Makalah

Blog ini berisi berbagai macam makalah kuliah.

Perangkat Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Modul Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Skripsi

Masih dalam pengembangan.

Lain-lain

Masih dalam pengembangan.

Selasa, 21 Mei 2013

Islam Di Bawah Kepemimpinan Khulafaurrasyidin


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sejarah adalah suatu rujukan saat kita akan membangun masa depan. Namun, kadang orang malas untuk melihat sejarah. Sehingga orang cenderung berjalan tanpa tujuan dan mungkin mengulangi kesalahan yang pernah ada dimasa lalu. Disnilah sejarah berfungsi sebagai cerminan bahwa dimasa silam telah terjadi sebuah kisah yang patut kita pelajari untuk merancang masa depan.
Khulafa al-Rasyidun sebagai sahabat-sahabat yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad kiranya pantas untuk dijadikan sebagai rujukan saat kita akan melaksanakan sesuatu dimasa depan. Karena peristiwa yang terjadi sungguh beragam. Dari mulai cara pengaangkatan sebagai khalifah, sistem pemerintahan, pengelolaan administrasi, hubungan sosial kemasyaratan dan lain sebagainya ( Siti Maryam, dkk.2004 : 45)
Dalam memahami sejarah kita dituntut untuk dapat berpikir kritis. Sebab, sejarah bukanlah sebuah barang mati yang tidak dapat dirubah. Akan tetapi sejarah bisa saja dirubah kisahnya oleh sang penulis sejarah. Nalar kritis kita dituntut untuk mampu membaca sejarah dan membandingkan dengan pendapat lain. Saat kita sudah mampu untuk menyibak tabir sejarah dari berbagai sumber, barulah kita dapat melakukan rekonstruksi sejarah.
Rekonstruksi sejarah perlu dilakukan agar kita dapat memisahkan antara peradaban Arab dan peradaban islam. Sebab, kita sering memakan mentah-mentah peradaban yang datang dari Arab sebab semuanya dianggap sebagai peradaban islam. Kita perlu memandang peradaban dari berbagai aspeknya. Langkah ini agar kita tidak hanya sekedar ”bangga” dan larut dalam historisisme yang seringkali ”menjebak” pemikiran progressif kita.1

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ni adalah sebagai berikut :
Apa yang di maksud dengan khulafaurrosidin ?
Siapa para pemimpin khulafaurrosidin ?
Bagaimanakah sejarah kepemimpinan khulafaurrosidin ?
Bagaiman system politik dan pemerintahan khulafaurrosidin ?

1.3  Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dalam pembuatan makalah ni adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui  apa yang di maksud dengan khulafaurrosidin.
Untuk mengetahui siapa para pemimpin khulafaurrosidin.
Untuk mengetahui  bagaimanakah Sejarah kepemimpinan khulafaurrosidin.
Untuk mengetahui bagaiman system politik dan pemerintahan khulafaurrosidin.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian khulafaurrosidin
Khulafaurrasyidin adalah pecahan dari kata Khulafa’ dan Al – Rasyidin, Kata Khulafa’ mengandung pengertian  : cerdik, pandai dan pengganti. Sedangkan kata, Al – Rasyidin mengandung pengertian  : Lurus Benar dan Mendapat petunjuk.
Pengertian Khulafaurrasyidin adalah “ Pengganti yang cerdik dan benar serta para pemimpin pengganti Rasulullah dalam urusan kehidupan kaum muslimin, yang sangat adil dan bijaksana, pandai dan cerdik, dan dalam menjalankan tugasnyasenantiasa pada jalur yang benar serta senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
2.2 Para pemimpin khulafaurrosidin
Para pemimpin Khulafaurrasyidin terdiri dari empat orang sahabat Rasulullah Yaitu:
Abu Bakar Siddiq
Umar Ibn Khattab
Utsman Ibn Affan.
Ali Ibn Abi Thalib.
Dalam pemerintahannya mereka berjuang terus untuk agama Islam . mereka tidak pernah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadinya ataua untuk mengeruk harta. Mereka adalah pemimpin – pemimpin yang baik dalam melaksanakan kekuasaan. Mereka mau menerima dan mengemban kekhalifahan, bukan karena untuk mengharapkan sesuatu  yang akan menguntungkan pribadiya, tetapi semata – mata karena pengabdiannya terhadap Islam dan mencari Keridhaan Allah SWT semata.
Setiap langkah yang dilakukan oleh Khulafaurrasyidin tidak pernah bertentangan dengan kemauan kaum muslimin selalu berjalan pada jalur yang benar. (Mohamed Abed Al-Jabiri,2004:5)

2.3 Sejarah hidup  para pemimpin khulafaurrosidin
2.3.1 Abu Bakar As-Shiddiq 11-3 H/ 632-634 M
2.3.1.1  Riwayat Hidup Abu Bakar
Sebelum memeluk agama Islam , beliau bernama Abdul ka’bah, setelah masuk Islam oleh rasulullah Namanya diganti menjadi Abdullah Ibn  Abu Quhafah At – Tamimi. Ibunya bernama Ummul Khoir Salma Binti Sakhir Ibn Amir. Beliau Lahir dua tahun setelah Kelahiran Nabi Muhammad.
Abdullah kemudian digelari Abu Bakar Asy Siddiq yang artinya “ Abu (Bapak ) dan Bakar ( Pagi ), gelar Ash Siddiq diberikan kepada beliau karena beliau orang senantiasa membenarkan segala tindakan Rasulullah, terutama dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

2.3.1.2  Abu Bakar menjadi Khalifah
Rasulullah, Sebagai utusan Allah mengemban dua jabatan , yakni sebagai Rasulullah dan sebagai kepala Negara. Jabatan Beliau yang pertama selesai bersamaan dengan wafatnya. Namun jabatan kedua perlu  ada penggantinya,
Belum lagi rasulullah dikebumikan , disebuah tempat yang bernama “ Saqifah bani Sa’idah telah terjadi perselisihan pendapat antara golongan Anshor dan golongan muhajirin , tentang pengganti rasul dalam pemerintahan.
Berita perdebatan dua golongan ini kemudian terdengar oleh sahabat – sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar Ibn Khattab dan Utsman Ibn Affan yang sedang berada di rumah Rasulullah, sedang sahabat Ali sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah.
Mendegar berita ini akhirnya sahabat Abu baker dan Umar ibn Khattab sangat terkejut, kemudian keduanya  cepat – cepat mendatangi dimana kedua golongan tersebut yang sedang berdebat, untuk itu mereka mendatangi Saqifah Bani Sa’idah.
Abu baker berpidato dihadapan mereka dengan mengemukakan kelebihan – kelebihan Anshor dan Golongan Muhajirin, Abu Bakar Mengusulkan agar hadirin memilih salah satu dari sahabat  yaitu Umar Ibn Khattab dan Abu Ubaidah, namun keduanya menolak, dan keduanya berkata, “Demi Allah kami tidak akan menerima pekerjaan besar ini selama engkau m,asih ada , hai abu bakar! …. Engkaulah Orang Muhajirin yang paling mulia , Engkaulah satu – satunya orang yang menyertai Rasulullah di Gua ketika dikejar – kejar oleh orang – orang Quraisy engkaulah satu – satu nya orang yang pernah Rasulullah untuk menjadi Imam Shalat waktu Rasulullah Sakit…Untuk itu tengadahkanlah tanganmu wahai abu baker, kami hendak membaiatmu.
Pada awalnya Abu bakar sendirimerasa keberatan, kemudian Umar ibn Khattab memegang tangan Abu bakar sebagai tanda pembaiatan  dan diikuti oleh sahabat Abu Ubaidillah, setelah kedua sahabat selesai maka diikuti oleh seluruh sahabat yang ada di balairung itu baik kaum Muhajirin maupun Anshor.
Kemudia Abu Bakar berpidato ; “ Wahai Manusia ! saya telah diangkat untuk mengandalikan urusanmu padahal aku bukanlah orang terbaik diantara kamu , maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik maka ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat salah , maka luruskanlah ! orang yang kamu pandang kuat saya pandang lemah, sehingga aku dapat mengambil hak darinya, sedag orang yang kau pandang lemah aku pandang kuat , sehingga aku dapat mengambalikan hak kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku Taat kepada Allah dan RasulNya., tetapi bilamana aku tidak mentaati Allah dan rasulnya, kamu tidak perlu mentaatiku. (H. Munawir Sjadzali, M.A.1993:25 )

2.3.1.3  Langkah langkah Khalifah Abu Bakar.
Diawal pemerintahannya muncul tiga golongan, Golongan pertama menyatakan dirinya keluar dari Islam (Murtad), Golongan kedua yaitu golongan yang tidak puas dengan Islam, mereka menganggap karena , pemimpinnya sama dengan para budak. Maka muncul Musailamah Al Kazzab dari bani Hanifah di yamamah., Sajah dari bani Tamim, Al Aswad al Ansi dari yaman dan Thulaihah ibn Khuwailid dari Bani Asad. Mereka ini mengaku dirinya sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.  Kemudian golongan ketiga adalah mereka yang ketiga adalah mereka yang salah memahami  ayat – ayat Al – Qur’an. Mereka mengatakan bahwa yang berhak memungut zakat  adalah Nabi, untuk itu setelah Nabi Wafat maka tidak seorang pun yang berhak memungut zakat.
Menghadapi golongan – golongan ini Abu bakar setelah bermusyawarah dengan sahabat – sahabat lainnya mengambil tindakan tegas. Beliau membentuk pasukan yang dibagi ke dalam 11 batalion yang masing masing dipimpin oleh seorang panglima, yaitu:
Khalid ibn Walib ditugaskan untuk memerangi Thulaihah Ibn Khuwailid dan para pengikutnya.
Ikrimah bin Abi jahl ditugaskan untuk memerangi Musailamah Al kazzab dan Para pengikutnya.
Syarahbil bin Hasanah bertugas mendampingi ikrimah.
Al Muhajjir Ibn abi Umayyah ditugaskan utuk memerangi Aswad Al Ansi dan para pengikutnya.
Huzaifah ibn Muhsin bertugas untuk menaklukkan Negeri Daba di Umman.
Arfajah Ibn Hartsamah ditugaskan ke Negeri Muhrah.
Suaid Ibn Muqrin ditugaskan ke Yaman.
Al Ula Ibn Al Hadromy ditugaskan ke Bahrein.
Thuraifah Ibn hajiz ditugaskan ke Negri Bani Sulaim dan Bani Hawazin.
Amru Ibn Al Ash ditugaskan ke Negeri Qudhoah
Kholid Ibn Sa’id ditugaskan ke tanah –tanah tinggi Syam.
Sebelum Pasukan itu dikerahkan kenegeri masing – masing, Khalifah Abu bakar terlebih dahulu mengirimkan surat kepada golongan – golongan itu agar mereka kembali ke Islam. Namun sebagian besar merka tetap bersikeras, maka pasukan ini pun dikerahkan , dan dalam waktu yang relative singkat , pasukan Abu Bakar telah sukses dengan gemilang.
Dengan suiksesnya pasukan Khalifah Abu Bakar ini , maka keadaan Negara Arab tenag kembali.
Langkah kedua yang dilakukan Khalifah Abu bakar adalah mengirimkan pasukan ke Negri Persia dan Syam dibwah pimpinan Panglimanya. Yakni Kholid Ibn Walid. Penyerangan ini dilakukan karena pada saat Abu bakar sedang menghadapi golongan – golongan pembngkang Persia dan syam banyak memberi dukungan dan bantuan kepada mereka , disamping itu Persia dan syam selalu mengancam terhadap Islam.
Kholid Ibn Walid sebelum menyerang terlebih dahulu mengirim surat kepada Hormoz ( Kaisar Persia ) untuk memeluk agama Islam, Namu Kaisar Hormoz membalasnya dengan mengirimkan pasukan, maka pertempuranpun tak terelakkan. Dalam pertempuran ini panglima kholid ibn walid berhasil menaklukkan psukan Persia dan raja Hormoz sendiri terbunuh. Dengan demikian Persia menjadi wilayah Islam.
Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan ayat – ayat al Qur’an . Usaha ini awalnya muncul dari  usul umar Ibn Khattab, beliau melihat banyaknya penghafal alqur’an yang gugur dalam pernag yamamah.,Mulanya Abu Bakar Menolak, Kemudian khalifah Abu bakar memerintah sahabat Zaid Ibn Tsabit untuk mengumpulkan Al Qur’an, karena beliau paling bagus Hafalannya.
Demikian perjuangan Khalifah Abu Bakar selama dua tahun , dan pada tanggal 21 Jumadil Akhir 13 H bertepatan dengan 12 Agustus 634 M Beliau wafat.

2.3.4      Biografi Umar Ibn Khattab.
Ayahnya bernama Nufail Al Quraisy dan Ibunya bernama Hantamah Binti Hasim. Beliau berasal dari bani Adiy.
Dimasa Jahiliyah Umar adalah seorang saudagar yang berpengaruh mulia dan berkedudukan tinggi.
Masuknya Umar ke barisan Umat islam telah membawa perubahan baru bagi masyarakat Islam.umat Islam berani menjalankan Sholat dirumahnya masing – masing. Tidak takut menghadapi kaum Quraisy.
Umar Ibn Khattab diangkat menjadi Khalifah setelah wafatnya khalifah abu baker ,Yaitu tahun 634 M- 644/13 H-23 H
2.3.5      Perjuangan Khalifah Umar Ibn Khattab.
Memperbaiki Struktur dan lembaga Negara.
Beliau sorang yang adil dan jujur .pada masa pemerintahannya.negara menjadi Aman. Beliau mengangkat dewan hakim, badan permusyawaratan para sahabat. Badan keuangan
Untuk daerah-daerah, karena wilayah kekuasaan islam semangkin luas,beliau mengangkat Gubernur
Lembaga kepentingan msyarakat
Yaitu diadakannya jawatan pos yang akan menyampaikan berita dari kota madina ke daerah – daerrah lainnya, begitu juga sebaliknya.
Perbaikan jalan – jalan umum juga mendapat perhatian , memberi santunan anak yatim , orang tua dan wanita menyusui, khalifah umar juga menetapkan tanggal 1 muharram sebagai tahun baru Hijriyah. Dan menetapkan bulan sabit sebagai lambing Negara.
Menaklukkan beberapa Negara kedalam Islam
-         Menakklukkan Damaskus.
Dibawah pimpinan khalid Ibn Walid, pasukan Islam bergerak ke damaskus. Saat pasukan islam masuk ke damaskus prajurit Islam dalam keadaan mabuk – mabukan sehingga dengan mudah dapat ditaklukkan.
Sementara panglima Abu Ubaidah bersama pasukannya juga sukses menaklukkan daerah sekitar syam.
Dan di daerah tersebut Khalifah umar memerintahkan Khalid iIbn Walid dan Abu ubaidah agar memberi kebebasan beragama kepada penduduknya.
-         Membebaskan Baitul Maqdis
Saat itu baitul maqdis dikuasai oleh kerajaan romawi, maka khalifah umar ibn Khattab mengirim bala tentaranya dibawah pimpinan Amr Ibn Ash.
Pasukan Romawi yang dipimpin Artabun  tidak mampu menghadapi pasukan Islam, setelah pasukan romawi dikepung selama 4 bulan mereka menyerah.
-         Menaklukkan Persia
Khalifah Umar mengirim pasukannya ke Persia dibawah pimpinn Khalid Ibn Walid yang dibantu oleh Mutsanna Ibn Haritsah, akan tetapi Khalid ibn walid diperintahkan untuk membantu pasukan Abu ubaidah di roma dan Mutsanna tetap di Persia. Dengan begitu kekauatan kaum muslimin di Persia berkurangh dan tidak dapat menaklukkan Persia.
Setelah romawi tunduk pada Islam Khalifah Umar mengirimkan kembali pasukan Islam ke Persia berjumlah 8000 orang dibawah pimpinan Sa’ad Ibn Abi Waqosh, dan bertemu dengan pasukan Persia dengan kekauatan 30000 pasukan, namun kaum muslimin memperoleh kemenangan yang gemilang.
-         Menaklukkan Mesir
Mesir saat itu dikuasai oleh tentara Romawi, maka khalifah umar mengirim pasuknnya ke mesir dibawh pimpinn Amr ibn Ash.
Dibeberapa daerah kaum muslimin mendapat kemenangan, namuan di Ummu Dunain, kaum muslimin tidak dapat menundukkan  kekuatan tentara Romawi, maka Amr Ibn Ash memint bantuan kepada khalifah umar Ibn Khattab. Kemudian khalifah umar mengirim pasukannya yang berjumlah 4000 orang dimana terdapat Zubai, Ubadah Ibn Shamit, dan Al Miqdad Ibn Aswad., dan kaum muslimin harus berjuang menghadapi lawan yang berjumlah 20000 orang maka amr ibn ash mengatur siasat perang.
Khalifah Umar Ibn Khattb wafat tanggal 1 Muharram 23 H ( 644 ) beliau wafat akibat tikaman, saat menjalankan sholat subuh. Oleh Fairuz atau Abu Lulu karena Dendam tak beralasan. Beliau menjadi khalifah selama 10 tahun. Dan dimakamkan di madinah disamping makam Rasulullah dan Abu Bakar As – Siddiq

2.1 Kelahiran Khalifah Usman bin Affan
Nama lengkapnya adalah Usman bin Affan bin Abil Ash bin Abi Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manafbin Qushiy bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Gholib Al-Qurosyiyy[1].  Lahir pada tahun 576 M. Enam tahun setelah penyerangan ka’bah oleh pasukan bergajah atau setelah enam tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Ibu khalifah Ustman bin Affan  adalah Urwy bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Asy-syam[2]. Usman bin affan masuk islam pada usia 30 tahun atas ajakan Abu Bakar. Sesaat setelah masuk islam , ia sempat mendapatkan siksaan dari pamannya, Hakam bin Abi Abil Ash. Ia di juluki Dzun Nurain, karena dia menikahi dua putri Rasululloh SAW. secara berurutan setelah yang satu meninggal,  yakni Ruqayah dan Ummu Kulsum[3].
Khalifah Usman bin Affan ikut berhijrah bersama istrinya ke Abesinia dan termasuk muhajir pertama ke Yatsrib. Ia termasuk orang yang shaleh ritual dan sosial. Siang hari ia gunakan untuk shaum dan malamnya untuk shalat. Ia sangat gemar al-Qur’an. Sehingga Khalid Muh Khalid menulis bahwa untuk shalat dua rakaat saja, Ustman menghabiskan waktu semalaman karena banyaknya ayat  al-Quran yang di baca, dan pada saat khalifah Ustman wafat,al-qur’an berada di pangkuannya. Kesalehan sosialnya terbukti dan membeli telaga milik yahudi seharga 12.000 dirham menghibahkannya kepada kaum muslimin pada saat hijrah ke Yatsrib. Mewakafkan tanah seharga 15.000 dinar untuk perluasan masjid nabawi. Menyerahkan 940 ekor unta, 60 ekor kuda, 10.000 dinar unuk keperluan jaisyul ushrah pada perang tabuk. Setiap hari jum’at, Usman bin Affan membebaskan seorang budak laki-laki dan seorang budak perempuan. Pada massa paceklik, massa pemerintahan abu bakar, ustman menjual barang sehari-hari dengan harga yang sangat murah, bahkan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin. Usman termasuk orang yang penyayang, sehingga pernah suatu pagi, ia tidak tega membangunkan pelayannya untuk mengambil air wudhu, padahal ia sedang sakit dan sudah udzur.
Pada zaman nabi Muhammad SAW, Usman bin Affan mengikuti beberapa peperangan, di antaranya perang uhud, khaibar pembebasan kota mekkah, perang tha’if, hawazin dan tabuk. Perang badar, tidak ia ikuti karena di suruh oleh Rasululloh SAW. menunggu istrinya yang sedang sakit sampai meninggalkannya.

2.2 Proses Pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan
Sebelum meninggal, Umar telah memanggil tiga calon penggantinya, yaitu Ustman, Ali, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Dalam pertemuan dengan mereka secara bergantian, Umar berpesan agar penggantinya tidak mengangkat kerabat sebagai pejabat [munawwir sadzali,1993: 30]. Di samping itu, Umar telah membentuk dewan formatur yang bertugas memilih penggantinya kelak. Dewan formatur  yang di bentuk umar berjumlah 6 orang. Mereka adalah Ali, Ustman, Sa’ad bin Waqqash, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Di samping itu Abdullah bin Umar dijadikan anggota, tetapi tidak memiliki hak suara[4].
Mekanisme  pemilihan khalifah ditentukan sebagai berikut, pertama, :Yang berhak menjadi khalifah adalah yang  dipilih oleh anggota formatur  dengan suara terbanyak. Kedua, apabila suara terbagi secara berimbang (3:3), Abdullah bin Umar yang berhak menentukannya. Ketiga, apabila campur tangan Abdullah bin Umar tidak diterima, calon yang dipilih oleh Abd Ar-Rahman bin Auf harus diangkat menjadi khalifah. Kalau masih ada yang menantangnya, penentang tersebut hendaklah dibunuh (Hasan Ibrahim Hasan,1954: 254-5).
Anggota yang khawatir dengan tata tertib pemilihan tersebut adalah Ali.  Ia khawatir Abd Ar-Rahman (yang mempunyai kedudukan strategis ketika pemilihan (deadlock) tidak bisa berlaku adil karena antara Usman dan Abd  Ar-Rahman terdapat hubungan kekerabatan. Akhirnya, Ali mengikuti kemauan sendiri, tidak memihak, tidak mengistimewakan keluarga, Ali menyetujuinya Abd Ar-Rahman berjanji berlaku adil, tidak memihak, tidak mengikuti kemauan sendiri, tidak mengistimewakan keluarga, dan tidak menyulitkan umat.  Setelah Abd Ar-Rahman berjanji, Ali menyetujuinya (Ath Thabari, l, t.th, :36).
Masa pemerintahan Usman bin Affan termasuk yang paling lama apabila dibandingkan   dengan khalifah yang lainnya, yaitu selama 12 tahun; 24-36 H/644-656 M. Umar 10 tahun 13-23 H/656-661 M. Abu Bakar 2 tahun 11-13 H/632-634 M, dan Ali 5 tahun 36-41 H./656-661 M. Awal pemerintahan Utsman, atau kira-kira 6 tahun masa pemerintahannya penuh berbagai prestasi.
Perluasan pemerintahan islam telah mencapai Asia dan Afrika, seperti daerah Herat, Kabul, Ghazani , dan Asia Tengah, juga Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, dan berhasil menumpas pemberontakan yang dilakukan orang Persia. Dalam bidang sosial budaya, Usman bin Affan telah  membangun bendungan besar untuk mencegah banjir dan mengatur pembagian air ke kota. Dan membangun jalan, jembatan, masjid, rumah dan penginapan.
Peperangan di masa  ini adalah Perang  Zatis Sawari  yaitu “Perang Tiga Kapal”, suatu peperangan di tengah lautan yang belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para khalifah yang terdahulu-terdahulu. Dan disebut Zatis Sawari, karena pada perang tersebut dilakukan di Laut Tengah dekat kota Iskandariyah antara tentara Romawi di bawah pimpinan kaisar Constantine dengan Laskar kaum Muslimin di bawah pimpinan Abdullah bin Abi Sarah, umat islam mengerahkan kurang lebih 200 kapal[5].

2.3 Visi Dan Misi Khalifah Usman Bin Affan
Mengetahui visi dan misi khalifah Usman bin Affan dalam melanjutkan kekhalifahannya, dapat dilihat dari isi pidato setelah Usman bin Affan dilantik atau dibai’at menjadi khalifah ketiga negara Madinah, beliau menyampaikan isi pidato penerimaan jabatan sebagai berikut.
“Sesungguhnya kamu sekalian berada dalam  negeri yang tidak kekal dan dalam pemerintahan yang selalu berganti. Maka bergegaslah kamu berbuat baik menurut kemampuan kamu untuk menyongsong waktu akhir kamu. Maka sampailah waktunya untuk saya berkhidmat kepada kamu setiap saat. Ingatlah sesungguhnya dunia ini diliputi kepalsuan maka janganlah kamu di permainkan kehidupan dunia dan janganlah kepalsuan mempermainkan kamu terhadap Allah. Beriktibarlah kamu dengan orang yang telah lalu, kemudian bersungguh-sungguhlah dan jangan melupakannya, karena sesungguhnya masa ini tidak akan melupakan kamu. Dimanakah di dunia ini terdapat pemerintahan yang bertahan lama? Jauhkanlah dunia sebagaimana Allah memerintahkannya, tuntutlah akhirat. Sesungguhnya Allah telah memberikannya sebagai tempat yang lebih baik bagi kamu. Allah berfirman, ‘Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangakan oleh angin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S AL-KAHFI/18:45)”[6].
Pidato diatas, menggambarkan dirinya sebagai sufi, dan citra pemerintahannya lebih bercorak agama daripada bercorak politik, dalam pidato itu Usman mengingatkan  beberapa hal penting :
1)    Agar umat islam selalu berbuat baik sesuai kemampuan sebagai bekal     menghadapi hari kematian dan hari akhirat sebagai tempat yang lebih baik yang disediakan oleh Allah ;
2)      Agar umat islam tidak terpedaya kemewahan hidup dunia yang penuh kepalsuan sehingga membuat mereka lupa kepada Allah ;
3)      Agar umat  islam mau mengambil ikhtibar pelajaran dari masa lalu, mengambil yang baik dan menjauhkan yang buruk ;
4)      Sebagai khalifah ia akan melaksanakan perintah Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Umat islam boleh mengkritikinya bila ia menyimpang oleh ketentuan hukum.
Untuk pelaksanaan administrasi pemerintahan di daerah, khalifah Usman pada masanya, wilayah kekuasaan Negara dibagi menjadi sepuluh provinsi:
Nafi’ bin Al-Haris Al Khuza’i, Amir wilayah Makkah
Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi, Amir wilayah Thaif
Ya’la bin Munabbah Halif  Bani Naufal bin Abd Manaf, Amir wilayah Shan’a
Abdullah bin Abi Rabiah, Amir wilayah Al Janad
Usman bin Abi Al Ash, Amir wilayah Al Janad
Al Mughiroh bin Syu’bah Ats Tsaqafi, Amir wilayah Kuffah
Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy’ari, Amir wilayah Bashrah
Muawiyah bin Abi Shofyan, Amir wilayah Damaskus
Umar bin Sa’ad, Amir wilayah Hims
Amr bin Ash As Sahami, Amir wilayah Mesir[7]
1.      Sistem politik dan pemerintahan khulafaurrosidin
Abu Bakar As-Shiddiq 11-3 H/ 632-634 M
Abu Bakar memangku jabatan khalifah berdasarkan pilihan yang berlangsung sangat demokratis di muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah, memenuhi tata cara perundingan yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekankan pada persyaratan jasa (merit), mereka mengajukan calon Sa’ad Ibn Ubadah. Kaum muhajirin menekankan pada persyaratan kesetiaan, mereka mengajukan Abu Ubaidah Ibn Jarrah.2 Sementara itu Ahlul bait menginginkan agar Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah atas dasar kedudukannya dalam islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Hampir saja perpecahan terjadi. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya Abu Bakar disetujui oleh jama’ah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah.
Sebagai kahlifah pertama, Abu Bakar dihadapkan pada keadaan masyarakat sepeninggal Muhammad SAW. Meski terjadi perbedaan pendapat tentang tindakan yang akan dilakukan dalam menghadapi kesulitan yang memuncak tersebut, kelihatan kebesaran jiwa dan ketabahan batinnya. Seraya bersumpah dengan tegas ia menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran (orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat dan mengaku diri sebagai nabi).
Kekuasaan yang dijalankan pada massa khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasululllah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum,. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabatnya bermusyawarah.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengririm kekuatan ke luar Arabia. Khalid Ibn Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hiyah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi dibawah pimpinan empat jendral yaitu Abu Ubaidah, Amr Ibn ’Ash, Yazid Ibn Abi Sufyan, dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun.
Umar Ibn Al-Khaththab 13-23 H/634-644 M
Umar Ibn Al-Khaththab diangkat dan dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetujui oleh jama’ah kaum muslimin. Pada saat menderita sakit menjelang ajal tiba, Abu Bakar melihat situasi negara masih labil dan pasukan yang sedang bertempur di medan perang tidak boleh terpecah belah akibat perbedaan keinginan tentang siapa yang akan menjadi calon penggantinya, ia memilih Umar Ibn Al-Khaththab. Pilihannya ini sudah dimintakan pendapat dan persetujuan para pemuka masyarakat pada saat mereka menengok dirinya sewaktu sakit.
Pada masa kepemimpinan Umar Ibn Al-Khaththab, wilayah islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Karena perluasan daerah terjadi dengan begitu cepat, Umar Ibn Al-Khaththab segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi pemerintahan, dengan diatur menjadi delapan wialayah propinsi : Mekah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga Yudikatif dengan Eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Jawatan kepolisian dibentuk. Demikian juga jawatan pekerjaan umum, Umar Ibn Al-Khaththab juga mendirikan Bait al-Mall. Dalam menyelesaikan permasalahan yang berkembang dimayarakat Umar selalu berkomunikasi dengan orang-orang yang memang dianggap mampu dibidangnya.3
Ustman Ibn Affan 23-35 H/644-656 M
Ustman Ibn Affan dipilih dan diangkat dari enam orang calon yang diangkat oleh khalifah Umar saat menjelang wafatnya karena pembunuhan. Keenam orang tersebut adalah: Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abu Waqqash, Abd al-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, serta Abdullah bin Umar, putranya, tetapi ”tanpa hak suara”.4 Umar menempuh cara sendiri yang berbeda dengan cara Abu Abakar. Ia menunjukkan enam orang calon pengganti yang menurutnya dan pengamatan mayoritas kaum muslimin memang pantas menduduki jabatan Khalifah. Oleh sejarawan islam mereka disebut Ahl al-Hall a al’aqd pertama dalam islam., merekalah yang bermusyawarah untuk menentukan siapa yang menjadi khalifah. Dalam pemilihan lewat perwakilan tersebut Ustman Ibn Affan mendapatkan suaran lebih banyak, yaitu 3 suara untuk Ali dan 4 suara untuk Ustman Ibn Affan.
Pemerintah khalifah Ustman Ibn Affan mengalami masa kemakmuran dan berhasil dalam beberapa tahun pertama pemerintahannya. Ia melanjutkan kebijakan-kebijakan Khalifah Umar. Pada separuh terakhir masa pemerintahannya, muncul kekecewaaan dan ketidakpuasaan dikalangan masyarakat karena ia mulai mengambil kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Ustman Ibn Affan mengangkat keluarganya (Bani Ummayyah) pada kedudukan yang tinggi. Ia mengadakan penyempurnaan pembagian kekuasaan pemerintahan, Ustman Ibn Affan menekankan sistem kekuasaan pusat yang mengusaai seluruh pendapatan propinsi dan menetapkan seorang juru hitung dari keluarganya sendiri.
Ali Ibn Abi Thalib 35-40 H/656-661 M
Ali Ibn Abi Thalib tampil memegang pucuk kepemimpinan negara di tengah-tengah kericuhan dan huru-hara perpecahan akibat terbunuhnya Usman oleh kaum pemberontak. Ali Ibn Abi Thalib dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin di madinah dalam suasana sangat kacau, dengan pertimbangan jika khalifah tidak segera dipilih dan di angkat, maka ditakutkan keadaan semakin kacau. Ali Ibn Abi Thalib di angkat dengan dibaiat oleh masyarakat.
Dalam masa pemerintahannya, Ali Ibn Abi Thalib mengahadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Ibn Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh Usman dan mereka menuntut bela’ terhadap daerah Usman yang telah ditumpahkan secara dhalim. Perang ini dikenal dengan nama perang jamal.5
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Ibn Abi Thalib juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah. Yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaannya. Pertempuran yang terjadi dikenal dengan perang shiffin, perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelsaikan maslah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga Al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).6

DAFTAR PUSTAKA
Al-Jabiri, Mohamed Abed. 2004. Problem peradaban: penelusuran atas jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur. Yogyakarta: Belukar.
Engineer, Asghar Ali. Devolusi Negara Islam. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Maryam, Siti dkk (Ed.). 2004.Sejarah Peradaban Islam dari masa klasik hingga masa modern. Yogyakarta: LESFI.
Sjadzali, Munawir. 1993. Islam dan Tata Negara ajaran, sejarah dan pemikiran.Jakarta: UI-Press.
Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Footnote
1 Mohamed Abed Al-Jabiri, Problem peradaban: penelusuran atas jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur, Yogyakarta: Belukar, 2004, Hlm. 5
2 Siti Maryam, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam dari masa klasik hingga masa modern, Yogyakarta: LESFI, 2004, Hlm 45
3 Asghar Ali Engineer, Devolusi Negara Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, Hlm. 77
4 H. Munawir Sjadzali, M.A., Islam dan Tata Negara ajaran, sejarah dan pemikiran,Jakarta: UI-Press, 1993, Hlm. 25
5 Dr. Badri Yatim, M.A. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT RjaGrafindo Persada, 2006, Hlm. 39-40
 [1] Buku Duruus Tarikh Al Islami. Syeh Muhyiddin Al Khoyyati. Hal 78-79
[2] Buku Asadul Ghobah fi Ma’rifatus Shohabah. ‘Izzuddin ibn Astir Abi Hasan Ali. Hal 578
[3] Buku Najumul Islam. Ahmad bin Salim. Hal 70-71
[4] Buku Sejarah Peradaban Islam. Dedi Supriyadi, M.Ag. Hal 87
[5] Buku Sejarah Peradaban Islam. Dedy Supriyadi, M.Ag. Hal 89
[6] Buku Sejarah Peradaban Islam. Dedi Supriyadi, M.Ag. Hal 90
[7] Buku Tarikh Amamil Islamiah. Syekh Khudhori Baek. Hal 27

Perkembangan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin

DOWNLOAD MAKALAH FORMAT WORD
BAB I
PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang Masalah
MASA Khulafaur Rasyidin ini tidak lebih dari tiga puluh tahun. Masa mereka menjadi sangat istimewa karena mengikuti manhaj Rasulullah secara sempurna sesuai dengan jalan lurus yang Allah ridhai untuk hamba-hambaNya. Dengan demikian, masa ini dianggap sebagai gambaran paling tepat bagi pelaksanaan hukum Islam dan pemerintahan Islam. Tentu saja gambaran cara pemerintahan mereka itu wajib dijadikan sebagai contoh teladan bagi setiap penguasa yang menginginkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Juga bagi mereka yang menginginkan kebahagiaan untuk rakyatnya.
Pada masa ini peredaban Islam mencapai puncak yang sebenarnya. Maksudnya adalah peradaban manusia yang berakar pada akidah yang berusaha untuk melahirkan manusia-manusia yang bahagia.
Pada masa itu manusia telah memperoleh kebahagiaan yang sempurna. Mereka mendapat perlakuan yang adil, persamaan, keamanan, rasa tentram, dan memperoleh segala kebutuhan asasi mereka.
Diakhir masa pemerintahan mereka, muncul fitnah yang menimpa kaum muslimin. Fitnah ini telah memecah mereka kepada beberapa kelompok dan sakte yang hingga sekarang terus berlangsung.[1]

2.      Rumusan Masalah
1.      Prestasi apa sajakah yang dicapai oleh Khulafaur Rasyidin?
2.      Bagaimana ibrah dari prestasi-prestasi yang dicapai oleh Khulafaur Rasyidin untuk masa kini dan masa yang akan datang?
3.      Bagaimana cara meneladani gaya kepemimpinan Khulafaur Rasyidin?

BAB II
PEMBAHASAN

1.    Menceritakan Berbagai Prestasi Yang Dicapai Oleh Khulafaurrasidin
Ø Prestasi Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq
a.    Perang Melawan Orang-Oran Murtad
Setelah suksesi Abu Bakar beberapa masalah mengancam persatuan dan stabilitas. Diantaranya perang Riddah (perang melawan kemurtadan), beberapa suku Arab yang berasal dari suku Hijaz dan Nejed menyatakan murtad dan membangkan kepada Khalifah baru dan sisrem yang  ada mereka menolak membayar zakat walaupun tidak menolak Islam secara utuh. Beberapa yang lain kembali memeluk agama dan tradisi lama yakni menyenbah berhala. Suku tersebut menyatakan bahwa mereka hanya memiliki perjanjian dengan Nabi Muhammad SAW, oleh karena itu kematian Nabi Muhammad menjadi alasan sehingga perjanjian tersebut tidak berlaku lagi. Karena sikap keras kepala dan penentang mereka yang membayarkan pemerintahan dan agama Abu Bakar menunjuk Khalid bin Walid sebagai jendela dalam perang Riddah. Ketegasan Abu Bakar ini disambut dan didukung oleh hampir seluruh kaum muslim.
b.    Menjalankan kekuasaan Legeslatif, Eksekutif dan Yudikatif yang terpusat ditangan Kholifah. Sistem pemerintaha ini bersifat sentral seperti zaman Rasulullah. Selain itu menjalankan roda penerintaha dan melaksanakan hukum.
c.    Memerangi Nabi Palsu
Nabi palsu itu berusaha menghancurkan Islam diantaranya Aswad al Ansari, Tulaihah bin Khuwailid al Asadi, Malik bin Nuairah dan Musailamah al Kazzab. Bangsa Arab telah menyaksikan bahwa Nabi Muhammad SAW dengan Nubuwat (tugas kenabian)-nya itu, telah dapat mewujudkan suatu mu’jizat yang tidak pernah terlintas dalam khayal bangsa Arab itu sendiri, yaitu: “persatuan Tanah Arab seluruhnya dan perpaduan hati pendukungnya”.[2]
d.   Penghimpunan Al-Quran
Satu kerja besar yang dilakukan pada masa pemerintahan Abu Bakar adalah penghimpunan Al-Quran. Abu Bakar ash-Siddiq memerintahkan kepada Zaid bin Tsabit untuk menghimpun Al-Quran dari pelepah kurma, kulit binatang, dan dari hafalan kaun muslimin.
Hal ini dilakukan sebagai usaha untuk menjaga kelestarian Al-Quran setelah syahidnya beberapa orang penghafal Al-Quran di perang Yamamah. Umarlah yang mengusulkan pertama kali penghimpunam Al-Quran ini. Sejak itulah Al-Quran dikumpulkan dalam satu mushaf. Inilah untuk pertama kalinya Al-Quran di himpun.[3]
e.    Perluasan Wilayah Islam
Setelah urusan dalam Negri Abu bakar sudah selesai, Kholifah Abu Bakar as-Siddiq mulai menyebarkan agama Islam ke wilayang yang lebih luas, yaitu wilayang yang dikuasai Kekaisaran Persia dan Bizantium. Persia menguasai wilayah yang luas meliputi Irak, Syam, dan bagian utara Jazirah Arab. Sejumlah kabilah Arab tunduk di bawah kekuasaan mereka. Kekaisaran Bizantium menjadikan kota Damaskus, Suriah sebagai pusat pemerintahan di Wilayah Arab dan sekitarnya.
Tiga hal yang menjadi pegangan utama para Da’i (Tentara Islam) saat memasuki daerah baru adalah:
1.    Dianjurkan masuk Islam, maka jiwa serta harta mereka akan dilindungi
2.    Boleh tidak masuk Islam, tetapi membayar Jizyah (pajak perlindungan yang sangat ringan) maka jiwa dan hartanya akan terlindungi.
3.    Jika menentang mereka akan diperangi.[4]
Ø Prestasi Kholifah Umar bin Khathab
a.    Perluasan Wilayah
Meskipun pengembangan dakwah Islam dan preluasan wilayah sudah dilakukan sejak masa Kholifah Abu Bakar as-Siddiq, para ahli sejarah mengatakan bahwa Islam sesungguhnya berdiri masa Kholifah Umar bin Khathab. Pada masa itu, perluasan Islam terjadi secara besar-besaran dan dikenal sebagai periode futuhat al-Islamiyah. secara berturut-turut, pasukan Islam berhasil menguasai Suriah, Persia dan Mesir.
Untuk memudahkan jalannya pemerintahan, Kholufah Umar bin Khathab membagi wilayah Islam menjadi beberapa profinsi serta menunjukkan seorang gubernur untuk memerintah wilayah tersebut. Misalnya, Sa’ad bin Abi Waqqas memerintah di Kuffah, Amr bin Ash di Mesir, dan Muawiyah bin Abi Sufyan di Damaskus.
b.    Menata Administrasi Dan Keuangan Pemerintahan
Pada masa pemerintahannya, Kholifah Umar bin Khathabmembentuk Bautul Mal dan  Dewan Perang. Baitul mal peteugas mungurusi keuangan Negara. Sedangkan dewan perang bertugas mencatat administrasi ketentaraan.
Kholifah Umar bin Khathab memilih orang yang jujur untuk bertugas di Baitul mal. Selain itu, beliau juga memberikan santunan dari Baitul Mal kepada seluruh rakyatnya. Besarnya santunan disesuaikan lamanya mereka memeluk Islam, kemakmuran dapat dinikmati rakyat dari seluruh pelosok negeri.
c.    Penetapan Kalender Hijriyah
Tahukah kamu bahwa sistem kalender hijriyah saat ini dicetuskan oleh Kholifah Umar bin Khathab? sebelum sistem kalender hijrah ditetapkan, orang-orang menggunakan sistem kalender Masehi. Kholifah Umar bin Khathab menetapkan permulaan tahun Islam adalah pada saat Nabi Muhammad SAW. hijrah disebut periode Mekkah, sedangkan periode dakwah setelah beliau hijrah dikenal sebagai periode Medinah.
Ø Prestasi Kholifah Utsman bin Affan
a.    Kodifikasi Mishaf Al-Quran
Seperti sudah kamu ketahui, usaha kodifikasi (pembukuan) Al-Quran sudah dimulai sejak masa Kholifah Abu Bakar as-Siddiq. Ayat-ayat Al-Quran yang sudah terkumpul pada masa itu disimpan oleh Hafsah binti Umar. Pada masa Rasulullah SAW perbedaan tersebut diberi kelonggaran. Saat itu beliau, masih memberi kemudahan Al-Quran dapat dihafal dengan cepat oleh semua uamat Islam. Ketika wilayah Islam makin luas, perbedaan itu meliputi susunan surah atau lafal (dialek)nya.
Salinan kumpulan Al-Quran itu disebut al–Mushaf. Oleh panitia, al-Mushaf diperbanyak 4 buah. Sebuah tetap berada di Madinah, sedangkan 4 lainnya dikirim ke Mekkah, Suriah, Basrah, dan Kuffah. Naskah yang ditinggal di Madinah disebut Mushaf al-Imam atau Mushaf Usmani.
b.    Renovasi Masjid Nabawi
Masjid Nabawi yang mulai dibangun pada masa Kholifah Umar bin Khathab diperluas oleh Kholifah Utsman bin Affan. selain diperluas, bentuk dan coraknya juga diperindah.
c.    Pembentukan Angkatan Laut
Pada masa Kholifah Ustman bin Affan, wilayah Islam sudah mencapai Afrika, Siprus, hingga Konstantinopel. Wilayah itu banyak diliputi lautan. Untuk memjaga wilayah tersebut, Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang waktu itu memjabat Gubernur Suriah mengusulkan dibentuknya angkatan laut. Usul iru disambut baik oleh Kholifah Utsman bin Affan.
d.   Perluasan Wilayah
Pada masa Kholifah Utsaman bin Affan, wilayah Islam makin luas. Wilayah Azarbaijan berhasil ditaklukan pasukan muslim di bawah pimpinan Said bin Ash dan Huzaefah bin Yaman. Wilayah Armenia dapat ditaklukkan oleh Salam bin Rabi’ah al-Bahiy. Sebagian besar rakyat Armenia saat itu manyambut kedatangan tentara Islam dengan sukacita. Pada umumnya, mereka lebih suka berada di bawah pemerintaha Islam dari pada dikuasai Kekaisaran Romawi.
Ø Prestasi Kholifah Ali bin Abi Tholib
a.    Mengganti Pejabat Yang Kurang Cakap
Kholifah Ali bin Abi Thalib menginginkan sebuah pemerintahan yang efektif dan efesien. Oleh karena itu, beliau kemudian mengganti pejabat yang kurang cakap dalam bekerja. Akan tetapi, pejabat tersebut ternyata banyak yang berasal dari keluarga Kholifah Utsman bin Affan ( Bani Umayyah ). Akibatnya makin banyak kalangan bani Umayyah yang tidak menyukai Kholifah Ali bin Abi Thalib.
b.    Membenahi Keuangan Negara ( Baitul Mal )
Setelah mengganti para pejabat yang kurang cakap, Kholifah Ali bin Abi Thalib kemudian menyita harta para pejabat tersebut yang diperoleh secara tidak benar. Harta tersebut kemudian disimpan di Bautul Mal dan digunakan untuk kesejahteraan rakyat.
c.    Memajukan Bidang Ilmu Bahasa
Pada saat Kholifah Ali bin Abi Thalib memegang pemerintahan, wilayah Islam sudah mencapai India. Pada saat itu, penulisan huruf hijaiyah belum dilengkapi dengan tanda baca, sperti kasrah, fathah, dhammah, dan syaddah.
Untuk menghindari kesalahan fatal dalam bacaan Al-Quran dan Hadits, Kholifah Ali bin Abi Thalib memerintahkan Abu Aswad ad-Duali untuk mengembangkan pokok-pokok ilmu nahwu. Keberadaan ilmu nahwu dapat membantu orang-orang non-Arab dalam mempelajari sumber utama ajaran Islam, Yaitu Al-Qu’an dan Hadits.
d.   Melakukan Pembangunan-prmbangunan
Salah satu pembangunan yang mendapat perhatian khusus dari Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah pembangunan Kota Kufah. Pada awalnya, Kota Kufah disiapkan sebagai pusat pertahanan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Akan tetapi, kota Kuffah kemudian berkembang menjadi pusat ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu nahwu dan ilmu pengetahuan lainnya.[5]

2.     Hikmah Yang Dapat Diambil Dari Prestasi Khulafaur Rasyidin.
Hikmah yang dapat kita abil, dari prestasi Khulafaur Rasyidin adalah:
Ø Dalam menjalankan pemerintahan Kholifah diatur oleh hukum yang sudah ditentukan.
Ø  Para Kholifah berkewajiban melindungi dan mensejahterakan rakyat sebagai pembentunya rakyat.
Ø Pada masa Kholifah Abu Bakar kodifikasi Al-Qur’an dimulai.
Ø Pada masa KholifahUmar bin Khathab, beliaulah yang meletakkan dasar-dasar demokrasi Islam.
Ø Pada masa Kholifah Utsman bin Affan, mushaf Al-Qur’an digandakan menjadi 4 buah. Mushaf yang asli (Mushaf Usmani) tetap dibawa Kholufah Usman bin Affan.
Ø Pada masa Kholifah Ali bin Abi Thalib, persatuan dan kesatuan Islam mulai pecah, namun karena ketegasan dan memegang prinsip kebenaran situasi itu dapat diatasi.
Ø Dalam kondisi membangun dasar-dasar pemerintahan yang kuat kepemimpinan yang cerdas dan bersih sangat diperlukan.
Ø Dalam kondisi penerintahan yang aman dan makmur kepemimpinan yang sholeh dan lemah lembut sangat dibutuhkan.
Mengkaitkan prestasi Khulafaur Rasyidin dengan perkembangan kondisi sekarang dan yang akan datang. Antara lain:
a.       Dalam bidang hukum.
b.      Sistem keuangan Negara.
c.       Sistem ekonomi.
d.      Dalam bidang ketatanegaraan.
e.       Dalam bidang sosial.
f.       Dalam bidang pendidikan.[6]

3.    Meneladani Gaya Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin.
a.       Kholifah Abu Bakar As-Siddiq
Abu Bakar dikenal sebagai salah seorang pemberani yang selalu gagah dimedan pertempuran. Beliau memiliki akhlak yang tinggi dan iman yang sempurna, serta mempunyai karakteristik yang lembut dan tegas.
b.      Kholifah Umar Bin Khathab
Umar bin Khathab adalah orang yang cerdas, dan sangat tegas. Beliau adalah teladan dalam hal keadilan, tidak membeda-bedakan antara bangsawan dan budak serta mengutamakan kepentingan rakyat.
c.       Kholifah Utsman Bin Affan
Utsman bin Affan adalah orang yang selalu menjaga kehormatan serta kesucian dirinya, mulia dan lurus akhlaknya terkenal dengan kecerdasan dan kebenaran pendapatnya. Dengan karakter beliau kemakmuran rakyat dapat tercapai baik jasmani maupun rohani.
d.      Kholifah Ali Bin Abi Thalib
Ali bin Abi thalib sangat memperhatikan keadilan dalam ekonomi, dia sangat serius dalam hal perekonomian. Beliau juga memiliki sikap yang kokoh kuat pendirian dalam membela yang hak, paling teliti pemikirannya dan paling taufik untuk mrnerima hukum yang benar serta pendapat yang betul. Dalam masalah keberanian patut dicontoh dan ditiru oleh setiap pemberani, yakni keberanian untuk membela kebenaran dan agama.[7]






BAB III
PENUTUP

1.    Kesimpulan
Ø Berbagai Prestasi Yang Dicapai Oleh Khulafaurrasidin
ü Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq
a.    Perang Melawan Orang-Oran Murtad
b.    Menjalankan kekuasaan Legeslatif, Eksekutif dan Yudikatif
c.    Memerangi Nabi Palsu
d.   Penghimpunan Al-Quran
e.    Perluasan Wilayah Islam
ü Kholifah Umar bin Khathab
a.    Perluasan Wilayah
b.    Menata Administrasi dan Keuangan Pemerintahan
c.    Penetapan Kalender Hijriyah
ü  Kholifah Utsman bin Affan
a.    Kodifikasi Mushaf Al-Quran
b.    Renovasi Masjid Nabawi
c.    Pembentukan Angkatan Laut
d.   Perluasan Wilayah
ü Kholifah Ali bin Abi Tholib
a.    Mengganti Pejabat Yang Kurang Cakap
b.    Membenahi Keuangan Negara (Baitul Mal)
c.    Memajukan Bidang Ilmu Bahasa
d.   Melakukan Pembangunan-Pembangunan
Ø Ibrah Dari Prestasi-Prestasi Yang Dicapai Oleh Khulafaur Rasyidin Untuk Masa Kini Dan Masa Yang Akan Datang Adalah:
ü Ketinggian, keluhuran dan kemuliaan akhlak para pemimpin perlu diteladani bagi para pewaris dan umat Islam saat ini.
ü Para kholifah hanya melaksanakan amanah Allah, dalam menegakkan agama Islam di muka bumi dengan ikhlas dan semanagt jihat fisabilillah yang tinggi.
ü Para Kholifah rela miskin dan suka berkorban deni Islam.
ü Tidak ada yang menyatukan kaum muslimin, kecuali contoh dari para pemimpin yang ikhlas bukan karena hawa nafsu dalam memegangi Al-Quran dan Sunnah Rasulullah.
ü wilayah Islam berkembang luas dari masyriki sampai maghribi, bertujuan hanya satu yaitu agar manusia berkhitmat untuk menyembah kepada Allah SWT.
Ø Meneladani Gaya Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
ü Abu Bakar, dikenal sebagai salah seorang pemberani, memiliki akhlak yang tinggi dan iman yang sempurna, serta mempunyai karakteristik yang lembut dan tegas.
ü Umar Bin Khathab, orang yang cerdas, sangat tegas, teladan dalam hal keadilan, tidak membeda-bedakan antara bangsawan dan budak serta mengutamakan kepentingan rakyat.
ü Utsman bin Affan, orang yang sholeh selalu menjaga kehormatan serta kesucian dirinya, mulia dan lurus akhlaknya terkenal dengan kecerdasan dan kebenaran pendapatnya. Dengan karakter beliau kemakmuran rakyat dapat tercapai baik jasmani maupun rohani.
ü  Ali bin Abi thalib, sangat memperhatikan keadilan dalam ekonomi, memiliki sikap yang kokoh kuat pendirian dalam membela yang hak, paling teliti pemikirannya dan paling taufik untuk mrnerima hukum yang benar serta pendapat yang betul.

2.    Saran
Alhamdulullah wa syukurillah.......... makalah ini dapr terselesaikan. Saya menyadari sepenuhnya, bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan baik dalam referensi maupun penulisannya. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan guna kesempurnaan pembuatan makalah saya berikutnya.
Demikian makalah ini saya buat, semoga bermanfaat untuk pembaca pada umumnya dan pemakalah pada khususnya.
 Dalam hal memehami sejarah perkembangan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin yang meliputi prestasi-prestasi yang beliau capai, mengambil hikmah dari prestasinya tersebut serta meneladani gaya kepeimpinannya untuk masa kini dan masa yang akan datang. Amin........

DAFTAR PUSTAKA

al-Usairy Ahmad, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Jakarta, Akbar Media Eka Sarana, 2003.
Fuad, M. Fahruddin, Perkembangan Kebudayaan Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1985.
Imam as-Syayuti, Tarikh Khulafa, Jakarta, Pustaka kanser, 2001.
Laila Mansur, Ajaran dan Teladan Para sufi, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 1995.

Footnote
[1] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), Hlm: 141
[2] M. Fahruddin Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, (Jakarta;Bulan Bintang, 1985), Hal: 33
[3] Ahmad al-Usairy, Sejarah Islam Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003), Hlm: 150
[4] M. Fahruddin Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, (Jakarta; Bulan Bintang, 1985), Hal: 33
[5] M. Fahruddin Fuad, Perkembangan Kebudayaan Islam, (Jakarta; Bulan Bintang, 1985), Hal: 34-36
[6] Imam as-Syayuti, Tarikh Khulafa, (Jakarta; Pustaka kanser, 2001), Hal: 37
[7] Laila Mansur, Ajaran dan Teladan Para sufi, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), Hal: 38-41
DOWNLOAD MAKALAH FORMAT WORD

Makalah Khulafaur rasyidin

DOWNLOAD MAKALAH FORMAT WORD
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Nabi Muhammad SAW wafat pada tanggal 12 Rabiulawal tahun 11 H atau tanggal 8 Juni 632 M. Sesaat setelah beliau wafat, situasi di kalangan umat Islam sempat kacau. Hal ini disebabkan Nabi Muhammad SAW tidak menunjuk calon penggantinya secara pasti. Dua kelompok yang merasa paling berhak untuk dicalonkan sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW adalah kaum Muhajirin dan Anshar.
Terdapat perbedaan pendapat antara Kaum Muhajirin dan Anshar karena kaum Muhajirin mengusulkan Abu Bakar as Shiddiq, sedangkan kaum Anshar mengusulkan Sa’ad bin Ubadah sebagai pengganti nabi Muhammad SAW.
Perbedaan pendapat antara dua kelompok tersebut akhirnya dapat diselesaikan secara damai setelah Umar bin Khatab mengemukakan pendapatnya. Selanjutnya, Umar menegaskan bahwa yang paling berhak memegang pimpinan sepeninggal Rasulullah adalah orang-orang Quraisy. Alasan tersebut dapat diterima oleh kedua belah pihak.
Melihat dari masalah itu kami dari penulis mencoba untuk membahas tentang Khulafaur Rasyidin. Tidak terlepas dari hal ini semoga makalah ini bisa membantu kesulitan teman-teman dalam memahami tentang Khulafaur Rasyidin.

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, maka dalam makalah ini akan membahas mengenai beberapa masalah, antara lain :
1) Apa pengertian dari Khulafaur Rasyidin ?
2) Siapa sajakah yang termasuk Khulafaur Rasyidin ?
3) Bagaimana pemerintahan dari masing-masing khalifah tersebut ?

BAB II
PEMBAHASAN MASALAH
A. Pengertian Khulafaur Rasyidin
Khulafaur Rasyidin menurut bahasa artinya para pemimpin yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Sedangkan menurut istilah yaitu para khalifah (pemimpin umat Islam) yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai kepala negara (pemerintah) setelah Rasulullah SAW wafat.
Rasulullah SAW meninggal dunia tidak hanya sebagai seorang Nabi yang diutus Allah SWT untuk menyampaikan risalah agama Islam, namun lebih dari itu Beliau juga seorang kepala negara yang memimpin suatu negara. Oleh karena itu, jabatannya sebagai kepala pemerintahan harus ada yang menggantikannya.
Maka setelah Rasulullah wafat, para sahabat Muhajirin maupun sahabat Anshor berkumpul untuk bermusyawarah mengangkat seorang pemimpin diantara mereka. Pengangkatan seorang pemimpin atas dasar musyawarah yang dilakukan secara demokratis sesudah wafatnya Nabi inilah yang disebut Khulafaur Rasyidin. Jumlahnya ada 4 orang, yaitu:
a. Abu Bakar as Shiddiq
b. Umar bin Khatab
c. Usman bin Affan
d. Ali bin Abu Thalib
Sesudah Ali bin Abu Thalib, para pemimpin umat Islam (khalifah) tidak termasuk Khulafaur Rasyidin karena mereka merubah sistem dari pemilihan secara demokratis menjadi kerajaan, yaitu kepemimpinan didasarkan atas dasar keturunan seperti halnya dalam sistem kerajaan.
B. Masa Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )
Khalifah pertama sesudah wafatnya Nabi Muhammad SAW adalah Abu Bakar as Shiddiq. Nama aslinya adalah Abdullah bin Abi Ghufah. Dipanggil Abu Bakar yang berarti ayah dari seorang gadis, karena memang Abu Bakar mempunyai anak gadis yang bernama Aisyah yang kemudian menjadi istri Rasulullah SAW.
Dia termasuk Assabiqunal awwalun yaitu orang yang mula-mula masuk agama Islam. Mendapat julukan as Shiddiq karena dialah yang selalu membenarkan apa yang ada pada diri Rasulullah SAW. Diantara para sahabat Nabi, dialah yang tertua dan yang paling dekat hubungannya dengan Nabi. Dialah yang menemani Nabi saat berhijrah dari Mekkah menuju Madinah. Usianya 3 tahun lebih muda daripada Nabi.
Melihat kedekatan hubungan dengan Nabi tersebut, maka para sahabat baik sahabat Muhajirin (orang yang ikut hijrah bersama Nabi atau penduduk asli Mekkah) dan sahabat Anshor (penolong / penduduk asli Madinah) semuanya sepakat untuk mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah yang pertama.
Pada masa kepemimpinannya, usaha-usaha yang telah dilakukannya adalah:
a) Menghadapi para pemberontak yang terdiri atas orang-orang yang murtad (keluar dari agama Islam) serta orang-orang yang tidak mau membayar zakat.
b) Menghadapi orang-orang yang mengaku dirinya sebagai Nabi (nabi palsu) seperti: Musailamah Al Kazab, Al Aswad, Tulaihah dan Sajjah Tamamiyah.
c) Mengumpulkan tulisan-tulisan Al-Qur’an menjadi 1 kumpulan, mengingat banyak para sahabat penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam peperangan menghadapi orang-orang yang murtad.
Abu Bakar hanya memimpin selama 2 tahun, karena pada tahun 13 H Abu Bakar meninggal dunia karena sakit yang dideritanya dalam usia 63 tahun dan dikubur di samping makam Rasulullah.
C. Umar bin Khathab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)
Umar bin Khathab adalah putra Naufal Al Quraisyi dari Bani Ady. Sebelum Islam suku Bani Ady terkenal sebagai suku yang terpandang mulia, megah, dan berkedudukan tinggi. Masuk Islam pada tahun ke enam dari kenabian, berwatak keras dan pemberani, tapi juga lemah lembut sering menyamar sebagai rakyat jelata. Usaha-usaha Khallifah Umar bin Khathab antara lain :
a. Pembagian wilayah kekuasaan islam menjadi beberapa bagian (propinsi) yang masing-masing propinsi di pimpin oleh seseorang Amirul mukminin. Hal ini mengingat semakin luasnya daerah kekuasaan Islam.
b. Pembentukan dewan-dewan pemerintahan seperti dewan perbendaharaan negara (Baitul maal), dewan peradilan (Qadhil Qudhah), dewan pertahanan dsb.
c. Penetapan tahun Hijriyah yang dimulai penanggalannya dari hijrah nabi dari Mekkah ke Madinah.
d. Pembemtukan urusan kehakiman dan pembangunan Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsha, dll.
e. Memperluas daerah kekuasaan Islam dan penyebaran agama Islam ke beberapa daerah seperti: Damaskus, Mesir, Babilonia dan beberapa bekas jajahan Romawi Timur.
Melihat keberhasilan Umar bin Kathab ini, banyak musuh dari negara lain hendak membunuh khalifah. Maka seorang tahanan perang Nahawan yang bernama Fairus( Abu Lu’lu’) dari bangsa Persia dan menjadi hamba atau budak dari Mughiroh bin Syu’bah sakit hati dan dendam kepada khalifah atas hancurnya kekaisaran Persia. Maka pada suatu hari tepatnya pada tahun 23 H khalifah Umar meninggal dunia karena dibunuh oleh Abu Lu’lu.
D. Usman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)
Usman bin Affan adalah putra Abdu Syam bin Abdi Manaf, lahir pada tahun ke-5 Miladiyah di Mekkah. Dia merupakan bangsaan Quraisy yang sangat kaya raya namun sangat dermawan. Oleh Rasulullah diberi gelar ZUN NURAIN yang artinya orang yang mempunyai dua cahaya. Hal ini disebabkan karena Usman menikah dengan dua puteri Rasulullah SAW yaitu dengan Siti Ruqayah dan kemudian setelah meninggal dunia, Rasulullah SAW kembali menikahkannya dengan puterinya yang lain yang bernama Umi Kulsum.
Saat diangkat menjadi khalifah Usman telah berusia70 tahun, namun demikian usaha dan jasa-jasanya selama menjadi khalifah sangat besar sekali bagi umat Islam khususnya yang menyangkut usaha pembukuan Al quran menjadi satu mushaf.
Pada masa pemerintahannya, banyak terjadi perbedaan di kalangan umat Islam mengenai bacaan Al Quran. Melihat kondisi seperti ini, khalifah kemudian membentuk suatu panitia khusus yang bertugas membukukan Al Quran menjadi satu mushaf yang sama ejaan maupun bahasanya. Yang termasuk panitia ini adalah Zaid bin Tsabit sebagai ketua dibantu oleh Abdullah bin Zubair, Sa’ad bin Ash, dan Abdur Rahman bin Haris bin Hisyam.
Kepada panitia khalifah Usman berpesan agar berpedoman kepada hafalan para sahabat penghafal Al Quran dan jika terjadi perbedaan dalam dialek, maka dikembalikan kepada bahasa atau dialek Quraisy karena Al Quran diturunkan dengan dialek suku Quraisy. Panitia menyusun sebanyak lima buah, masing-masing dikirim ke beberapa daerah seperti: Syam, Kufah, Basrah, dan Mesir. Sedangkan yang satu tetap berada di Madinah untuk khalifah sendiri yang disebut Mushaf Al Imam.
Di samping usaha pembukuan Al Quran tersebut, khalifah Usman juga melakukan usaha perluasan daerah kekuasaan Islam, sehingga pada saat itu Islam telah mencapai Afrika (Tunisia, Sudan, Tripoli Barat) dan daerah Armenia.Khalifah Usman menghadapi pemberontakan dari beberapa golongan diantaranya adalah dari Khufah dan Basrah, demikian jugu dari Abdullah bin Abu Bakar. Khalifah dikepung oleh para pemberontak selama 40 hari lamanya, sampai akhirnya beliau dibunuh oleh para pemberontak (Abdullah bin Saba’) pada tahun 35 H.
E. Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)
Ali bin Abu Thalib adalah anak dari paman Nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Thalib. Sejak kecil telah bergaul dengan Rasulullah SAW karena Nabi juga diasuh oleh Abu Thalib. Setelah Nabi Muhammad SAW berkeluarga, maka Ali ikut dengan Nabi Muhammad SAW.
Ali lahir di Mekkah pada tahun 661 H. Termasuk Assabiqunal awalun dan orang yang paling muda dari beberapa orang yang pertama kali masuk agama Islam, karena pada waktu itu usianya baru 8 tahun. Dia merupakan seorang pemimpin yang cerdas, jujur, pemberani, adil, dan pandai dalam strategi perang karena setiap peperangan yang dihadapi oleh umat Islam, Ali selalu mengikutinya dan berada di barisan paling depan sebagai panglima yang mengatur strategi pasukan Islam. Setelah dewasa, Rasulullah SAW menikahkannya dengan salah satu puterinya yang bernama Siti Fatimah.
Proses pengangkatan Ali sebagai khalifah melalui musyawarah di kalangan umat Islam, namun demikian keadaan umat Islam pada waktu itu sudah mengalami perpecahan yang hebat. Banyak bermunculan golongan-golongan yang disebabkan oleh perbedaan pandangan mereka dalam hal kepemimpinan umat Islam.
Banyak peperangan yang terjadi ketika masa pemerintahan khalifah Ali, dan yang terpenting adalah peperangan Jamal dan Shiffin.
PEPERANGAN JAMAL
Dinamakan peperangan Jamal (unta) karena Siti Aisyah, istri Rasulullah SAW dan puteri Abu Bakar as Shiddiq ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai unta. Ikut campurnya Aisyah memerangi Ali terpandang sebagai hal yang luar biasa sehingga orang menghubungkan peperangan ini dengan Aisyah dan untanya, walaupun peranan yang dipegang Aisyah tidak begitu besar.
Sesungguhnya peperangan ini adalah peperangan yang pertama kali terjadi antara dua laskar dari kaum Muslimin, di mana seorang Muslim menghadapi seorang Muslim dengan amarahnya hendak menumpahkan darah saudaranya seagama.
Peperangan Jamal terjadi karena keinginan dan nafsu perseorangan yang timbul pada diri Abdullah bin Zubair dan Thalhah serta perasaan benci Aisyah terhadap Ali. Dosa Thalhah agak ringan dibanding dosa Abdullah karena Thalhah tidak sampai mempengaruhi kaum Muslimin. Dan tak ada pengaruhnya terhadap Aisyah yang dapat mendorong Aisyah agar mempengaruhi kaum Muslimin dengan menggunakan kedudukannya sebagai Ummul Mukminin.
Akan tetapi, Abdullah bin Zubair sangat bernafsu untuk menduduki kursi khalifah dan berupaya dengan sungguh-sungguh menghasut Aisyah menghidupkan api peperangan agar keinginannya menduduki kursi khalifah dapat tercapai.
Ali disalahkan karena dia dipandang tidak dapat menguasai laskarnya seluruhnya. Ketika ada usahanya hendak mencari perdamaian, diantara pengikut-pengikutnya ada yang membuat komplotan untuk menyalakan api peperangan. Andai kata beliau berwibawa penuh terhadap laskarnya, mungkin peperangan dapat dihindarkan. Yang memikul tanggung jawab atas terjadinya peperangan Jamal yang telah menelan korban puluhan ribu umat manusia adalah Abdullah bin Zubair dan Aisyah.
PEPERANGAN SHIFFIN
Peperangan Shiffin adalah peeprangan antara khalifah Ali dan Mu’awiyah. Ali dan pengikut-pengikutnya mulanya mengira bahwa peperangan yang pertama dan itu pun akan merupakan peperangan penghabisan haruslah untuk menundukkan Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang didukung penduduk Syam.
Mu’awiyah adalah anak Abu Sufyan (paman Usman) pemuka Bani Umayah yang amat disegani dan dipatuhi oleh laskarnya. Thalhah dan Zubair sebelumnya tidak dipandang musuh oleh Ali, terlebih sesudah keduanya memberikan bai’ah dan sumpah setianya kepada Ali. Begitu pula tidak seorang pun menyangka bahwa kebencian Aisyah terhadap Ali akan sampai sedemikian rupa sehingga Aisyah menceburkan diri ke dalam peperangan memimpin bala tentara melawan Ali.
Peperangan Jamal mengakibatkan gugurnya ribuan tentara Ali. Sementara itu, Mu’awiyah memperkuat laskarnya dengan membagi-bagi uang kepada mereka dan pengikutnya sehingga ikatan kesatuan mereka menjadi kuat.
Pertempuran terjadi antara kedua laskar beberapa hari lamanya. Ali dengan keberanian pribadinya dapat membangkitkan semangat dan kekuatan laskarnya, sehingga kemenangan sudah membayang baginya. Ahli-ahli sejarah yang mempelajari sejarah kehidupan Ali di bidang kemiliteran menemukan bahwa dalam setiap pertempuaran Ali selalu menang. Menang dalam peperangan Jamal, Shiffin dan beberapa peperangan dengan Khawarij. Akan tetapi, beliau kalah dalam diplomasi dan tak dapat mengelak dari tipu daya.
Ketika akhir hayat khalifah Usman bin Affan menghadapi berbagai kelompok pemberontak, maka demikian pula dengan keadaan yang dialami oleh khalifah Ali bin Abu Thalib. Oleh karena itu, pada masa pemerintahannya Ali lebih banyak menghadapi para pemberontak ini terutama pemberontakan yang dilakukan oleh gubernur Mesir yang bernama Muawiyah bin Abu Sufyan.
Hampir seluruh masa pemerintahannya habis untuk menghadapi para pemberontak, sehingga usaha dan jasa-jasa khalifah Ali tidak begitu banyak diketahui. Khalifah Ali meninggal dunia karena dibunuh oleh salah seorang golongan Khawarij yang bernama Ibnu Muljam pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.
Dengan wafatnya khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan secara turun-temurun, sehingga disebut Daulat / Bani Umayyah.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Khulafaur Rasyidin menurut bahasa artinya para pemimpin yang mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Sedangkan menurut istilah yaitu para khalifah (pemimpin umat Islam) yang melanjutkan kepemimpinan Rasulullah SAW sebagai kepala negara (pemerintah) setelah Rasulullah SAW wafat.
Pengangkatan seorang pemimpin atas dasar musyawarah yang dilakukan secara demokratis sesudah wafatnya Nabi inilah yang disebut Khulafaur Rasyidin. Jumlahnya ada 4 orang, yaitu:
a) Abu Bakar as Shiddiq ( 11 – 13 H = 632 – 634 M )
b) Umar bin Khatab ( 13 – 23 H= 634 – 644 M)
c) Usman bin Affan (23 – 35 H = 644 – 656 M)
d) Ali bin Abu Thalib ( 35 – 40 H = 656 – 661 M)
Sesudah Ali bin Abu Thalib, para pemimpin umat Islam (khalifah) tidak termasuk Khulafaur Rasyidin karena mereka merubah sistem dari pemilihan secara demokratis menjadi kerajaan, yaitu kepemimpinan didasarkan atas dasar keturunan seperti halnya dalam sistem kerajaan.
Dengan wafatnya khalifah Ali, maka masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin telah selesai karena sesudah itu pemerintahan Islam dipegang oleh khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan secara turun-temurun, sehingga disebut Daulat / Bani Umayyah.
B. Saran
Kami selaku penyusun menyadari masih jauh dari sempurna dan tentunya banyak sekali kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Hal ini disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan kami.
Oleh karena itu, kami selaku pembuat makalah ini sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Kami juga mengharapkan makalah ini sangat bermanfaat untuk kami khususnya dan pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

Syalabi, A. 1983. Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta Pusat : Pustaka Al – Husna
Suwito. 2005. Pendidikan Agama Islam untuk Kelas VIII Semester Genap. Surakarta : Mitra Mandiri
Darsono. 2009. Tonggak Sejarah Kebudayaan Islam untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
DOWNLOAD MAKALAH FORMAT WORD

Pendidikan Islam pada Masa Khulafaurrasyidin

DOWNLOAD MAKALAH FORMAT WORD
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pendidikan Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist untuk membentuk manusia yang seutuhnya, yakni manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Allah SWT, dan untuk memelihara nilai-nilai kehidupan sesama manusia agar dapat menjalankan pendidikan dapat menjalankan seluruh kehidupannya, sebagaimana yang telah ditentukan Allah dan Rosulnya demi kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Pada masa Nabi, pendidikan Islam berpusat di Madinah, setelah Rosulullah wafat kekuasaan pemerintahan Islam di pegang oleh Khulafaurrosyidin. Wilayah Islam telah meluas diluar jazirah Arab para kholifah ini memusatkan perhatiannya pada pendidikan keagamaan syiar agama dan kokohnya pendidikan.

Adapun pola pendidikan yang diterapkan pada masa Khulafaurrosyidin akan dibahas secara mendalam dalam bab-bab selanjutnya

Rumusan Masalah
Bagaimana pola pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin?
Dimana pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin?

Tujuan Masalah
Dapat mengetahui pola pendidikan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin.
Dapat mengetahui dimana pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin.

BAB II
PEMBAHASAN

Pola Pendidikan Islam Pada Masa Khulafaur Rasyidin
Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq (632-634)
Setelah Nabi wafat, sebagai pemimpin umat Islam adalah Abu Bakar as-Shiddiq sebagai khalifah. Masa awal kekhalifahan Abu Bakar diguncang pemberontakan oleh orang-orang murtad, orang-orang yang mengaku sebagai nabi, dan orang-orang yang enggan membayar zakat. Berdasarkan hal ini Abu Bakar memusatkan perhatiannya untuk memperangi para pemberontak yang dapat mengacaukan keamanan dan mempengaruhi orang islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari ajaran Islam.
Dengan demikian, dikirimlah pasukan untuk memberontak di Yamamah. Dalam penumpasan ini banyak umat islam yang gugur, yang terdiri dari sahabat dekat Rosulullah dan para khafid Al-Qur’an. Sehingga mengurangi jumlah sahabat khafidz yang hafal al-qur’an, oleh karena itu, Umar menyarankan kepada khalifah Abu bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat al-qur’an. Kemudian untuk merealisasikan saran tersebut diutuslah Zaid bin stabit untuk mengumpulkan semua tulisan Al-Qur’an. Pola pendidikan pada masa Abu Bakar masih seperti pada Nabi, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.
Dari segi materi pendidikan islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan.
Pendidikan keimanan yaitu, menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib disembah adalah Allah SWT.
Pendidikan akhlak, contoh : adab masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat. Pendidikan ibadah seperti pelaksanaan sholat, puasa dan haji.
Kesehatan tentang kebersihan, gerak-gerik dalam sholat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.
lembaga untuk belajar membaca menulis ini disebut dengan kuttab. Kuttab merupakan lembaga pendidikan yang dibentuk setelah masjid, dan pusat pembelajaran pada masa ini adalah di Madinah, sedangkan yang bertindak sebagai tenaga pendidik adalah sahabat rosul yang terdekat, lembaga pendidikan Islam adalah masjid, masjid dijadikan sebagai benteng pertahanan rohani, tempat pertemuan dan lembaga pendidikan Islam, sebagai sholat berjamaah, membaca Al-Qur’an, dan lain sebagainya.1

Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Umar Ibnu Khattab (634-644 M)
Sesaat sebelu Abu Bakar mennggal, beliau menunjuk Umar sebagai penggantinya setelah dimusyawarahkan dengan para sahabat lainnya.Pada masa Khalifah Umar bin Khattab,kondisi politikdalam keadaan stabil, usaha perluasan wilayah Islam memperoleh hasil yang gemilang. Wilayah Islam pada masa Khalifah Umar meliputi Semenanjung Arabia, palestina, Syiria, Irak,Persia, dan Mesir.
Dengan meluasnya wilayah Islam mengakibatkan meluasnya pula kehidupan dalam segala bidang. Untuk memenuhi kebutuhan ini diperlukan manusia yang memiliki kererampilan dan keahlian, sehingga dalam hal ini diperlukan pendidikan.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, sahabat – sahabat yang sangat berpengaruh tidak boleh keluar daerah kecuali atas izindari khalifah dan dalam kurun waktu yang terbatas. Jadi, kalau ada diantara umat Islam yang ingin belajar hadis harus pergi ke madinah, ini berarti bahwa penyebarab ilmu dan pengetahuan para sahabat dan tempat pendidfikan adalah terpusat di Madinah.
Dengan meluasnya Islam sampai ke jazirah Arab, tampaknya khalifah memikirkan pendidikan Islam di daerah – daerah yang baru di taklukkan. Untuk itu, Umar bin Khattab memerintahkan para panglima perangnya, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya mereka mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.2
Berkaitan dengan masalah pendidikan ini,khalifah Umar bin Khattab merupakan seorang pendidik melakukan pernyuluhan pendidikan dikota Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masji- masjid dan pasar – pasar, serta mengangkat dan menunjuk guru –guru untuk tiap – tiap daerahyang ditaklukkan itu, mereka bertugas mengajarkan isin Al-Qur’an dan ajaran Islam lainnya seperti Fikih, kepada penduduk yang baru masuk Islam.
Diantara sahabat – sahabat yang ditunjuk oleh Umar bin Khattab ke daerah adalah Abdurahman bin Ma’qaal dan Imran bin Hshim. Kedua orang ini ditempatkan di Basyrah. Abdurrahman bin Ghanam dikirim ke Syiria dan Hasan bin Abi Jabalah dikirim ke Mesir. Adapun metode yang mereka pakai adalah guru duduk dihalaman masjid sedangkan murid melingkarinya.
Jadi dalam masa Khalifah Umar bin Khattabyang menjadi pendidik adalah Umar dan para sahabat – sahabat besar yang lebih dekat kepada Rasulullah dan memiliki pengaruh yang besar, sedangkan pusat pendidikannya selain di Madinah juga di Mesir, Syiria dan Basyrah.
Dengan meluasnya kekuasaan Islam, mendorong kegiatan pendidikan Islam bertambah besar, karena mereka yang baru masuk Islam ingin menimba ilmu keagamaan dari sahabat- sahabat yang menerima langsung dari Nabi. Pada masa ini telah terjadi mobilitas penuntut ilmu dari daerah – daerah yang jauh dari Madinah, sebagai pusat agama Islam.
Pada masa khalifah Umar bin Khattab, mata pelajaran yang diajarkan adalah membaca dan menulis Al- Qur’an dan menghafalnya serta belajar pokok –pokok agama Islam. Pendidikan pada masa ini lebih maju dibandingkan sebelumnya. Pada masa ini tuntutan untuk belajar bahasa Arab, juga sudah mulai tampak, orang yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab, jika ingin belajar dan memahami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah ada pengajaran bahasa Arab.
Pada masa ini, pelaksanaan pendidikan lebih maju karena selama pemerintahan Umar Negara berada dalam keadaan stabil dan aman, hal ini disebabkan telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan , juga telah terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam diberbagai kota dengan materi yang dikembangkan, baik dari segi ilmu bahasa, menulis, dan pokok –pokok ilmu lainnya.
Pendidikannya dikelola dibawah pengaturan gubruryang berkuasa saat itu, serta diirigi kemajuan di berbagai bidang, seperti jawatan pos, kepolisian, baitulmal, dan lain sebainya. Sedangkan sumber gaji para pendidik pada waktu itu diambilkan dari daerah yang ditaklukkan dan dari baitulmall.

Pola Pendifikan Islam Pada Masa Khalifah Usman bin Affan ( 23-35 H : 644 – 656 M )
Usman bin Affan adalah termasuk saudagar besar dan kaya juga sangat pemurah menafkahkan hartanya untuk kepentingan ummat Islam. Usman diangkat menjadi khalifah hasil dari pemilihan panitia enam ( Usman, Ali bin Abi Thalib, Thalhah,Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqash, dan Abdurrahman bin Auf.) yang ditunjukoleh khalifah Umar bin Khattab menjelang beliau akan meninggal. 3
Pada masa khalifah Usman bin Affan, pelaksanaan pendidikan tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Pendidikan dimasa ini hanya melanjutkan apa yang telah ada, namun hanya sedikit terjadi perubahan yang mewarnai pendidikan Islam. Para sahabat yang berpengaruh dan dekat dengan Rosulullah yang tidak diperbolehkan meninggalkan Madinah dimasa khalifah Umar, diberikan kelonggaran untuk keluar dan menetap di daerah – daerah yang mereka sukai. Kebijakan ini sangat besar pengaruhnya bagi pelaksanaan pendidikan di daerah – daerah.
Proses pelaksanaan pola pendidikan pada masa Usman ini lebih ringan dan lebih mudah dijangkau oleh seluruh peserta didik yang ingin menuntut dan belajar Islam. Dari segi pusat pendidikan juga lebih banyak, sebab pada masa ini para bisa memilih tempat yang mereka inginkan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.
Khalifah Usman sudah merasa cukuip dengan pendidikan yang sudah berjalan, namun begitu ada usaha yang cemerlang yang telah terjadi dimasa ini yang berpengaruh luar biasa bagi pendidikan Islam yaitu untuk mengumpulkan tulisan ayat- ayat Al-Qur’an. Penyalinan ini terjadi karena perselisihan dalam bacaan Al-Qur’an. Berdasarkan hal ini, khalifah Usman memerintahkan kepada tim untuk penyalinan tersebut, adapun timnya adalah: Zaid bin Tsabit,Abdullah bin Zubair, Zaid binAsh, dan Abdurrahman bin Harist.
Apabila terjadi pertikaian bacaan, maka harus diambil pedoman kepada dialek suku Quraisy, sebab al- Qur’an sebab Al- Qur’an ini diturunkan menurut dialek mereka sesuai dengan lisan Quraisy. Sementara Zaid bin Tsabit bukan orang Quraisy sedangkan ketiga tim lainnya adalah orang Quraisy.
Pada masa Khalifah Usman bin Affan, tugas mendidik dan mengajar umat diserahkan pada ummat itu sendiri, artinya pemerintah tidak mengangkat guru- guru. Jadi para pendidik tersebut dalammelaksanakan tugasnya hanya mengharapkan keridhaan Allah semata.Adapun objek pendidikan pada masa itu terdiri dari:
Orang dewasa dan atau orang tua yang baru masuk Islam
Anak – anak, baik orang tuanya telah lama memeluk Islam ataupun yang baru memeluk Islam
Orsng dewasa dan atau orang tua yang telah lama memeluk Islam
Orang yang mengkhususkan dirinya menuntut ilmu agama secara luas dan mendalam
Dari ke empat golongan terdidik tersebut, pelaksanaan pendidikan dan pengajaran tidak mungkin dilakukan dengan cara menyamaratakan tetapi harus diadakan pengklasifikasian yang rapid an sistematis, disesuaikan dengan kemampuan dan kesanggupan dari peserta didiknya. Adapun metode yang digunakan adalah:
Golongan pertama menggunakan metode ceramah, hafalan, dan latihan dengan mengemukakan contoh – contoh dan peragaan.
Golongan kedua menggunakan metode hafalan dan latihan
Golongan ketiga menggunakan metode diskusi, ceramah, hafalan, tanya jawab
Golongan keempat menggunakan metode ceramah, hafalan Tanya jawab, dan diskusi serta sedikit hafalan. Pendidikan dan pengajaran pada golongan ini lebih bersifat pematangan (dan pendalaman
Mata pelajaran yang di berikan disesuaikan dengan kebutuhan terdidik dengan urutan mendahulukan pengetahuan yang sangatmendesak / penting untuk dijadikan pedoman dan pegangan hidup beragama. Ada 3 fase dalam pendidikan dan pengajarannya:
fase pembinaan ; dimaksudkan untuk memberikan kesempatan agar terdidik memperoleh kemantapan iman
Fase pendidikan : ditekankan pada ilmu- ilmu praktis dengan maksud agar mereka dapat segera mengamalkan ajaran dan tuntunan agama dengan sebaik- baiknya dalam kehidupan sehari- hari
Fase pelajaran : ada pelajaran –pelajaran lain yang diberikan untuk penunjang pemahaman terhadap Al-Quran dan Hadits, seperti bahasa Arab dengan tata bahasanya, menulis, membaca,syair dan peribahasa.4
Pendidikan pada masa khalifah Usman ini tidak banyak terjadi perkembangan, jika dibandingkan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Hal ini disebabkan pada masa khalifah Usman urusan pendidikan diserahkan begitu saja pada rakyat. Dari segi pemerintahan khalifah Usman banyak timbul pergolakan dalam masyarakat sebagai akibat ketidaksenangan mereka terhadap kebijakan khalifah Usman yang mengangkat kerabatnya dalam jabatan pemerintahan

Pola Pendidikan Pada Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib. ( 35-40 H : 656-661 M )
Ali adalah khalifah yang keempat setelah Usman bin Affan. Pada masa pemerintahannya sudah diguncang peperangan dengan Aisyah ( istri Nabi) beserta Talhah dan Abdullah bin Zubair karena kesalahfahaman dalam menyikapi pembunuhan terhadap Usman,peperangan diantara mereka di sebut perang Jamal ( unta ) karena Aisyah menggunakan kendaraan unta. Setelah berhasil mengatasi pemberontakan Aisyah, muncul pemberontakan lain, sehingga masa kekuasaan khalifah Ali tidak pernah mendapatkan ketenangan dan kedamaian.5
Muawiyah sebagai gubernur di Damaskus memberontak untuk menggulingkan kekuasaannya. Peperangan ini disebut perang Shiffin, karena terjadi di Shiffin. Ketika tentara Muawiyah terdesak oleh pasukan Ali, maka Muawiyah segera mengambil siasat untuk menyatakan tahkim ( penyelesaian secara adil dan damai ). Semula Ali menolak, tetapi karena desakan dari beberapa tentaranya akhirnya Ali menerimanya, namun tahkim malah menimbulkan kekacauan, sebab Muawiyah curang, dengan tahkim tersebut, Muawiyah berhasil mengalahkan Ali dan mendirikan pemerintahan tandingan di Damaskus. Sementara itu, sebagian tentara yang menentang keputusan Alidengan cara tahkim , meninggalkan Ali dan membuat kelompok tersendiri yaitu khawarij.
Pada masa khalifah Ali ini terjadi kekacauan dan pemberontakan, sehingga pemerintahannya tidak stabil. Dengan kericuhan politik pada masa ini, kegiatan pendidikan Islam mendapat hambatan dan gangguan. Pada saat itu khalifah Ali bin Abi Thalib tidak lagi memikirkan masaalah pendidikan karena seluruh perhatiannya ditumpahkan pada pada masalah keamanan dan kedamaian bagi masyarakat Islam. Dengan demikian masalah pola pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin tidak jauh berbeda dengan masa Nabi yang menekan pada pengajaran baca tulis dan ajaran –ajaran Islam yang bersumber pada Al- Qur’an dan Hadits Nabi.

Pusat – Pusat Pendidikan Pada Masa Khulafaur Rasyidin
Pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur rasyidin antarav lain:6
1. Mekkah. Gurupertama di Mekkah adalah Muaz bin Jabbal yang mengajarkan Al-Qur’an dan Fikih
2. Madinah. Sahabat yang terkenal antara lain Abu Bakar, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat- sahabat lainnya.
3. Basrah. Sahabat yang termasyhurantara lain Abu Musa Al Asy’ari, seorang ahli fikih dan Al-Qur’an
4. Kuffah. Sahabat- sahabat yang termasyhur disini adalah Ali bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Mas’ud yang mengajarkan Al-Qur’an ia adalah ahli tafsir, hadits, dan fikih.
5. Damsyik (Syam) sahabat yang mengajarkan ilmu disana adalah Mu’az bin Jaba( di Palestina), Ubaidillah (di Hims), dan Abu Darda’( di Damsyik)
6. Mesir. Sahabat yang mula-mula mendirikan madrasah dan menjadi guru di Mesir adalah Abdullah bin Amru bin Ash, ia adalah seorang ahli hadits.

BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar sama dengan pola yang diterapkan pada masa Rosulullah baik dari segi materi ( keimanan, akhlak, dan kesehatan ) maupun dari segi lembaganya ( kuttab )
Pada masa khalifah Umar bin Khattab pendidikan Islam sudah lebih meningkatdiman apada masa ini khalifah Umar sudah mengangkat guru-guru dan digaji untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukkan.
Pola pendidikan Islam pada masa khalifah Usman bin Affan diserahkan sepenuhnya pada rakyat dan sahabat tidak hanya terfokus di Madinah saja, tetapi sudah boleh mengajar ke daerah- daerah lain.
Pola pendidikan Islam pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib kurang diperhatikan, hal ini dikarenakan pemerintahan Ali yang selalu dilanda konflik yang berujung pada kekacauan.

DAFTAR PUSTAKA

Nizar, Samsul, Dr., Sejarah Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 1997
Soekarno, Drs.,Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 1983
Thohir, Ajid., Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004
Joesoef, Sejarah Daulah Khulafaur Rasiddin, Medan : Bulan Bintang, 1979
Syalabi, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta : Pustaka Al-Husna, 1990


Footnote
1Samsul Nizar, Sejarah Pendidikan Islam, 2009, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, hal. 44.
2Ibid, hal : 47
3Ibid, hal : 48
4Soekarno, Sejarah Dan Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Angkasa, 1983, hal : 60
5Ibid, Hal: 50
6Ibid, Hal: 51

Makalah Khulafaurrasyidin

DOWNLOAD RATUSAN MAKALAH

BAB I
PENDAHULUAN
Sejarah kebudayaan dalam islam tidak bisa lepas dari peranan budaya di masa lalu yang membutuhkannya hingga seperti sekarang ini. Budaya-budaya tersebut diwariskan secara turun-temurun dikalangan umat Islam sendiri yang kemudian dalam prakteknya seakan sudah menjadi sebuah tradisi yang beradabtasi atau diambil dari kebiasaan para sahabat rasul dimasa lalu. Dalam pembahasan berikut penulis berupaya untuk menjelaskan tentang peranan para sahabat dalam membentuk suatu kebiasaan yang kemudian selanjutnya menjadi sebuah tradisi yang tidak bias lepas dan secara tidak langsung menjadi salah satu “produk budaya dalam agama islam itu sendiri”.


RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini agar lebih mudah untuk dipahami maka penulis berupaya untuk memberikan batasan hingga dapat dimengerti dengan jelas isi makalah ini sendiri secara baik dengan rumusan sebagai berikut:
1. Siapa sahabat-sahabat yang menjadi contoh utama dan sumber budaya setelah rasul wafat?
2. Kebiasaan-kebiasaan sahabat apa saja kah yang kemudian menjadi sebuah tradisi dalam islam.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Khalifah Abu Bakar
Bicara mengenai budaya, maka budaya adalah suatu kebiasaan dimasyarakat yang mana dijalankan menjadi sebuah tradisi secara turun temurun yang terbentuk pola kebiasaan tertentu atau berupa peraturan tidak tertulis namun sebagai mana dapat kita pahami bersama bahwa hal demikian sangat di pegang teguh dan kuat oleh masyarakat yang menjaga tradisi tersebut. Demikian pula dalam Islam adanya warisan tradisi yang dipegang teguh umat islam yang menjaga tradisi tersebut. Demikian pula dalam islam adanya warisan tradisi yang dipegang teguh oleh umat Islam yang mana tidak lain berasal dari kebiasaan-kebiasaan dimasa lalu oleh kalangan sahabat yang selanjutnya menjadi budaya dikemudian hari dalam masyarakat islam dalam perkembangannya sampai saat ini.
Salah satu dari tradisi Islam itu sendiri adalah tidak lain dengan berdakwah sambil berdagang. Indonesia sendiri memaklumi hal tersebut melalui perdagangan yang mana Islam dibawa dan disiarkan oleh pedagang dari Gujarat India. Sejarah mencatat bahwa rasul sendiri adalah seorang pedagang dan dimasa jahiliyah pun salah seorang sahabat yakni Abu Bakar Ash Shiddiq berniaga guna mencukupi kebutuhan hidup sembari menyebar luaskan agama Islam setelah beliau masuk Islam.
Di masa Jahiliah beliau terkenal sebagai seorang yang jujur dan berhati suci. Tatkala agama Islam dating segeralah dianutnya. Dalam mengembangkan dan menyiarkan agama Islam beliau mendapat hasil yang baik. Banyak pahlawan-pahlawan Islam menganut agama Islam atas usaha dan seruan beliau Abu Bakar.
1. Pembai’atan Abu Bakar
Pada tahun 632 M Abu Bakar akhirnya dibaiat atau di lantik sebagai khalifah pertama setelah wafat Nabi Muhammad saw. Abu Bakar sangat dikenal sebagai pemimpin yang sederhana, sebagai amirul mu’minin misalnya: Beliau masih tinggal di sebuah rumah di luar kota yang amat sederhana dan selama enam bulan mondar mandir ke tempat kerjanya di Madinah untuk melaksanakan tugas.
Namun sebelumnya sempat terjadi perselisihan tentang siapa pemimpin yang meneruskan kepemimpinan rasul Ali bin Abi Thalib menginginkan kedudukan beliau dalam Islam. Tetapi bahagian terbanyak dari kaum muslimin menghendaki Abu Bakar maka dipilihlah beliau menjadi khalifah. Hal ini juga tidak luput dari upaya sahabat lainnya yang lebih berhasil meyakinkah kaum elite Islam: yaitu Umar bin Khatab yang dengan kepandaiannya mampu menyatukan umat degnan satu suara mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah pengganti kepimpinan rasul.
Sesudah Abu Bakar diangkat menjadi khalifah beliau berpidato. Dalam pidatonya itu dijelaskannya siasat pemerintahan yang akan beliau jelaskan.
Hanya dua tahun Abu Bakar memangku jabatan sebagai khalifah pertama Islam, jadi tidak mengalami masa jatuhnya Siria. Pengabdiannya itu terpaksa diakhiri karena maut telah dating tanpa sedapat dicegah. Sejarah mencatat selama masa jabatannya itu Abu Bakar telah berhasil mengangerahkan sejumlah sukses. Permtama, di bawah masa kepemimpinannya Islam telah tersebar di Mesopatimia. Kedua, dalam waktu bersamaan dua tokoh Nabi palus telah berhasil dilenyapkan yaitu Tulaihah dan Musaelamah al Kadzab. Ketiga, di samping itu gagasannya untuk melakukan kodifikasi Qur’an telah mewujudkan hasil awal yaitu mengumpulkan naskah-naskah yang sebelumnya masih terserak.
Dalam masa pemerintahan beliau tidak dapat dipungkiri ada beberapa masalah mencuat dikalangan muslim di antaranya munculnya para Nabi-nabi palsu hingga banyaknya syuhada yang hafiz Alquran sehingga mendorong kodifikasi Alquran itu sendiri sampai masalah pemberontakan suku-suku yang tadinya mengaku beriman menjadi murtad dan berbalik berhianat.
Di dalam kesulitan yang memuncak inilah kelihatannya kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar. Dengan tegas dinyatakannya seraya bersumpah, bahwa beliau akan memerangi semua golongan yang telah menyeleweng dari kebenaran, biar yang murtad, maupun mengaku jadi Nabi, ataupun yang tidak mau membayarkan zakat, sehingga semuanya kembali kepada kebenaran atau beliau gugur sebagai syahid dalam memperjuangkan kemuliaan agama Allah.
Ketegasan Abu Bakar ini disambut dan didukung kuat oleh golongan terbesar dari kaum muslimin atau oleh seluruh kaum muslimin walaupun sikap damai, karena huru-hara yang melandan hampir meliputi seluruh tanah Arab.

B. Umar Bin Khatab
Sebagai pengganti dan penerus kepemimpinan Islam, Umar bin Khattab lebih menyukai sebutan amirul mukminin atau pemimpin mereka yang beriman ketimbang sebutan khalifah. Bagaimanapun dia tetap di anggap sebagai khalifah kedua dari kelompok khulafaurrasyidin atau khalifah yang mendapat petunjuk.
Pengangkatan, itu sebagai hasil penunjukan Abu Bakar sebelum wafat, meskipun setelah itu harus mendapatkan persetujuan para sahabat senior. Ditentukan bahwa meskipun dia mendapatkan kekuasaan atas penunjukkan Abu Bakar, untuk selanjutnya dia tidak akan melakukan hal yang sama. Dia akan menyerahkan pemilihan kepada majelis pemilihan yang lebih bebas. Bahkan dalam kesempatan itu dia minta dikoreksi dan ditegur manakala melanggar janji.
Janjinya itu memang ditepati, sehingga kepemimpinannya di kenal sangat tegas, jujur, dan adil, meskipun tetap rendah hati dalam penampilannya. Tokoh itu banyak diceritakan sebagai orang yang sangat sederhana.
1. Ekspedisi ke Timur
Ekspedisi ini dipimpin oleh Khalid bin Walid. Dimasa Umar lah kemenangan Khalid dipresembahkan dengan menduduki Damaskus (Damsyik), ibu kota Siria atau Suriah pada tahun 641. Pada tahun 637 M mereka menaklukkan Persia.
2. Ekspedisi ke kawasan Maghribi
Dalam ekspedisi ini dipimpin oleh Amr bin Ash. Langkah selanjutnya yang dilakukan Khalid bin Walid adalah menjadikan kota Heliopolis sebagai ibu Kota Islam di Mesir. Dalam perkembangan selanjutnya kota itu kelak dikenal sebagai Kairo lama yang kelak menjadi ibu kota Mesir. Tentu saja semua kesuksesan itu dilaporkan kepada khalifah Umar di Madinah.
Setelah mendapatkan izin dan restu khalifah pasukan Amr bin Ash meneruskan ekspedisi mereka kekawasan-kawasan matahari tenggelam di jalur utara Afrika. Dalam ungkapan bahasa Arab kawasan itu disebut Magribi, yang berasal dari kosakata Ghurubi Syamsi yang berarti tenggelam matahari.
3. Peta administrasi pemerintahan
Setelah hampir semua kawasan Magribi takluk dibawah kendali Islam, maka lengkaplah sudah kawasan Islam terbentang dari Magribi di barat sampai India disebelah timur. Ternyata kawasan seluas itu menimbulkan konsekuensi yang tidak mudah dalam bidang pengaturan administrasi pemerintahan. Hal itulah yang dihadapi khalifah Umar yang dikenal sebagai L’organisateur de la victoire.
C. Usman Ibnu Affan
Usman ibnu Affan. Ibnu Abil Ash ibnu Umaaiyah. Dilahirkan diwaktu Rasulullah berusia 5 tahun dan masuk Islam atas seruan Abu Bakar Ash Shiddiq.
1. Usman di angkat jadi khalifah.
Di waktu Umar kena tikam beliau tiada bermaksud hendak mengangkat penggantinya. Tetapi kaum muslimin khawatir kalau-kalau terjadi perpecahan sesudah Umar meninggal dunia, karena itu mereka mengusulkan agar Umar menunjuk siapa yang akan menjadi pengganti beliau. Beliau mencalonkan enam orang sahabat Rasulullah yang telah diberi kabar gembira oleh Rasulullah akan masuk surga, mereka adalah orang-orang yang paling baik. Orang yang berenam itu adalah. Usman, Ali ibnu Abi Thalib, Thalhah, Zubair ibnu Awwam, Sa’ad ibnu Abi Waqqash dan Abdur Rahman Ibn Auf.
Umar berpulang ke rahmatullah, maka sahabat-sahabat yang berenam itu berkumpul untuk bermusyawarat. Maka, bermusyawarahlah segenap lapisan kaum muslimin, begitu juga dengan para calon (sahabat-sahabat yang ditunjuk oleh Umar). Dari permusyawarahan itu dapatlah dia mengambil kesimpulan bahwa pendapat tertuju kepada Usman dan Ali. Maka dipilihnyalah Usman, karena Usman lebih tua dari Ali dan prilakunya lunak.
2. Perluasan Islam di Masa Usman
Perluasan Islam di masa Usman dapat disimpulkan pada 2 bidang:
a. Menumpas pendurhakaan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa negeri yang telah masuk ke bawah kekuasaan Islam di zaman Umar.
b. Melanjutkan perluasan Islam ke daerah: yang sampai di sana telah terhenti perluasan Islam di masa Umar.

D. Ali Ibnu Abi Thalib
1. Riwayat hidup Ali Ibnu Abi Thalib
Ali Ibnu Abi Thalib Ibnu Abdil Mutthalib, putera dari paman Rasullah dan suami dari puteri beliau Fatimah. Ali semenjak kecil sudah dididik dengan adab dan budi pekerti Islam. Lidahnya amat fasih berbicara. Pengetahuannya dalam agama Islam amat luas. Hamper pada setiap peperangan yang di pimpin oleh Rasulullah, Ali tetap ada di dalamnya. Sering Ali dapat merebut kemenangan bagi kaum Muslimin dengan mata pedangnya yang tajam.
2. Pembai’atan Ali
Pembai’atan Ali adalah pembai’atan dari rakyat terbanyak, yakni orang-orang yang telah menjatuhkan Usman. Tak ada diantara sahabat-sahabat terkemuka yang dapat menolak untuk membai’atan Ali, karena tidak seorang, juga diantara mereka yang sanggup menghadapi pancaroba. Oleh karena itu mau tak mau mereka memai’at membai’at Ali, Kemudian banyak para Muhajirin dan Anshar yang mengikuti tindakan mereka. Ali di bai’ah oleh rakyat terbanyak.
Dengan memperhatikan suasana pembai’atan Ali, dapat diambil kesimpulan bahwa pembai’atan itu bukanlah dengan sepenuh hati kaum muslimin. Terutama Bani Umaiyah, mereka yang mempelopori orang-orang yang tidak menyetujui Ali.
3. Politik Ali dalam Pemerintahan
Sesudah beliau dibai’ah menjadi khalifah, dikeluarkannya dua buah ketetapan:
a. Memecat kepala-kepala daerah angkatan Usman
b. Mengambil kembali tanah-tanah yang dibagi-bagikan Usman kepada famili-famili dan kaum kerabatnya tanpa jalan yang sah. Demikian juga hibah atau pemberian Usman kepada siapapun yang tiada beralasan, diambil Ali kembali.
Banyak peperangan yang mencetus di masa pemerintahan Ali, dan yang terpenting adalah dua buah, yaitu:
a.        Peperangan Jamal (Unta) karena siti Aisyah istri Rasulullah dan puteri Abu Bakar As Shiddiq ikut dalam peperangan ini dengan mengendarai Unta.
b.       Perpangan Shiffin adalah peperangan antara Ali dan Mu’awiyah.
4. Sesudah peristiwa tahkim
Akhirnya kedua golongan bersepakat bahwa masing-masingnya memilih seorang hakim. Orang syam memilih Amr ibnul Ash dengan suara bulat. Tetapi dalam golongan Ali terjadi pertikaian pendapat suara terbanyak memilih Abu Musa al-Asy’ari.
Peristiwa tahkim telah menguntungkan Mu’awiah, tetapi keuntungan itu bukanlah diumumkan pemberhentian Ali, dan penetapan Mu’awiha, melainkan karena peristiwa tahkim itu telah menimbulkan perpecahan pada laskar Ali.
Kaum khawarij mulailah memberontak dan meninggalkan Ali. Malahan berani pula mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa, dan melakukan penganiayaan-penganiayaan dan pelanggaran-pelanggaran di Irak.
Dalam pada itu, keadaan Mu’awiyah di Syam telah stabil. Maka para sahabat yang besar-besar seperti Sa’ad Ibnu Abi Waqqash, dan Abdullah Ibnu Umar mulailah berdatangan kesana menggabungkan diri dengan Mu’awiyah.
Mua’wiyah pun telah berhasil menggabungkan negeri Mesir ke dalam wilayah kekuasaannya. Demikianlah kekuasaan Ali makin lama makin berkurang, sebaliknya kekuasaan Mu’awiyah terus menerus bertambah naik’.
6. Akhhir-akhir Riwayat Ali
diwaktu beliau bersiap-siap hendak mengirim balatentara sekali lagi untuk memerangi Mu’awiyah, terjadilah suatu komplotan untuk mengakhiri hidup masing-masing dari Ali, Mu’awiyah dan (Amr ibnu Ash).
Tetapi diantara ketiga orang itu hanyalah Ibnu Muljam yang dapat membunuh Ali. Ibnu Muljam menusuk Ali dengan pedang, waktu beliau sedang memanggil orang untuk bersembahyang.
Dengan demikian berakhirlah riwayat Ali. Dengan berpulang nya Ali kerahmatullah habislah masa pemerintahan al-Khulafaur Rasyidin.

BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan: Dapat kita ketahui bahwa khulafaur Rasyidin itu ada 4 orang yaitu: Abu Bakar Ash Shhiddiq, Umar bin AL Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin mereka adalah para khalifah pengganti Rasulullah. Dan banyak sekali jasa-jasa yang telah mereka lakukan untuk islam, mulai dari penaklukan-penaklukan dan perluasan daerah, pemeliharaan Alquran, mempersatukan banyak Negara menjadi satu Negara yaitu Negara Islam dan ini sudah dilakukan sejak zaman Rasulullah, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA
Su’ud, Abu, Islamologi Sejarah, Ajaran dan Peranannya dalam Peradaban Umat Manusia, Jakarta. PT Rineka Cipta, 2003.
Al-Kandahlawy, Muhammad Yusuf, Sirah Sahabat, Keteladanan orang-orang di Sekitar Nabi, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.
Syalabi, A. Sejarah Kebudayaan Islam 1, Jakarta, PT. Pustaka al-Husna Baru, 2007.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites