitulmal). Pada masa sebelumnya. kekayaan ini pada umumnya dikuasai kaum aristokrat dan tuan tanah. Dengan penguasaan kekayaan oleh negara, maka dimungkinkanlah terjadinya sirkulasi kekayaan dan dengan demikian, kemakmuran secara lebih merata.
Dengan kemakmuran perbendaharaan negara, maka kekhalifahan mampu mernbayar tentara dan pegawai sipil dengan baik; mereka juga menerima pensiun yang rata-rata besarnya dua kali lipat dari penghasilan perajin yang ahli. Sebagian gaji dan pensiun itu kemudian diinvestasikan dalam usaha kerajinan dan perdagangan. Sehingga menciptakan semacam kerjasama ekonomi antara pegawai negeri dan kaum wiraswasta. Pola ini pada gilirannya berperan penting dalam mendorong kemajuan industri dan perdagangan.
Industri dan perdagangan di masa Abbasiyah sebagian besar berada di tangan pemerintah, seperti produksi senjata, kertas, dan pembuatan bahan kain mewah. Industri lain pada prinsipnya bebas. Namun demikian, ada komoditas yang harus disuplai oleh produser kepada pemerintah dan karenanya terikat kepada ketentuan pemerintah.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Kejayaan daulah Bani Abbasiyah terjadi pada masa Khalifah Harun ar-Rasyid (170-193 H/78-809 M) dan anaknya, al-Makmun (198-218 H/813-833 M). ketika ar-Rasyid memerintah, Negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walau ada juga pemberontakan, dan luas wilayahnya mulai dari Afrika Utara hingga ke India.
Sebab-sebab kemunduran Abbasiyah adalah hidup mewah yang terjadi pada para khalifah Abbas dan keluarganya serta para pejabatnya karena harta kekuasaan yang melimpah dari hasil wilayah yang luas.
Faktor-faktor yang lain yang menyebabkan dinasti Abbas menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan antara satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
●        Persaingan antar agama
●        Kemerosotan ekonomi
●        Konflik keagamaan
●        Ancaman dari luar
Industri dan perdagangan di masa Abbasiyah sebagian besar berada di tangan pemerintah, seperti produksi senjata, kertas, dan pembuatan bahan kain mewah. Industri lain pada prinsipnya bebas. Namun demikian, ada komoditas yang harus disuplai oleh produser kepada pemerintah dan karenanya terikat kepada ketentuan pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
●        Yatim, Badri. 1993. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
●        Mufrodi, Ali. 1997. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: LOGOS

[1] Ensiklopedi Islam, Jilid I, Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve, 2005. h. 6-9
[2] Dr. Ali Mufradi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, Jakarta: Logos, 1997. h. 102-103
[3] Dr. Badri Yatim, M.A. Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1993. h. 49-60, 102-104
[4] Dr. Ali Mufradi,. op.cit. h.
DOWNLOAD MAKALAH FORMAT WORD

Pertumbuhan Islam di Spanyol (Andalusia)

Dalam bahasa Arab sejarah disebut “Tarikh” artinya ketentuan masa. Selain itu juga kata tarikh dipakai dalam arti “perhitungan tahun”. Dalam bahasa Inggris disebut “history” yang berarti the development of everything in time (perkembangan segala sesuatu dalam suatu masa).
Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab al-Hadharah al-Islamiyyah kata kata Arab ini sering juga diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Dengan kebudayaan Islam. “kebudayaan” dalam bahasa Arah adalah al-tsaqafah. Dalam perkembangan ilmu antropologi istilah kebudayaan dan peradaban itu dibedakan. Kebudayaan itu adalah sebuah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kebudayaan lebih banyak direflesikan dalam seni, sastra, relegi dan moral, peradaban terefleksikan dalam politik, ekonomi dan teknologi.
Kemajuan barat pada mulanya bersumber dari peradaban Islam yang masuk ke Eropa melalui Spanyol. H.A.R. Gibb di dalam bukunya “Lohither Islam” menyatakan Islam is indeed much more thand a system of theology it is a complete civilzation. (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar dari agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Karena yang menjadi pokok kekuatan dan sebab timbulnya kebudayaan adalah agama  Islam, kebudayaan yang ditimbulkannya dinamakan kebudayaan/peradaban Islam.
Dalam makalah ini akan di bahas segi pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam pada masa Bani Umayyah di Spanyol. Pada masa ini Islam mencapai pada masa keemasannya di Spanyol. Dan Spanyol Islam merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting.      
BAB II
PEMBAHASAN
A.            Pertumbuhan Islam di Spanyol
Spanyol diduduki umat Islam pada zaman Khalifah Al-WAlid (705-715), salah seorang khalifah dari Bani Umayyahyang berpusat di Damaskus sebelum penaklukan Spanyol, umat Islam telah menguasai Afrika Utara dan menjadikannya salah satu provinsi dari dinasti Bani Umayyah. Penaklukan atas daerah Afrika Utara itu dari pertama kali dikalahkan sampai menjadi salah satu provinsi khalifah Bani Umayyah memakan waktu selama 53 tahun, yaitu mulai tahun 30 H (masa pemerintahan Muawiyah Ibn Abi Sufyan). Sampai tahun 83 H (masa pemerintahan Al-Walid).
Sebelum dikalahkan dan kemudian dikuasai Islam, di kawasan ini terdapat kantong-kantong yang menjadi basis-basis kekuasaan kerajaan Romawi, yaitu kerajaan Gothik. Kerajaan ini sering menghasud agar membuat kerusakan dan menentang kekuasaan Islam. Setelah kawasan ini betul-betul dapat dikuasai, umat Islam mulai memutuskan perhatianya untuk menaklukan Spanyol. Dengan demikian Afrika Utara menjadi batu loncatan bagi kaum muslimin dalam penaklukan wilayah Spanyol.
Dalam proses penaklukan wilayah Spanyol ada tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan kesana, mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa ibn Nushair. Tharif dapat disebut sebagai perintis atau penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada antara Maroko dan benua Eropa itu dengan satu pasukan perang 500 orang diantaranya tentara berkuda, mereka memiliki 4 buah kapal yang disediakan oleh Julian. Dalam penyerbuan itu Tharif tidak memperdapati perlawanan yang berarti, dia menang dan kembali ke Afrika Utara membawa harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. Didorong oleh kemnangan Tharif dan kemelut yang terjadi dalam tubuh kerajaan Visigothic yang berkuasa di Spanyol pada saat itu, Musa ibn Nushair pada tahun 711 M mengirim pasukan ke Spanyol sebanyak 7000 orang dibawah pimpinan Thariq ibn Ziyad.
Pahlawan Thariq inilah yang yang masyhur karena membakar perahunya seketika sampai di pantai Andalusia di suatu bukit yang kemudian diberi nama yaitu Jabal Thariq (Qibraltar).[1] Dibakarnya perahu supaya jangan ingat hendak pulang bila telah sampai ke negeri musuh dikenal juga sebagai penakluk Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata.[2]  Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa ibn Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim oleh khalifah Al-Walid. Dalam pertempuran di suatu tempat yang bernama Bakkah, Raja Roderick dapat dikalahkan. Dari situ Thariq dan pasukannya terus menaklukan kota Toledo (ibu kota kerajaan Goth saat itu).[3] 
Jumlah pasukan Thariq saat itu seluruhnya 12.000 orang. Dan belum sebanding dengan pasuka Gothick yang lebih besar, 100.000 orang. Musa ibn Nushair membantu perjuangan Thatiq dengan pasukan yang besar, keduanya berhasil menguasai seluruh kota penting di Spanyol, termasuk bagian utaranya mulai dari Saragosa sampai Navarre. Gelombang kedua terbesar dari penyerbuan kaum Muslimin yang geraknya dimulai pada abad ke-8 M ini, telah menjangkau seluruh Spanyol dan melebar jauh menjangkau Prancis tengah dan bagian penting dari Italia.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak bias dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal yang menguntungkan.[4]
B. Perkembangan Islam di Spanyol
Sejarah panjang yang dilalui umat Islam di spanyol itu dapat dibagi menjadi enam periode, yaitu:
1.        Periode pertama (711-755 M)
Periode ini, Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang yang diangkat oleh khalifah Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus, pada periode ini stabilitas politik negeri Spanyol belum tercapai secara sempurna, gangguan-gangguan masih terjadi, baik datang dari dalam maupun dari luar.[5] antara lain berupa perselisihan diantara elit penguasa, terutama akibat perbedaan etnis dan golongan. Disamping itu, terdapat perbedaan pandangan antara khalifah di Damaskus dan gubernur Aprika Utara yang berpusat di Kairalian. Masing-masing mereka mengaku merekalah yang paling berhak menguasai daerah Spanyol ini. Oleh karena itu, terjadi 20 kali pergantian wali (gubernur) Spanyol dalam waktu yang sangat singkat.
Gangguan dari luar datang dari sisa-sisa musuh Islam di Spanyol yang bertepat tinggal di daerah pegunungan yang memang tidak pernah tunduk kepada pemerintahan Islam gerakan ini terus memperkuat diri. Setelah berjuang lebih dari 500 tahun, akhirnya mereka mampu mengusir Islam dari bumi Spanyol.
Karena seringnya terjadi konflik internal dan berperang menghadapi musuh dari luar, maka dalam periode ini Islam Spanyol belum memasuki kegiatan pembangunan di bidang peradaban dan kebudayaan. Periode ini berakhir dengan datangnya Abd al- Rahman al- Dakhil ke Spanyol pada tahun 130 H / 755 M.
2.        Periode ke 2 (755-912 M)
Pada periode ini, Spannyol berada di bawah pemerintahan seseorang yang bergelar Amir (panglima/gubernur) tetapi tidak tunduk kepada pusat pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol tahun 138 H/755 M, dan diberi gelar Al-Dakhil yang masu ke Spanyol). Dia adalah keturunan Bani Umayyah yang berhasil lolos dari kejaran Bani Abbas.
Ketika terakhir kali ini berhasil menaklukan Bani Umayyah di Damaskus. Selanjutnya dia berhasil mendirikan dinasti Bani Umayyah di Spanyol. Penguasa-pengusa Spanyol di periode ini adalah Abd al- Rahman al- Dakhil, Hisyam I, Hakam I, Abd al-Rahman al-Ausath, Muhammad ibn al-Rahman Munzir ibn Muhammad dan Abdullah ibn Muhammad.
Periode ini umat Islam Spanyol mulai memperoleh kemajuan-kemajuan , baik dalam bidang politik maupun bidang peradaban. Abd al-Dakhil mendirikan mesjid Cordova dan sekolah-sekolah di kota besar Spanyol. Hisyam berjasa dalam menegakkan hukum Islam, dan Hakam sebagai pembaharu dalam bidang kemiliteran. Sedangkan Abd al-Rahman al-Ausath dikenal sebagai penguasa yang cinta ilmu.[6]  
Sekalipun demikian, berbagai ancaman dan kerusuhan terjadi, pada abad ke-9 stabilitas Negara terganggu dengan munculnya gerakan Kristen Fanatik yang mencari kesyahidan (Martyrdom). Gangguan politik yang paling serius pada periode ini datang dari umat Islam sendiri.
3.        Periode ke-3 (912- 1013 M)
Periode ini berlangsung  mulai pada pemerintahan Abd al- Rahman III yang bergelar “An-Nashir” sampai munculnya raja-raja kelompok-kelompok yang bergelar dengan sebutan Muluk al-Thawaif. Pada periode ini Spanyol di perintah oleh seorang penguasa dengan gelar khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang, yaitu Abd al- Rahman An-Nasir, (912-961) M. Hakam II (961-976 M) dan Hisyam II (976-1009 M).
Pada periode ini umat Islam Spanyol mmencapai puncak kejayaan dan kemajuan menyaingi kejayaan daulah Abbasiyah di Baghdad. Abd al-Rahman mendirikan Universitas Cordova. Perpustakaannya memilki koleksi ratusan ribu buku. Hakam juga seorang kolektor buku dan pendiri perpustakaan.[7]  Awal dari kehancuran khalifah Bani Umayyah di Spanyol adalah ketika Hisyam naik tahta dalam usia 11 tahun. Oleh karena itu kekuasaan aktual berada di tangan para pejabat. Pada taun 981 M, khalifah menunjuk Ibn Abi Amir sebagai pemegang kekuasaan secara muthlak, atas keberhasilannya ia mendapat gelar al-Manshur Billah. Digantikan anaknya al-Muzaffar, setelah wafat pada tahun 1008 M, digantikan oleh adiknya yang tidak mempunyai kualitas bagi jabatan itu. Dalam beberapa tahun saja Negara yang tadinya makmur dilanda kekacauan dengan akhirnya kehancuran total. Pada tahun 1009 M khalifah mengundurkan diri. Akhirnya pada tahun 1013 M dewan menteri yang memerintah Cordova menghapuskan jabatah khalifah. Ketika itu Spanyol terpecah dalam banyak sekali negara kecil yang berpusat di kota-kota tertentu.
4.        Periode ke-4 (1013-1086 M)
Pada periode in Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negara kecil di bawah pemerintahan raja-raja  golongan a/ Al- Mulukuth –Thawaif yang berpusat di kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya. Yang terbesar diantaranya adalah Abbadiyah di Seville, pada periode ini umat Islam Spanyol kembali memasuki masa pertikaian Intern. Ironisnya kalau terjadi perang saudara ada diantara pihak-pihak yang bertikai itu ada yang meminta bantuan kepada raja-raja Kristen, melihat kelemahan dan kekacauan yang menimpa keadaan politik Islam itu, untuk pertama kalinya orang-orang Kristen mengambil inisiatif penyerangan. Meskipun kehidupan politik tidak stabil, namun kehidupan entelektual terus berkembang pada periode ini.
5.        Periode ke-5 (1086-1248 M)
Pada periode ini Spanyol Islam meskipun sudah terpecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat suatu kekuatan dominan, yaitu kekuasan dinasti Murabbithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M)  dinasti Murabbithun mulanya adalah sebuah gerakan agama  yang didirikan oleh Yusuf Ibn Tasyfin di Afrika Utara. Pada tahun 11 43 M kekuasan dinasti ini berakhir, baik di Afrika Utara maupun Spanyol dan digantikan oleh dinasti Muwahiddun ibn Tumart (w. 1128). Dinasti ini datang ke Spanyol dibawah pimpinan Abd al- Mun’im, untuk jangka beberapa decade, dinasti ini banyak mengalami kemajuan, kekuatan-kekuatan Kristen dapat dipukul mundur. Akan tetapi tidak lama setelah itu, Muwahiddun mengalami keambrukan. Pada tahun 1212 M, tentara Kristen mengalami kemenangan beasar di Las Navas di Toleso. Kekalahan-kekalahan yang dialami Muwahiddun menyebabkan penguasaannya memilih untuk meninggalkan Spanyol dan kembali ke Afrika Utara (tahun 1235 M ). Keadaan Spanyol kembali runyam di bawah penguasa-penguasa kecil dalam kondisi ini umat Islam tidak mampu bertahan dari serangan-serangan Kristen yang semakin besar. Tahun 1238  M Cordova jatuh ketangan penguasa Kristen dan Seville jatuh pada tahun 1248 M. Seluruh Spanyol kecuali Granada lepas dari kekuasaan Islam.[8]
6.        Periode ke-6 (1248-1492 M)
Pada periode ini, Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492 M) peradaban mengalami kemajuan seperti di zaman Abdurrahman An-Nasir, akan tetapi secara politik dinasti ini hanya berkuasa diwilayah yang kecil. Kekuasaan Islam yang merupakan pertahanan terakhir di Spanyol ini berakhir karena perselisihan orang-orang istana dalam memperebutkan kekuasaan.
Dua penguasa Kristen (Ferdenand dan Isabella) ingin merebut kekuasaan terakhir umat Islam di Spanyol. Abu Abdullah yang naik tahta pada saat itu tidak kuasa menahan serangan-serangan orang-orang Kristen tersebut dan pada akhirnya mengaku kalah. Ia menyerahkan menyerahkan kekuasaan kepada Ferdinand dan Isabella kemudian hijrah ke Afrika Utara, pada tahun 1942 M berakhirlah kekuasaan Islam di Spanyol. Umat Islam pada saat itu dihadapkan pada dua pilihan, masuk Kristen atau pergi meninggalkan Spanyol. Pada tahun 1609 M, boleh dikatakan tidak ada lagi umat Islam di daerah ini.[9]         
C. Kemajuan peradaban
Umat Islam telah mencapai kejayaannya lebih dari 7 abad. Banyak prestasi yang mereka peroleh, bahkan pengaruhnya membawa Eropa, dan kemudian dunia, kepadsa kemajuan yang lebih kompleks.
1.        Kemajuan Intelektual
a.        Filsafat
Tokoh pertama dalam sejarah filsafat Arab-Spanyol adalah Abu Bakar      Muhammad ibn al-Sayigh yang dikenal dengan Ibn Bajjah, tokoh kedua adalah Ibn Thufail, produk asli Wadi Asy, sebuah dusun kecil di sebelah timur Granada. Ia banyak menulis masalah kedokteran, Astronomi dan Filsafat. Karya filsafatnya yang terkenal adalah Hay Ibn Yaqzhan. Aristoteles yang bagian akhir abad ke-12 M menjadi saksi munculnya seorang pengikut terbesar di gelanggang filsafat dalam Islam yaitu Ibnu Rusyd dari Cordova.
b.       Sains
Ilmu-ilmu kedoktorean, musik, astronomi, matematika, kimia dan lai-lain juga berkembang dengan baik. Abbas ibn Parnas termasyhur dalam ilmu kimia dan astronomi, ialah orang pertama yang menemukan pembuatan kaca dari batu. Ibrahim ibn Yahya al- Naqqash terkenal dalam ilmu astronomi. Ahmad ibnu Abbas di Cordova adalah ahli dalam bidang obat-obatan. Ummu al- Hasan binti Abu Ja’far dan saudara perempuan al-Hafizh adalah seorang ahli kedokteran dari kalangan wanita.
Dalam bidan sejarah dan geografi wilayah Islam bagian barat banyak melahirkan pemikir terkenal. Ibn Jubair dari Valencia (1145-1228 M) menulis tentang negeri-negeri muslim Medeterania dan Sicilia dan Ibn Batuthah dari tanggeir (1304-1377 M) mencapai samudera Pasai dan Cina. Ibn Khatib (1317-1374 M) menyusun riwayat Granada, sedangkan Ibn Khaldun dari Tunis adalah perumus fisafat. Sejarah itulah sebagian nama-nama besar dalam bidang sains.
c.        Fiqih
 Dalam bidang fiqh Islam Spanyol terkenal terkenal sebagai penganut mazhab Maliki, yang memperkenalkan mazhab ini adalah Ziyad ibn Abd al-Rahman. Perkembangan selanjutnya di kembangkan oleh Ibn Yahya yang menjadi Qadhi dimasa al-Hisyam ibn Abd al-Rahman. Diantara ahli-ahli fiqih adalah Abu Bakar ibnu al-Quthiyah, Munzir ibn Sa’id, al-Baluthi dan Ibn Hazm yang terkenal.
d.       Musik dan kesenian
Dalam bidang musik dan seni sastra, Spanyol Islam mencapai kecemerlangan dengan tokohnya al-Hasan ibn Nafi yang dijuluki Zaryab.
e.        Bahasa dan sastra
Bahasa Arab telah menjadi bahasa administrasi dalam pemerintahan Islam di Spanyol. Hal itu dapat diterima oleh orang-orang Islam dan yang non Islam. Bahkan penduduk asli Spanyol nenomor duakan bahasa asli mereka. Juga banyak yang ahli dan mahir dalam bahasa Arab, baik keterampilan berbicara maupun bahasa. Mereka itu antara lain: Ibnu Sayyidih, Ibn Malik pengarang Al-Fiyah, Ibn Khuruf, Ibn Al-Hajj, Abu ali Al-Isybili, Abu Al-Hasan Ibnu Usfur  dan Abu Hayyan Al-Gharnathi.
Karya sastra banyak bermunculan seperti: Al-Iqd al-Farid karya Abd Rabbih. Al-Zakhirah fi Mahasin Ahl al-Jazirah oleh Ibn Bassam, kitab al-Qalaid buah karya al-Fath Ibn Khaqan.
2.        Kemegahan Pembangunan Fisik
Aspek-aspek pembangunan fisik yang mendapat perhatian umat Islam sangat banyak. Dalam perdagangan, jalan-jalan dan pasar dibangun, bidang pertanian pembangunan-pembangunan fisik yang paling menonjol adalah pembangunan gedung-gedung dan taman-taman, pembangunan yang megah seperti Cordova, kota al-Zahra, Istana Ja’fariyah di Saragosa, tembok Toledo, Istana al-Makmun, mesjid Seville, dan istana al-Hamra di Granada.
3.        Faktor-faktor pendukung  kemajuan
Kemajuan Spanyol sangat didukung oleh pemimpin dan penguasa yang kuat dan berwibawa, yang mampu mempersatukan kekuatan umat Islam. Seperti Abd al-Rahman al-Dakhil, Abd al-Rahman al-Wasith dan Abd al-Rahman An-Nasir.
Tolerasi beragama ditegakan oleh penguasa terhadap penganut agam Kristen dan Yahudi, sebagian mereka ikut mewujudkan peradaban Arab Islam di Spanyol untuk orang Kristen sebagaimana orang-orang Yahudi disediakan hakim-hakim khusus yang menangani masalah sesuai dengan ajaran mereka masing-masing.
D.Penyebab kemunduran dan kehancuran
1.        Konplik Islam dan kristren
2.        Tidak adanya ideologi pemersatu
3.        Kesulitan ekonomi
4.        Tidak jelasnya system peralihan kekuasaan
5.        Keterpencilan
E. Pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa
Spanyol merupakan tempat yang paling utama bagi Eropa menyerap peradaban Islam, baik dalam bentuk bangunan politik sosial maupun perekonomian dan peradaban antar negara. Pengaruh peradaban Islam termasuk di dalamnya pemikiran Ibn Rusyd ke Eropa berawal dari banyaknya pemuda Kristen Eropa yang belajar di universitas-universitas Islam di Spanyol, seperti Universitas Cordova, Seville, Malaga, Granada dan Salamanca. Selama belajar di Spanyol mereka aktif menerjemahkan buku-buku karya ilmuan-ilmuan Muslim. Pusat penerjemahan itu adalah Toledo. Pemikiran filsafat yang paling banyak di pakai adalah pemikiran al-Farabi Ibn Sina dan Ibn Rusyd.
Pengaruh ilmu pengetahuan terhadap Eropa yang sudah berlangsung sejak abad ke-21 M itu menimbulkan gerakan kebangkitan kembali (renaissaince) pusaka Yunani di Eropa pada abad ke-14 M. Berkembangnya pemikiran Yunani di Eropa ini adalah melalui terjemahan-terjemahan Arab yang dipelajari kemudian diterjemahkan kembali ke dalam bahasa latin.
Walaupun Islam akhirnya terusir dari negeri Spanyol dengan cara sangat kejam, tetapi ia telah membidani gerakan-gerakan penting di Eropa. Gerakan-gerakan itu adalah: kebangkitan kembali kebudayaan Yunani kalsik (renaissance) pada abad ke-14 M yang bermula di Italia, gerakan reformasi pada abad ke-16 M, Rasionalisme pada abad ke-17 M dan pencerahan (aufklaerung)  pada abad ke 18 M.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
A.            Pertumbuhan Islam di Spanyol
Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam yang dapat dikatakan paling berjasa memimpim satuan-satuan pasukan Islam. Mereka adalah Tharif ibn Malik, Thariq ibn Ziyad dan Musa Ibn Nusair.
B. Perkembangan Islam di Spanyol
Sejarah panjang umat IUslam di spanyol itu dapat dibagi menjadi menjadi enem periode, yaitu:
1.        Periode pertama (711-755 M)
Spanyol berada di bawah pemerintahan para wali yang berpusat di Damaskus. Pada periode ini stabilitas politik negeri ini belum tercapai secara sempurna, gangguan musuh terjadi baik datang dari dalam maupun dari luar.
2.        Periode kedua (755-912 M)
Spanyol berada dibawah pemerintahan seseorang yang bergelar Amir (panglima/ gubernur) tetap tidak tunduk kepada pemerintahan Islam, yang ketika itu dipegang oleh khalifah Abbasiyah di Baghdad. Amir pertama adalah Abdurrahman I yang memasuki Spanyol pada tahun 138 H /755 M dan diberi gelar Ad-Dakhil (yang masuk ke Spanyol).
3.        Periode ketiga 9912-1013 M)
Periode ini berlangsung mulai dari pemerintahan Abd al-Rahman III yang bergelar “an-Nasir” sampai munculnya raja-raja dan kelompok-kelompok yang dikenal dan sebutan Muluk Al-Tawai’f. Pada periode ini Spanyol diperintah oleh seorang penguasa dengan gelar khalifah-khalifah besar yang memerintah pada periode ini ada tiga orang yaitu Abd al-Rahman al-Nasir (912-961 M), dan Hisyam II (976-1009 M).
4.        Periode keempat (1013-1086 M)
Spanyol terpecah menjadi lebih dari 30 negeri kecil dibawah pemerintahan raja-raja atau golongan-golongan (al-Mulukuth-Thawaif) yang berpusat di kota seperti Seville, Cordova, Toledo dan sebagainya.
5.        Periode kelima (1086-1248 M)
Spanyol Islam meskipun terpecah dalam beberapa Negara, tetapi terdapat suatu kekuatan yang dominan, yaitu kekuasaan dinasti Murabbithun (1086-1143 M) dan dinasti Muwahhidun (1146-1235 M).
6.        Periode keenem (1248-1492 M)
Islam hanya berkuasa di daerah Granada, dibawah dinasti Bani Ahmar (1232-1492).
C. Adapun kemajuan Intelektualnya
●        Filsafat
●        Sains
●        Fiqih
●        Musik dan kesenian
●        Bahasa dean sastra.
D.Penyebeb kehancuran dan kemunduran
●        Konflik Islam dan Kristen
●        Tidak adanya ideologi pemersatu
●        Kesulitan ekonomi
●        Tidak jelasnya sistem peralihan kekuasaan
●        Keterpencilan
●        Pengaruh peradaban Spanyol Islam di Eropa.
DAFTAR PUSTAKA
●        Syalabi. Sejarah dan Kebudayaan Islam 2. Cet. 3. Jakarta: Al-Husna Zikra, 1995.
●        Asrahah, Hanun. Sejarah Pendidikan Islam. Cet.1. Jakarta: logos, 1999.
●        Ahmad Amin, Husayn. Seratus Tokoh Dalam Islam.
●        Hamka. Sejarah Umat Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1951
●        Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam, Ed. 1. cet. 7. Jakarta: Raja Grapindo Persada, 1998.

[1] Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1951), h. 89
[2] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Ed. 1. cet-7 (Jakarta: Raja Grapindo Persada 1998), h. 89
[3] A. Syalabi. op.cit., h. 161
[4] Badri Yatim, op.cit., h. 91
[5] Ibid., h. 93-94
[6] Ahmad Syalabi, Mausu’ah al-Tarikh al-Islami wa al- Hadharah al-Islamiyah, Jilid 4, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1979 M), h. 41-50
[7] Badri Yatim, op.cit., h. 97.
[8] Ahmad Syalabi, op.cit., h. 76.
[9] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jilid 1 (Jakarta: UI Prees, 1985), cet-5, h. 62.

Sejarah Perang Salib

PENDAHULUAN
Perang salib merupakan suatu kejadian besar dalam sejarah umat manusia. Dalam peperangan yang berlangsung selama dua abad itu beratus jiwa umat manusia telah mati. Di samping itu kerugian harta benda tak tehitung banyaknya, seterusnya akibat buruk perang salib ini hingga saat ini juga masih dapat dirasakan.
Adapun korban pertama dalam peperangan ini adalah kaum Muslimin. Kaum Muslimin dijadikan bahan pelampias nafsu amarah dan keserakahan. Umat Nasrani dari Eropa datang dengan segala keganasan dan ketamakannya dalam dunia Islam untuk mencari keuntungan duniawi dengan dalil membela agama.
BAB II
PEMBAHASAN
A.            LATAR BELAKANG PERANG SALIB
Perang salib adalah peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan pengikut agama Nasrani yang berada di Eropa, dimana peperangan ini membawa akibat buruk sekali bagi sejarah Timur dan Barat. Sebab dan latar belakang perang salib hanya dapat disimpulkan dalam dua bagian:
1.        Umat Nasrani ingin mengadakan pembalasan dendam kepada umat Islam
Sejak agama Islam berkembang di Jazirah Arabiah, kaum Muslimin telah berhadapan dengan umat Nasrani yang berada di sekitar Jazirah Arabiah. Terutama sekali kerajaan Kristen Byzantium. Telah berkali-kali umat Islam berperang melawan kerajaan Nasrani. Sehingga akhirnya seluruh jajahan Kerajaan Nasrani direbut oleh kaum Muslimin. Lebih dari itu kaum Muslimin juga berhasil meluaskan sayapnya sampai ke Spanyol, pusat Negara Kristen sendiri.
Kenyataan sejarah yang demikian inilah yang menyebabkan umat Nasrani menyimpan dendam terhadap kaum Muslimin. Perasaan dendam inilah kelak yang mendorong umat Nasrani untuk melampiaskan nafsu amarahnya kepada kaum Muslimin.
2.        Terdorong oleh keinginan untuk mencari keuntungan duniawi
Keadaan di Eropa menjelang terjadinya perang salib sangat krisis sekali. Pada umumnya perekonomian dan kekayaan berada di tangan kaum bangsawan saja, sedangkan kaum jelata yang merupakan golongan terbesar dari bangsa Eropa berada dalam sengsara dan kemiskinan. Penindasan terhadap kaum lemah terjadi dimana-mana.
Bicara keadaan di dunia Kristen mengalami kemunduran total, baik dibidang pengetahuan, maupun dibidang kehidupan sosial, padahal keadaan umat Islam adalah sebaliknya. Dewasa itu keadaan umat Islam sangat maju sekali. Maju dibidang sosial maupun dibidang perekonomian, dan dibidang ilmu pengetahuan.
Dari sini dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa yang mendorong bangsa Eropa untuk datang ke dunia Islam adalah untuk mencari keuntungan duniawi.
1.        Periode-Periode dalam Perang Salib
Peristiwa penting dalam gerakan ekspansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis dan Armenia. Peristiwa besar ini menanamkan permusuhan terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan perang salib, yang terjadi dalam tiga periode.
1.        Periode Pertama
Peniup pertama tentara salib di Eropa adalah seorang rahib yang bernama Petrus. Pada mulanya rahib ini ketika berkunjung ke Betlehem di tahun 1093 M. Dia iri sekali melihat kota suci itu berada di tangan kaum Muslimin. Perasaan sedemikian itu membakar hatinya terhadap kaum Muslimin, karena itu sekembalinya rahib ke Eropa, dia langsung menghadap kepada bapak gereja Khatolik di Roma untuk melaporkan isi hatinya kepada pemimpin Khatolik. Pada waktu itu yang duduk di singgasana pimpinan adalah pendeta Urbain II.
Keluhan rahib Petrus itu disambut gembira oleh pimpinan Khatolik. Untuk selanjutnya pimpinan Khatolik ini mencari massa dikalangan umat Nasrani Eropa. Pimpinan gereja mengundang semua masyarakat Eropa untuk mengadakan sidang gereja guna membicarakan pengutusan tentara salib ke Timur Tengah guna merebut kota suci itu
Sidang gereja itu pada mulanya diadakan di kota Plaisance (Italia Utara). Dalam sidang gereja hadir beberapa pemuka Nasrani, namun sidang ini kurang berpengaruh di kalangan umat nasrani. Karena itu sidang gereja yang kedua telah diadakan di kota Clermont. Sidang ini diadakan pada tahun 1095 dan telah dihadiri oleh segenap lapisan masyarakat Eropa, baik dari golongan bangsawan maupun dari rakyat jelata yang miskin.
Tentara salib periode pertama ini terbagi dua bagian, untuk golongan rakyat jelata di bawah pimpinan rahib Petrus – peniup bangkitnya tentara salib di Eropa. Sedangkan yang lain di bawah pimpinan beberapa orang raja Eropa. Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Paletina. Tentara salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bahemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 Juni 1097 mereka berhasil menaklukkan Nicea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Disini mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur. Bahemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait al-Maqdis (15 Juli 1099) dan mendirikan kerajaan Latin III, dengan raja Godfrey. Setelah penaklukan Bait al-Maqdis itu, tentara salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M), Tripoli (1109 M) dan kota Tyre (1124 M). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV, rajanya adalah Raymond.[1]
2.        Periode Kedua
Imaduddin Zanki, penguasa Mashul dan Irak, berhasil menaklukkan Aleppo, Hamimah, dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun ia wafat tahun 1146 M. Tugasnya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen Mengobarkan perang salib kedua. Paus Eugerius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Cordrad II. keduanya memimpin perang salib untuk merebut wilayah Kristen di Syiria. Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Cordrad II melarikan diri pulang ke negerinya.[2] Nuruddin wafat tahun 1147 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalah al-Din al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. Hasil peperangan Shalah al-Din yang terbesar adalah merebut kembali yerussalem pada tahun 1187 M.
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum Muslimin sangat memukul perasaan tentara salib, mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa raja Jerman, Richard The Lion Hart raja Inggris, dan Philip Augustus raja Perancis. Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M, meskipun medapat tantangan berat dari Shalah al-Din, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi, mereka tidak berhasil memasuki Palestina.
3.        Periode Ketiga
Tentara salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-orang Kristen Qibthi. Pada tahun 1191 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu adalah al-Malik al-Kamil, membuat perjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara al-Malik al-Kamil melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum Muslimin disana, dan Frederick tidak mengirim bantuan kepada Kristen di Syiria. Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin tahun 1247 M, dimasa pemerintahan al-Malik al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah, pimpinan perang dipegang oleh Baybars dari Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum Muslimin tahun 1291 M.
Demikianlah perang salib yang berkobar di Timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di Spanyol, sampai umat Islam terusir dari sana.
2.        Simbol-Simbol Salib
1.        Simbol Salib Kristen
Tidak diragukan lagi bahwa bagi kaum Muslimin simbol salib melambangkan agama Kristen, dengan pandangan kaum Muslimin secara umum Kristen jelas identik dengan salib. Seorang raja Kristen di dalam salah satu cerita rakyat diberi nama panggilan, Abd al-Shalib (budak salib) sebuah nama dengan mengambil model nama-nama Islam yang banyak melibatkan penggunaan nama ‘Abd yang digabungkan dengan salah satu dari nama indah Allah (seperti ‘Abd al-Wahhab). Namun, dalam konteks Kristen nama tersebut memiliki arti yang merendahlan.
2.        Salib Sebagai Simbol Kemalangan bagi Kaum Muslimin
Sebagai simbol yang jelas dan uatam bagi umat Kristen, salib bagi kaum Muslimin justru membawa kemalangan. Kaum Muslim yang berperang di bawah salib dipastikan akan menemui kekalahan.[3] Para penulis sejarah menyusun cerita hebat tentang hal ini dalam pertempuran Gaza pada 642 H/1244 M ketika pasukan Muslim dari Damaskus dan Hims bertempur di bawah bendera kaum Frank melawan kaum Khawarazmi dan pasukan Mesir. Seluruh peristiwa ini dengan memilukan di catat oleh Sibth Ibn al-Jawzi:
Salib-salib berada di atas kepala dan para pendeta di Batalian itu membuat tanda salib pada kaum Muslim dan memberikan sakramen kepada mereka. Di tangan mereka terdapat piala dan bejana-bejana minum yang mereka gunakan untuk memberi minum prajurit Muslim itu…sementara itu, penguasa Hims…dia mulai menangis, sambil berkata “saya tahu, ketika kami berangkat dengan menjunjung salib-salib Frank, bahwa kami tidak akan berhasil”.
B. KEUNTUNGAN UMAT NASRANI DALAM PERANG SALIB
1.        Luasnya pengetahuan dan pengalaman
Pada umumnya sebagian besar ahli sejarah mencatat bahwa Eropa di abad pertengahan sedang hidup dalam kebodohan dan kegelapan. Bangsa Eropa, selain bangsa Yunani dan Romawi adalah terdiri dari bangsa Barbar yang belum maju. Mereka tidak mengenal dunia luar dengan baik, karena itu pandangan dan pengetahuan mereka sangat terbatas.
Setelah mereka datang ke Timur Tengah dan berkumpul dengan kaum Muslimin selama dua abad barulah pengalaman dan pengetahuan mereka berkembang luas. Di abad pertengahan dunia Islam – baik di Barat maupun di Timur – semuanya mengalami suatu kemajuan dan pekembangan peradaban Islam yang tinggi sekali. Di Spanyol umat Nasrani yang hidup dekat kaum Muslimin sangat maju sekali bentuk kehidupan mereka, dan cara berfikir mereka, karena peradaban Islam di Spanyol dewasa itu sangat maju.
2.        Mereka mengenal toleransi dari kaum Muslimin.
Ketika mereka mendapat kemenangan dari kaum Muslimin, timbullah rasa tamak dan keganasan untuk membunuh dan merampas. Mereka lakukan segala perbuatan yang menjatuhkan martabat agama yang dianutnya. Perbuatan mereka yang tidak bertoleransi tidak diimbangi oleh kaum Muslimin dengan perbuatan yang serupa. Bahkan mereka selalu bertoleransi kepada lawannya yang telah berlaku kejam. Kaum Muslim selalu berlaku baik kepada lawannya yang lemah, sehingga tentara salib terharu sekali dengan ketoleransian kaum Muslimin. Dengan adanya perang salib ini umat Nasrani yang biadab akhirnya belajar toleransi dari kaum Muslimin.
BAB III
PENUTUP
Simpulan
Dari makalah yang telah dipaparkan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.        Perang salib adalah peperangan yang terjadi antara kaum Miuslimin dengan pengikut agama Nasrani yang berada di Eropa.
2.        Latar belakang perang salib terbagi dua, yaitu: petama, umat Nasrani ingin mengadakan pembalasan dendam kepada umat Islam. Kedua, terdorong oleh keinginan untuk mencari keuntungan duniawi.
3.        Perang salib terbagi ke dalam tiga periode yaitu periode pertama, kedua dan ketiga.
4.        Dalam perang salib umat Nasrani mendapatkan keuntungan, yaitu luasnya pengetahuan dan pengalaman, kemudian mereka mengenal toleransi dari kaum Muslimin.
DAFTAR PUSTAKA
●        AL-Mudhar, Yunus Ali. 1994. Teori Kaum Muslimin dan Sikap Musuh-musuhnya. Surabaya: PT. Bungkul Indah
●        Hillen Brand, Carole. 2006. Perang Salib. Jakarta: PT. Ikrar Mandiri.
●        Nadwi, Abdul Hasan Ali. 1986. Islam dan Dunia. Bandung: PT. Angkasa.
●        Yatim, Drs. Badri, M.A. 1997. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
●        http:/id.wikipedia.org/wiki/perang salib pertama.
PERANG SALIB
A. Pendahuluan
Bila kita menyebut nama Perang salib pasti bayangan kita tergambarkan bahwa perang ini adalah peperangan antar golongan agama. Memang gambaran sedemikian itu tidak salah, karena Salib adalah lambing bagi umat Nasrani.
Sebenarnya Perang salib ini adalah peperangan yang terjadi antara kaum Muslimin dengan pengikut agama Nasrani yang berada di Eropa, di mana peperangan ini membawa akibat yang sangat  buruk sekali bagi timur dan barat. Dalam peperengan yang berlangsung selama dua abad itu beratus ribu jiwa umat manusia telah melayang.[4] Di samping itu kerugian harta benda tidak terhitung banyaknya. Seterusnya akibat buruk Perang salib ini hingga ke saat ini juga masih dapat dirasakan.
Adapun korban utama dalam peperangan ini adalah kaum Muslimin. Kaum Muslimin dijadikan bahan pelapis nafsu amarah dan keserakahan. Umat Nasrani dan Eropa datang dengan segala keganasan dan ketamakannya ke dunia Islam untuk mencari keuntungan duniawi  dengan dalil membela agama. Niat jahat mereka ini akan terbuka setelah umat Nasrani Eropa berhasil berkuasa sementara di dunia Islam. Terutama sekali setelah bangsa Eropa mengenal dunia Islam di timur kelak mereka ingin melanjutkan expansinya ke timur untuk mencengkamkan kuku penjajahannya.
Dalam pembahasan ini penulis akan mencoba mengemukakan tentang Perang salib tersebut.
B. Back Ground Perang Salib Sebenarnya
Setiap kejadian sejarah pasti ada sebab dan  back ground  yang melatar-belakanginya. Ya, walaupun adakalanya sebab dan back ground yang melatar-belakangi sesuatu kejadian itu ada yang terang dan ada yang tersembunyi ,namun jika kita perhatikan baik-baik pasti akan menetukan sebab dan back ground sebenarnya dari setiap kejadian. Perang salib adalah suatu kejadian besar dalam sejarah uamat manusia. Karena itu para ahli sejarah telah menyebutkan bermacam-macam sebab dan back groundnya. Walau bagaimana sekalipun, maka sebab dan back ground Perang salib itu hanya dapat kita simpulkan dalam dua bagian :
1. Umat  Nasrani  Ingin Mengadakan Pembalasan Dendam Kepada Umat
    Islam.
Kita telah tahu tahu bahwa sejak agama Islam berkembang di jazirah Arabiyah, kaum Muslimin telah berhadapan dengan umat Nasrani yang berada di sekitar jazirah Arabiyah, Terutama sekali yang kita kenal dengan kerajaan Kristen Byzantium. Telah berkali-kali umat Islam berperang melawan kerajaan  yang satu ini. Sehingga akhirnya seluruh daerah jajahan Kerajaan Nasrani direbut oleh kaum Muslimin. Lebih dari itu kaum Muslimin juga berhasil meluaskan sayapnya sampai ke Spanyol, pusat Negara Kristen sendiri.[5]
Kenyataan sejarah yang sedemikian inilah yang menyebabkan umat Nasrani  menyimpan perasaan dendam terhadap kaum Muslimin. Perasaan dendam inilah yang mendorong umat Nasrani untuk melampiaskan nafsu amarahnya kepada kaum Muslimin.
2. Terdorong oleh Keinginan untuk Mencari Keuntungan Duniawi.
Keadaan di Eropa menjelang terjadinya Perang salib sangat krisis sekali. Pada umumnya roda perekonomian dan kekayaan berada di tangan kaum bangsawan saja. Mereka adalah golongan feudal dan kapitalis. Sedangkan kaum jelata – yang merupakan kaum terbesar bangsa Eropa – berada dalam keadaan sengsara dan kemiskinan. Penindasan terhadap kaum lemah terjadi di mana-mana. Dewasa itu peranan gereja sangat besar sekali untuk menguntungkan  golongan bangsawan dan kaum feodalis.
Bila keadaan di dunia Kristen mengalami kemunduran total, baik di bidang pengetahuan, maupun bidang kehidupanm sosial ; padahal keadaan dunia Islam adalah sebaliknya. Dewasa itu keadaan dunia Islam sangat maju sekali. Maju di bidang sosial, maupun di bidang perekonomian, dan di bidang ilmu pengetahuan. Pokoknya dunia Islam dewasa itu – baik di Barat/Spayol maupun di timur tengah – menjadi dunia impian bagi setiap bangsa yang ada.[6]
Dari sini dapat kita tarik  kesimpulan  bahwa yang mendorong bangsa Eropa untuk dating kedunia Islam adalah untuk mencari keuntungan duniawi. Kedok mereka ini nanti akan terbuka setelah mereka dapat menguasai sebagian dunia timur tengah.
Kedua back ground  yang kami sebutkan di atas sebenarnya telah mereka tanam di hati umat Nasrani Eropa sejak lama sambil menunggu saat yang baik untuk  mewujudkan niat mereka ke alam kenyataan adalah waktu dunia Islam dilanda kehancuran dan kekacauan, seperti yang terjadi semasa menjelang Perang salib.[7]
C. Perang Salib.
Peristiwa penting dalam gerakan ekpansi yang dilakukan oleh Alp Arselan adalah peristiwa Manzikart, tahun 464 H (1071 M). Tentara Alp Arselan yang hanya berkekuatan 15.000 prajurit, dalam peristiwa ini berhasil mengalahkan tentara Romawi yang berjumlah 200.000 orang, terdiri dari tentara Romawi, Ghuz, al-Akraj, al-Hajr, Perancis, dan Armenia. Peristiwa besar ini menanamkan  benih permusuhan dan kebencian orang-orang Kristen terhadap umat Islam, yang kemudian mencetuskan Perang salib. Kebencian ini bertambah setelah dinasti Seljuk dapat merebut Bait al-Maqdis pada tahun 471 H dari kekuasaan dinasti Fathimiyah yang berkedudukan di Mesir. Penguasa Seljuk menetapkan beberapa peraturan bagi umat Kristen yang ingin berjiarah ke sana. Peraturan itu dirasakan sangat menyulitkan mereka.[8]. Untuk memperoleh kembali keleluasaan berziarah ke tanah suci Kristen itu, pada tahun 1095 M, Paus Urbanus II berseru kepada umat Kristen di Eropa supaya melakukan perang suci.[9] Perang ini kemudian dikenal dengan nama Perang Salib, yang terjadi dalam tiga periode. 
1.        Periode Pertama
Pada musim semi tahun 1095 M, 150.000 orang Eropa, sebagian besar bangsa Perancis dan Norman, berangkat menuju Konstantinopel, kemudian ke Palestina. Tentara Salib yang dipimpin oleh Godfrey, Bohemond, dan Raymond ini memperoleh kemenangan besar. Pada tanggal 18 juni 1097 mereka berhasil menaklukan Nivea dan tahun 1098 M menguasai Raha (Edessa). Disini  mereka mendirikan kerajaan Latin I dengan Baldawin sebagai raja. Pada tahun yang sama mereka dapat menguasai Antiochea dan mendirikan kerajaan Latin II di Timur. Bohemond dilantik menjadi rajanya. Mereka juga berhasil menduduki Bait al-Maqdis (15 Juli 1099 M.) dan mendirikan kerajaan Latin III dengan rajanya, Godfrey. Setelah penaklukan Bait al-Maqdis itu, tentara salib melanjutkan ekspansinya. Mereka menguasai kota Akka (1104 M.). Tripoli (1109 M.), dan kota Tyre (1124 M.). Di Tripoli mereka mendirikan kerajaan Latin IV, Rajanya adalah Raymond.[10] 
2.        Periode Kedua
Imaduddin Zanki, penguasa Moshul dan Irak, berhasil menaklukan kembali Aleppo, Hamimah, dan Edessa pada tahun 1144 M. Namun ia wafat tahun 1146 M. Tugasnya dilanjutkan oleh putranya, Nuruddin Zanki. Nuruddin  berhasil merebut kembali Antiochea pada tahun 1149 M dan pada tahun 1151 M seluruh Edessa dapat direbut kembali.
Kejatuhan Edessa ini menyebabkan orang-orang Kristen mengobarkan perang salib kedua. Paus Eugenius III menyerukan perang suci yang disambut positif oleh raja Perancis Louis VII dan raja Jerman Condrad II. Keduanya memimpin pasaukan Salib untuk merebut wilayah Kristen di Syria.Akan tetapi, gerak maju mereka dihambat oleh Nuruddin Zanki. Mereka tidak berhasil memasuki Damaskus. Louis VII dan Condrad II sendiri melarikan diri pulang kenegarinya.[11] Nuruddin wafat tahun 1174 M. Pimpinan perang kemudian dipegang oleh Shalah al-Din al-Ayyubi yang berhasil mendirikan dinasti Ayyubiyah di Mesir tahun 1175 M. Hasil peperangan Shalah al-Din yang terbesar adalah merebut kembali Yerussalem pada tahun 1187 M. Dengan demikian kerajaan latin di Yerussalem yang berlangsung selama 88 tahun berakhir.
Jatuhnya Yerussalem ke tangan kaum muslimin sangat memukul perasaan tentara salib. Mereka pun menyusun rencana balasan. Kali ini tentara salib dipimpin oleh Frederick Barbarossa, raja Jerman, Richard the Lion Hart, raja Inggris dan Philip Augustus, raja Perancis, Pasukan ini bergerak pada tahun 1189 M. Meskipun mendapat tantangan berat dari Shalah al-Din, namun mereka berhasil merebut Akka yang kemudin dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi mereka kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Latin. Akan tetapi mereka tidak berhasil menaklukan Palestina. Pada tanggal 2 Nopember 1192 M, dibuat perjanjian antara tentara salib dengan Shalah al-Din yang disebut dengan Shulh al-Ramlah. Dalam perjanjian ini disebutkan bahwa orang-orang Kristin yang pergi      berziarah ke Bait al-Maqdis tidak akan diganggu.[12]    
3. Periode Ketiga
Tentara Salib pada periode ini dipimpin oleh raja Jerman, Frederick II. Kali ini mereka berusaha merebut Mesir lebih dahulu sebelum ke Palestina, dengan harapan dapat bantuan dari orang-oprang Kristen Qibthi. Pada tahun 1219 M, mereka berhasil menduduki Dimyat. Raja Mesir dari dinasti Ayyubiyah waktu itu, al-Malik al-Kamal, membuat perjanjian dengan Frederick. Isinya antara lain Frederick bersedia melepaskan Dimyat, sementara al-Malik al-Kamal melepaskan Palestina, Frederick menjamin keamanan kaum muslimin di sana, dan Frederick tidak mengirim bantuan  kepada Kristen di Syria.[13] Dalam perkembangan berikutnya, Palestina dapat direbut kembali oleh kaum muslimin tahun 1247 M, di masa pemerintahan al-Malik al-Shalih, penguasa Mesir selanjutnya. Ketika Mesir dikuasai oleh dinasti Mamalik yang menggantikan posisi dinasti Ayyubiyah – Pimpinan perang dipegang oleh Baybars dan Qalawun. Pada masa merekalah Akka dapat direbut kembali oleh kaum muslimin, tahun 1291 M.
Demikianlah Perang Salib yang berkobar di Timur. Perang ini tidak berhenti di Barat, di Spanyol, samapai umat Isalam terusir dari sana.
Walaupun umat Isalm berhasil mempertahankan daerah-daerahnya dari tentara Salib, namun kerugian yang mereka derita banyak sekali, karena peperangan itu terjadi di wilayahnya. Kerugian-kerugian ini mengakibatkan kekuatan politik umat Islam menjadi lemah. Dalam kondisis demikian mereka bukan menjadi bersatu, tetapi malah terpecah belah. Banyak dinasti kecil yang memerdekakan diri dari pemerintahan pusat Abbasiyah di Baghdad.   
D. Dampak Perang Salib Terhadap Peradaban.
Pasca gencatan senjata, pasukan Islam dan pasukan Salib hidup dengan tenang dan aman. Kedua belah pihak membaur dan berinteraksi langsung hingga terjadi pernikahan di antara keduanya. Masing-masing belajar dari yang lain dan itu sangat berpengaruh pada masa depan yang sedang menunggu. Pasukan Perancis mendapatkan banyak keuntungan dari pergaulan mereka dengan kaum Muslimin seperti terlihat sebagai berikut :
Satu : Mereka belajar berbagai macam disiplin ilmu yang saat itu tengah berkembang di kalangan kaum Muslimin kepada kaum Muslimin lalu mengarangnya dalam bentuk buku-buku yang memuat banyak hal-hal yang inovatif dan membuat rumus-rumus tentang ilmu-ilmu tersebut.
Sebagian dari tentara salib ada yang diberi tugas menterjemahkan naskah ilmiah ke dalam bahasa latin agar diketahui oleh orang-orang Barat. Old Wembley berkata : “Inilah awal mula orang-orang Barat terpengaruh dengan moralitas bangsa Arab dalam skala besar terlihat yang terlihat dalam mentalitas mereka. Seperti dalam mentalitas Adilard De Bats yang membatasi aktifitasnya dari tahun 1116-1142 M / 510 – 531 H, karena pengaruh kepergiannya ke dunia Timur. Ini tidak hanya terlihat pada aktivitasnya saja. Namun juga terlihat dengan jelas dalam pengaruhnya yang ia berikan dalam penterjemahan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa latin. Ia sendiri pada akhirnyamenjadi penterjemah handal yang mempunyai komunikasi dengan benua Asia.[14]
Old Wembley menambahkan : “Pasuakan Salib yang bertolak ke dunia timur dengan tujuan menguasai Baitul Maqdis karena didorong keyakinan kristiani atau untuk melindungi kekuasaan yang mulai melemah di perbatasan Suriah dan Palestina ternyata mendapatkan sebuah peradaban yang lebih maju dari peradabannya. Mereka surprise dengan fakta tersebut dan menyatak kekagumannya.[15]
Kedua : Pasukan salib belajar dari kaum Muslimin hal-hal yang terkait dengan perindustrian dan keterampilan, seperti keterampilan menenun, mewarnai, pelabuhan, barang tambang, industri kaca dan tehnologi pembangunan. Kesemuanya itu pada akhirnya sangat berpengaruh pada kehidupan industri, bisnis dan keterampilan bangsa Eropa.
Gustav Lebon berkata : “Pengaruh perang salib tidak hanya terbatas pada transfer industri dan keterampilan saja. “Katanya lagi : “Bangsa Eropa juga mengtransper industri tenun sutra dan pewarnaan yang canggih. Setelah belajar tehnologi pembengunan dari kaum Muslimin, terjadi perubahan pembangunan besar-besaran pada bangsa Eropa”.[16]
Ketiga : Peradaban Barat sangat terwarnai oleh peradaban Islam hingga maju dan berada di puncak kejayaan. Tanpa perang salib peradaban Eropa tidak mungkin maju sampai batas waktu yang hanya diketahui Allah saja. Fakta ini secar jujur diakui oleh para orientalis yang  moderat sebelum dikatakan para sejarawan Muslim sendiri.
Gustav Lebon  berkata : “Jika kita kaji hasil perang salib dengan lebih mendalam, maka di dapati banyak hal yang sangat positif dan urgen. Interaksi bangsa Eropa selama dua abad – masa keberadaan pasukan salib di dunia Islam –boleh dikatakan faktor paling dominan terhadap kemajuan peradaban Eropa. Perang salib membuahkan hasil gemilang yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Bangsa Timur sendiri sudah cukup berbahagia dengan peradaban maju berkat bangsa Arab (kaum Muslimin) pada saat bangsa Eropa tenggelam dalam lautan kegelapan.[17]
Itulah yang dipanen bangsa Eropa dari perang salib. Kendati harus diakui banhwa perang salib menimbulkan kerugian dan kekalahan yang mengenaskan serta tidak mencapai targetnya yaitu merebut Baitul Maqdis dari kaum Muslimin. Namun di balik itu, perang salib mendatangkan keuntungan yang lebih besar yang menjadikan bangsa Eropa maju.
Kemudian apa yang didapatkan kaum Muslimin dari perang salib ? Sesungguhnya pasukan Islam berhasil memantapkan penguasaan terhadap wilayah-wilayah yanhg telah dikuasainya dan mengusir pasukan salib serta memulangkan mereka dengan kekalahan yang memalukan. Namun itu semua tidak banyak manfaatnya bagi kaum Muslimin karena wilayah-wilayah tersebut saudah lama mereka kuasai sebelum kedatangan pasukan salib. Jadi tidak ada yang baru dalam hal ini.
Yang jelas tidak ada hal yang baik pada pasukan salib yang bias diambil oleh kaum Muslimin. Moral mereka bejat. Mereka memeras kawan dan lawan serta menyembelih kedua-duanya tanpa ampun.
Gustav Lebon berkata : “Tidak ada hal-hal positif dalam diri bangsa berutal tersebut yang yang biasa ditiru oleh dunia Timur. Bangsa Timur tidak mendapatkan apa-apa dari mereka. Perang salib tidak menghasilkan sesuatupun bagi bangsa Timur kecuali tumbuhnya penghinaan dalam hati bangsa Timur terhadap bangsa Barat yang berlangsung hingga beberapa generasi dan lahirnya tanggapan negatif terhadap orang-orang Kristen dan agama Kristen sendiri.[18]
Fakta di atas tidak dfipungkiri oleh siapapun dari bangsa Eropa. Itu sangat logis, karena pada umumnya pasukan salib berasal dari para pengangguran, penjahat dan manusia rakyat jelata. Tidak ada yang bias diharap dari pasukan yang terdiri dari para maling, para haus darah dan penjahat selain pembunuih manusia yang tidak berdosa, perampok harta yang terlindungi dan pelanggaran kehormatan yang haram diganggu!.
Tentang komposisi pasukan salib seperti di atas, uskup Akka, jack Du fitrey berkomentar : “Yang terlihat di tanah yang dijadikan (baitul Maqdis) ialah para atheis, maling, pezina, pembunuh, penmghianat, pelawak, rahib yang suka melacur dan rahib wanita yang suka melacur.
Apa sih yang dapat diharapkan dari tentara-tentara sepertio di atas? Sejarawan dan uskup mereka sendiri mengatakan seperti itu! Hasil-hasil perang salib bagi wilayah-wilayah. Islam bias saya ringkas dalam point-point berikut :
Satu : Perang salib yang berlangsung selama kira-kira dua abad mulai tahun 490-669 H/ 1096-1270 M menghasilkan asset kekayaan negara dan putra-putra bangsa yang terbaik. Ribuan tentara termasuk para amir dan panglima perang terbunuh. Hingga kaum Muslimin membutuhkan waktu yang lama untuk menyususn kembali militernya dan memulihkan kekuasaannya yang hancur akibat perang yang menyakitkan tersebut.
Kaum Muslimin juga harus mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayaai perang yang tidak berhenti selama dua abad dan menyebabkan krisis ekonomi di kalangan kaum Muslimin. Biaya tersebut belum termasuk biaya pembangunan kembali bangunan-bangunan dan gedung-gedung yang hancur selama perang salib. Untuk  menstabilkan perekonomian negara juga dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Kedua : Gencatan senjata terjadi setelah didahului dengan pembataian massal. Setelah itu kedua belah pihak bergaul antara satu dengan  lainnya. Sebagaimana diketahui bahwa perang parang apapun selalu meninggalkan cap hitam di negara yang terlibat. Cap hitam tersebut nampak dalam bentuk kemiskinan, dekadensi moral, kemunduran ilmu pengetahuan dan kerusakan struktur masyarakat.
Kemiskinan terjadi karena seluruh kekayaan negara habis dialokasikan untuk kepentingan perang. Akibatnya memberatkan pundak negara betapapun besar incomenya. Dekadensi moral terjadi karena perang memakan habis orang laki-laki dan pemuda. Akibatnya yang tersisa hanya kaum hawa dalam jumlah besar. Jumlah kaum hawa yang tidak balans menyebabkan pergaulan yang tidak Islami dan pada gilirannya tibullah dekadensi moral. Kemunduran ilmu pengetahuan terjadi karena tentara menghabiskan seluruh waktunya untuk memikirkan bagaimana caranya menang perang dan mengakhirinya. Akibatnya para ulama tidak punya waktu untuk mengadaklan penemuan-penemuan atau karya-karya baru kecuali yang ada hubungannya dengan dunia perang dan permasalahannya.
Ketiga : Disamping gencatan senjata menyebabkan terjadinya krisis-krisis seperti di atas, di pihak lain pandangan dan perhatian pasukan salib terfokus kepada apa yang belum pernah terpikirkan oleh otak sebelumnya. Bahwa dengan gencatan senjata, mereka bias merusak struktur masyarakat Islam yang sebelum ini tidak bias dilkukan militer yang tangguh dan senjata yang canggih.
Melihat hasil yang diluar dugaan, pasukan salib berinisiatif memperpanjang genjatan senjata, menghentikan perang militer dan memulai perang jenis baru yang menggunakan tinta sebagai pengganti darah, pemikiran sebagai pengganti pasukan kavaleri dan kata-kata manis sebagai pengenti gemerincing pedang dan dentuman bom. Itulah perang pemikiran atau invasi pemikiran “al-Ghazwul Fikri.”
Bisa saya tegaskan disini bahwa dunia Islam tidak mendapatkan apa-apa dari serangan brutal pasukan salib kecuali kehancuran dan kerusakan massal. Pada saat yang sama kita menyumbangkan kepada bangsa Barat yang terbelakang factor-faktor kemajuannya dan kemodernannya.
E. Penutup
Perang Salib pada hakekatnya merupakan perang suci di antara dua agama besar, Islam dan Kristen. Dinamakan “Perang Salib”, karena tentara Kristen yang ikut dalam perang suci itu membawa kayu salib. Bagi umat Nasrani, kayu salib itu merupakan symbol keagungan dan kesucian agama. Perang membawa salib berarti perang membela agama. Dua agama besar itu sejak abad ke-7 Masehi senantiasa berada dalam perbenturan dan permusuhan, yang memuncak pada Perang salib ini (1096-1270), selama hampir dua abad. Perbenturan dan permusuhan itu berkelanjutan hingga berakhirnya penjajahan Barat terhadap Dunia Timur pada pertengahan abad ke-20 ini, yang diikuti dengan terbentuknya wilayah-wilayah Islam yang merdeka dan berdaulat.
Pada tahun 1071 M. Penguasa Bani Saljuk, yang terkenal gagah berani dan militan itu, berhasil merebut Asia Kecil dan memukul Konstantinopel, jantung pemberintahan Byzantium. Tujuh tahun kemudian (1078 M). mereka berhasil merebut Yerussalem dari kekuasaan Bani Fatimiyah. Dengan menguasai Yerussalem, bani Saljuk mengontrol dan menguasai Bait al-Maqdis, tanah suci tiga agama Besar, Yahudi, Kristen  dan Islam, malapetaka segera timbul, ketika Bani Saljuk, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Turki Usmani ini menghalangi orang-orang Kristen yang akan berziarah ke Bait al-Maqdis.
Ulah penguasa saljuk yang agak berlebihan ini mengundang reaksi keras dari para pemimpin Kristen. Soal ini telah menyinggung perasaan umat beragama. Mereka meyakini bahwa ziarah ke tanah suci itu merupakan ritual keagamaan yang dapat menghapuskan segala dosa, dan mendatangkan berkat bagi kebahagiaan hidup yang abadi. Sebab itu, mereka berikrar untuk menghancurkan orang-orang yang menghalangi kegiatan ritual keagamaan itu. Kaisar Byzantium, Alexius Commenius, setelah menyaksikan wilayah kekuasaannya di Asia Kecil direbut Bani Saljuk sampai pantai  Marmora dan pusat pemerintahan  mereka terancam langsung oleh Bani Saljuk, bertekat untuk merebut kembali. Peters the Hermit setelah menyaksikan langsung situasi di Yerussalem mengusulkan Paus Urban II untuk menyatukan umat Kristen yang terpecah menjadi umat Gereja Yunani dan Romawi atau Gereja Timur Ortodoks dan Gereja Eropa untuk merebut kembali tempat suci itu dari kekuasaan Bani Saljuk. Dinasti ini menjadi sasaran kemarahan para pemimpin Kristen. Bani Saljuk menjadi sasaran pertama perang Salib. Pada tahap berikutnya semua orang Islam yang berusaha mempertahankan dinastinya menjadi sasaran kemarahan tentara Salib. Boleh jadi sampai sekarang semangat “Perang Salib” gaya baru masih berlangsung.
DAFTAR PUSTAKA
Abd al-Rahman Tajuddin, Dirasat fi al-tarikh al-Islami, Kairo, Maktabah al-Sunnah al-Muhammadiyah, 1953.
Abdullah Halim Najjar dan Muhammad Yusuf Musa, al-Ilmu “Indal Arab. t.tp.
Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, Jakarta , UI Press, 1985.
Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islam, Kairo, Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1967.
Muhammad Sayyidal-Wakil, Lahmatun Min Tarikhid Da’wah ; Asbabudt-Dha’fi Fil Ummatil Islamiyah, diterjemahkan oleh : Fadhli Bahri, Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern, Jakarta, Pustaka al-kautsar, 1998.
M. Yahya Harun, Perang Salib Dan Pengaruh Islam Di Eropa, Yogyakarta, Bina Usaha, 1987.
Siti Mariam dkk, editor Sejarah Peradaban  Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta, Jurusan SPI Fak Adab & LESPI, 2003.
Soekana Karya dkk, enseklopedi Mini Sejarah & Kebudayaan Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1998.
Yunus Ali al-Muhdhar, Toleransi Kaum Muslimin dan Sikap Musuh-Musuhnya, Surabaya, Bungkul Indah, 1994.
PERANG SALIB
Makalah ini disampaikan dalam seminar kelas
Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu :
Dr. Ahmad Khairuddin, M.Ag.
Oleh :
Hj. Siti Kamila
NIM : 070.2011.0328
PROGRAM PASCASARJANA
KONSENTRASI PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
BANJARMASIN
2007

[1] M. Yahya Harun, Perang Salib dan Pengaruh Islam di Eropa, (Yogyakarta: Bina Usaha, 1987), h. 12-14
[2] Abd. al-Rahman Tajuddi, Dirasat fi al-Tarikh al-Islami, (Kairo: Maktabah al-Sunnah al-Muhammadiyah, 1953), h. 148
[3] Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islam, Jilid IV, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1967), h. 243-244
[4]Soekana Karya dkk, Enseklopedi Mini Sejarah & Kebudayaan Islam, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998). h. 331.
[5]Yunus Ali al-Muhdhar, Toleransi Kaum Muslimin dan Sikap Musuh-Musuhnya, (Surabaya: Bungkul Indah, 1994. h. 89.
[6]Soekama karya dkk, Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudauaan Islam, op. cit.,           h. 330).
[7]Yunus Ali al-Muhdhar, Toleransi Kaum Muslimin dan Sikap Musuh-Musuhnya,       op. cit., h. 90. 
[8]Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islam, (Kairo: Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyah, 1967), h. 243.
[9]Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: UI Press, 1985),   h. 77.
[10]M. Yahya Harun, Perang Salib Dan Pengaruh Islam Di Eropa, (Yogyakarta: Bina Usaha), 1987. h. 12-14.
[11]Abd al-Rahman Tajuddin, Dirasat fi al-tarikh al-Islami, (Kairo: Maktabah al-Sunnah al-Muhammadiyah, 1953), h. 148.
[12]Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islam,  op. cit., h. 243.
[13]Abd al-Rahman Tajuddin, Dirasat fi al-tarikh al-Islami, op. cit., h. 149.
[14]Abdullah Halim Najjar dan Muhammad Yusuf Musa, al-Ilmu 'Indal Arab. t.tp. h. 438.
[15]Siti Mariam dkk, editor Sejarah Peradaban  Islam Dari Masa Klasik Hingga Modern, (Yogyakarta: Jurusan SPI Fak Adab & LESPI, 2003), h. 138.
[16]Muhammad Sayyid al-Wakil, Lahmatun Min Tarikhid Da'wah; Asbabuh-Dha'if Fil Ummatil Islamiyyah, diterjemahkan oleh, Fadhli Bahri, Wajah Dunia Islam Dari Dinasti Bani Umayyah Hingga Imperialisme Modern, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998), h. 226.
[17]Ibid., h. 227.
[18]Ibid. 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites