Rabu, 11 September 2013

Puasa

BAB I
PENDAHULUAN

“Shaumu” (puasa), menurut istilah Arab adalah: menahan dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya. Menurut istilah agama Islam yaitu menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.
Berpuasa pada bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun dari beberapa rukun agama. Kewajiban melaksanakannya tidak membutuhkan dalil, karena ia seperti shalat, yaitu ditetapkan dengan keharusan. Dan betapapun itu diketahui oleh orang yang bodoh maupun orang yang alim.
Puasa mulai diwajibkan pada bulan Sya’ban, tahun kedua Hijriyah. Puasa merupakan fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf, dan tak seorangpun dibolehkan berbuka, kecuali mempunyai sebab-sebab.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Puasa
“Shaumu” (puasa), menurut istilah Arab adalah “menahan dari segala sesuatu”, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya.
Menurut istilah agama Islam yaitu “menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.”
Firman Allah SWT:

“Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. al-Baqarah: 187)
Sabda Rasulullah SAW:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ اِذَا اَقْبَلَ اللَّيْلُ وَاَدْبَرَ النَّهَارُ وَغَابَتِ الشَّمْسُ فَقَدْ اَفْطَرَ الصَّائِمُ (رواه البخارى ومسلم)
Dari Ibnu Umar, ia  berkata, “Saya telah mendengar Nabi SAW bersabda: “Apabila malam datang, siang lenyap, dan matahari terbenam, maka sesungguhnya telah datang waktu berbuka bagi orang yang puasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)[1]

Hikmah Puasa
Puasa merupakan ibadah umat Islam yang memerlukan kesiapan fisik dan mental, sebab dalam puasa tidak hanya fisik yang melakukannya tetapi juga mental dan jiwa. Orang yang fisiknya kuat, namun mental dan imannya lemah maka tidak mungkin dapat melakukan ibadah puasa. Begitu juga sebaliknya.
Sekalipun puasa termasuk salah satu ibadah yang paling berat, namun di dalamnya terdapat banyak hikmah, antara lain sebagai berikut:
1.        Meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT bagi orang yang menjalankannya.
2.        Dapat mengendalikan keinginan dan nafsu, terutama nafsu syaitan yang dapat menjerumuskan manusia pada jurang kebinasaan.
3.        Membiasakan orang yang berpuasa bersabar dan tabah dalam menghadapi berbagai kesukaran dan kesulitan.
4.        Mendidik jiwa agar senantiasa amanat, karena puasa pada hakikatnya melaksanakan amanat untuk tidak makan dan minum.
5.        Dari aspek kesehatan, puasa juga dapat menghantarkan orang yang menjalankannya kepada peningkatan kesehatan.
6.        Menumbuhkan rasa solidaritas yang amat tinggi, cinta kasih yang amat dalam, karena puasa mendidik orang untuk merasakan penderitaan orang lain.[2]

B.      Dasar Hukum
Kewajiban berpuasa berdasarkan firman Allah dalam al-Quran yang mulia:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. al-Baqarah: 183)
Dasar dalam hadits Nabi SAW menyebutkan:
بُنِىَ الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةُ أنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَأنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ, وَاِقَامُ الصَّلاَةِ, وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ, وَالْحَجِّ, وَصَوْمُ رَمَضَانَ (رواه البخارى)
“Islam itu didirikan atas lima sendi: (1) Bersaksi tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad utusan Allah, (2) Menegakkan shalat, (3) Mengeluarkan zakat, (4) Menunaikan ibadah haji, dan (5) Puasa pada bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari).[3]

C.      Macam-Macam Puasa
            Puasa dibedakan menjadi dua, puasa wajib dan puasa sunat.
1.  Puasa Wajib
Puasa wajib ada 3 macam, yaitu:
a.  Puasa yang terikat dengan waktu, yaitu puasa Ramadhan.
b. Puasa wajib karena ada ‘illat, seperti puasa sebagai kifarat.
c.  Puasa yang diwajibkan oleh manusia kepada dirinya sendiri, yaitu puasa nadzar.[4]
2.  Puasa Sunat
Waktu puasa sunat sebagai rukun pertama terbagi menjadi 3, yaitu:
a.        Hari yang disunatkan
Memperbanyak puasa sunat adalah baik. Hari-hari yang disunatkan berpuasa adalah:
1.        Hari Senin
2.        Hari Kamis
3.        Hari Bidl
4.        6 hari di bulan Syawal
5.        Tanggal 9 dan 10 Asyura
6.        Hari Arafah.[5]
b.       Hari yang dilarang puasa
1.        Hari raya Fitrah
2.        Hari raya qurban
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ: يَوْمُ الْفِطْرِ وَيَوْمُ الأضْحَى (فى الصحيحين)
“Rasulullah SAW melarang berpuasa di dua hari, hari raya fitrah dan hari raya Adha”. (HR. Bukhari dan Muslim).[6]
c.        Hari yang disunatkan dan tidak dilarang
1.        Hari Tasyriq
2.        Hari Syak
3.        Hari Jumat
4.        Hari Sabtu
5.        Separuh terakhir bulan Sya’ban.[7]

D.      Puasa Ramadhan
Puasa Ramadhan hukumnya wajib atas dasar al-Quran, hadits dan ijma’ ulama. Firman Allah SWT:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,” (QS. al-Baqarah: 183).[8]

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. al-Baqarah: 185)

1.  Syarat wajib puasa bulan Ramadhan
a.  Berakal
b. Baligh
c.  Islam
d. Mampu berpuasa.[9]
2.  Rukun puasa bulan Ramadhan
a.  Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan Ramadhan. Yang dimaksud dengan malam puasa ialah malam sebelumnya.
Sabda Rasulullah SAW:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ (رواه الخمسة)
“Barang siapa yang tidak berniat puasa pada malamnya sebelum fajar terbit, maka tiada puasa baginya.” (Riwayat lima orang ahli hadits)
Kecuali puasa sunat, boleh berniat pada siang hari, asal sebelum zawal (matahari condong ke barat).

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ قَالَتْ دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ فَقُلْنَا لَا قَالَ فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ ثُمَّ أَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ فَقَالَ أَرِينِيهِ فَلَقَدْ أَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ
Dari Aisyah. Ia berkata, “ Pada suatu hari Rasulullah SAW datang (ke rumah saya). Beliau bertanya, ‘Adakah makanan padamu?’ Saya menjawab, ‘Tidak ada apa-apa.’ Beliau lalu berkata, ‘Kalau begitu baiklah, sekarang saya puasa.’ Kemudian pada hari lain beliau datang pula. Lalu kami berkata, ‘Ya Rasulullah, kita telah diberi hadiah kue Haisun.’ Beliau berkata, ‘Mana kue itu? Sebenarnya saya dari pagi puasa.’ Lalu beliau makan kue itu.” (Riwayat Jama’ah ahli hadits, kecuali Bukhari)
b. Menahan diri dari segala yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.[10]

E.       Yang Membatalkan Puasa
Yang membatalkan puasa ada 2 macam, yaitu:
1.  Yang membatalkan dan mengharuskan mengqadha puasa itu adalah:
a.  Makan dan minum dengan sengaja
b. Muntah dengan sengaja
c.  Haid
d. Nifas
e.  Mengeluarkan mani/sperma
f.   Memasukkan sesuatu ke dalam kepala (lubang telinga)
g. Meniatkan berbuka
2.  Yang membatalkan dan karenanya wajib mengqadha puasa dan membayar kifaratnya:
a.  Bersetubuh (bersenggama).[11]

F.       Adab Berpuasa
1.  Makan sahur
2.  Menyegerakan berbuka
3.  Berdo’a waktu akan berbuka
4.  Menghindarkan diri dari yang bertentangan dengan puasa
5.  Menggosok gigi
6.  Murah hati dan mempelajari al-Quran
7.  Rajin beribadah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan.[12]

G.      Kelonggaran tidak Berpuasa
1.  Perempuan yang sedang hamil dan menyusui
2.  Orang yang sakit
3.  Orang yang sedang bepergian sangat jauh
4.  Orang yang tua bangka
5.  Wanita yang sedang haid
6.  Wanita yang sedang nifas.[13]

H.      Sunah-sunah Puasa
Disunahkan dalam puasa 3 perkara, yaitu;
1.  Menyegerakan berbuka puasa (bila telah sampai waktu)
2.  Melambatkan sahur
3.  Meninggalkan perkataan jelek.[14]
I.         Menentukan Puasa
Puasa Ramadhan diwajibkan atas tiap-tiap orang mukallaf dengan salah satu dari ketentuan-ketentuan berikut ini:
1.        Dengan melihat bulan bagi yang melihatnya sendiri
2.        Dengan mencukupkan bulan Sya’ban tiga puluh hari, maksudnya bulan tanggal Sya’ban itu dilihat. Tetapi kalau bulan tanggal satu Sya’ban tidak terlihat, tentu kita tidak dapat menentukan hitungan, sempurnanya tiga puluh hari.
صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَاَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ فَاِنْ غَمَّ عَلَيْكُمْ فَاَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ (البخارى)
“Berpuasalah kamu sewaktu melihat bulan (di bulan Ramadhan) dan berbukalah kamu sewaktu melihat bulan (di bulan Ramadhan) maka jika ada yang menghalangi sehingga bulan tidak kelihatan, hendaklah kamu sempurnakan bulan Sya’ban 30 hari”. (HR. al-Bukhari).
3.        Dengan adanya melihat (ru’yat) yang dipersaksikan oleh seorang yang adil di muka hakim.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ

“Bahwasanya Ibnu Umar telah melihat bulan. Maka diberitahukannya hal itu kepada Rasulullah SAW, lalu Rasulullah SAW berpuasa, dan beliau menyuruh orang-orang agar berpuasa pula.” (HR. Abu Dawud)
4.        Dengan kabar mutawatir, yaitu kabar orang banyak, sehingga mustahil mereka akan dapat sepakat berdusta atau sekata atas kabar yang dusta.
5.        Percaya kepada orang yang melihat.
6.        Tanda-tanda yang biasa dilakukan di kota-kota besar untuk memberitahukan kepada orang banyak (umum), seperti lampu, meriam, dan sebagainya.
7.        Dengan ilmu hisab atau kabar dari ahli hisab (ilmu bintang).
Sabda Rasulullah SAW:

أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا  رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ
Ibnu Umar telah menceritakan hadits berikut yang ia terima langsung dari Rasulullah SAW yang telah bersabda, “Apabila kamu melihat bulan (di bulan Ramadhan), hendaklah kamu berpuasa, dan apabila kamu melihat bulan (di bulan Syawal), hendaklah kamu berbuka. Maka jika tertutup (mendung) antara kamu dan tempat terbit bulan, hendaklah kamu kira-kirakan bulan itu.” (Riwayat Bukhari Muslim. Nasa’i, dan Ibnu Majah).[15]

BAB III
PENUTUP

Simpulan
1.  Puasa menurut bahasa adalah “menahan dari segala sesuatu”. Menurut istilah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkannya, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya, satu ahri lamanya, mulainya dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat dan beberapa syarat.
2.  Macam-macam puasa ada dua, yaitu: puasa wajib dan puasa sunat.
3.  Puasa Ramadhan
4.  Syarat wajib puasa bulan Ramadhan
a.  Berakal
b. Baligh
c.  Islam
d. Mampu berpuasa.
5.  Yang membatalkan puasa ada 2 macam:
a.  Yang membatalkan dan mengharuskan mengqadha puasa ada 8.
b. Yang membatalkan dan karenanya wajib mengqadha puasa dan membayar kifarat ada 10.
6.  Adab berpuasa dan kelonggaran berpuasa
7.  Sunat-sunat puasa
8.  Menentukan puasa Ramadhan
a.  Dengan melihat bulan bagi yang melihatnya sendiri.
b. Dengan mencukupkan bulan Sya’ban tiga puluh hari.
c.  Dengan adanya melihat (ru’yat).
d. Dengan kabar mutawatir.
e.  Percaya kepada orang yang melihat.
f.   Tanda-tanda yang memberitahukan kepada orang banyak (umum).
g. Dengan ilmu hisab atau kabar dari ahli hisab (ilmu bintang).
DAFTAR PUSTAKA

●        Anwar, H. Moch. 1973. Fiqih Islam Tarjamah Matan Taqrib. Bandung: PT. al-Ma’arif.
●        As’ad, Drs. Mahrus, Drs. A. Wahid. 1994. Fiqih. Bandung: CV. Armico.
●        Rasyid, H. Sulaiman. 1989. Fiqih Islam. Bandung: Sinar Biru.
●        Rifa’i, Drs. Moch, Drs. Moh Zuhri, dkk. Kifayatul Akhyar. Semarang: CV. Toha Putra.
●        Rusyd, Ibnu. 1995. Bidayatul Mujtahid. Jakarta: Pustaka Amani.
●        Syukur, Prof. H. M. Asywadie. 2005. Kitab Sabilal Muhtadin. PT. Bina Ilmu.

[1] H. Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, hal. 220.
[2] Drs. Mahrus As’ad, Fiqih, hal. 75.
[3] Drs. Moh. Rifa’i dkk, Kifayatul Akhyar, hal. 149.
[4] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, hal 79.
[5] Drs. Moh. Rifa’i dkk, Kifayatul Akhyar, hal. 162.
[6] H. Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, hal 229.
[7] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, hal. 139.
[8] Drs. H. Kahar Mansyur, Fiqih Sunnah Puasa dan Zakat, hal. 278.
[9] Prof. H. M. Aswadie Syukur, Sabilal Muhtadin, hal. 876.
[10] H. Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, hal 229.
[11] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, hal. 121.
[12] Drs. H. Kahar Mansyur, Fiqih Sunnah Puasa dan Zakat.
[13] Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid, hal 106.
[14] H. Moch. Anwar. Fiqih Islam, hal 103.
[15] H. Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, hal. 121-124.

1 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites