Makalah

Blog ini berisi berbagai macam makalah kuliah.

Perangkat Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Modul Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Skripsi

Masih dalam pengembangan.

Lain-lain

Masih dalam pengembangan.

Senin, 04 Februari 2013

Tokoh-Tokoh Kaligrafi Islam

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bentuk utama Seni Islam adalah kaligrafi yang berasal dari kata Perancis calligraphie dan kalligraphia kata Yunani yang berarti tulisan tangan yang indah. Salah satu alasan utama yang kaligrafi diberikan status alas dalam Islam adalah keyakinan Islam bahwa Allah SWT menggunakan bahasa Arab untuk menceritakan pesan ilahi-Nya kepada Nabi Muhammad dalam bentuk Al-Quran. Hal ini membuat suci bagi umat Islam di seluruh dunia.
Kedua Seni Islam tidak dapat digambarkan dengan menggunakan gambar karena itu menggunakan kata-kata sebagai kreativitas menghindari masalah ini juga. Dengan penemuan mesin cetak di negara-negara Eropa seni menulis kaligrafi sebagian besar menghilang.
Larangan gambar gambar memacu Kaligrafi di dunia Muslim ke ketinggian baru. Hal ini digunakan untuk meningkatkan indra estetika dalam arsitektur seni dekoratif koin perhiasan tekstil senjata peralatan lukisan dan manuskrip. Jadi Kaligrafi telah tertanam dalam setiap aspek dari masyarakat Islam.
Seni Islam dalam bentuk Kaligrafi ini paling sering ditemukan di masjid-masjid. Dinding dan langit-langit masjid dihiasi dengan ayat calligraphically tertulis. Ini prasasti ini dilakukan dengan cara yang sangat kompleks dan rumit. Formulir ini selanjutnya bercabang sesuai dengan penyebaran Islam melalui Dunia Arab Persia Kekaisaran Ottoman The benua India dan ke mana saja Islam tercapai. Selama ini berbagai daerah kaligrafi mencapai rasa yang unik sesuai dengan simbiosis budaya asli dengan budaya Islam.
Seni kaligrafi Islam telah berkembang menjadi bentuk yang sangat beragam ekspresi. Berbagai bentuk kaligrafi termasuk Diwani script script dan Ruqah Sini script. Diwani naskah ditemukan oleh Housam Roumini selama pemerintahan awal Turki Ottoman. Script Ruqah dianggap bentuk paling mudah dari script. Script Sini berasal dari Cina dan memiliki komponen terlihat dari kaligrafi Cina.
Seperti kaligrafi berkembang ahli kaligrafi besar banyak terlihat sepanjang waktu. Salah satu ahli kaligrafi tertua adalah Ibnu Muqlah. Dia dianggap sebagai salah satu trendsetter dari Kaligrafi. Dia adalah pencipta Seni Islam prinsip-prinsip geometris yang digunakan oleh ahli kaligrafi banyak yang mengikutinya. Jadi Kaligrafi telah memainkan bagian penting dalam pertumbuhan dan kemajuan dari bahasa Arab dan budaya Islam yang beragam.
Dalam makalah ini akan dibahas beberapa tokoh kaligrafi terkemuka yaitu Ibnu Muqlah, Hasyim Muhammad Al Baghdadi dan Yusuf Dzannun.

B. Rumusan
1. Bagaimana sejarah dan rumus tentang dasar kaligrafi Islam Ibnu Muqlah?
2. Bagaimana sejarah Hasyim Muhammad Al Baghdadi?
3. Bagaimana sejarah Yusuf Dzannun?

C. Tujuan
1. Mengetahui bagaimana sejarah dan rumus tentang dasar kaligrafi Islam Ibnu Muqlah
2. Mengetahui bagaimana sejarah Hasyim Muhammad Al Baghdadi
3. Mengetahui bagaimana sejarah Yusuf Dzannun


BAB II
PEMBAHASAN

A. IBNU MUQLAH
1. Sejarah Ibnu Muqlah
Al-Wazir Abu Ali al-Shadr Muhammad bin al-Hasan ibnu Muqlah, yang digelari ‘Si Biji Anak Mata’. Sebenarnya Muqlah adalah nama bapaknya, dengan tradisi Arab memanggil seorang anak dengan ‘anak si fulan’, maka dipanggillah ia dengan Ibnu Muqlah. Namun, kasih sayang sang kakek kepadanya berlebihan, ia selalu dipanggil dengan sebutan “ ya muqlata abiihaa!” (wahai biji mata ayahnya).
Ia seorang jenius, menguasai ilmu dasar geometri membawa berkah dengan sematan “Imam Khatthathin” (Bapak para kaligrafer) baginya. Inilah akar utama penemuan kaligrafi cursif.
Ibnu Muqlah berkerja di bebearapa kantor pemerintahan dengan menyumbangkan keahliannya di berbagai bidang ilmu, termasuk kaligrafi. Dengan kekhasannya itulah karirnya menanjak tajam dengan menjadi salah satu wazir untuk tiga orang khalifah Abbasiyyah, antara lain khalifah Muqtadir, al-Qahir, al-Radi. Berkat keuletan dan hubungan sosial dengan sesama pejabat lain, ia menjadi orang yang terpandang.
Agaknya sudah menjadi tradisi apabila seorang pejabat ternama dan memiliki kredibilitas yang baik, mengalami banyak tekanan dari berbagai oknum yang curang dalam sistem pemerintahan. Begitu juga yang dialami oleh Ibnu Muqlah. Berbagai intrik kecurangan dalam sistem pemerintahan mengakibatkan dia mengalami penindasan yang sangat sadis. Penganiayaan tepatnya.
Ibnu Muqlah pada mulanya bekerja sebagai pemungut pajak pemerintah sekaligus mengatur anggaran pengeluarannya. Hingga keadaan membalik ketika ia menjabat sebagai pejabat bawaan al-Imami al-Muqtadi Billah pada 316H. Ia difitnah oleh musuhnya dan hartanya disita, sementara ia dibuang ke Persia. Namun pada akhirnya ia malah menjadi pembantu al-Radi, maka musuhnya kembali mencemarkan nama baiknya hingga ia ditangkap lagi dan dicopot dari jabatan kementrian.
Ia mencoba mendekati Ibnu Raiq, perdana menteri di Baghdad, seorang pejabat dibawah khalifah yang naif itu. Namun, khalifah tidak bisa menutup-nutupi rahasianya bahkan membusukkan namanya di hadapan Ibnu Raiq. Maka ditangkaplah Ibnu Muqlah dan dipotong tangannya.
Akhirnya al-Radi pun menyesal atas sikapnya sendiri dan menyuruh para dokter untuk mengobati luka tangannya yang buntung hingga pulih.
Dalam keadaan seperti itu, Ibnu Muqlah menggoreskan pena dengan tangan kanannya. Tradisi menulis dan akademis terus dijalaninya sebagaimana biasa. Namun, Ibnu Raiq sadar akan sikap baiknya, bahwa tindakan welas asihnya itu membuat Ibnu Muqlah dapat menyaingi kekuasaannya kembali, ketika Ibnu Muqlah memohon kepadanya untuk duduk kembali di kementrian.
Kesadisannya kumat lagi, dengan memerintahkan kepada anak buahnya untuk menangkap Ibnu Muqlah, memotong lidahnya, dan memenjarakannya hingga akhir hayat pada tahun 328 H/ 940 M. Ia dikuburkan di rumah sultan.
Mendengar kejadian itu, keluarganya menuntut pada kerajaan agar jenazahnya dikembalikan kepada keluarga, dan permintaan itu dipenuhi.
Segala kepedihan Ibnu Muqlah telah digoreskan dalam tiap-tiap bait syairnya, dengan artinya sebagai berikut:
Dengan pengorbanan yang besar, Ibnu Muqlah berhasil menggoreskan sejarah tertinggi yang besar nan suci yang tak pernah hilang dari peradaban manusia. Khususnya peradaban tulis-menulis kaligrafi di kalangan kaligrafer dunia. Kita pantas mendoakan beliau sebelum mulai belajar kaligrafi.
Keberhasilan Ibnu Muqlah dalam merumuskan desain kursif kaligrafi murni diakui sangat bagus secara teoritis bahkan praktek, pada masa itu hingga sekarang. Hingga, dalam waktu singkat mampu menggeser popularitas khat Kufi yang telah lama mengakar dalam peradaban masa itu (sebelum 328 H/ 940 M).
Tidak itu saja, demi menjaga kesempurnaan dan elektibilitas karya kaligrafi, seorang kaligrafer hendaknya memenuhi 4 husnul wadh’i (susunan yang baik) dan 5 kriteria penulisan yang sempurna sebagai dasar penulisan kaidah kaligrafi.
2. Rumus Ibnu Muqlah Tentang Dasar Kaligrafi Islam
Perpaduan antara kebenaran kaidah imlaiyah, kaidah khattiyah dan temperamen atau etika penggarapan yang terjaga adalah suatu keindahan tersendiri. Hal ini tentu bagi sang penulis kaligrafi akan mendapatkan kepuasan lebih. Oleh karena itu, perlu sekali membuka kembali rumus-rumus Ibnu Muqlah tentang dasar penulisan kaligrafi Islam pada awal-awal pertumbuhan dan perkembangannya.
Ibnu Muqlah telah berhasil menyempurnakan suatu pekerjaan besar dan suci, yang tak seorang kaligrafer sebelum ataupun setelahnya sebanding dengan rintisannya, bahkan dalam hal ini dialah yang dikenal menduduki tempat tertinggi dalam literatur sejarah kaligrafi Islam.
 Dapat dipastikan, sejak abad ke-9 M model tulisan cursif (model tulisan miring dan lentur) dipakai secara merata dimana-mana, dengan segala kekurang-elokannya, jika dibandingkan dengan Kufi yang sudah sempurna menurut ukuran waktu itu.
Atas dasar tersebut, Ibnu Muqlah menempatkan dirinya pada tugas pendesainan tulisan cursif yang pada waktu bersamaan mebjadi indah atau menjadi sebuah keseimbangan sempurna. Dengan demikian, secara efektif, tulisan cursif sanggup bersaing dengan tulisan Kufi yang cenderung angular dan kaku.
Menurut Ibnu Muqlah, bentuk tulisan baru dianggap benar jika memiliki lima kriteria sebagai berikut :
a. Tawfiyah (Tepat), yaitu secara huruf harus mendapatkan usapan sesuai dengan bagiannya, dari lengkungan, kekejuran dan bengkokan
b. Itman (Tuntas), yaitu setiap huruf harus diberi ukuran yang utuh, dari panjang, pendek, tipis dan tebal.
c. Ikmal (Sempurna), yaitu setiap usapan garis harus sesuai dengan kecantikan bentuk yang wajar, dalam gaya tegak, terlentang, memutar dan melengkung.
d. Isyba’ (Padat), yaitu setiap usapan garis harus mendapat sentuhan pas dari mata pena sehingga terbentuk suatu keserasian. Dengan demikian tidak akan terjadi ketimpangan, satu bagian tampak terlalu tipis atau terlalu tebal dari bagian lainnya, kecuali pada wilayah-wilayah sentuhan yang menghendaki demikian.
e. Irsal (Lancar), yaitu menggoreskan kalam secara cepat-tepat, tidak tersandung atau tertahan sehingga menyusahkan, atau mogok di tengah-tengah sehingga menimbulkan getaran tangan yang kelanjutannya  merusak tulisan yang sedang digoreskan.
Adapun mengenao tata letak yang baik (khusnul wad’i), menurut Ibnu Muqlah menghendaki perbaikan empat hal sebagai berikut :
a. Tarsif (Rapat Teratur), yaitu tepatnya sambungan satu huruf dengan huruf lainnya.
b. Ta’lif (Tersusun), yaitu menghimpun setiap huruf terpisah (tunggal) dengan lainnya dalam bentuk wajar namun indah.
c. Tastir (Selaras, Serasi), yaitu menghubungkan suatu kata dengan lainnya sehingga membentuk garisan yang selaras letaknya bagaikan mistar (penggaris).
d. Tansil (Bagaikan pedang atau lembing), yaitu meletakkan sapuan-sapuan garis memanjang yang indah pada huruf sambung.
Untuk menunjukkan ukuran bagaimana yang seharusnya dibentuk dalam suatu tulisan, Ibnu Muqlah meletakkan suatu sistem yang luas dan sempurna pada dasar kaidah penulisan kaligrafi. Diciptakannya sebuah titik belah ketupat sebagai unit ukuran. Kemudian mendesain kembali bentuk-bentuk ukuran (geometrikal) tulisan sambil menentukan model dan ukuran menurut besarnya dengan memakai titik belah ketupat, standar alif dan standar lingkaran. Tiga poin inilah, yaitu titik belah ketupat, alif vertikal, dan lingkaran yang dikemukakan oleh Ibnu Muqlah sebagai rumus-rumus dasar pengukuran bagi penulisan setiap huruf.
Untuk sistem ini, titik belah ketupat atau jajaran genjang dibentuk dengan menekan pena bergaris sudut-menyudut diatas kertas atau bahan tulisan lainnya. Dengan demikian, potongan, titik-titik mempunyai sisi sama panjang dan lebarnya, seluas mata pena yang digoreskan.
Standar alif digoreskan dalam bentuk vertikal, dengan ukuran sejumlah khusus titik belah ketupat yang ditemukan mulai dari ujung atas ke ujung lain di bawahnya dan sejumlah titik-titik tersebut pusparagam sesuai dengan bentuknya, dari lima sampai tujuh buah. Standar lingkaran memiliki radius atau jarak sama dengan alif. Kedua standar alif dan standar lingkaran tersebut digunakan juga sebagai dasar bentuk pengukuran atau geometri.
Adalah di luar wilayah studi ini untuk menggambarkan keseluruhan sistem geometrikal dan matematika Ibnu Muqlah selanjutnya: selain untuk dikatakan bahwa keberhasilannya yang menakjubkan dalam peletakan dasar-dasar kaligrafi yang benar dan mendalam sesuai dengan rumus-rumus yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, mengikuti disiplin yang luar biasa ketatnya dan berhubungan dengan tiga unit standar, yaitu titik belah ketupat atau jajaran genjang, alif dan lingkaran.
Metode penulisan ini disebut al-Khat al-Mansub (Kaligrafi berstandar), dan ini menunjukkan pada pemakaiannya yang segera lemuas. Ibnu Muqlah bereputasi ke arah perintisan jalan pemakaian “enam besar” tulisan cursif yang disebutkan, seindah seperti tulisan lainnya.
Buah tangannya yang dipercaya masih ada sampai sekarang hanyalah yang tersimpan utuh di Museum Irak, Baghdad. Tulisan yang terdiri dari sembilan halaman ini, yang disebut Naskhi dan Tsulus, ditilik dari caya dan gaya penulisannya dianggap benar-benar berasal dari tangan Ibnu Muqlah sendiri. Sumber lainnya menyebutkan bahwa di Andalusia ada sebuah mushaf al-Qur’an yang sangat masyhur, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khalil al-Saquny bahwa di salah satu masjid dari sekian banyak masjid Sevilla didapat mushaf juz IV edngan huruf-huruf tulisan yang mirip dengan huruf-huruf Kufi. Dikuatkan oleh Abu al-Hasan ibn Tufail bahwa mushaf itu ditulis dengan menggunakan khat Ibnu Muqlah. Sumber tersebut berasal dari Majalah Ma’had al-Makhtutat al-‘Arabiyah juz awal, halaman 95, tahun 1377 H, dalam suatu ulasan tentang perpustakaan dan kitab-kitab di Spanyol Islam.
Masih dari sumber yang sama, halaman 32 dalam judul al-Makhtutat al-‘Arabiyah fi Afganistan ulasan PSL de Beaurecueil mengenai berkas-berkas tulisan di empat perpustakaan, yaitu al-Mulk, Riasah al-Matbu’at, Wazarah al-Ma’arif al-Afganiyah dan Mathaf Herat, disebutkan bahwa dari sejumlah kitab-kitab langka di perpustakaan yang disebutkan terakhir ada sebuah mushaf yang ditulis oleh tangan Muhammad IbnuMuqlah al-Wazir. Ia mengatakan”... Khat Kufinya,” Ibnu Muqlah meninggal tahun 328 H. Ibnu Khallikan menyebutkan, di sana ada seorang kaligrafer dengan panggilan al-Ahdab al-Muzawwar yang suka menulis (meniru) khat setiap kaligrafer, dan tidak diragukan lagi bahwa salah satu tulisan yang ditiru tersebut adalah khatnya Ibnu Muqlah. Orang itu meninggal tahun 370 H.
Ibnu Muqlah lebih banyak menjuruskan penelitiannya pada tulisan-tulisan cursif. Namun tidak mengherankan, seandainya sebagian mushaf yang beliau tulis itu menggunakan khat Kufi – jika memang penelitian terhadap kedua sumber terakhir tersebut bisa diuji kebenarannya – tidak berarti Ibnu Muqlah hanya menguasai tulisan cursif. Sebab kenyataannya tulisan yang sudah mapan pada waktu sebelum kreasi Ibnu Muqlah itu dikemukakan hanyalah tulisan Kufi. Dapat dipastikan bahwa sebelum itu Ibnu Muqlah menulis dengan khat Kufi, sebagaimana dilakukan oleh para kaligrafer lainnya, dan bahwa hampir seluruh kaligrafer menguasai setiap model tulisan yang berkembang pada masanya.

B. HASYIM MUHAMMAD AL BAGHDADI
Abū Rāqım, Hashim bin Muhammad bin Haji Dirbās al-Qaysī Al-Baghdadi. Beliau dilahirkan pada tahun 1335 H/1917 M di Baghdad. Sejak kecil Hasyim sangat tertarik pada kaligrafi, ia belajar kepada Maula ‘Arif al-Shaykhlī juga kepada Ali Sabir, akan tetapi hanya sebentar saja. Kemudian ia mulai berlatih kaligrafi di bawah pengawasan dan bimbingan Syeikh Maula ‘Alī al-Fadli, yang memberinya ijazah (Sertifikat kaligrafi) pada tahun 1363 H/1943 M.
Pada 1364 H/1944 M, Hasyim pergi ke Mesir, ia tinggal di sebuah institut Kaligrafi di Kairo. Para instruktur dan administrator sangat terkesan dengan karyanya. Yang kemudian menyertakan Hasyim untuk langsung mengikuti ujian akhir di kelas senior, ia memperoleh kehormatan duduk di kelas nomer satu. Hasyim mendapat ijazah kedua dari khattat ternama Sayyid Ibrahim-Mesir (1315/1897 – 1414/1994), dan Muhammad Husni pada tahun 1364/1944. Administrator Lembaga memintanya untuk tinggal di Mesir dan mengajar, tapi ia kembali ke Baghdad dan membuka toko kaligrafi di 1365/1946. Hasyim kemudian pergi ke İstanbul, di mana ia berkenalan dengan kaligrafi Turki, terutama Hamid Aytac, yang memberinya dua sertifikat penghargaan sebagai pengganti ijazah, satu di 1370/1950 dan satu lagi di 1372/1952. Selama empat tahun, sejak 1375/1955, ia belajar dengan Mācid Ayral yang datang dari Baghdad ke İstanbul dan banyak sekali manfaat yang ia dapatkan ketika bersama Macid Ayral.
Hasyim menjabat sebagai kaligrafer di Departemen kementrian di Baghdad dari 1380/1960 sampai dia dipindahkan kepada Departemen Pendidikan, di mana ia diangkat menjadi kepala Departemen Dekorasi dan Kaligrafi.
Kaligrafi Turki sangat mempengaruhi diri Hasyim. Ia sangat mengagumi karya Hafiz Osman, muhammad sevki, Haci ahmed kamil akdik, dan hamid aytac. Kekagumannya kepada Musthafa Raqim juga begitu besar, sampai ia beri nama anaknya dengan Mushafa Raqim dan menyebut dirinya Abu Raqim. Semasa di Istanbul, Hasyim kerap kali mengunjungi Necmeddin Okyay, yang memiliki koleksi berbagai macam karya kaligrafi.
Dengan tujuan mempopulerkan seni kaligrafi, Hashim membuat koleksi potongan kaligrafi di riq’ah dan lain yang lainnya dalam berbagai skrip. Selain itu, Hasyim juga menjadi pengawas dalam penerbitan Mušhaf al-Awqāf, yang diterbitkan pertama kali oleh Departemen kementrian. Ini adalah mushaf kaligrafi yang sangat indah di tahun 1236/1821 yang ditulis oleh kaligrafer Turki Muhammad Amin Ar-Rusdi (abad ke 13/19). Mushaf ini diberikan oleh Pertevniyal, ibu dari Sultan Abdulaziz, ke Masjid Imam Besar Al-Nu’man Bin Tsabit, yang dikenal sebagai Abu Hanifah.
Hashim menghiasi lagi awal mushaf tersebut. menomori ayat, bemberi judul Al Quran, menata jumlah hizb, juz, dan ayat-ayat as sajadah. Dengan cara yang sesuai selera Arab. Kaligrafi Hasyim banyak terpajang di masjid-masjid dan bangunan lainnya di Baghdad dan kota-kota lainnya, yang terbuat dari fayans atau marmer, terutama di khot Jali Thuluth. Dan di atara karya-karyanya Yang paling langka adalah dalam naskah Kufi, seperti dalam Masjid ‘Al-Qadir Abd al-Jilani dan Masjid Hajj Mahmud.
Hashim al-Baghdadi meninggal pada 27 Rabī’I 1393/30 April 1973 di Baghdad dan dimakamkan di Pemakaman Khayzuran.

C. YUSUF DZANNUN
Beliau terhitung sebagai salah seorang kaligrafer dan tokoh seniman besar yang dimiliki oleh dunia Islam saat ini. Beliau juga merupakan seorang peneliti dan penulis dalam bidang seni budaya dan ilmu pengetahuan dalam bidang kaligrafi khususnya dan dalam bidang seni umumnya. Dr. Abdullah bajuri, seorang pakar filologi Arab terkemuka mengatakan “Yusuf Dzannun adalah seorang pakar dalam filologi dan dunia kaligrafi yang dimiliki oleh dunia arab”. Bahkan beliau mengatakan bahwa Yusuf Dzannun adalah satu-satunya pakar di bidang tersebut dan sangat sedikit pakar yang setara dengannya. Lebih dari itu Yusuf Dzannun adalah tokoh yang masih tersisa dalam bidang kaligrafi, tulisan arab, dan peninggalan-peninggalan sejarah arab yang nyaris tiada tandingannya.
Yusuf Dzannun lahir di Mausil pada tahun 1932 menurut catatan sipil, tetapi sebenarnya beliau lahir setahun sebelumnya. Sejak kecil, beliau memiliki kecenderungan dalam bidang bidang pertukangan, seperti tenun, kerajinan kayu, dan arsitektur sebelum akhirnya terjun dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebuah dunia yang saat itu tidak banyak di lirik oleh masyarakat Mausil. Beliau lulus dari Akademi Pendidikan spesialisasi bidang pendidikan seni yang kelak mengantarkan beliau dari seorang guru menjadi penasehat seni kaligrafi, kemudian penasehat umum di kantor pendidikan di Ninawa. Di sela-sela kesibukan tersebut kehidupan beliau di penuhi dengan kreasi baru dalam dunia kaligrafi yang mengantarkannya menjadi seorang kaligrafer besar, peneliti ulung, pakar dalam dunia arsitek dan seni islam dalam kurun waktu tiga puluh tahun. Setelah itu, semenjak tahun 1981 beliau memfokuskan semua waktu yang ada untuk Seni Islam secara umum dan Kaligrafi Arab secara khusus.
Jika kita telusuri riwayat hidup beliau dalam belajar kaligrafi beliau tidak belajar dari seorang guru sebagaimana lazimnya para kaligrafer, tetapi beliau memulainya dengan belajar secara otodidak dari buku Muhammad Izzat, seorang kaligrafer Usmani terkenal yang wafat tahun 1886. Buku Muhammad izat adalah buku langka yang memuat contoh-contoh kaligrafi Turki Usmani yang diakui keindahan dan kekuatan kaidahnya.
Pada tahun 1957 Yusuf Dzannun pergi ke Turki pertama kalinya untuk mengunjungi tempat-tempat eksotis yang penuh dengan keindahan seni-seni Islam. Tahun ini merupakan tahun dimana pandangan beliau terhadap seni islam secara umum berubah. Terlebih dalam bidang kaligrafi. Karena kunjungan tersebut, akhirnya beliau menjadikan Turki sebagai kiblat seni yang tidak bosan untuk selalu beliau kunjungi. Selain mengunjungi museum-museum, masjid-masjid, kuburan-kuburan serta tempat bersejarah lainnya, dalam setiap kunjungannya selalu menyempatkan diri untuk bersilaturahmi dengan Kaligrafer Usmani terakhir, Khattath Hamid al-Amidi, serta berkunjung ke kantor IRICICA di Istanbul untuk bekerjasama dengannya. IRCICA adalah lembaga yang memelihara dan menjaga seni kaligrafi, yang dengannya kaligrafi mengalami perkembangan pesat dalam kurun terahir ini. Usaha nyata IRCICA di antaranya adalah pengadaan perlombaan kaligrafi internasional setiap 3 tahun sekali, serta seminar-seminar tentang kaligrafi.
Yusuf Dzannun mendapatkan Ijazah khat dari Hamid al-Amidi pada tahun 1966, kemudian mendapatkan Taqdir (penghargaan) dari Kaligrafer yang sama pada tahun 1969. Penghargaan ini terbilang sangat langka dalam dunia kaligrafi dan dianggap lebih tinggi nilainya daripada ijazah oleh para kaligrafer, mengingat hanya dua orang kaligrafer yang mendapatkannya, yaitu Hashim Muhammad al-Baghdadi (meninggal 1973) dan Yusuf Dzannun.


BAB III
PENUTUP

Simpulan
Al-Wazir Abu Ali al-Shadr Muhammad bin al-Hasan ibnu Muqlah, yang digelari ‘Si Biji Anak Mata’. Sebenarnya Muqlah adalah nama bapaknya, dengan tradisi Arab memanggil seorang anak dengan ‘anak si fulan’, maka dipanggillah ia dengan Ibnu Muqlah. Namun, kasih sayang sang kakek kepadanya berlebihan, ia selalu dipanggil dengan sebutan “ ya muqlata abiihaa!” (wahai biji mata ayahnya). Ia seorang jenius, menguasai ilmu dasar geometri membawa berkah dengan sematan “Imam Khatthathin” (Bapak para kaligrafer) baginya. Inilah akar utama penemuan kaligrafi cursif. Keberhasilan Ibnu Muqlah dalam merumuskan desain kursif kaligrafi murni diakui sangat bagus secara teoritis bahkan praktek, pada masa itu hingga sekarang. Hingga, dalam waktu singkat mampu menggeser popularitas khat Kufi yang telah lama mengakar dalam peradaban masa itu (sebelum 328 H/ 940 M).
Menurut Ibnu Muqlah, bentuk tulisan baru dianggap benar jika memiliki lima kriteria sebagai berikut : Tawfiyah (Tepat), Itman (Tuntas), Ikmal (Sempurna), Isyba’ (Padat), dan Irsal (Lancar). Adapun mengenao tata letak yang baik (khusnul wad’i), menurut Ibnu Muqlah menghendaki perbaikan empat hal sebagai berikut :Tarsif (Rapat Teratur), Ta’lif (Tersusun), Tastir (Selaras, Serasi), dan Tansil (Bagaikan pedang atau lembing.
Abū Rāqım, Hashim bin Muhammad bin Haji Dirbās al-Qaysī Al-Baghdadi. Beliau dilahirkan pada tahun 1335 H/1917 M di Baghdad. Sejak kecil Hasyim sangat tertarik pada kaligrafi, ia belajar kepada Maula ‘Arif al-Shaykhlī juga kepada Ali Sabir, akan tetapi hanya sebentar saja. Kemudian ia mulai berlatih kaligrafi di bawah pengawasan dan bimbingan Syeikh Maula ‘Alī al-Fadli, yang memberinya ijazah (Sertifikat kaligrafi) pada tahun 1363 H/1943 M. Hasyim menjabat sebagai kaligrafer di Departemen kementrian di Baghdad dari 1380/1960 sampai dia dipindahkan kepada Departemen Pendidikan, di mana ia diangkat menjadi kepala Departemen Dekorasi dan Kaligrafi.
Yusuf Dzannun lahir di Mausil pada tahun 1932 menurut catatan sipil, tetapi sebenarnya beliau lahir setahun sebelumnya. Sejak kecil, beliau memiliki kecenderungan dalam bidang bidang pertukangan, seperti tenun, kerajinan kayu, dan arsitektur sebelum akhirnya terjun dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebuah dunia yang saat itu tidak banyak di lirik oleh masyarakat Mausil. Beliau lulus dari Akademi Pendidikan spesialisasi bidang pendidikan seni yang kelak mengantarkan beliau dari seorang guru menjadi penasehat seni kaligrafi, kemudian penasehat umum di kantor pendidikan di Ninawa. Di sela-sela kesibukan tersebut kehidupan beliau di penuhi dengan kreasi baru dalam dunia kaligrafi yang mengantarkannya menjadi seorang kaligrafer besar, peneliti ulung, pakar dalam dunia arsitek dan seni islam dalam kurun waktu tiga puluh tahun. Setelah itu, semenjak tahun 1981 beliau memfokuskan semua waktu yang ada untuk Seni Islam secara umum dan Kaligrafi Arab secara khusus.


DAFTAR PUSTAKA

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1997. “Kaligrafi”, Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve
http://asubja.wordpress.com/category/tokoh-seni-khat/
http://diwanikraf.com/category/tokoh-seni-khat/
http://hasrulkhat.webnode.com/tokoh2-khat/
http://pesantrensenikaligrafi.com/khatthath-yusuf-dzannun-mausil-irak/
http://pesantrensenikaligrafi.com/sejarah-singkat-hasyim-muhammad-al-baghdadi/
http://www.islamkaligrafi.com/index.php?option=com_content&view=article&id=86:rumus-ibnu-muqlah-tentang-dasar-kaligrafi-islam&catid=18:serba-serbi&Itemid=11
Muhamad, Hashim, Al Khattat. 1961.  Rules For Arabic Penmanship. Baghdad: The Institute Of Fine Arts
Shiddiq, Noor Aufa, 1409 H. Kaligrafi Arab, Surabaya: Penerbit Bintang Terang
Sirajuddin AR, 1985. Seni Kaligrafi Islam. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

Asal Usul Kaligrafi Arab

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Rumusan Masalah
Seni merupakan suatu unsur yang sangat berkait rapat dengan kehidupan manusia. Seni merupakan hasil daripada gambaran yang terdapat dalam pemikiran manusia dan dihasilkan dalam pelbagai bentuk seperti tulisan, ukiran, lukisan dan sebagainya. Kesenian Islam merupakan hasil karya ciptaan manusia yang berteraskan kepada cirri-ciri Islam. Dengan mengkaji kesenian Islam tersebut, maka kita akan dapat memahami dan menghayati kehalusan seni yang terdapat dalam sesebuah tamadun Islam. Islam bukan sahaja membenarkan kesenian dengan berbagai-bagai caranya, tetapi ia menggalakkan perkembangan kesenian tersebut. Namun demikian kebenaran Islam haruslah menepati dan seiring dengan syariat Allah SWT. Nabi s.a.w bersabda yang bermaksud: “Bahwa sesungguhnya Allah SWT itu indah dan kasih kepada yang indah”.
Antara hasil kesenian Islam yang dapat kita lihat sebagai bukti kehebatan sebuah tamadun Islam itu sendiri adalah melalui seni bina bangunan istana atau masjid dalam tamadun tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan terbinanya Taj Mahal, salah satu daripada keajaiban dunia yang menjadi kebanggaan masyarakat India hasil daripada ilham beberapa cendikiawan Islam Persia khususnya yang terhasil melalui pengaruh Hindu-Persia. Selain daripada Taj Mahal, Alhambra merupakan sebuah lagi bukti kehebatan seni bina Islam yang terdapat di Sepanyol. Bekas kubu pertahanan Kerajaan Islam Granada ini mempunyai keluasan kira-kira 14 hektar. Kehebatan para cendikiawan Islam yang membina kota tersebut dapat diperhatikan di melalui ukiran-ukiran pintu dan dinding yang melambangkan senibina istana Islam. Begitu juga dengan beberapa binaan yang lain seperti Qutb Minar di India dan lain-lain lagi. Selain kehebatan seni bina Islam itu, kita juga dapat melihat kemahiran para pengukir yang turut sama menghasilkan karya seni ukiran yang agung. Kehebatan seni ukiran ini secara tidak langsung turut sama membantu menjulang kegemilangan sesebuah tamadun.
Terdapat satu lagi keistimewaan kesenian Islam iaitu dari segi kaligrafinya. Seni kaligrafi Islam atau lebih sinonim dengan nama ´seni khat´ merupakan khazanah tertua di dunia yang masih dimiliki oleh umat Islam. Perkembangan Islam yang tersebar ke seluruh pelosok dunia, menyaksikan kaligrafi Islam teradaptasi dengan perubahan yang berlaku tanpa menghilangkan ciri dan nilai keIslamannya. Penulisan Khat yang pertama di dunia dipercayai dihasilkan di Kufah, Iraq dalam kurun ke tujuh. Akan tetapi, sistem penulisan khat ini terbukti telah bermula sejak zaman Rasulullah SAW sehingga zaman sahabat dan diikuti dengan zaman-zaman pemerintahan Islam yang lain seperti zaman kerajaan Umawiyyah, kerajaan Abbasiyyah, kerajaan Mughal, kerajaan Islam di Andalus dan lain-lain zaman. Kesenian kaligrafi ini mempunyai keistimewaan dan keunikannya yang tersendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah Seni Khat Arab/Kaligrafi Islam?
2. Bagaimana Asal Usul Kaligrafi (Khat) Arab?
3. Bagaimana Sejarah Perkembangan Seni Khat Arab?
4. Bagaimana Sejarah Masuknya Seni Khat Arab dan Pengaruhnya Di Nusantara?

C. Tujuan
1. Mengetahui Seni Khat Arab/Kaligrafi Islam
2. Mengetahui Bagaimana Asal Usul Kaligrafi (Khat) Arab
3. Mengetahui Bagaimana Sejarah Perkembangan Seni Khat Arab
4. Mengetahui Bagaimana Sejarah Masuknya Seni Khat Arab dan Pengaruhnya Di Nusantara


BAB II
PEMBAHASAN

A. Seni Khat Arab/Kaligrafi Islam
1. Seni Kaligrafi
Seni kaligrafi Islam seringkali dikaitkan dengan seni khat. Kaligrafi secara umumnya mempunyai maksud seni penulisan yang indah. Apabila ianya dikaitkan dengan Islam, membawa kepada seni penulisan Islam yang indah iaitu tulisan khat. Perkataan kaligrafi ini bearasl dari bahasa Yunani iaitu kalios yang berarti indah dan graphia yang berarti tulisan. Seni ini diciptakan dan dikembangkan oleh kaum muslim sejak kedatangan Islam. Sebagai bahasa yang memiliki karakter lembut dan artistik, huruf Arab menjadi bahan yang sangat kaya untuk penulisan kaligrafi. Kaligrafi Islam ini juga sangat berkaitan dengan Al-Quran dan hadis kerana sebahagian besar tulisan indah dalam bahasa Arab menampilkan ayat al-Quran atau hadis Nabi SAW.
2. Seni Khat
Seni khat ini merupakan salah satu bidang kesenian yang amat diminati oleh orang Islam. Keindahannya diabadikan di bangunan-bangunan, kubah masjid, seramik kaca selain diukir diatas kayu dan logam. Dari semasa ke semasa sejak zaman Rasulullah SAW hingga hari ini, seni khat terus berkembang dan meningkat pencapaian dan kecemerlangannya. Seni khat ini juga telah menghasilkan pelbagai seni reka bentuk khat. Selepas 100 tahun kewafatan Rasulullah SAW seni ini telah berada dipuncak kegemilangannya.
Seni khat bukan sahaja berperanan mengabadikan Al-Quran dalam bentuk tulisan akan tetapi juga turut mengabadikan sebahagian ayat dari Al-Quran tersebut di bangunan-bangunan masjid, rumah dan sebagainya. Ahli khat bukan sahaja terdi dari kalangan orang Arab bahkan pelbagai keturunan Islam yang lain diseleruh dunia termasuk Parsi, Turki, India, Melayu dan lain-lain lagi. Perkembangan seni khat diseluruh dunia pesat sekali, seiring dengan perkembangan dakwah Islamiyyah dan ilmu Islam.
Terdapat pelbagai jenis bentuk khat yang ditulis. Antaranya ialah khat nasakh, thuluth, rihan, muhaqqaq, tauqi’, riq’ah, diwan, ta’liq, nasta’liq dan lain-lain. Namun yang demikian, seni khat yang tertua ialah khat kufi. Khat nasakh mula terkenal dan diminati mulai abad kelima masihi. Ia sebenarnya merupakan khat kufi yang diubahsuai oleh Qutabah. Khat ini diperkenalkan oleh al-Dhahaq bin Iljan. Khat kufi ini berkembang dengan pesat pada zaman pemerintahan Bani Abbasiyyah. Muhammad bin Muqalan, merupakan salah seorang menteri di Abbasiyyah yang mahir dalam penulisan khat jenis al-Duri. Diantara ahli khat yang terkenal ialah Ibrahim al-Syujairi yang menghasilkan khat jenis al-Jalil, al-Thuluthain dan al-Thuluth. Yusuf al-Syujairi pula merupakan tokoh terkenal dalam bidang ini. Beliau menghasilkan khat jenis al-Riayasi. Begitu juga dengan al-Hasan al Naqulah, Muhammad al-Samsari, Muhammad bin Asad, Abu Hasan Ali bin Hilal (Ibnu al-Bawwab-terkenal kerana telah menulis Al-Quran dengan pelbagai gaya dan bentuk tulisan. Ada pendapat mengatakan sebanyak 64 buah Al-Quran pelbagai gaya tulisan tetapi sebahagian besar karyanya hilang atau terbakar), Syeikh Jamaluddin Taqut al-Mustakami dan ramai lagi tokoh penulis khat yang terkemuka. Seni khat ini diambil alih oleh orang Mesir, India dan Turki selepas kejatuhan Baghdad. Seni ini menjadi semakin terkenal sehingga tertubuhnya beberapa institusi khat di pelbagai negara Islam.

B. Asal Usul Kaligrafi (Khat) Arab
Banyak pendapat yang mengemukakan tentang siapa yang mula-mula menciptakan kaligrafi. Untuk mengungkap hal tersebut cerita-cerita keagamaanlah yang paling tepat dijadikan pegangan. Para pakar Arab mencatat, bahwa Nabi Adam As-lah yang pertama kali mengenal kaligrafi. Pengetahuan tersebut datang dari Allah SWT, sebagaiman firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 31:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhya…. “
Di samping itu masih ada lagi cerita-cerita keagamaan lainnya, misalnya saja, banyak yang percaya bahwa bahasa atau sistem tulisan berasal dari dewa-dewa. Nama Sanskerta adalah Devanagari, yang berarti “bersangkutan dengan kota para dewa”. Perkembangan selanjutnya mengalami perubahan akibat pergeseran zaman dan perubahan watak manusia.
Akhirnya muncul tafsiran-tafsiran baru tentang asal-usul tulisan indah atau kaligrafi yang lahir dari ide “menggambar” atau “lukisan” yang dipahat atau dicoretkan pada benda-benda tertentu seperti daun, kulit, kayu, tanah, dan batu. Hanya gambar-gambar yang mengandung lambang-lambang dan perwujudan dari keadaan-keadaan tertentu yang diasosiasikan dengan bunyi ucap sajalah yang dapat diusut sebagai awal pembentukan kaligrafi. Dari situlah tercipta sistem atau aturan tertentu untuk membacanya. Demikian juga sistem tulisan primitif Mesir Kuno atau sistem yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat primitif.
Pada mulanya tulisan tersebut  berdasarkan pada gambar-gambar. Kaligrafi Mesir Kuno yang disebut Hieroglyph berkembang menjadi Hieratik, yang dipergunakan oleh pendeta-pendeta Mesir untuk keperluan keagamaan. Dari huruf Hieratik muncul huruf Demotik yang dipergunakan oleh rakyat umum selama beberapa ribu tahun. Tulisan yang ditemukan 3200 SM di lembah Nil ini bentuknya tidak berupa kata-kata terputus seperti tulisan paku, tetapi disederhanakan dalam bentuk-bentuk gambar sebagai simbol-simbol pokok tulisan yang mengandung isyarat pengertian yang dimaksud. Kaligrafi bentuk inilah yang diduga sebagai cikal bakal kaligrafi Arab.
Pendapat lain dalam mengatakan asal-usul khat. Antaranya ialah, pendapat pertama menyatakan khat adalah anugerah daripada Allah SWT. kepada manusia. Allah telah mengajar ilmu dan cara menulis kepada Adam a.s dan diwarisi turun temurun sehingga kini. Ibnu Khaldun juga menyatakan bahwa tulisan jenis masnad berasal daripada Yaman, kemudiannya berpindah kepada keluarga al-Munzir di Heart. Tulisan ini lahir pada zaman kerajaan Saba’ di Himyar. Terdapat juga pendapat yang menyatakan tulisan ini berasal dari Heart dan akhirnya ke Hijaz. Selain itu juga, ada yang menyatakan khat berasal daripada finiqi yang diambil daripada huruf Mesir purba. Akan tetapi, kebanyakan ahli sejarah bersetuju dengan pendapat yang terakhir iaitu kkhat berasal berasal daripada tulisan Nabati (Ramali). Ia sampai ke Hijaz melalui dua jalan iaitu jalan dekat dari Nabati ke Batra ke Ula, ke Madinah dan Makkah serta jalan jauh iaitu melalui Harran ke lembah Furat, ke Daumatul Jandal, ke Madinah, Makkah dan Taif.
Tulisan khat dibawa melalui pedagang yang berniaga di Syam dan Iran, terutama Quraisy. Ini berarti ketika Islam disebarkan, segelintir kecil orang Arab telah pandai membaca dan menulis walaupun jumlah bilangan mereka adalah terhad sekali. Buktinya tawanan Perang Badar (musyrikin Makkah) dikehendaki mengajar anak umat Islam membaca dan menulis seramai 10 orang sebelum dibebaskan. Tulisan Arab ini akhirnya diperkenalkan ke seluruh dunia Islam. Mana-mana negara yang masih tidak mempu sistem tulisan sendiri pada masa itu mengambil seratus-peratus tulisan Arab menjadi tulisan mereka. Proses ini berlaku begitu cepat seiring dengan perkembangan pembelajaran Al-Quran.

C. Sejarah Perkembangan Seni Khat Arab
Seni khat lahir serentak dengan kelahiran Islam. Wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW sejak awal lagi telah dicatatkan oleh para sahabat pada daun kayu, tulang dan sebagainya sehinggalah Al-Quran itu sempurna diturunkan selama 23 tahun. Ini berarti seni khat diperlukan untuk mengabadikan Al-Quran dalam bentuk penulisan. Justeru itu, peranan seni khat dalam sejarah perkembangan Islam adalah yang paling utama dan mengatasi cabang seni yang lain.
Islam datang dengan membawa beberapa faktor tentang betapa perlunya penggunaan tulisan yang semakin bertambah luas ruang penggunaannya. Bidang penulisan telah memasuki era baru yang bergemerlapan dengan kedatangan Islam. Selepas penghijrahan Nabi ke Madinah, seni khat telah menjadi manifestasi bagi suatu perubahan yang agung yang mengatasi perkembangannya selama tiga abad sebelum itu. Dengan turunnya lima ayat pertama kepada Nabi s.a.w yang dimulai dengan firman Allah SWT.: Iqra’ ( bacalah ),maka penulisan telah memperoleh kepentingan suci yang sehingga kini masih kukuh terpelihara Kemudian turun pula ayat-ayat lain yang sering mengaitkan penulisan dengan sumber ketuhanan dan memerintahkan penggunaannya sehinggalah tulisan mendapat kedudukannya dalam kehidupan umat Islam sebagai salah satu keperluan asas.
Nabi memerintahkan para sahabat merakam maklumat-maklumat dengan tulisan dan mewasiatkan mereka memelihara tulisan tersebut. Baginda juga menggesa supaya mengajar anak-anak mereka membaca dan menulis. Mengarah tawanan Perang Badar supaya mengajar anak-anak Ansar membaca dan menulis sebagai bayaran tebusan sdiri mereka. Baginda sendiri mengendalikan urusan kelab latihan tulis-menulis di Madinah dengan tujuk ajar dari individu-individu dan sahabat-sahabat yang telah mahir dalam kemahiran menulis. Hasilnya, wujud dikalangan mereka orang yang mahir dalam banyak bahasa seperti Zaid bin Thabit yang mempelajari bahasa Parsi, Rom, Qibti dan Habsyah semasa di Madinah. Beliau juga menterjemah surat-surat balasan kepada Rasulullah s.a.w yang ditulis dalam bahasa-bahasa tersebut.
Sesetengah daripada mereka diperintahkan menulis dalam beberapa lapangan dan tajuk-tajuk tertentu seperti menulis perjanjian dan surat-surat yang diutuskan oleh Nabi kepada raja-raja dan lain-lain lagi. Selain itu, Baginda juga menekankan tentang soal sifat bentuk huruf-huruf yang berbagai-bagai itu. Memberi perhatian khusus kepada huruf-huruf ini adalah asal-usul khat. Perbezaan bentuk huruf-huruf, misalnya antara sin dan shin yang dirujuk oleh Rasulullah s.a.w dengan segera mengilhamkan para penulis khat berusaha melahirkan nilai-nilai khas kepada huruf-huruf dalam bahasa arab. Pada zaman Rasulullah SAW antara penulis khat adalah seperti Ali Bin Abi Talib, Uthman Bin Affan, Umar Al-Khattab, Abu Bakar al-Siddiq, Khalid Bin Said Bin Al-As, Hanzalah Bin Rabi`, Yazid Bin Abi Sufian, Muawiyah Bin Abi Sufian, Ubai Bin Ka`ab, Zaid Bin Tsabit dan ramai lagi
Setelah itu kewafatan Nabi S.A.W, seni penulisan khat ini tidak terhenti sebegitu sahaja akan tetapi ianya semakin berkembang di setiap zaman bermula dari zaman Khulafa’ al-Rasyidin, zaman Umawiyyah dan Abbasiyyah, zaman Islam di Mughal, Andalus dan lain-lain lagi. Pada awal tertubuhnya kerajaan Umaiyah, tulisan kaligrafi digunakan untuk keperluan administrasi negara. Pada perkembangan selanjutnya, tulisan ini terus diabadikan di dinding-dinding bangunan istana, kubah-kubah masjid, diukir di mimbar-mimbar dan beberapa tempat yang lain. Peralatan peperangan seperti pedang dan lembing serta barangan seramik juga tidak terlepas dari lakaran kaligrafi indah ini.

D. Sejarah Masuknya Seni Khat Arab dan Pengaruhnya Di Nusantara
Khat Jawi atau tulisan Jawi Arab adalah nama baru yang diletakkan kepada tulisan atau huruf Arab yang ditulis di Kepulauan Melayu. Perkataan Jawi berasal dari perkataan Jawa, memandangkan khat Arab mula bertapak di Kepulauan Jawa. Justeru tidak menjadi satu keunikan apabila disebut dengan nama Jawi kerana ia dinisbahkan kapada Jawa. Khat Jawi memain peranan penting dalam memartabatkan masyarakat Nusantara. Ini bermakna masyarakat Nusantara tidak mempunyai apa-apa khat sebelum khat Arab atau khat Jawi. Maka tidak mustahil kalau dikatakan tanpa tulisan Jawi, masyarakat Nusantara masih berada di tahap kejahilan. Tanpa penulisan mereka tidak dapat mempelajari sesuatu ilmu kerana setiap ilmu perlu ditulis terlebih dahulu sebelum ia dihafaz. Sesudah kemasukan Khat Arab maka satu revolusi berlaku, diantaranya ialah masyarakat Nusantara mula mempelajari huruf-huruf tersebut. Pengenalan tersebut memberi satu kekuatan baru kepada mereka untuk mempelajari al Quran dan hukum-hukum yang berkaitan dengan agama Islam.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ahli-ahli sejarah telah menyatakan bahwa bangsa Arab di antara kaum yang paling banyak menjalankan perdagangan dan perniagaan mengikut jalan laut. Ini bermakna tidak keterlaluan kalau dikatakan merekalah yang telah mempelopori dan memonopoli perniagaan pada kurun-kurun sebelum kedatangan Islam. Seorang sarjana Islam Muhammad ibn Jarir Abu Ja`far al-Tabari (310H/920M) telah menegaskan bahwa sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab telah pun belayar berulang alik dari Cina ke negara-negara Arab. Mereka belayar melalui Selat Melaka di tengah-tengah Kepulauan Melayu. Dengan penjelasan di atas, adalah telah dikenal pasti bahwa khat Arab telah sampai ke Alam Melayu melalui pedagang-pedagang Islam di awal kurun ke 2 H.dan mula tersebar di beberapa kawasan di Aceh. Semenjak itu, khat Arab ini telah mula menarik minat ramai penduduk untuk mempelajarinya dan ianya semakin dan terus berkembang.



BAB III
KESIMPULAN

Seni kaligrafi Islam seringkali dikaitkan dengan seni khat. Kaligrafi secara umumnya mempunyai maksud seni penulisan yang indah. Apabila ianya dikaitkan dengan Islam, membawa kepada seni penulisan Islam yang indah iaitu tulisan khat. Perkataan kaligrafi ini bearasl dari bahasa Yunani iaitu kalios yang berarti indah dan graphia yang berarti tulisan. Seni ini diciptakan dan dikembangkan oleh kaum muslim sejak kedatangan Islam. Seni khat bukan sahaja berperanan mengabadikan Al-Quran dalam bentuk tulisan akan tetapi juga turut mengabadikan sebahagian ayat dari Al-Quran tersebut di bangunan-bangunan masjid, rumah dan sebagainya.
Banyak pendapat yang mengemukakan tentang siapa yang mula-mula menciptakan kaligrafi. Untuk mengungkap hal tersebut cerita-cerita keagamaanlah yang paling tepat dijadikan pegangan. Para pakar Arab mencatat, bahwa Nabi Adam As-lah yang pertama kali mengenal kaligrafi. Pengetahuan tersebut datang dari Allah SWT, sebagaiman firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 31:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhya…. “
Pendapat lain dalam mengatakan asal-usul khat. Antaranya ialah, pendapat pertama menyatakan khat adalah anugerah daripada Allah SWT. kepada manusia. Allah telah mengajar ilmu dan cara menulis kepada Adam a.s dan diwarisi turun temurun sehingga kini. Ibnu Khaldun juga menyatakan bahwa tulisan jenis masnad berasal daripada Yaman, kemudiannya berpindah kepada keluarga al-Munzir di Heart. Tulisan ini lahir pada zaman kerajaan Saba’ di Himyar. Terdapat juga pendapat yang menyatakan tulisan ini berasal dari Heart dan akhirnya ke Hijaz. Selain itu juga, ada yang menyatakan khat berasal daripada finiqi yang diambil daripada huruf Mesir purba. Akan tetapi, kebanyakan ahli sejarah bersetuju dengan pendapat yang terakhir iaitu kkhat berasal berasal daripada tulisan Nabati (Ramali). Ia sampai ke Hijaz melalui dua jalan iaitu jalan dekat dari Nabati ke Batra ke Ula, ke Madinah dan Makkah serta jalan jauh iaitu melalui Harran ke lembah Furat, ke Daumatul Jandal, ke Madinah, Makkah dan Taif.
Seni khat lahir serentak dengan kelahiran Islam. Wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW sejak awal lagi telah dicatatkan oleh para sahabat pada daun kayu, tulang dan sebagainya sehinggalah Al-Quran itu sempurna diturunkan selama 23 tahun. Ini berarti seni khat diperlukan untuk mengabadikan Al-Quran dalam bentuk penulisan. Justeru itu, peranan seni khat dalam sejarah perkembangan Islam adalah yang paling utama dan mengatasi cabang seni yang lain.
Sebagaimana yang telah diketahui bahwa ahli-ahli sejarah telah menyatakan bahwa bangsa Arab di antara kaum yang paling banyak menjalankan perdagangan dan perniagaan mengikut jalan laut. Ini bermakna tidak keterlaluan kalau dikatakan merekalah yang telah mempelopori dan memonopoli perniagaan pada kurun-kurun sebelum kedatangan Islam. Seorang sarjana Islam Muhammad ibn Jarir Abu Ja`far al-Tabari (310H/920M) telah menegaskan bahwa sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab telah pun belayar berulang alik dari Cina ke negara-negara Arab. Mereka belayar melalui Selat Melaka di tengah-tengah Kepulauan Melayu. Dengan penjelasan di atas, adalah telah dikenal pasti bahwa khat Arab telah sampai ke Alam Melayu melalui pedagang-pedagang Islam di awal kurun ke 2 H.dan mula tersebar di beberapa kawasan di Aceh. Semenjak itu, khat Arab ini telah mula menarik minat ramai penduduk untuk mempelajarinya dan ianya semakin dan terus berkembang.


DAFTAR PUSTAKA

Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. 1997. “Kaligrafi”, Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve
Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar, Jilid 5. 2001
Ensiklopedia Kesenian dan Warisan Islam, Jilid 7. 2009
http://arisandi.com/asal-usul-kaligrafi/
http://lets-belajar.blogspot.com/2011/12/pengertian-dan-asal-usul-kaligrafi.html
http://wirsablog.wordpress.com/2012/09/15/asal-usul-khat-arab-2/
Muhamad, Hashim, Al Khattat. 1961.  Rules For Arabic Penmanship. Baghdad: The Institute Of Fine Arts
Shiddiq, Noor Aufa, 1409 H. Kaligrafi Arab, Surabaya: Penerbit Bintang Terang
Sirajuddin AR, 1985. Seni Kaligrafi Islam. Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas

Perkembangan Kaligrafi Islam

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peradaban Islam mulai muncul di permukaan ketika terjadi hubungan timbal balik antara peradaban orang-orang Arab dengan non-Arab. Pada mulanya, Islam tidak memerlukan suatu bentuk kesenian; tetapi bersama jalannya sang waktu, kaum muslimin menjadikan karya-karya seni sebagai media untuk mengekspresikan pandangan hidupnya. Mereka membangun bentuk-bentuk seni yang kaya sesuai dengan perspektif kesadaran nilai Islam, dan secara perlahan mengembangkan gaya mereka sendiri serta menambah sumbangan kebudayaan di lapangan kesenian. Salah satu bentuknya adalah seni kaligrafi.
Kaligrafi atau biasa dikenal dengan khath tumbuh dan berkembang dalam budaya Islam menjadi alternatif ekspresi menarik yang mengandung unsur penyatu yang kuat. Kaligrafi berkembang pesat dalam kebudayaan Islam adalah: Pertama, karena perkembangan ajaran agama Islam melalui kitab suci Al-Qur’an. Kedua, karena keunikan dan kelenturan huruf-huruf Arab. Khath sendiri sebagai satu bentuk kesenian yang memiliki aturan yang khas, telah tumbuh secara lepas maupun terpadukan dalam bagian-bagian unsur bangunan yang mempunyai makna keindahan tersendiri. Salah satu fakta yang mempesona dalam sejarah seni dan budaya Islam ialah keberhasilan bangsa Arab, Persia, Turki dan India dalam menciptakan bentuk-bentuk dan gaya tulisan kaligrafis ke berbagai jenis variasi, antara lain: Kufi, Riq’ah, Diwani, Tsuluts, Naskhi dan lain-lain.
Di Indonesia, kaligrafi hadir sejalan dengan masuknya agama Islam melalui jalur perdagangan pada abad ke-7 M, lalu menyebar ke pelosok nusantara sekitar abad ke-12 M. Pusat-pusat kekuasaan Islam seperti di Sumatera, Jawa, Madura, Sulawesi, menjadi kawah candradimuka bagi eksistensi kaligrafi dalam perjalanannya dari pesisir/pantai merambah ke pelosok-pelosok daerah.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Kaligrafi?
2. Bagaimana Asal-Usul Kaligrafi?
3. Bagaimana Sejarah Perkembangan Kaligrafi Islam?
4. Bagaimana Nafas Kaligrafi Nusantara di Era Modern?
C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Kaligrafi
2. Mengetahui Bagaimana Asal-Usul Kaligrafi
3. Mengetahui Bagaimana Sejarah Perkembangan Kaligrafi Islam
4. Mengetahui Bagaimana Nafas Kaligrafi Nusantara di Era Modern


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kaligrafi
Ungkapan kaligrafi diambil dari kata Latin “kalios” yang berarti indah, dan “graph” yang berarti tulisan atau aksara. Dalam bahasa Arab tulisan indah berarti “khath” sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “calligraphy”. Arti seutuhnya kata kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara penerapannya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis sebagaimana menulisnya dan membentuknya mana yang tidak perlu ditulis, mengubah ejaan yang perlu diubah dan menentukan cara bagaimana untuk mengubahnya. Sedangkan pengertian kaligrafi menurut Situmorang yaitu suatu corak atau bentuk seni menulis indah dan merupakan suatu bentuk keterampilan tangan serta dipadukan dengan rasa seni yang terkandung dalam hati setiap penciptanya.
Kaligrafi merupakan seni arsitektur rohani, yang dalam proses penciptaannya melalui alat jasmani. Kaligrafi atau khath, dilukiskan sebagai kecantikan rasa, penasehat pikiran, senjata pengetahuan, penyimpan rahasia dan berbagai masalah kehidupan. Oleh sebagian ulama disebutkan “khat itu ibarat ruh di dalam tubuh manusia”.
Akan tetapi yang lebih mengagumkan adalah, bahwa membaca dan “menulis” merupakan perintah Allah SWT yang pertama diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang tertuang dalam al-Qur’an surat al-‘Alaq ayat 1-5, yaitu:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajari (mausia) dengan parantaraan kalam. Dia mengajari manusia apa yang belum diketahuinya”.
Dapat dipastikan, kalam atau pena mempunyai kaitan yang erat dengan seni kaligrafi. Dapat juga dikatakan bahwa kalam sebagai penunjang ilmu pengetahuan. Wahyu tersebut merupakan “sarana” al-Khaliq dalam rangka memberi petunjuk kepada manusia untuk membaca dan menulis.



B. Asal-Usul Kaligrafi
Tentang asal-usul kaligrafi itu sendiri, banyak pendapat yang mengemukakan tentang siapa yang mula-mula menciptakan kaligrafi. Untuk mengungkap hal tersebut cerita-cerita keagamaanlah yang paling tepat dijadikan pegangan. Para pakar Arab mencatat, bahwa Nabi Adam As-lah yang pertama kali mengenal kaligrafi. Pengetahuan tersebut datang dari Allah SWT, sebagaiman firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 31:
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhya…. “
Di samping itu masih ada lagi cerita-cerita keagamaan lainnya, misalnya saja, banyak yang percaya bahwa bahasa atau sistem tulisan berasal dari dewa-dewa. Nama Sanskerta adalah Devanagari, yang berarti “bersangkutan dengan kota para dewa”. Perkembangan selanjutnya mengalami perubahan akibat pergeseran zaman dan perubahan watak manusia.
Akhirnya muncul tafsiran-tafsiran baru tentang asal-usul tulisan indah atau kaligrafi yang lahir dari ide “menggambar” atau “lukisan” yang dipahat atau dicoretkan pada benda-benda tertentu seperti daun, kulit, kayu, tanah, dan batu. Hanya gambar-gambar yang mengandung lambang-lambang dan perwujudan dari keadaan-keadaan tertentu yang diasosiasikan dengan bunyi ucap sajalah yang dapat diusut sebagai awal pembentukan kaligrafi. Dari situlah tercipta sistem atau aturan tertentu untuk membacanya. Demikian juga sistem tulisan primitif Mesir Kuno atau sistem yang dikembangkan oleh kelompok-kelompok masyarakat primitif.
Pada mulanya tulisan tersebut berdasarkan pada gambar-gambar. Kaligrafi Mesir Kuno yang disebut Hieroglyph berkembang menjadi Hieratik, yang dipergunakan oleh pendeta-pendeta Mesir untuk keperluan keagamaan. Dari huruf Hieratik muncul huruf Demotik yang dipergunakan oleh rakyat umum selama beberapa ribu tahun. Tulisan yang ditemukan 3200 SM di lembah Nil ini bentuknya tidak berupa kata-kata terputus seperti tulisan paku, tetapi disederhanakan dalam bentuk-bentuk gambar sebagai simbol-simbol pokok tulisan yang mengandung isyarat pengertian yang dimaksud. Kaligrafi bentuk inilah yang diduga sebagai cikal bakal kaligrafi Arab.

C. Sejarah Perkembangan Kaligrafi Islam
Bangsa Arab diakui sebagai bangsa yang sangat ahli dalam bidang sastra, dengan sederet nama-nama sastrawan beken pada masanya, namun dalam hal tradisi tulis-menulis (baca: khat) masih tertinggal jauh bila dibandingkan beberapa bangsa di belahan dunia lainnya yang telah mencapai tingkat kualitas tulisan yang sangat prestisius. Sebut saja misalnya bangsa Mesir dengan tulisan Hierogliph, bangsa India dengan Devanagari, bangsa Jepang dengan aksara Kaminomoji, bangsa Indian dengan Azteka, bangsa Assiria dengan Fonogram/Tulisan Paku, dan pelbagai negeri lain sudah terlebih dahulu memiliki jenis huruf/aksara. Keadaan ini dapat dipahami mengingat Bangsa Arab adalah bangsa yang hidupnya nomaden (berpindah-pindah) yang tidak mementingkan keberadaan sebuah tulisan, sehingga tradisi lisan (komuniksai dari mulut kemulut) lebih mereka sukai, bahkan beberapa diantara mereka tampak anti huruf. Tulisan baru dikenal pemakaiannya pada masa menjelang kedatangan Islam dengan ditandai pemajangan al-Mu’alaqat (syair-syair masterpiece yang ditempel di dinding Ka’bah).
Pembentukan huruf abjad Arab sehingga menjadi dikenal pada masa-masa awal Islam memakan waktu berabad-abad. Inskripsi Arab Utara bertarikh 250 M, 328 M dan 512 M menunjukkan kenyataan tersebut. Dari inskripsi-inskripsi yang ada, dapat ditelusuri bahwa huruf Arab berasal dari huruf Nabati yaitu huruf orang-orang Arab Utara yang masih dalam rumpun Smith yang terutama hanya menampilkan huruf-huruf mati. Dari masyarakat Arab Utara yang mendiami Hirah dan Anbar tulisan tersebut berkembang pemakaiannya ke wilayah-wilayah selatan Jazirah Arab.
Seni kaligrafi pada dasarnya telah di perkembangkan demi untuk menghasilkan salinan-salinan al-Quran serta teks-teks agama dengan cantik. Selepas abad ke-14, berlaku perkembangan kaligrafi terutamanya di Parsi, Turki dan India. Ahli kaligrafi terkenal diberikan hadiah yang banyak dan diberikan kedudukan yang istimewa oleh para putera raja dan orang-orang besar di seluruh dunia Islam. Beberapa pemerintah yang masyhur telah mendirikan sekolah-sekolah dan pusat-pusat seni kaligrafi.
Bentuk huruf di dunia ini, pada mulanya merupakan tanda-tanda sangat sederhana yang telah di temukan. Diantaranya:
a. Tulisan Arab yang di gunakan sekarang berasal dari proses terakhir dari tulisan Mesir Kuno.
b. Muncul tulisan Finiqi dan kemudian timbul tulisan Aram (suku Syam Kuno) di Palestin dan Iraq.
c. Tulisan berkembang mengikut daerah sehingga tulisan Musnad berganti bentuk sesuai dengan suku kaum yang menggunakannya.
d. Tulisan Musnad telah di kalahkan oleh tulisan Kindi (suku sebelah Selatan Jazirah sebelum Islam) dan Nabthi.
e. Kemudian tulisan itu disempurnakan oleh suku Hirah dari Anbar (Iraq). Ia juga adalah penyempurnaan dari tulisan Musnad. Tulisan ini mirip dengan tulisan Arab yang digunakan sekarang ini, cuma ada perubahan sedikit sahaja.
Dalam asal usul huruf Arab, pembentukan abjad Arab seperti yang di kenal pada masa awal Islam memakan masa berabad-abad. Mereka mengenali kaligrafi melalui berbagai-bagai sumber yang sampai ke Hijjaz pada abad 6 M. Dari inskripsi yang ada, huruf Arab berasal dari huruf Nabatea, Hiri dan Anbari yang di bawa masuk oleh ahli perniagaan Quraisy.
1. Perkembangan Awal Kaligrafi Zaman Umawiyyah (661-750 M.)
Perhatian umat Islam terhadap tulisan dengan berawalnya al-Quran. Pertalian langsung antara tulisan dan nilai-nilai keagamaan ini menjadikan kaum muslimin selalu termotivasi untuk terus mengembangkannya. Ini kerana pemerintahan zaman ini amat menitikberatkan kemajuan seni kaligrafi kerana ia sangat diperlukan samada dalam penulisan mushaf, ukiran dinding, mencetak mata wang mahupun surat menyurat.
Satu kenyataan dimana bahasa Arab merupakan satu-satunya bahasa utama umat Islam dan ia mempunyai fungsinya tersendiri. Empat atau lima salinan pertama pada zaman Khalifah Uthmani menjadi naskah penyalinan al-Quran yang disebut sebagai Resm Uthmani dan dari sinilah semua salinan al-Quran dibuat. Zaman ini juga berlaku pembaharuan aspek peletakan titik huruf oleh Abu al-Aswad al-Dua'li dan keseimbangan baris-baris bacan oleh al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi.
Beberapa bentuk kaligrafi ini dinamakan berdasarkan nama kota tempat berkembangnya tulisan. Bukti menunjukkan bahawa tulisan yang terkenal di Mekah dan Madinah yaitu Mudawwar (bundar), Muthallath (segitiga) dan Ti’m (gabungan segitiga dan bundar). Gaya-gaya kaligrafi lain yang berkembang di Kufah dan Basrah adalah Masyq, Tajawid, Sitawati, Mashu’, Munabaz, Murasaf, Isbahani, Sijjili dan Firamuz yang berasal dari Parsi. Gaya Masyq dan Naskhi berkembang pesat sementara Ma’il semakin tidak dipakai lagi kerana kalah dengan wujudnya gaya Kufi.
Qutbah al-Muharrir merupakan ahli kaligrafi di zaman Umawiyyah yang termasyhur kerana bakatnya yang luar biasa. Beliau menemukan empat tulisan utama yaitu Thumar, Jalil, Nifs dan Thuluth. Beliau mengembangkan tulisan tersebut dengan gaya lainnya sehingga menjadi lebih sempurna hinggakan digelar sebagai penulis kaligrafi terbaik di dunia. Bagaimanapun, khalifah pertama Bani Umawiyyah yaitu Mu'awiyyah bin Abu Sufyan (661-680) merupakan pendorong utama dalam pencarian bentuk-bentuk baru kaligrafi Islam.
Tulisan Thumar pada zaman Umawiyyah banyak digunakan dengan meluas terutama untuk komunikasi bertulis Khalifah kepada ketua-ketua dan penulisan dokumen rasmi Istana. An-Nadim dalam kitab al-Fihrist memberi keterangan tentang 24 tulisan yang ada pada masa ini terbahagi masing-masing kepada 12 tulisan. Bahkan 24 tulisan tersebut berasal dari empat tulisan yaitu Jalil, Thumar al-Kabir, Nisf as-Thaqil dan Thuluth as-Thaqil. Namun yang paling berpengaruh adalah Thumar dan Jalil.
Dalam perkembangan di zaman Umawiyyah adalah menekankan kemajuan seni kaligrafi Arab kerana ia sangat penting untuk penulisan. Sistem tulisan di zaman ini semakin berubah dalam proses pencarian bentuk-bentuk lain yang sebelum ini hanya di monopoli oleh jenis Kufi. Walau bagaimanapun, zaman Abasiyyah telah menghancurkan sebahagian besar peninggalan-peninggalannya sehingga sejarah kaligrafi pada zaman ini tidak terungkap secara menyeluruh. Hanya ada beberapa contoh tulisan yang ada seperti di Qubbah ash-Shahkrah (The Dome of the Rock).

2. Perkembangan Teknik Kaligrafi pada Zaman Abasiyyah (750-1258 M.)
Waris tradisi kaligrafi di awal zaman Abasiyyah mencatat sebuah nama besar yang sering disebut-sebut hingga kini yaitu Ibnu Muqlah. Pada zaman ini menyaksikan kemuncak pembaharuan seni kaligrafi Islam yang pelbagai malahan kemunculan Ibnu Muqlah di anggap sebagai pembuka tirai sejarah pembaharuan dalam arena seni kaligrafi Islam. Sejak usia mudanya telah menunjukkan kepintaran dalam bidang ini bersama saudaranya Abu Abdullah. Kemasyhuran Ibnu Muqlah atas jasanya menerapkan kaedah-kaedah penulisan berdasarkan ukuran geometri. Ada tiga unsur kesatuan dalam pembuatan huruf yaitu titik, huruf alif dan lingkaran.  Setiap huruf dalam teori Ibnu Muqlah disebut al-Khat al-Mansub (tulisan yang bersandar).
Ibnu Muqlah berjasa dalam pemakaian enam tulisan asas (al-Aqlam al-Sittah). Beliau sangat berjasa dalam membangunkan tulisan Naskhi dan Thuluth dalam karyanya yang sebelum ini didominasi Kufi dan gaya-gaya kecil yang lain.
An-Nadim dalam kitab al-Fihrist menyebut, Ibnu Muqlah dan saudaranya Abu Abdullah sahaja yang mencapai kesempurnaan menyeluruh. Pada masa ini penjenamaan dan penyalinan buku-buku begitu pesat. Bahkan ramai cendekiawan berbagai ilmu lahir pada zaman ini. Bagaimanapun kaligrafi bukan sekadar urusan pembuatan huruf-huruf sahaja tetapi menjadi bahagian dari tradisi intelektual yang ada.
Kepintaran Ibnu Muqlah menurun dan diikuti oleh Ibnu Bawwab yang telah mengembangkan sistem kaligrafi bernisbah. Sumbangan Ibnu Bawwab terhadap kaligrafi Arab khususnya terhadap al-Aqlam al-Sittah. Beliau mempunyai pembaikan gaya Naskhi dan Muhaqqaq. Pada abad berikutnya, muncul Yaqut al-Musta’simi yang memperkenalkan metode baru lagi dalam memperkaya kaligrafi Arab.
Penampilan baru gaya Thuluth dikenal sebagai Yaquti dan Yaqut adalah penulis kaligrafi terbesar di masa-masa terakhir zaman Abasiyyah yang jatuh ke tangan tentera Mongol. Pemakaian kaligrafi pada zaman Abasiyyah menunjukkan keberagamaan yang sangat nyata dan jauh apabila dibandingkan dengan zaman Umawiyyah. Untuk karya-karya yang digunakan masa awalnya Abasiyyah yang dipakai adalah gaya Kufi. Kemudian baru munculnya Naskhi dan Thuluth terutama pada abad ke-10.
Sementara itu, di wilayah Islam bahagian Barat termasuklah Andalusia (Sepanyol), pada abad pertengahan berkembang bentuk tulisan yang disebut Khat Maghribi. Selepas itu, muncul pertumbuhan kaligrafi masuk ke zaman kerajaan Islam Parsi seperti Ilkhanid (abad ke-13), Timurid (abad ke-15), dan beberapa kerajaan lain seperti Turki Uthmani (abad ke-14 hingga ke-20) dan lain-lain. Pada masa ini, bermula tumbuhnya gaya-gaya tulisan baru seperti Farsi & Nasta'liq, Diwani & Humayuni, Tugra dan lain-lain.
Kini, sebahagian ratusan jumlah gaya kaligrafi telah pupus dan kini hanya tinggal beberapa gaya yang paling popular di dunia Islam yaitu Naskhi, Thuluth, Raihani, Diwani, Req'ah, Farisi dan Kufi.
Seni kaligrafi begitu besar pengaruhnya terhadap al-Quran yang menyentuh setiap aspek kehidupan Muslim sehingga mengangkat kaligrafi ke puncak seni yang di anggap suci. Oleh kerana berkembangnya Islam ketika ini, tokoh kaligrafi Libanon yaitu Kamil al-Baba mengatakan bahawa penulisan al-Quran dengan indah telah mendorong kaum Muslimin mengubah nama kaligrafi Arab kepada kaligrafi Islam. Ini kerana besarnya peranan Islam dalam usaha mengembangkan kaligrafi Arab, maka sebutan seni kaligrafi Islam lebih popular daripada sebutan seni kaligrafi Arab.



3. Perkembangan Kaligrafi di Belahan Barat Islam
Selain di kawasan negeri Islam bagian timur (al-Masyriq) yang membentang di sebelah timur Libya termasuk Turki, dikenal juga kawasan bagian barat negeri Islam (al-Maghrib) yang terdiri dari seluruh negeri Arab sebelah barat Mesir, termasuk Andalusia (Spanyol Islam). Kawasan ini memunculkan bentuk kaligrafi yang berbeda. Gaya keligrafi yang berkembang dominan adalah Kufi Maghribi yang berbeda dengan gaya di Baghdad (Irak). Sistem penulisan yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah juga tidak sepenuhnya diterima, sehingga gaya tulisan kursif yang ada bersifat konservatif.
Sementara bagi kawasan Masyriq, setelah kehancuran Daulah Abbasiyah oleh tentara Mongol dibawah komando Jengis Khan dan puteranya Hulagu Khan, perkembangan kaligrafi dapat segera bangkit kembali tidak kurang dari setengah abad. Oleh Ghazan cucu Hulagu Khan yang telah memeluk agama Islam, tradisi kesenian pun dibangun kembali. Penggantinya yaitu Uljaytu juga meneruskan usaha Ghazan, ia memberikan dorongan kepada kaum terpelajar dan seniman untuk berkarya. Seni kaligrafi dan hiasan al-Qur’an pun mencapai puncaknya. Dinasti ini memiliki beberapa kaligrafer yang dibimbing Yaqut seperti Ahmad al-Suhrawardi yang menyalin al-Qur’an dalam gaya Muhaqqaq tahun 1304, Mubarak Shah al-Qutb, Sayyid Haydar, Mubarak Shah al-Suyufi dan lain-lain.
Dinasti al-Khan yang bertahan sampai abad ke-14 digantikan oleh Dinasti Timuriyah yang didirikan Timur Leng. Meskipun dikenal sebagai pembinasa besar, namun setelah ia masuk Islam kaum terpelajar dan seniman mendapat perhatian istimewa. Ia mempunya perhatian besar terhadap kaligrafi dan memerintahkan penyalinan al-Qur-an. Hal ini dilanjutkan oleh puteranya Shah Rukh. Diantara ahli kaligrafi pada masa ini adalah Muhammad al-Tughra’i yang menyalin al-Qur’an tahun 1408 dalam gaya Muhaqqaq emas. Dan putera Shah Rukh sendiri yang bernama Ibrahim Sulthan  menjadi salah seorang kaligrafer terkemuka.
Dinasti Timuriyah mengalami kemunduran menjelang abad ke-15 dan segera digantikan oleh Dinasti Safawiyah yang bertahan di Persia dan Irak sampai tahun 1736. Pendirinya Shah Ismail dan penggantinya Shah Tahmasp mendorong perumusan dan pengembangan gaya kaligrafi baru yang disebut Ta’liq yang sekarang dikenal Khat Farisi. Gaya baru yang dikembangkan Ta’liq adalah Nasta’liq yang mendapat pengaruh dari Naskhi. Tulisan Nasta’liq akhirnya menggeser Naskhi dan menjadi tulisan yang biasa digunakan untuk menyalin sastra Persia.
Di kawasan India dan Afganistan berkembang kaligrafi yang lebih bernuansa tradisional. Gaya Behari muncul di India pada abad ke-14 yang bergaris horisontal tebal memanjang yang kontras dengan garis vertikal yang ramping. Sedangkan di kawasan Cina memperlihatkan corak yang khas lagi, dipengaruhi tarikan kuas penulisan huruf Cina yang lazim disebut gaya Shini. Gaya ini mendapat pengaruh dari tulisan yang berkembang di India dan Afganistan. Tulisan Shini biasa ditorehkan di keramik dan tembikar.
Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah Arab diperintah oleh Dinasti Utsmaniyah (Ottoman) di Turki. Perkembangan kaligrafi sejak masa dinasti ini hingga perkembangan terakhirnya selalu terkait dengan dinasti Utsmaniyah Turki. Perkembangan kaligrafi pada masa Utsmaniyah ini memperlihatkan gairah yang luar biasa. Kecintaan kaligrafi tidak hanya pada kalangan terpelajar dan seniman saja, tetapi juga beberapa sultan bahkan dikenal juga sebagai kaligrafer. Mereka tidak segan-segan untuk merekrut ahli-ahli dari negeri musuh seperti Persia, maka gaya Farisi pun dikembangkan oleh dinasti ini. Adapun kaligrafer yang dipandang sebagai kaligrafer besar pada masa dinasti ini adalah Syaikh Hamdullah al-Amasi yang melahirkan beberapa murid, salah satunya adalah Hafidz Usman.
Perkembangan kaligrafi Turki sejak awal pemerintahan Utsmaniyah melahirkan sejumlah gaya baru yang luar biasa indahnya, berpatokan dengan gaya kaligrafi yang dikembangkan di Baghdad jauh sebelumnya. Yang paling penting adalah Syikastah, Syikastah-Amiz, Diwani dan Diwani Jali. Syikastah (bentuk patah) adalah gaya yang dikembangkan dari Ta’liq dan Nasta’liq awal. Gaya ini biasanya dipakai untuk keperluan-keperluan praktis. Gaya Diwani pun pada mulanya adalah penggayaan dari Ta’liq. Tulisan ini dikembangkan pada akhir abad ke-15 oleh Ibrahim Munif, yang kemudian disempurnakan oleh Syaikh Hamdullah. Gaya ini benar-benar kursif, dengan garis yang dominan melengkung dan bersusun-susun. Diwani kemudian dikembangkan lagi dan melahirkan gaya baru yang lebih monumental disebut Diwani Jali, yang juga dikenal sebagai Humayuni (kerajaan). Gaya ini sepenuhnya dikembangkan oleh Hafidz Usman dan para muridnya.

4. Kaligrafi Pada Masa Awal Islam di Nusantara
Perlu diketahui bahwa dokumen yang memuat catatan penyebaran Islam di Nusantara atau yang valid mengungkapkan proses penyebaran Islam di Nusantara sangatlah jarang, kalau tidak dikatakan tidak ada sama sekali. Dari hal itu, maka sulit juga mengidentifikasi masa penyebaran kebudayaan Islam di Nusantara. Meskipun demikian, catatan perjalanan Ibnu Batutah yang melakukan pengembaraan di Asia dan sempat singgah di Sumatera pada tahun 1345 serta mendapati penduduk setempat beragama Islam, setidaknya dapat memberikan gambaran bahwa tulisan Arab beserta seni tulis menulisnya pada masa itu sudah dikenal di Nusantara.
Peninggalan kesenian Islam tertua di Nusantara juga ditemukan di Sumatera, tepatnya di petilasan kerajaan Pasai. Peninggalan tersebut berupa batu nisan atau makam bergaya Islam yang diperkirakan berasal dari Abad 13. Batu nisan tersebut berbentuk ukiran yang terbuat dari batu pualam bertuliskan tulisan Arab dengan hiasan yang sangat kaya. Tidak salah jika kemudian kaligrafi ditengarai dapat menjadi penanda masuknya Islam di Nusantara, yang banyak ditemukan pada pahatan-pahatan indah nisan makam-makam kuno. Penelitian arkelogis untuk membuktikan asumsi bahwa kaligrafi menjadi penanda masuknya Islam di Nusantara dilakukan oleh Hasan Muarif Ambary, guru besar arkeologi Universitas Indonesia. Ia menemukan bukti tersebut pada nisan makam-makam kuno seperti di kerajaan Islam Aceh, makam Troloyo Mojokerto, Kraton Cirebon, Ternate, Jawa, Madura serta wilayah lain di Indonesia. Pada nisan-nisan yang menjadi objek kajian arkeologisnya tersebut ditemukan berbagai model seni tulis kaligrafi, di antaranya kaligrafi dengan gaya tulisan Kufi, Tsulutsi, Nastaliq, bahkan kontemporer.
Tidak hanya menjadi penanda pada nisan, kaligrafi juga menjadi bagian penting dalam penulisan materi pelajaran proses penyebaran Islam, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, tulisan pada mata uang logam, stempel, kepala surat, dan sebagainya. Maka dalam perkembangannya kita mengenal huruf Arab yang dipakai dalam bahasa lokal, seperti huruf Arab Melayu dan Arab Jawa atau Arab pegon yang banyak digunakan dalam penulisan kitab-kitab ajar di pesantren di Jawa.
Pada perkembangan selanjutnya, seni kaligrafi berkembang sejalan dengan berkembangnya pusat-pusat kekuasaan Islam di Nusantara seperti di Sumatera, Jawa, Madura, Sulawesi, dan penyebarannya merambah ke pelosok-pelosok daerah. Namun, perjalanan perkembangan kaligrafi dalam budaya Nusantara bukanlah tanpa menemui tantangan. Pada masa permulaan Islam di Indonesia, ada periode di mana penampilan kaligrafi atau khath kurang begitu mendapatkan tempat karena penerapan kaligrafi sebagai wujud dekorasi sangat terbatas. Arsitektur pada masa permulaan Islam seperti yang ditemukan pada masjid-masjid di Banten, Cirebon, Demak, dan Kudus tidak banyak memberikan ruang pada kaligrafi karena lebih banyak dipadukan dengan motif hias tradisional seperti ornamen-ornamen atau ukiran jawa. Selain itu, kaligrafi sering dipadukan dengan aksara Jawa dalam bentuk candra sangkala (sebagai petunjuk angka tahun berdirinya suatu bangunan). Beberapa aspek tersebut menandakan bahwa kaligrafi Islam tidak independen sebagai cabang seni rupa. Sehingga pada masa itu, sebagian besar karya kaligrafi lebih menitikberatkan pada muatan nilai-nilai fungsional ketimbang nilai estetis (Ahmad Suudi, 1995).

5. Kaligrafi Abad 16 Hingga Abad 20 di Nusantara
Sebagai bagian atau salah satu jenis seni rupa, kaligrafi menekankan keindahan yang terdapat pada bentuk-bentuk huruf yang telah dimodifikasi sedemikian rupa agar bernilai estetis. Keindahan kaligrafi tidak hanya berlaku untuk atau dari asal jenis huruf tertentu. Sebagai contoh, kaligrafi tidak hanya berlaku untuk bentuk atau jenis huruf Arab (Hijaiyyah) saja, tetapi dapat juga berlaku untuk jenis-jenis huruf yang lain. Sehingga kaligrafi berlaku untuk umum, keindahan hurufnya bersifat umum, universal dan global. Oleh karenya dalam perkembangan Islam di Indonesia, meskipun perkembangan kaligrafi juga menghdapi tantangan, kaligrafi yang bersifat universal mampu berkolaborasi dengan budaya asli, dari masa ke masa.
Budaya asli Indonesia yang sangat kaya membuat seni kaligrafi Islam bernegosiasi dalam proses akulturasi dengan seni tulis indah milik budaya lokal, hingga pada akhirnya menyusup ke berbagai macam kesenian tradisional budaya lokal. Perpaduan keduanya bisa dikatakan sebagai manifestasi kesenian Islam Indonesia. Dalam bentuk yang paling sederhana, misalnya, kaligrafi hadir sebagai unsur pelengkap pintu gerbang masjid, istana atau hiasan pada senjata semisal keris. Kaligrafi juga diolah dalam bentuk panji-panji atau bendera kebesaran kerajaan Islam. Salah satunya yang berlafalkan La ilaha illallah, Muhammadun Rasulullah dikibarkan dalam panji-panji peperangan terbuka antara pasukan kerajaan Islam dan non-Islam di Nusantara. Wujud lain kaligrafi yang lebih canggih terdapat pada kebanyakan hiasan masjid-masjid kerajaan seperti yang tertuang pada langit-langit, mihrab, atau mimbarnya.
Di sisi lain, perkembangan kaligrafi juga bertemu-padu dengan berkembangnya pesantren yang dirintis oleh para wali, yang merupakan tempat santri menimba dan memperdalam ajaran Islam. Pesantren rintisan para wali tersebut diantaranya Giri Kedaton, Pesantren Ampel Denta di Gresik, dan Pesantren Syeikh Qura di Karawang. Dalam dunia pesantren, para santri diajarkan ilmu baca dan tulis Alquran. Operasional sistem pendidikan dan pengajaran yang umum berlaku di pesantren biasanya dipraktikkan dengan aktivitas kyai membacakan kitab disertai terjemahan dengan bahasa Jawa lalu disertai ulasan yang cukup, sementara para santri secara berjamaah patuh mendengarkan dan menyerap ilmu yang terkandung dalam tutur kata kyai. Para santri sembari mendengarkan juga menuliskan makna atau terjemahan pelajaran yang disampaikan kyai ke dalam badan tulisan pada kitab. Maka, pelajaran kaligrafi juga diberikan mengiringi pelajaran agama seperti Alquran, fikih, tauhid, tasawuf, dan lain-lain. Tulisan yang diajarkan mula-mula, karena sifatnya penting untuk menunjang santri mencatat pelajaran dari kyai, adalah gaya tulisan yang sangat sederhana, seperti gaya tulisan Riq’i atau Kufi yang secara umum condong ke kanan. Kaligrafi dengan gaya tulisan Riq’i memang sederhana. Presisi ukuran panjang-pendek, tinggi-rendah, atau besar-kecil huruf bukan yang utama. Tulisan gaya ini relatif dapat ditulis dengan cepat. Setelah para santri semakin terbiasa dan mahir menulis Arab, baru muatan pelajaran khath dengan gaya tulisan yang lebih estetis dan lebih rumit diajarkan. Model pengajaran di pesantren seperti ini menyebabkan pesantren punya andil dalam mengembangkan dunia tulis menulis Arab dan kaligrafi.
Pada Abad ke-18 sampai Abad ke-20, banyak seniman kaligrafi di Nusantara melakukan terobosan-terobosan baru dalam dunia kaligrafi. Pada abad ini kaligrafi diwujudkan dalam aneka media seperti kertas, kayu, logam, dan media-media seni lainnya. Dinamika perubahan di masyarakat turut mempengaruhi nafas kaligrafi itu sendiri, yaitu seiring banyaknya impor kertas pada Abad 17, maka banyak khattath atau kaligrafer yang menuliskan Alquran. Hasilnya, kini banyak dijumpai atau ditemukan naskah Alquran kuno yang ditulis pada abad ini.
Yang cukup progressif dan mendapat sorotan mengenai seni kaligrafi Islam pada Abad 18 hingga Abad 20 tentunya adalah keinginan para kaligrafer untuk mengelaborasi kaligrafi dengan gambar makhluk hidup seperti hewan, meskipun dalam Islam sendiri ada anjuran untuk tidak menggambar makhluk hidup. Abad 17 dan sesudahnya, beberapa seniman kaligrafi Islam di Nusantara banyak menggambar makhluk hidup dengan hiasan atau kemasan kaligrafi ayat alquran atau qaul (tutur) ulama, bahkan ada khattath yang membuat karya kaligrafi yang menggambarkan jiwa kepahlawanan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Karya kaligrafi seperti ini banyak diproduksi oleh kraton Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, dan Palembang. Sampai akhir periode ini, tidak ada seniman kaligrafi yang populer namanya. Sementara bentuk huruf khath yang digunakan condong pada gaya-gaya Kufi, Naskhi, Tsulusi, Muhaqqaq, Raihani, Tauqi, dan Riq’i yang ngetrend di Timur Tengah.

D. Nafas Kaligrafi Nusantara di Era Modern
Sejak kemunculannya di tanah Arab, seni kaligrafi Islam tidak pernah absen mewarnai perkembangan masa dan perkembangan kehidupan manusia. Dari masa ke masa, dari negeri ke negeri, seni kaligrafi Islam selalu mengiringi perjalanan kebudayaan para pelaku kehidupan. Termasuk pada masa seni rupa modern, kaligrafi Islam juga tetap eksis bahkan dapat dikatakan lahir kembali. Jika ditelaah lebih dalam, kemunculan seni kaligrafi Islam di Nusantara pada masa seni rupa modern dapat dilihat jejaknya pada masa 1940an. Kaligrafi modern ini muncul bukan melalui kelembutan tangan seorang seniman melainkan dari hasrat ekspresi para seniman modern. Seni rupa modern bangkit bersama semangat nasionalisme yang mendorong lahirnya kemerdekaan Republik Indonesia.
Awal tahun 1970 pada saat masyarakat Islam semakin sadar akan arti pentingnya kaligrafi dalam kebudayaan Islam, lahirlah sebuah gerakan untuk lebih mengapresiasi teknik pengolahan kaligrafi Arab sebagai media ekspresi dalam lingkungan seni rupa modern, terutama seni lukis dan garis. Gerakan ini lahir dari para kaligrafer dan juga seniman seni rupa dalam disiplin lainnya, terutama angkatan generasi muda tahun 1970-an, seiring dengan kemunculan para pelukis yang mempopulerkan œlukisan kaligrafi atau œkaligrafi lukis sebagai bentuk pembedaan dengan œkaligrafi murni atau œkaligrafi tradisional yang lazim dikenal publik saat itu. Pelopor seni lukis kaligrafi modern di Indonesia antara lain Ahmad Sadali, A.D Pirous, Amri Yahya, dan Amang Rahman Zubair.
Popularitas kaligrafi lukis nampak jelas dalam pameran Lukisan Kaligrafi Islam Nasional saat MTQ Nasional XI di Semarang (1979) dan pameran pada Muktamar Pertama Media Massa Islam se-Dunia di Balai Sidang Jakarta (1980). Popularitas tersebut berlanjut dengan ragam kegiatan pameran-pameran kaligrafi di berbagai wilayah. Apalagi, dalam seni kaligrafi Islam modern juga diolah berbagai disiplin seni rupa lainnya, seperti lukis yang semakin membuat para kaligrafer bebas berkreasi menumpahkan ekspresinya dalam beragam corak kaligrafi. Hal ini membuat dunia kaligrafi Nusantara terasa terus menggeliat dan banyak diminati, baik dari sisi estetika maupun religiusitas.
Gairah perkembangan seni kaligrafi Islam di Indonesia selanjutnya nampak dengan digelarnya Festival Istiqlal II pada 1995. Dalam festival tersebut, dicanangkan program pengembangan sanggar kaligrafi. Tentu saja hal ini menggugah antusiasme para seniman kaligrafi untuk berbondong-bondong mendaftar dalam sayembara kaligrafi dalam festival tersebut. Bahkan, para peserta membentuk suatu karya kolektif yang dipelopori dengan kelahiran Mushaf Istiqlal (1995) dan Mushaf Sundawi (1997). Peristiwa ini kemudian menyedot animo para khattath nasional untuk membentuk sanggar kaligrafi di berbagai pelosok Nusantara.
Kini, kecenderungan seni kaligrafi Islam di Nusantara sangat variatif dan beragam. Bahkan sudah ada diantaranya melepaskan diri dari acuan baku gaya kaligrafi dengan bereksperimen membangun kaligrafi dengan unsur-unsur seni lukis. Hasilnya adalah sebuah seni kaligrafi yang bebas dan ekspresif. Sifat bebas dan ekspresif tersebut kemudian menjadi corak penting dalam seni kaligrafi Islam Nusantara secara khusus, bahkan juga mengilhami dunia seni rupa modern. Sumbangsih ini menimbulkan maraknya kegairahan berkreasi di kalangan pelukis dan khattath di Nusantara.
Meskipun mengalami banyak akomodasi dan akulturasi dengan budaya lokal, serta mengalami olahan dalam ragam rupa, seni kaligrafi Islam Nusantara tetap bermakna seni yang bersifat estetis dan spiritual bagi para penikmat seni kaligrafi. Kemunculan dan perkembangannya di Nusantara menempati posisi penting dalam peradaban Islam Indonesia dari masa ke masa. Nilai esensial dalam seni kaligrafi itulah yang menjadikan seorang khattath berbeda dengan seniman lukis ketika menginterpretasi ayat Alquran dalam tulisan indah. Ada nilai spiritual yang hanya dapat didapatkan dari karya seorang khattath, dan tidak bisa didapatkan dari karya seniman lain. Philip K. Hitti dalam karyanya, History of Arabs, menyebutkan “Seorang kaligrafer menempati kedudukan yang terhormat dan mulia melebihi kedudukan para pelukis karena banyak penguasa Muslim yang berusaha mendapatkan kemuliaan agama dengan cara memperindah salinan Alquran.”



BAB III
PENUTUP

SIMPULAN
Ungkapan kaligrafi diambil dari kata Latin “kalios” yang berarti indah, dan “graph” yang berarti tulisan atau aksara. Dalam bahasa Arab tulisan indah berarti “khath” sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “calligraphy”. Arti seutuhnya kata kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara penerapannya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis sebagaimana menulisnya dan membentuknya mana yang tidak perlu ditulis, mengubah ejaan yang perlu diubah dan menentukan cara bagaimana untuk mengubahnya. Sedangkan pengertian kaligrafi menurut Situmorang yaitu suatu corak atau bentuk seni menulis indah dan merupakan suatu bentuk keterampilan tangan serta dipadukan dengan rasa seni yang terkandung dalam hati setiap penciptanya.
Tentang asal-usul kaligrafi itu sendiri, banyak pendapat yang mengemukakan tentang siapa yang mula-mula menciptakan kaligrafi. Untuk mengungkap hal tersebut cerita-cerita keagamaanlah yang paling tepat dijadikan pegangan. Para pakar Arab mencatat, bahwa Nabi Adam As-lah yang pertama kali mengenal kaligrafi. Pengetahuan tersebut datang dari Allah SWT, sebagaiman firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhya…. “
Dalam perkembangan di zaman Umawiyyah adalah menekankan kemajuan seni kaligrafi Arab kerana ia sangat penting untuk penulisan. Sistem tulisan di zaman ini semakin berubah dalam proses pencarian bentuk-bentuk lain yang sebelum ini hanya di monopoli oleh jenis Kufi. Waris tradisi kaligrafi di awal zaman Abasiyyah mencatat sebuah nama besar yang sering disebut-sebut hingga kini yaitu Ibnu Muqlah. Pada zaman ini menyaksikan kemuncak pembaharuan seni kaligrafi Islam yang pelbagai malahan kemunculan Ibnu Muqlah di anggap sebagai pembuka tirai sejarah pembaharuan dalam arena seni kaligrafi Islam. Selain di kawasan negeri Islam bagian timur (al-Masyriq) yang membentang di sebelah timur Libya termasuk Turki, dikenal juga kawasan bagian barat negeri Islam (al-Maghrib) yang terdiri dari seluruh negeri Arab sebelah barat Mesir, termasuk Andalusia (Spanyol Islam). Kawasan ini memunculkan bentuk kaligrafi yang berbeda. Gaya keligrafi yang berkembang dominan adalah Kufi Maghribi yang berbeda dengan gaya di Baghdad (Irak). Sistem penulisan yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah juga tidak sepenuhnya diterima, sehingga gaya tulisan kursif yang ada bersifat konservatif.
Popularitas kaligrafi lukis nampak jelas dalam pameran Lukisan Kaligrafi Islam Nasional saat MTQ Nasional XI di Semarang (1979) dan pameran pada Muktamar Pertama Media Massa Islam se-Dunia di Balai Sidang Jakarta (1980). Popularitas tersebut berlanjut dengan ragam kegiatan pameran-pameran kaligrafi di berbagai wilayah. Apalagi, dalam seni kaligrafi Islam modern juga diolah berbagai disiplin seni rupa lainnya, seperti lukis yang semakin membuat para kaligrafer bebas berkreasi menumpahkan ekspresinya dalam beragam corak kaligrafi. Hal ini membuat dunia kaligrafi Nusantara terasa terus menggeliat dan banyak diminati, baik dari sisi estetika maupun religiusitas.
Ungkapan kaligrafi diambil dari kata Latin “kalios” yang berarti indah, dan “graph” yang berarti tulisan atau aksara. Dalam bahasa Arab tulisan indah berarti “khath” sedangkan dalam bahasa Inggris disebut “calligraphy”. Arti seutuhnya kata kaligrafi adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara penerapannya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis sebagaimana menulisnya dan membentuknya mana yang tidak perlu ditulis, mengubah ejaan yang perlu diubah dan menentukan cara bagaimana untuk mengubahnya. Sedangkan pengertian kaligrafi menurut Situmorang yaitu suatu corak atau bentuk seni menulis indah dan merupakan suatu bentuk keterampilan tangan serta dipadukan dengan rasa seni yang terkandung dalam hati setiap penciptanya.
Tentang asal-usul kaligrafi itu sendiri, banyak pendapat yang mengemukakan tentang siapa yang mula-mula menciptakan kaligrafi. Untuk mengungkap hal tersebut cerita-cerita keagamaanlah yang paling tepat dijadikan pegangan. Para pakar Arab mencatat, bahwa Nabi Adam As-lah yang pertama kali mengenal kaligrafi. Pengetahuan tersebut datang dari Allah SWT, sebagaiman firman-Nya dalam surat al-Baqarah ayat 31: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhya…. “
Dalam perkembangan di zaman Umawiyyah adalah menekankan kemajuan seni kaligrafi Arab kerana ia sangat penting untuk penulisan. Sistem tulisan di zaman ini semakin berubah dalam proses pencarian bentuk-bentuk lain yang sebelum ini hanya di monopoli oleh jenis Kufi. Waris tradisi kaligrafi di awal zaman Abasiyyah mencatat sebuah nama besar yang sering disebut-sebut hingga kini yaitu Ibnu Muqlah. Pada zaman ini menyaksikan kemuncak pembaharuan seni kaligrafi Islam yang pelbagai malahan kemunculan Ibnu Muqlah di anggap sebagai pembuka tirai sejarah pembaharuan dalam arena seni kaligrafi Islam. Selain di kawasan negeri Islam bagian timur (al-Masyriq) yang membentang di sebelah timur Libya termasuk Turki, dikenal juga kawasan bagian barat negeri Islam (al-Maghrib) yang terdiri dari seluruh negeri Arab sebelah barat Mesir, termasuk Andalusia (Spanyol Islam). Kawasan ini memunculkan bentuk kaligrafi yang berbeda. Gaya keligrafi yang berkembang dominan adalah Kufi Maghribi yang berbeda dengan gaya di Baghdad (Irak). Sistem penulisan yang ditemukan oleh Ibnu Muqlah juga tidak sepenuhnya diterima, sehingga gaya tulisan kursif yang ada bersifat konservatif.
Popularitas kaligrafi lukis nampak jelas dalam pameran Lukisan Kaligrafi Islam Nasional saat MTQ Nasional XI di Semarang (1979) dan pameran pada Muktamar Pertama Media Massa Islam se-Dunia di Balai Sidang Jakarta (1980). Popularitas tersebut berlanjut dengan ragam kegiatan pameran-pameran kaligrafi di berbagai wilayah. Apalagi, dalam seni kaligrafi Islam modern juga diolah berbagai disiplin seni rupa lainnya, seperti lukis yang semakin membuat para kaligrafer bebas berkreasi menumpahkan ekspresinya dalam beragam corak kaligrafi. Hal ini membuat dunia kaligrafi Nusantara terasa terus menggeliat dan banyak diminati, baik dari sisi estetika maupun religiusitas.

DAFTAR PUSTAKA

Beg, M. Abdul Jabbar. 1988. Seni di dalam Peradaban Islam. Bandung: Penerbit Pustaka
Dewan Redaksi Ensklopedi Islam. Ensiklopedi Islam. Cet.3. Jakarta: PT Inchtiar Baru Van Hoeve
Husain, Abdul Karim. t.t. Khat Seni Kaligrafi: Tuntutan Menulis Halus Huruf Arab.
http://akusuka-elfad.blogspot.com/2011/04/sejarah-perkembangan-kaligrafi.html
http://bocahsastra.wordpress.com/2011/12/20/sejarah-perkembangan-kaligrafi/
http://kaligraficantik.wordpress.com/2011/03/28/sejarah-seni-kaligrafi-islam-tren-dan-perkembangan-kaligrafi-islam-dari-masa-ke-masa/
http://kaligraficenter.jimdo.com/sejarah-kaligrafi/
http://lukisanmushaf.blogspot.com/2012/08/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di.html
http://www.lazuardibirru.org/duniaislam/khazanah/Kaligrafi%20Dalam%20Jagad%20Kebudayaan%20Islam%20Nusantara%20%20%20Lazuardi%20Birru.htm
http://www.rumpunilmu.com/2012/05/kaligrafi-kontemporer.html
Samsudin, Abdul Ghani, dkk.. 2001. Seni Dalam Islam. PJ: Intel Multimedia dan Publication.
Sirojuddin D. AR. 2000. Seni Kaligrafi Islam. cet. I, edisi II. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Situmorang, Oloan. 1993. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. cet. X . Bandung: Penerbit Angkasa
Suudi, Ahmad. 1995. Konsep Kaligrafi Islami Amri Yahya dalam Seni Lukis Batik. Yogyakarta: FPBS-IKIP

Sejarah Kaligrafi Islam

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses menuju kesempurnaan perkembangan kaligrafi Arab sebelum Islam menuju kesempurnaan pada abad ke-3 M, diperkirakan seabad sebelum kedatangan Islam orang Hijaz sudah ada yang mengenal tulisan. Hal ini terjadi karena ada hubungan dagang mereka dengan Arabia Utara dengan Arabia Selatan yang sudah mengenal huruf seperti suku Hunain di Yaman. Mereka ini melakukan perjalanan sambil belajar tulis baca di Syria begitu juga yang lainnya di Ambar Irak. Menurut catatan sejarah di Hijaz hanya ada beberapa orang yang pandai tulis baca yang terdiri dari orang Quraish dan orang Madinah khususnya orang Yahudi.
Kemudian pada abad ke-7 M, terjadi sedikit perkembangan penulisan di kalangan masyarakat Jazirah Arabia. Tulisan sederhana (belum sempurna) telah ada, seperti yang dibuktikan oleh temuan arkeologis (prasasti pada batu, pilar dan seterusnya) di Jazirah Arab. Selain itu sisa-sisa paleorafis (tulisan pada material seperti papyrus dan kertas kulit) dapat juga sebagai tanda untuk membuktikan bahwa orang Arab pada zaman itu sudah mempunyai pengetahuan menulis.
Keterlambatan perkembangan ini karena bangsa Arab ini dikenal sebagai masyarakat yang suka berpindah-pindah (nomaden). Mereka tidak terbiasa menulis peristiwa. Jadi sangatlah sulit untuk mencari data tertulis atau prasasti yang membuktikan peta perjalanan sejarah sebuah kemajuan di Jazirah Arab. Mereka dikenal sebagai bangsa yang kuat daya hafalnya. Jadi tidak diperlukan tulisan untuk menyampaikannya, karena menurut pandangan mereka orang yang menulis itu adalah orang yang mempunyai hafalan yang kurang kuat. Yang menjadi kebanggaan bagi bangsa Arab pada waktu itu adalah syair. Syair merupakan penalaran paling berharga dalam mengungkapkan makna-makna perasaan hati dan gejolak pikiran. Hal ini karena kehidupan mereka terbiasa di alam bebas, padang pasir yang membentang luas dan terbiasa di alam bebas, padang pasir yang membentang luas dan terbebas dari pengaruh budaya asing, yang menjadikan mereka leluasa dan terlatih untuk menghayalkan apa saja yang mereka alami dalam kehidupan. Kemudian syair-syair tersebut mereka hafal agar mudah disampaikan kapan saja dikehendakinya.
Kebanggaan mereka terhadap syair memang luar biasa. Mereka akan merasa lebih bangga apabila salah seorang dari anggota keluarga atau kebilahnya ada seorang penyair dibanding mempunyai seorang panglima perang. Apabila syair atau pantun itu mendapat nilai paling bagus, maka syair tersebut langsung ditempelkan di dinding ka’bah, sebagai tanda suatu penghormatan yang luar biasa. Menurut literatur Arab, hanya pernah ada tujuh jenis syair pujaan yang disebut al-Mu’allaqat (gantungan) sebagai hasil karya seni sastra maha paling indah dan paling sempurna yang mempunyai nama terhormat, karena ditulis dengan tinta emas. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan tulis menulis itu sudah ada, tetapi masih sangat langka, kecuali saat-saat dibutuhkan.
Itulah sebabnya pada bangsa Arab sebelum Islam datang seni kaligrafi itu berkembang, perjalanannya agak tersendat, lebih dari seribu tahun tidak melahirkan keanekaan, karena mereka tidak membudayakan menulis. Apabila ada syair yang pantas untuk dibanggakan maka barulah orang Arab tersebut menulisnya dan menggantungkannya pada dinding Ka’bah. Memang pada saat itu juga tidak disebutkan mereka menggunakan jenis khath apa dalam menulis tersebut. Tetapi dapatlah dipastikan bahwa kaligrafi Islam tersebut berasal dari tulisan Arab karena tulisannya menggunakan tulisan Arab. Dan tulisan-tulisan yang berkembang di daerah Arab sebelum Islam datang dapatlah dikategorikan sebagai kaligrafi Arab.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Kaligrafi?
2. Bagaimana Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Islam?
3. Bagaimana Perkembangan Kaligrafi Islam di Indonesia?

C. Tujuan
1. Mengetahui Pengertian Kaligrafi
2. Mengetahui Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Islam
3. Mengetahui Perkembangan Kaligrafi Islam di Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kaligrafi
Arti Kaligrafi sendiri dapat kita tinjau dari segi bahasa yang merupakan berasal dari bahasa latin yaitu “Kalios” yang berarti Indah, dan “Graph” yang berarti tulisan. Jadi kaligrafi adalah tulisan indah atau yang mempunyai unsur keindahan. Sedangkan bahasa Arab menyebutnya Khat.
Berkenaan dengan pengertian kaligrafi Syekh Syamsuddin al-Akfani dalam kitabnya Irsyadul al-Qasid menjelaskan bahwa “Kaligrafi/Khat adalah suatu ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk anatomi huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara merangkainya menjadi komposisi tulisan yang bagus; atau apa-apa yang ditulis di atas garis-garis, bagaiman cara menulisnyadan mana pula yang tidak perlu digores; mnentukan mana-mana yang perlu digubah dan dengan mertode bagaimana menggubahnya.”

B. Sejarah dan Perkembangan Kaligrafi Islam
Proses menuju kesempurnaan perkembangan kaligrafi Arab sebelum Islam menuju kesempurnaan pada abad ke-3 M, diperkirakan seabad sebelum kedatangan Islam orang Hijaz sudah ada yang mengenal tulisan. Hal ini terjadi karena ada hubungan dagang mereka dengan Arabia Utara dengan Arabia Selatan yang sudah mengenal huruf seperti suku Hunain di Yaman. Mereka ini melakukan perjalanan sambil belajar tulis baca di Syria begitu juga yang lainnya di Ambar Irak. Menurut catatan sejarah di Hijaz hanya ada beberapa orang yang pandai tulis baca yang terdiri dari orang Quraish dan orang Madinah khususnya orang Yahudi.
Kemudian pada abad ke-7 M, terjadi sedikit perkembangan penulisan di kalangan masyarakat Jazirah Arabia. Tulisan sederhana (belum sempurna) telah ada, seperti yang dibuktikan oleh temuan arkeologis (prasasti pada batu, pilar dan seterusnya) di Jazirah Arab. Selain itu sisa-sisa paleorafis (tulisan pada material seperti papyrus dan kertas kulit) dapat juga sebagai tanda untuk membuktikan bahwa orang Arab pada zaman itu sudah mempunyai pengetahuan menulis.
Keterlambatan perkembangan ini karena bangsa Arab ini dikenal sebagai masyarakat yang suka berpindah-pindah (nomaden). Mereka tidak terbiasa menulis peristiwa. Jadi sangatlah sulit untuk mencari data tertulis atau prasasti yang membuktikan peta perjalanan sejarah sebuah kemajuan di Jazirah Arab. Mereka dikenal sebagai bangsa yang kuat daya hafalnya. Jadi tidak diperlukan tulisan untuk menyampaikannya, karena menurut pandangan mereka orang yang menulis itu adalah orang yang mempunyai hafalan yang kurang kuat.
Yang menjadi kebanggaan bagi bangsa Arab pada waktu itu adalah syair. Syair merupakan penalaran paling berharga dalam mengungkapkan makna-makna perasaan hati dan gejolak pikiran. Hal ini karena kehidupan mereka terbiasa di alam bebas, padang pasir yang membentang luas dan terbiasa di alam bebas, padang pasir yang membentang luas dan terbebas dari pengaruh budaya asing, yang menjadikan mereka leluasa dan terlatih untuk menghayalkan apa saja yang mereka alami dalam kehidupan. Kemudian syair-syair tersebut mereka hafal agar mudah disampaikan kapan saja dikehendakinya.
Kebanggaan mereka terhadap syair memang luar biasa. Mereka akan merasa lebih bangga apabila salah seorang dari anggota keluarga atau kebilahnya ada seorang penyair dibanding mempunyai seorang panglima perang. Apabila syair atau pantun itu mendapat nilai paling bagus, maka syair tersebut langsung ditempelkan di dinding ka’bah, sebagai tanda suatu penghormatan yang luar biasa. Menurut literatur Arab, hanya pernah ada tujuh jenis syair pujaan yang disebut al-Mu’allaqat (gantungan) sebagai hasil karya seni sastra maha paling indah dan paling sempurna yang mempunyai nama terhormat, karena ditulis dengan tinta emas. Dengan ini dapat disimpulkan bahwa kegiatan tulis menulis itu sudah ada, tetapi masih sangat langka, kecuali saat-saat dibutuhkan.
Itulah sebabnya pada bangsa Arab sebelum Islam datang seni kaligrafi itu berkembang, perjalanannya agak tersendat, lebih dari seribu tahun tidak melahirkan keanekaan, karena mereka tidak membudayakan menulis. Apabila ada syair yang pantas untuk dibanggakan maka barulah orang Arab tersebut menulisnya dan menggantungkannya pada dinding Ka’bah. Memang pada saat itu juga tidak disebutkan mereka menggunakan jenis khath apa dalam menulis tersebut. Tetapi dapatlah dipastikan bahwa kaligrafi Islam tersebut berasal dari tulisan Arab karena tulisannya menggunakan tulisan Arab. Dan tulisan-tulisan yang berkembang di daerah Arab sebelum Islam datang dapatlah dikategorikan sebagai kaligrafi Arab.
Setelah Islam datang tulisan Arab ini mulai berkembang, karena mereka juga dianjurkan menulis dan membaca. Mereka sudah mulai menulis tentang ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits. Apalagi yang mereka tulis itu adalah wahyu Allah. Setiap ayat yang telah diturunkan Allah dan mereka terima dari Rasulullah lalu mereka tulis agar lebih mudah mengingatnya. Mereka yang menulis ini biasa sudah ada ditunjuk oleh Zaid bin Tsabit. Bukan itu saja yang menunjang mereke untuk menulis, ternyata ayat yang pertama kali diturunkan itu adalah ayat mengenai perintah untuk membaca dan menulis, sebagaimana yang tertulis dalam surat al-Alaq ayat 1-5
“Bacalah dengan nama Tuhan mu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah… ! Dan Tuhan mu Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia menulis dengan kalam.”
Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya Dari ayat tersebut sangat jelas bahwa membaca dan menulis itu memang dianjurkan. Semenjak turunnya al-Quran merupakan perkembangan awal kaligrafi ini dimulai. Keperluan untuk merekam al-Quran memaksa mereka untuk memperbaharui tulisan mereka dan memperindahnya sehingga ia pantas menjadi wahyu Allah. Kemudian ayat tersebut disebarkan oleh Rasulullah secara lisan dan kemudian dihafal oleh para hafiz untuk dapat dibaca dalam hati. Tetapi setelah Nabi wafat tahun 633 M, sejumlah hafiz tersebut banyak yang gugur dalam peperangan.
Umar bin Khattab memperingatkan hal tersebut kepada Abu Bakar sebagai khalifah pada masa itu . Pada waktu itu Abu Bakar masih ragu, sebab hal ini belum pernah dilakukan pada masa Rasul. Setelah didesak oleh Umar karena banyak pula terdapat perbedaan dialek bacaan tentang ayat al-Quran ini, lalu Abu Bakar membentuk sebuah panitia dalam penulisan ini yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit yang merupakan juru tulis Nabi sebelum Nabi wafat. Zaid bin Tsabit menyusun dan mengumpulkan wahyu ke dalam bentuk mushaf. Penyusunan ini baru terlaksana setelah masa kekhalifahan Usman bin Affan pada tahun 651 M. Penyusunan yang disucikan ini kemudian disalin ke dalam empat atau lima dalam bentuk edisi yang serupa, kemudian dikirim ke wilayah-wilayah Islam yang penting untuk digunakan sebagai naskah yang penting sebagai kitab buku. Dari sanalah dimulai semua salinan al-Quran dibuat, mula-mula dalam tulisan Mekah dan Madinah, yang merupakan ragam setempat tulisan Jazm, kemudian dalam tulisan Kufah dan selanjutnya dalam sebagian besar ragam tulisan Arab yang berkembang di negeri-negeri muslim.
Selain dari adanya kaitan dengan al-Quran, perkembangan seni kaligrafi ini berkembang dengan pesat juga disebabkan oleh beberapa factor lainnya, sehingga dapat merata di seluruh dunia Islam diantaranya:
1. Karena pengaruh ekspansi kekuasaan Islam, setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Islam telah meluas sampai keluar jazirah Arab. Dengan penyebaran tersebut terjadilah urbanisasi besar-besaran ke wilayah baru dan pertemuan budaya antara Islam dan wilayah taklukan serta adanya proses Arabisasi pada wilayah tersebut.
2. Adanya penamaan nama-nama raja dan kaum elit social. Dalam catatan sejarah bahwa gaya tulisan Tumar (lembaran halus daun pohon Tumar), diciptakan atas perintah langsung dari khalifah Muawiyah (40H/661M-60H/680M). Tulisan ini kemudian menjadi tulisan resmi pada pemerintahan Daulah Muawiyyah.
Ketika pemerintahan Muawiyah kaligrafi ini mulai berkembang, orang terpicu untuk mempelajari tulisan Arab karena adanya system Arabisasi yang diterapkan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Bahasa Arab itu diberlakukan bukan saja khusus untuk bangsa Arab, tetapi pada setiap orang Islam meskipun dia bukan orang Arab diharuskan menggunakan bahasa Arab. Dengan adanya sistem arabisasi menjadikan bentuk tulisan Arab semakin berkembang, sehingga muncul bermacam-macam model tulisan Arab yang baru.
Setelah masa pemerintahan Abbasiyah penulisan kaligrafi ini sudah mulai membudaya. Apalagi pada masa pemerintahan al-Makmum yang sangat menyukai kaligrafi. Pada masa ini juga sudah dimulai penterjemahan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab. Akhirnya penulisan Arab semakin berkembang, sehingga pada masa ini lahirlah berbagai tokoh kaligrafi yang dikenal.
Ahli kaligrafi yang terbesar pada zaman Mamluk ini adalah Muhammad Ibnu al-Walid, yang meninggalkan salinan al-Quran yang unik dalam tulisan sulus yang telah disalin ulang pada tahun 1304 M. Untuk seorang pejabat tinggi Baybar, yang kemudian menjadi Sultan Baybar (1308-09). Hal tersebut membuktikan bahwa kemampuan dalam seni kaligrafi dapat menambah prestasi seseorang untuk mendapatkan jabatan.
Ilham Khoiri mengatakan bahwa ada semacam motivasi normatif al-Qur’an yang mendorong kemajuan perkembangan seni kaligrafi ini. Hal ini dapat dibagi kepada empat wujud yaitu adanya perintah untuk belajar menulis al-Quran sebagai al-Kitab dan pengertiannya sebagai maqru, tambahan lagi adanya perintah untuk menuntut ilmu serta larangan menyembah atau memuja patung dan berhala. Tambahan lagi ada hadits nabi yang menyatakan bahwa menulis ayat al-Quran dengan indah itu akan mendapat pahala. Sebagaimana yang dinyatakan oleh:
عن أبو عاصم عن عبد الملك بن عبد الله بن ابي سفيان، عن أمه عمرو بن ابي سفيان، أنه سمع عمر بن الخطاب يقول: قيدوا العلم بالكتابز (رواه الدرمي(
Abu Ashim telah mengabarkan kepada kami dan kemudian dia mengabarkan kepadaku, dari Abdul Malik bin Abdullah bin Abu Sofyan. Dari ibunya Amru bin Abu Sofyan. Sesungguhnya dia mendengar dari Umar bin Khatab bahwasanya Rasulullah bersabda: Kukuhkanlah ilmu itu dengan tulisan.
Factor tersebut yang menjadi pemicu para kuttab untuk menulis al-Quran dengan indah. Secara tidak langsung mereka yang menulis ayat al-Quran dengan indah berarti mereka turut serta mengagungkan al-Quran dan memeliharanya dengan baik. Apabila al-Quran ditulis dengan baik dan indah menjadikan orang senang untuk membacanya. Akhirnya dengan demikian keindahan tulisan tersebut menjadikan suatu motivasi untuk selalu membaca al-Quran, bagi orang yang selalu membaca al-Quran akan mendapat pahala di sisi Allah.
Sumbangan terbesar dari kaligrafi Islam ini adalah Syaikh Hamdullah al-Masi (w. 1502), yang dipandang sebagai pendekar kaligrafi terbesar sepanjang dinasti Usmaniyah. Dia mengajarkan kaligrafi kepada sultan Usmaniyah Bayazid II (1481-1520). Sultan tersebut sangat menghormatinya dan membayarnya mahal untuk setiap tinta yang mengalir, sementara syaikh menulis kalimat-kalimatnya. Begitu besarnya perhatian pemerintah terhadap kaligrafi, sehingga setiap kaligrafer itu senantiasa diberi imbalan yang besar atas setiap karyanya.
Kaligrafernya tidak saja terdapat dari kalangan laki-laki saja, wanita pun sudah ada yang menggeluti dalam bidang seni kaligrafi ini. Padsyah-Khatun salah seorang kaligrafer wanita yang berasal dari Iran berkiprah di Jerman selama empat tahun sebelum kewafatannya tahun 1296 M menguasai kaligrafi. Dia seorang kaligrafer yang mahir menulis kaligrafi yang dikembangkan oleh Yaqut, telah melakukan penyalinan al-Quran. Seni kaligrafi yang berkembang setelah Islam datang ini dapat dikatakan dengan kaligrafi Islam. Karena tulisan yang sering disebut oleh bangsa Arab itu ayat al-Quran. Model-model tulisan Arab yang digunakan pun makin berkembang.
Perkembangan kaligrafi Arab ini tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya peradaban Arab dan munculnya peradaban Islam. Azzahawy mengemukakan bahwa perkembangan kaligrafi itu kepada dua bentuk:
1. Khat yang kaku, yaitu berasal dari bangsa Ibrani. Khat ini digunakan untuk menulis catatan resmi dan surat kabar.
2. Khat yang mulai lentur atau elastic apabila dibandingkan dengan khat sebelumnya, yaitu rangkaian huruf yang berkaitan satu sama lain, seperti khat naskhi. Khat ini dipakai dalam kegiatan sehari-hari dalam bentuk berlobang, bulat dan terbuka.
Kepandaian seni kaligrafi ini tidak banyak dipraktekkan oleh orang-orang yang sezaman dengan Nabi, meskipun sebagian sahabat dan keluarganya sudah ada yang pandai membaca dan menulis. Hal ini karena pada waktu Nabi sendiri tidak pernah mempelajari kepandaian ini. Sedangkan kecendrungan orang pada masa itu pada syair dan prosa dengan menggunakan budaya hafalan. Jadi pada masa itu seni sastra sangat berkembang dan semakin mendapat perhatian dan sering dijadikan kompetisi.
Kemudian setelah Nabi wafat, barulah mereka merasakan kebutuhan untuk menulis. Karena pada masa ini sudah banyak di antara sahabat nabi yang hafal al-Quran dalam peperangan. Lalu Umar bin Khattab mengusulkan agar al-Quran itu dibukukan, karena kuatir al-Quran itu akan hilang secara perlahan. Setelah pada masa Usman barulah berhasil al-Quran itu dibukukan. Menurut catatan sejarah jenis khath yang pertama kali digunakan adalah khath khufi. Dalam bukunya Athlasul Khat wa al-Kutub, Habibullah Fadzoili (1993) mengemukakan tentang gembaran perkembangan kaligrafi Arab Perkembangan tersebut terbagi kepada tujuh periode
a. Periode pertumbuhan. Pada masa ini gaya kufi muncul pertama kali dengan tidak ada menggunakan tanda baca pada huruf tersebut. Kemudian pada abad ke-7 H, lahir pemikiran untuk menggunakan tanda baca oleh seorang ahli bahasa Abu Aswad Ad-Duali yang kemudian dilanjutkan oleh muridnya sehingga mencapai tahapan kesempurnaan. Pada abad ke-8 H, gaya kufi ini mencapai keelokan sehingga bertahan selama tiga ratus tahun. Bahkan pada abad ke-11, gaya kufi ini telah memperoleh banyak monumental.
b. Periode pertumbuhan dan perindahan yang dimulai sejak akhir kekhalifahan Bani Umayah sampai pertengahan kekuasaan Abbasiyah di Bagdad. Pada masa ini muncul modifikasi dan pembentukan gaya-gaya lain. Selain gaya kufi pada masa ini merupakan tahapan pertumbuhan dan perindahan. Dan pada masa ini ditemukan enam rumusan pokok (al-aqlam as-Sittah), yaitu Tsulus, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riq’i dan Tauqi’. Selain itu pada periode ini terdapat pula sekitar dua puluh empat gaya khat yang berkembang, bahkan mencapai dua puluh enam gaya khath.
c. Periode penyempurnaan dan perumusan kaidah penulisan huruf oleh Abu Ali Muhammad bin Muqlaq, (w.329H/940) dan saudaranya, Abu Abdullah Hasan bin Muqlaq dengan metode al-Khath al-Mansub (ukuran standar dan bentuk kaligrafi). Pada masa ini Ibn Muqlaq sangat besar jasanya dalam membangun gaya Naskhi dan Tsulus. Di samping itu ia juga memodifikasi sekitar empat belas gaya kaligrafi serta menemukan du belas kaidah untuk pegangan seluruh aliran.
d. Periode pengembangan dari rumusan Ibnu Muqlaq ini oleh Ibn al-Bawwab (w.1022 M), yang berhasil menemukan gaya yang lebih gemulai al-Mansub al-Faiq (pertautan yang indah), yaitu suatu gaya kaligrafi dari gabungan khath Naskhi dan Muhaqqaq. Dia juga menambahkan hiasan pada tiga belas gaya kaligrafi yang menjadi eksperimennya.
e. Periode pengolahan khath dan pemikiran tentang metode hiasan baru dengan penyesuaian pena bamboo, yaitu pemotongan miring pada pena tersebut oleh sang kiblatul kuttab, Jamaluddin Yaqut al-Musta’shimi (w. 698 H/1298 M). Di samping itu beliau juga mengolah gaya al-Aqlam as-Sittah yang masyhur pada periode kedua dengan sentuhan kehalusan penuh estetika serta mengembalikan hokum-hukum Ibnu Muqlaq dan Ibn al-Bawwab. Yakut ini berhasil mengembangkan gaya baru dalam tulisan Tsulus. Pada masa ini para kaligrafer lain juga antusias menciptakan gaya-gaya kaligrafi ini sehingga dalam periode ini mampu menghasilkan gaya kaligrafi sampai ratusan gaya.
f. Periode perkembangan pada masa dinasti Mamluk di Mesir dan Dinasti Safawi di Persia. Pada periode ini muncul tiga gaya baru yaitu ta’liq (farisi) yang disempurnakan oleh kaligrafer Mir Ali (w.1916), dan gaya Sikhatseh (berbentuk terpecah-pecah) oleh khattah Darwisi Abdul Majid. Pada masa ini juga muncul kaligrafer kenamaan di Mesir yang bernama Thab-thab.
Ragam model gaya kaligrafi yang berkembang pada periode perkembangan ini tidak berhenti sampai di situ saja, bahkan pada masa berikutnya bermunculan para kaligrafer yang tidak kalah hebatnya dan mampu menggores tulisan yang halus dan sarat dengan nilai seni dan keindahan. Demikian juga di Baghdad ditemukan tiga kaligrafer besar yaitu Musthafa Raqim, Syeikh Musa ‘Azmi (lebih dikenal dengan Hamid al-Amidi).
Bentuk model khath yang berkembang tersebut diciptakan oleh tokoh-tokoh kaligrafer itu sendiri. Namun peletakan gaya kaligrafi ini tidak seluruhnya dapat diketahui dengan jelas. Contohnya kaligrafi gaya khufi merupakan gaya kaligrafi yang tertua dan tidak diketahui dengan jelas siapa peletak dan pencipta dari model khath ini. Sedangkan khath Naskhi lahir jelas diketahui siapa peletak pertama dari gaya khath ini adalah Ibn Muqlah, karena kelahiran khath ini sudah tampak sebelum kelahiran Ibn Muqlah, dan beliau juga yang mendewasakan jenis model dari khath ini. Demikian juga halnya khath Diwany pencipta pertamanya Ibnu Munif di Turki (860 H). Gaya Riq’ah diciptakan al-Mutasyar Mumtaz Bek di Turki (1280 H).
Pada awal pertumbuhannya kaligrafi itu tumbuh dan beragam bersifat kursif (lentur dan ornamental) dan sering pula dipadu dengan ornament floral. Model kaligrafi kursif yang tumbuh pada masa itu Tsulus, Naskhi, Muhaqqaq, Riqa’, Raihani dan Tauqi’. Keenam gaya inilah yang dikenal dengan al-Aqlam as-Sittah, atau Sihs Qalam (Persia), atau The Six Hands Styles (Inggris) . Keenam gaya kaligrafi ini mengalami seleksi alam. Di antara jenis gaya kaligrafi tersebut mulai beransur-ansur hilang. Gaya Riq’ah dan Tauqi’ sudah mulai beransur surut dari peredaran, karena luruh dan gayanya berkarakter mirip Tsulus, sementara jenis khath yang lain tetap eksis dan berkembang semakin sempurna. Perkembangan ini mencapai titik kulminasi pada masa pemerintahan Daulah Usmani (sekitar abad ke-16) dan dinasti Safawi di Iran juga dalam periode yang sama.
Pada periode tersebut di Turki juga berkembang jenis gaya kaligrafi Syikatsah, Syikatsah-Amiz, Diwani, Diwani Jali, Riq’ah dan Ijazah. Sementara Farisi (ta’liq) berkembang di Iran. Dari seluruh model tulisan kaligrafi ini, baik dari al-Aqlam as-Sittah maupun yang munculnya belakangan namun yang masih sering dipakai sampai sekarang yakni gaya sulus, naskhi, farisi, diwani, diwani jail, riq’ah, ijazah (raihani) serta model kufi. Perkembangan model-model ini dapat juga dilihat dari perkembangan sejarah. Ilham Khoiri mengelompokkan kepada dua yaitu perkembangan seni kaligrafi sebelum al-Quran turun dan setelah al-Quran diturunkan. Namun yang paling pesat perkembangn model kaligrafi itu adalah setelah al-Quran diturunkan. Karena pada masa ini banyak terdapat seniman, ahli kaligrafi dan peminat dan pencinta kaligrafi yang berasal dari kabilah-kabilah. Hal ini dikarenakan terdapatnya keindahan pada seni kaligrafi yang dapat mengokohkan peradaban yang dibutuhkan. Perkembangan seni kaligrafi tersebut ada yang bersifat hiasan dan ada juga yang bersifat kaidah. Kaligrafi yang pertama digunakan sebagai hiasan tersebut adalah khath khufi, seperti yang terdapat pada arsitektur bangunan. Sedangkan yang bersifat kaidah itu seperti Sulus, Riq’ah, dan Naskhi.

C. Perkembangan Kaligrafi Islam di Indonesia
Kaligrafi Di Indonesia, merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan, bahkan ia menandai masuknya Islam di Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan karena berdasarkan hasil penelitian tentang data arkeologi kaligrafi Islam yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, kaligrafi gaya Kufi telah berkembang pada abad ke-11, datanya ditemukan pada batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 495 H/1082 M) dan beberapa makam lainnya dari abad-abad ke-15. Bahkan diakui pula sejak kedatangannya ke Asia Tenggara dan Nusantara, disamping dipakai untuk penulisan batu nisan pada makam-makam, huruf Arab tersebut (baca: kaligrafi) memang juga banyak dipakai untuk tulisan-tulisan materi pelajaran, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, dalam mata uang logam, stempel, kepala surat, dan sebagainya. Huruf Arab yang dipakai dalam bahasa setempat tersebut diistilahkan dengan huruf Arab Melayu, Arab Jawa atau Arab Pegon.
Pada abad XVIII-XX, kaligrafi berpindah menjadi kegiatan kreasi seniman Indonesia yang diwujudkan dalam aneka media seperti kayu, kertas, logam, kaca, dan media lain. Termasuk juga untuk penulisan mushaf-mushaf al-quran tua dengan bahan kertas deluang dan kertas murni yang diimpor. Kebiasaan menulis al-Qur’an telah banyak dirintis oleh banyak ulama besar di pesantren-pesantren semenjak akhir abad XVI, meskipun tidak semua ulama atau santri yang piawai menulis kalgrafi dengan indah dan benar. Amat sulit mencari seorang khattat yang ditokohkan di penghujung abad XIX atau awal abad XX, karena tidak ada guru kaligrafi yang mumpuni dan tersedianya buku-buku pelajaran yang memuat kaidah penulisan kaligrafi. Buku pelajaran tentang kaligrafi pertama kali baru keluar sekitar tahun 1961 karangan Muhammad Abdur Razaq Muhili berjudul ‘Tulisan Indah’ serta karangan Drs. Abdul Karim Husein berjudul ‘Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab’ tahun 1971.
Pelopor angkatan pesantren baru menunjukkan sosoknya lebih nyata dalam kitab-kiab atau buku-buku agama hasil goresan tangan mereka yang banyak di tanah air. Para tokoh tersebut antara lain; K.H. Abdur Razaq Muhili, H. Darami Yunus, H. Salim Bakary, H.M. Salim Fachry dan K.H. Rofi’I Karim. Angkatan yang menyusul kemudian sampai angkatan generasi paling muda dapat disebutkan antara lain Muhammad Sadzali (murid Abdur Razaq), K. Mahfudz dari Ponorogo, Faih Rahmatullah, Rahmat Ali, Faiz Abdur Razaq dan Muhammad Wasi’ Abdur Razaq, H. Yahya dan Rahmat Arifin dari Malang, D. Sirojuddin dari Kuningan, M. Nur Aufa Shiddiq dari Kudus, Misbahul Munir dari Surabaya, Chumaidi Ilyas dari Bantul dan lainnya. D. Sirajuddin AR selanjutnya aktif menulis buku-buku kaligrafi dan mengalihkan kreasinya pada lukisan kaligrafi.
Dalam perkembangan selanjutnya, kaligrafi tidak hanya dikembangkan sebatas tulisan indah yang berkaidah, tetapi juga mulai dikembangkan dalam konteks kesenirupaan atau visual art. Dalam konteks ini kaligrafi menjadi jalan namun bukan pelarian bagi para seniman lukis yang ragu untuk menggambar makhluk hidup. Dalam aspek kesenirupaan, kaligrafi memiliki keunggulan pada faktor fisioplastisnya, pola geometrisnya, serta lengkungan ritmisnya yang luwes sehingga mudah divariasikan dan menginspirasi secara terus-menerus.
Kehadiran kaligrafi yang bernuansa lukis mulai muncul pertama kali sekitar tahun 1979 dalam ruang lingkup nasional pada pameran Lukisan Kaligrafi Nasional pertama bersamaan dengan diselenggarakannya MTQ Nasional XI di Semarang, menyusul pameran pada Muktamar pertama Media Massa Islam se-Dunia than 1980 di Balai Sidang Jakarta dan Pameran pada MTQ Nasional XII di Banda Aceh tahun 1981, MTQ Nasional di Yogyakarta tahun 1991, Pameran Kaligrafi Islam di Balai Budaya Jakarta dalam rangka menyambut Tahun Baru Hijriyah 1405 (1984) dan pameran lainnya.
Perkembangan selanjutnya dari kaligrafi di Indonesia adalah dimasukkan seni ini menjadi salah satu cabang yang dilombakan dalam even MTQ. Pada awalnya dipicu oleh sayembara kaligrafi pada MTQ Nasional XII 1981 di Banda Aceh dan MTQ Nasional XIII di Padang 1983. Sayembara tersebut pada akhirnya dipandang kurang memuaskan karena sistemnya adalah mengirimkan hasil karya khat langsung kepada panitia MTQ, sedangkan penulisannya di tempat masing-masing peserta. MTQ Nasional XIV di Pontianak meniadakan sayembara dan MTQ tahun selanjutnya kaligrafi dilombakan di tempat MTQ.

BAB III
SIMPULAN

Arti Kaligrafi sendiri dapat kita tinjau dari segi bahasa yang merupakan berasal dari bahasa latin yaitu “Kalios” yang berarti Indah, dan “Graph” yang berarti tulisan. Jadi kaligrafi adalah tulisan indah atau yang mempunyai unsur keindahan. Sedangkan bahasa Arab menyebutnya Khat.
Setelah Islam datang tulisan Arab ini mulai berkembang, karena mereka juga dianjurkan menulis dan membaca. Mereka sudah mulai menulis tentang ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits. Apalagi yang mereka tulis itu adalah wahyu Allah. Setiap ayat yang telah diturunkan Allah dan mereka terima dari Rasulullah lalu mereka tulis agar lebih mudah mengingatnya. Mereka yang menulis ini biasa sudah ada ditunjuk oleh Zaid bin Tsabit. Bukan itu saja yang menunjang mereke untuk menulis, ternyata ayat yang pertama kali diturunkan itu adalah ayat mengenai perintah untuk membaca dan menulis.
Ketika pemerintahan Muawiyah kaligrafi ini mulai berkembang, orang terpicu untuk mempelajari tulisan Arab karena adanya system Arabisasi yang diterapkan oleh pemerintahan Bani Umayyah. Setelah masa pemerintahan Abbasiyah penulisan kaligrafi ini sudah mulai membudaya. Apalagi pada masa pemerintahan al-Makmum yang sangat menyukai kaligrafi.
Kaligrafi Di Indonesia, merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan, bahkan ia menandai masuknya Islam di Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan karena berdasarkan hasil penelitian tentang data arkeologi kaligrafi Islam yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, kaligrafi gaya Kufi telah berkembang pada abad ke-11, datanya ditemukan pada batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 495 H/1082 M) dan beberapa makam lainnya dari abad-abad ke-15. Bahkan diakui pula sejak kedatangannya ke Asia Tenggara dan Nusantara, disamping dipakai untuk penulisan batu nisan pada makam-makam, huruf Arab tersebut (baca: kaligrafi) memang juga banyak dipakai untuk tulisan-tulisan materi pelajaran, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, dalam mata uang logam, stempel, kepala surat, dan sebagainya. Huruf Arab yang dipakai dalam bahasa setempat tersebut diistilahkan dengan huruf Arab Melayu, Arab Jawa atau Arab Pegon.

DAFTAR PUSTAKA

http://akusuka-elfad.blogspot.com/2011/04/sejarah-perkembangan-kaligrafi.html
http://bocahsastra.wordpress.com/2011/12/20/sejarah-perkembangan-kaligrafi/
http://id.scribd.com/document_downloads/direct/52969164?extension=docx&ft=1359024473&lt=1359028083&uahk=U+t+om9QtyvVrTDipDVZ9KF1o+o
http://ishomyusqi.com/sejarah-kaligrafi-islam/
http://kaligraficantik.wordpress.com/2011/03/28/sejarah-seni-kaligrafi-islam-tren-dan-perkembangan-kaligrafi-islam-dari-masa-ke-masa/
http://kaligraficenter.jimdo.com/sejarah-kaligrafi/
http://kominfohmptbaarraniry.blogspot.com/2010/09/sejarah-awal-asal-mula-khaligrafi-murni.html?zx=c86b98c86055aa29
http://lukisanmushaf.blogspot.com/2012/08/sejarah-perkembangan-kaligrafi-di.html
http://ukonpurkonudin.blogspot.com/2011/08/definisi-dan-sejarah-kaligrafi-arab.html
Jabbar, M. Abdul, Beg. 1988. Seni di dalam Peradaban Islam. Bandung: Penerbit Pustaka
Sirojuddin AR. 2000. Seni Kaligrafi Islam. cet. I, edisi II . Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
Situmorang, Oloan. 1993. Seni Rupa Islam Pertumbuhan dan Perkembangannya. cet. X Bandung: Penerbit Angkasa
Suudi, Ahmad. 1995. Konsep Kaligrafi Islami Amri Yahya dalam Seni Lukis Batik, Yogyakarta: FPBS-IKIP

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites