Makalah

Blog ini berisi berbagai macam makalah kuliah.

Perangkat Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Modul Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Skripsi

Masih dalam pengembangan.

Lain-lain

Masih dalam pengembangan.

Kamis, 16 April 2015

Metode Ilmiah dalam Tinjauan Filsafat Ilmu


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
Dalam perkembangan kehidupan Imu mengalami kemajuan. Perkembangan ilmu ini dapat terwujud karena adanya aktivitas yang berupa penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan. Beberapa orang ahli filsafat diantaranya Francis Bacon (1561-1620) dan Karl Popper dan Thomas Kuhn telah melakukan pengamatan atas aktivitas atau cara kerja ilmuwan tersebut. Para pengamat yang bukan ilmuwan sains menyebut cara kerja ini sebagai metode ilmiah.
Banyak ilmuwan mengemukakan bahwa metode ilmiah yang dikemukakan oleh Bacon dan Popper itu terlalu sederhana dan kurang memadai. Mereka mengemukakan bahwa metode ilmiah terdiri atas serangkaian kegiatan yang berupa : pengenalan dan perumusan masalah, pengumpulan informasi yang relevan, perumusan hipotesis, pelaksanaan eksperimen dan publikasi atau penyebaran informasi.
Sebagai “Home Sapiens “ manusia tidak akan pernah berhenti berpikir selama hidupnya, terlepas dari kadar atau tingkatan masalah yang dipikirkannya. Apakah masalah biasa (sederhana), masalah ilmiah, atau bahkan masalah filsafat.
Apakah manusia berpikir dengan menekankan kegunaannya dari pada kebenarannya ini termasuk dalam tingkatan berpikir biasa. Apabila manusia berpikir dengan menekankan kebenarannya dari pada kegunaanya sebagai batas pengalaman termasuk dalam tingkatan berpikir ilmiah. Dan apabila manusia berpikir secara komprehensif, mendasar dan spekulatif melewati batas pengalaman ini termasuk tingkatan berfikir filsafat.
Berdasarkan hal diatas penulis tertarik untuk mengkaji metode ilmiah ditinjau dari filsafat ilmu.  Hal ini penting sekali karena dalam makalah tersebut juga akan dibahas tentang penemuan ilmiah secara logis dan kritis.

B. Perumusan Masalah
Permasalahan yang akan di membahas dalam makalah ini adalah tentang metode ilmiah. Hal ini menarik untuk di kaji karena metode ilmiah merupakan prosedur untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah.  Lebih khusus lagi makalah ini akan menguraikan berbagai teori tentang metode ilmiah dan standar dalam menilai teori-teori ilmiah

C. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab. Bab I Pendahuluan, mengemukakan latar belakang masalah, masalah dan pembatasan masalah, serta sistematika penulisan. Bab II Membahas metode ilmiah dan Standar dalam menilai teori-teori ilmiah. Bab III Mengemukakan kesimpulan isi masalah dan rekomendasi yang di anggap perlu.
BAB II
METODE ILMIAH DALAM TINJAUAN FILSAFAT ILMU

A. Kajian Filsafat Ilmu
Sebelum menelaah tentang peranan filsafat ilmu perlu lebih dahulu dipahami apakah pengetahuan dan apakah ilmu itu.  Seorang, anak balita bersama ayahnya mengunjungi kebun binatang yang terdapat di kota tempat tinggalnya. Si anak memperoleh pengetahuan tentang kebun binatang melalui inderanya dan ia tahu bahwa di kebun binatang terdapat bermacam macam binatang. Ayahnya memperoleh pengetahuan tentang kebun binatang melalui pengamatannya juga, bahwa kebun binatang di kotanya lebih kecil dan jenis binatangnyapun tidak begitu banyak bila dibaindingkan dengan kebun binatang yang pernah ia lihat, di kota 'Lain. Dalam hal ini pengetahuan yang diperoleh si anak tentang kebun binatang, berbeda deengan pengetahuan yang diperoleh ayahnya, meskipun mereka mengamati obyek yang sama.
Dari contoh tadi, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya pengetahuan itu merupakan hasil tahu tentang sesualu yang diperoleh melalui suatu usaha. Selain itu juga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang terbentuk pada diri masing masing individu tergantung dari pengetahuart dan pengalaman individu tersebut sebelumnya.
Pengetahuan juga dapat diperoleh dari informasi yang diberikan oleh orang lain kepada kita. Yang dimaksud dengan infonnasi di sini adalah wacana yang dapat berbentuk lisan atau tulisan. Dengan demikian pembentukan pergetahuanpun akan berbeda beda bagi tiap individu sebagaimana dikemukakan oleh pandangan konstruktivisme. Sesuai pandangan tersebut, kecepatan seseorang membentuk pengetahuanpun berbeda beda pula. Jadi meskipun informasi atau stimulusnya sama, berbagai individu akan membentuk pengetahuan yang berbeda dengan kecepatan yang tidak sama pula. Bagi seorang guru misalnya, hal yang sangat penting untuk diperhatikan adalah bahwa dalam kegiatan mengajar harus diusahakan agar wacana yang dilakukan tidak mudah disalahartikan oleh peserta didik, Pengetahuan yang anda kenal pada contoh contoh di atas merupakan pengetahuan inderawi, yaitu pengetahuan yang diperoleh dari suatu obyek tertentu dan yang ingin kita hayati melalui indera dan pemikiran. Pengetahuan ini biasa disebut pengetahuan saja atau dalam bahasa higgris disel knowledge. Pengetahuan itu, dapat pula diperoleh melalui pengalaman yang tidak hanya melalui indera, tetapi juga diperoleh melalui suatu eksperimen.
Sebagaimana telah diuraikan di muka, para filsuf senantiasa ditantang untuk menjawab, pertanyaan pertanyaan yang sangat mendasar tentang segala sesuatu yang mereka amati atau peristiwa yang mereka alarni. Pengetahuan yang mereka peroleh sebagai hasil pemikiran yang rasional dan mendasar, kritis dan logis, analitis dan sisternatis untuk menjawab, pertanyaan tentang hakekat, azas, atau, prinsip dari seluruh realitas, disebut pengetahuan filsafat atau filsafat.
Dengan demikian filsafat itu pada awalnya membahas tentang hakekat segala hal dan dimulai dengan pemikiran manusia mengenai alam dan segala peristiwa yang ada vang kemudian berkembang lebih luas lagi. Jadi bidang bahasanya amat luas yaitu mencakup semua ilmu yang dikenal orang pada masa tertentu.
   Untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan ilmu, dapat dikemukakan contoh bahwa hingga abad 18 fisika masih disebut sebagai "filsafat alam". Demikian pula yang sekarang kita kenal sebagai ilmu ekonomi, dahulu disebut sebagai filsafat moral. Sejak pertengahan abad 19, fisika, kimia dan biologi disebut sebagai ";Ilmu kealaman" dan bukan bagian dari filsafat alam. Dalam perkembangan selanjutnya pada abad 20, fisika, kimia, biologi, psikologi, serta ilmu ilmu sosial seperti ilmu ekonomi, ilmu pendidikan, sosiologi, ilmu hukurn, dan ilmu politik telah dinyatakan sebagai "ilmu ilmu empiris".
Dengan berjalannya waktu ilmupun berkembang menjadi lebih banyak dan lebih luas sehingga banyak pula cabang cabang ilmu yang lebih dalam pembahasannya. Dengan demikian ilmu ilmu itu lahir, berdiri sendiri sebagai disiplin disiplin ilmu yang terlepas dari filsafat sebagai induknya. Pada dasarnya ilmu itu lahir dan berkembang sebagai produk dari upaya manusia untuk memahami realitas alam serta kehidupan di dalamnya serta upaya mengembangkan produk produk yang telah dihasilkan oleh manusia sebelumnya.
Disiplin disiplin ilmu yang telah lepas tadi berkembang terus dengan pesat dan banyak menghasilkan produk produk berupa teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat, di samping ada pula dampak negatif yang timbul dari perkembangan ilmu tersebut. Kita tentu masih ingat betapa dahsyatnya letusan bom, atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima dan Nagasaki di negeri Jepang pada tahun 1945. Akibat dari pemboman ini sebagian besar dari kedua kota itu hancur dan penduduknyapun banyak yang meninggal. Sebagian dari mereka menderita, luka dan cacat tubuh seumur hidupnya. Inilah sebuah contoh tragedi kemanusiaan yang diakibatkan oleh penggunaan kemajuan ilmu tentang energi nuklir dengan produk teknologinya.
Kisah ini menyadarkan kita tentang perlunya mempersoalkan pengembangan ilmu pada aspek maralitas, norma etika serta spiritualitasnya. Aspek aspek ini tidak dapat kita temukan pada teori, hokum-hukum maupun eksperimen yang mendasari perkembangan ilmu tertentu.
Meskipun dalam, perkembangannya filsafat telah melahirkan ilmu ilmu yang bersifat mandiri, tidak berarti bahwa hubungan antara ilmu dan filsafat telah putus, karena masih ada dan perlu ada interaksi antara keduanya. Sebagai contoh filsafat bertugas antara lain untuk membuat analisis tentang konsep-konsep dan asumsi asumsi ilmu dalam hal arti dan validitasnya. Selain itu filsafat juga mengatur hasil berbagai ilmu dalam suatu pandangan hidup yang terintegrasi, komprehensif dan konsisten. Sebaliknya sikap ilmiah yang merupakan landasan perkembangan ilmu, dirasakan amat bermanfaat pula bagi perkembangan filsafat.
Dengan demikian dapat dipahami bahwa filsafat dan ilmu saling membutuhkan. Filsafat ilmu yang salah satu tugas pokoknya ialah menilai hasil ilmu ditinjau dari aspek eksistensi manusia seutuhnya, merupakan jembatan penghubung antara filsafat dan ilmu.
Sains telah berkembang secara cepat sejalan dengan perkembangan teknologi. Misalnya ilmu kealaman secara berangsur memiliki banyak cabang ilmu yang masing masing ditelaah, diteliti dan dikembangkan oleh kelompok-¬kelompok ilmuwan yang berminat terhadap cabang ilmu tertentu. Pembagian ini disebabkan oleh keterbatasan manusia yang tidak mampu mempelajari beberapa bidang ilmu sekaligus secara mendalam.
Filsafat yang menelaah tentang manusia dan hubungan antar manusia disebut moral philosophy atau philosophy saja. Dalam perkembangannya ketompok ilmu ilmu ini menjadi ilmu ilmu sosial vang dalam bahasa Jerman disebut Geisteswissenschaften. ilmu sosial atau ilmu kemasyarakatan meliputi berbagai cabang yang pada dasarnya mengkaji hubungan antar manusia, baik antar individu maupun kelompok.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengembangan ilmu itu tidak dapat hanya dirumuskan atau ditentukan oleh ilmu itu sendiri, tetapi perlu dikaitkan dengan dasar budaya masyarakat atau bangsa. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya nilai suatu pergembangan ilmu itu perlu ditinjau sejauh mana ilmu itu dapat menyumbangkan nilai tambah untuk kesejahteraan masyarakat tanpa harus mengorbankan nilai nilai budaya mereka. Oleh karenanya pemahaman tentang filsafat ilmu amat diperlukan.

B. Metode Ilmiah Popper
Ide-ide Popper tentang metode ilmiah paling mudah dipaham jika dibandingkan dengan metode yang mengikuti teori belajar induktif.  Ada dua asas yang mendasari teori Popper. Pertama, Penyelidikan tidak boleh di mulai dengan usaha observasi yang tidak memihak, tetapi justru harus fokus pada satu persoalan. Peneliti harus bertanya : Apa masalahnya ? Kedua Usaha untuk menemukan sebuah solusi atau solusi yang terperbaiki tidak boleh merupakan usaha hati-hati untuk berpegang pada Fakta, tetapi harus merupakan usaha untuk menggabungkan dengan yang berani dengan kritisisme yang tajam.
Kedua asas ini berasal dari pandangan Popper tentang hakekat belajar, terutama hakekat berfikir yang kreatif. Hal ini karena kita sebenarnya melakukan proses belajar dengan cara menduga dan menolak untuk memecahkan persoalan cara terbaik untuk mencapai kemajuan belajar adalah dengan memfokuskan dan mengartikulasikan persoalan, dengan memprediksi solusi dengan cara berani dan Imajinatif, serta dengan menilai solusi yang ditawarkan secara kritis.
Arti penting pembuktian secara empiris berasal dari asas-asas dasar ini tujuan sains adalah menjelaskan secara benar dunia pengalaman kita, dan terhadap hasil Observasi dan Eksperimen. Kritisisme paling kuat dari sebuah teori yang bertujuan untuk menjelaskan sesuatu terletak dalam pertentangannya dengan apa yang kita alami atau hasil Eksperimen kita. Karena kritisisme yang sistematis dan kuat dari dugaan kita ini memiliki arti penting, maka para ilmuan harus selalu berusaha meletakan teori mereka dalam sebuah bentuk yang dapat di uji.
Popper (1968: 49-54) mencirikan teori metode ilmiahnya sebagai berikut : “ Teori metode selama berjalan di luar analisi logis tentang hubungan di antara pernyataan-pernyataan ilmiah, berkaitan dengan pilihan metode… jelas, kaidah-kaidah (Metadologis) sangatlah berbeda dari kaidah-kaidah yang biasanya disebut “Logis”. Meskipun logika mungkin menetapkan kriteria untuk memutuskan apakah sebuah pernyataan dapat dibuktikan, Hal ini tidak berkaitan dengan persoalan apakah seseorang mendesakan dirinya untuk membuktikan pernyataan itu. Kaidah-kaidah Metodologis disini dipandang sebagai konvensi. Kaidah-kaidah Metodologis mungkin digambarkan sebagai aturan sebuah permainan sain empiris. Kaidah-kaidah logis berbeda dari aturan logika murni baiknya aturan main catur, yang beberapa oarang akan memandangnya sebagai bagian dari logika murni…..Hasil dari sebuah penyelidikan tentang aturan permainan sains-yakni, aturan penemuan ilmiah mungkin berwujud logika penemuan ilmiah (The Logic Of Scientific Discovery) ….saya akan mencoba akan menetapkan aturan, atau norma jika anda menginginkan yang akan menjadi pembimbing bagi ilmuwan yang tengah dalam penyelidikan atau penemuan, didalam arti sama seperti yang di pahami disini.
Menurut Popper, pada akhirnya kita akan menilai sebuah sistem aturan metodologis dengan mempertanyakan apakah sistem aturan itu dapat di terapkan tanpa menimbulkan inkonsistensi, apakah sistem aturan itu akan membantu kita; apakah kita benar-benar membutuhkannya. Tetapi setelah kita memandang aturan-aturan metodologis sebagai petunjuk praktis yang dapat di nilai dari kegunaannya, Maka hukum alam (termasuk alam manusia) menjadi relevan untuk di nilai mana metode yang baik dan mana yang buruk. Misalnya, sebuah aturan yang merekomendasikan prosedur yang mustahil secara fisik dan psikologis bukanlah aturan yang berguna. Secara khusus merekomendasikan induksi yang hati-hati tidaklah membantu jika kita tidak melakukan observasi murni untuk kemudian membuat induksi dari observasi ini. Menganjurkan kombinasi antara dugaan-dugaan yang berani dan kritisisme yang tajam akan berguna jika kita benar-benar belajar dengan menduga dan menolak.
Popper juga mengembangkan teori pengetahuan yang mendasari sikap positif kearah penolakan ini memiliki dua aspek. Pertama adalah pelarangan untuk menghindari penolakan yang kedua adalah rekomendasi untuk belajar sebanyak mungkin dari penolakan. Dengan belajar dari penolakan kita akan berusaha mendalami permasalahan yang di tolak itu. Sebagai mana pepatah mengatakan bahwa” Pengalaman adalah guru yang terbaik”. Untuk itu belajar dari kesalahan merupakan langkah awal menuju kebaikan.
Dalam kegiatan ilmiah Popper mengatakan langkah-langkah sebagai berikut:
“Kita harus menerima pernyataan-pernyataan dasar (hanya) selama pernyataan itu membuktikan teori-teori; selama menimbulkan pertanyaan selidik tentang teori-teori, untuk di jawab dengan menerima pernyataanpernyataan dasar. Maka, situasi rillsangat berbeda dari situasi yang di visualisasikan oleh seorang empiris naif., atau orang yang percaya pada logika induktif. Ia berpikir bahwa kita mulai dengan mengumpulkan dan menyusun pengalaman kita, dan karena itu turun ke tangga sains… tetapi jika saya di perintah untuk merekam apa yang saya alami sekarang, saya hanpir tidak dapat mengetahui bagaimana menaati aturan yang ambigu ini…. Dan meskipun aturan itu dapat di taati … aturan itu tidak pernah berarti sebagai sebuah sains. Sain membutuhkan sudut pandang dan persoalan teoritis”.

Popper mengontruksikan argumen yang menghubungkan teorinya tentang eksperimen dengan kriteria demokrasi. Ia memulainya dengan menjelaskan bahwa penerimaan terhadap pernyataan-pernyataan dasar bisa di lakukan sesuai dengan aturan. Kemudian Popper menyatakan bahwa “ Arti khusus dari pernyataan-pernyataan dasar ini adalah aturan yang mengatakan pada kita bahwa kita tidak boleh menerima pernyataan-pernyataan dasar yang tersesat, yakni pernyataan yang tidak terkait secara logis, tetapi kita harus menerima pernyataan-pernyataan dasar selama mereka mampu membuktikan teori.
Popper (1968-279) menggambarkan teori sebagai “dugaan yang berani dan sangat imajinatif” yang “secara hati-hati dan bijaksana di kontrol oleh pembuktian, “dan ia terus berkata:
“Metode penelitian kami tidak di tujukan untuk mempertahankan (teori-teori ini) agar dapat membuktikan betapa benar pandangan kami. Sebaliknya, kami mencoba meruntuhkan. Dengan menggunakan semua senjata logis, matematis dan teknis, kami mencoba membuktikan bahwa (teori-teori kami) adalah salah – agar dapat mengemukakan (teori-teori yang lain) sebagai gantinya …. Kemajuan sains tidaklah di karenakan fakta semakin banyak pengalaman perseptual yang terkumulasi dalam perjalanan waktu ide-ide berani, antisifasi yang tidak di justifikasi, dan pikiran spekulatif. Semua ini adalah alat kami untuk menafsirkan hakekat : hanya dengan argumen, instrukmen kami, untuk memahaminya. Dan kami harus mencobanya untuk memenangkan hadiah yang layak kami peroleh ….
Dengan mencita-citakan kepastian (termasuk tingkat-tingkat kepastian atau kemungkinan yang tidak sempurna), maka akan runtuhlah salah satu pertahanan obskurantisme yang merintangi jalan kemajuan ilmiah, yang mengawasi keberanian pertanyaan kami; yang merongrong kekakuan dan integritas pengujian kami. Pandangan yang salah tentang sains akan terjatuh ke dalam keinginan untuk menjadi benar; bukan penguasaan atas pengetahuan, kebenaran yang tak terbantahkan, yang membuat seseorang menjadi manusia berilmu, tetapi pencarinya yang kritis akan kebenaran yang terus menerus dan tanpa henti.
Dari kutipan di atas jelas, bahwa menurut Popper inti metode ilmiah terletak pada penyelidikan yang mengombinasikan teori-teori yang berani dengan kritisisme tajam dari teori-teori iti. Kita tidak boleh menerima atau menolak suatu teori dengan begitu saja tanpa suatu pemikiran yang cermat.

C. Metode Ilmiah Thomas Kuhn
Kuhn adalah salah seorang filosof sains yang menekankan pentingnya sejarah sains dalam perkembangan sains. Dengan sejarah sains, ilmuwan akan memahami kenyataan sains dan aktivitas sains yang sesunggnya. Namun demikian, ia tidak sependapat dengan pandangan yang mengemukakan bahwa perkembangan sains bersifat evolusioner dalam mendekat kebenaran dalam arti perkembangan sains itu bersifiat akumulatif. Hal ini terjadi karena bagi Kuhn perkembangan itu bersifat tidak sinambung dan tidak dapat diperbandingkan antara satu teori dengan teori lainnya. Sebaliknya Kuhn berpendapat bahwa perkembangan sains tersebut bersifat revolusioner karena bagi Kuhn sejarah itu bersifat tidak sinambung dan perkeinbangan sains ditandai dengan loinpatan lompatan revolusi ilmiah.
Revolusi ilmiah merupakan proses peralihan dari paradigma lama keparadignia baru. Dengan perubahan paradigma ini cara pandang ilmuwan dalam menentukan masalah, menetapkan metode dan teknik, dan penarikan kesimpulan terhadap kenyataan alarn akan berbeda dari sebelumnya.
Revolusi Ilmiali terjadi karena adanya persepsi ilmuwan terhadap kekurangan paradignia yang dianutnya dalam memecahkan masalah realitas alam. Semula ilmu menggunakan paradigma tertentu yang diyakini dapat membantu memecahkan masalah alamiah. Pada saat ini ilmuwan menjadikan paracligma tersebut sebagai pedoman dalam melakukan aktivitas ilmiahnya. Namun clemikian dalam perkembangannya, mereka menemukan anomali anomali sehingga timbul krisis kepercayaan ilmuwan terhadap validitas paradigma yang dipercaya. Karena itu, para ilmuwan mencari paradigma baru yang dapat membantu aktivitas yang lebih memadai dari paradigma sebelumnya. Setelah melalui kompetisi berbagai paradigma, kemudian diperoleh satu paradigma sebagai kesepakatan ilmuwan untuk dipakai dalarn kerja ilmialinya. Proses revolusi intelektual dan hubungannya diantara unsur/tahap perkembangan ilmu digambarkan seabagai berikut :






Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa (1) perkembangan sains menurut Kuhn bersifat revolusioner, (2) revolusi ilmiah merupakan proses peralihan dari paradigma lama keparadigma baru dalam diri para ilmuwan, dan (3) proses terjadinya revolusi ilmiah bermula dari digunakannya suatu paradigma dalam masa sains normal. Kemudian dalarn kenyataan terdapat anomali yang merupakan kesenjangan antara paradigma yang berlaku dengan fenomena. Dengan menumpuknya anomali kemudian timbul krisis yang mengakibatkan para ilmuwan meninggalkan paradigma lama dan menggunakan paradigma baru yang disepakati para ilmuwan.

D. Standar dalam menilai teori-teori ilmiah
Untuk membuktikan bahwa pandangan Popper tentang metode ilmiah lebih unggul di bandingkan metode aliran induktivis dan konvensionalis, Popper perlu memberi solusi terhadap persoalan yang menjadi perhatian sentral kedua aliran ini : Menunjukan cara yang lebih baik bagi teori-teori ilmiah mutahir dalam menghadapi bukti observasi dan eksperimen di bandingkan apa yang di lakukan oleh teori-teori di masa lalu atau teori yang berada di luar sains. Bagi Popper, sebuah teori di katakan lebih baik jika ia mengandung pelajaran tentang pembelajaran : bahwa induksi tidak terjadi, dan bahwa semua observasi merupakan teori yang terembisi ( Theory – impregnated ) sehingga memiliki kemungkinan salah.
Menurut Popper bahwa teori-teori ilmiah mutahir secara prinsif dapat di salahkan dan bertahan di hadapan observasi dan pengalaman yang berpotensi salah. Sebaliknya teori-teori yang bertentangan telah tertolak dengan bukti. Maka, dalam standar sains Popper, sebuah teori dapat masuk ke dalam wacana ilmiah ( yang di pertimbangkan secara serius ) jika dapat di buktikan; akan di buang jika telah tertolak; akan di terima sementara jika dapat lulus secara ujian. Menurut Popper, satu-satunya faktor yang membatasi adalah bukti yang berpotensi di tolak masih mungkin untuk di perbaiki, karena hasil dari sebuah observasi atau eksperimen bisa saja salah. Dengan adanya potensi pengamatan yang salah, kapan dan mengapa kita harus menerima laporan observasi dan menolak sebuah teori, bukan sebaliknya ?
Agar dapat menyediakan alternatif yang lebih baik bagi filsafat induksi dan konvensionalis, Popper harus mengemukakan sebuah teori penerimaan laporan observasi yang tidak akan bergantung pada induksi ataupun dogmatisme, dan tidak terbuka terhadap tuduhan kemunduran tak terbatas yang skeptis. Popper benar-benar telah menyediakan teori semacam itu.
Dalam pandangan Popper, menerima pernyataan dasar tidak boleh berdasarkan paksaan, tetapi lebih merupakan keputusan bebas dari pihak komunitas peneliti ilmiah. Secara khusus para ilmuwan mencoba untuk menemukan hasil-hasil observasi dan eksperimen yang tidak di buktikan dengan mudah misalnya, dengan mengulangi eksperimen. Sebagaimana di tekankan Popper, usaha untuk bersepakat dan menganggapbenar (sementara) hasil partikuler dapat di sebut dengan konvensi. Tetapi, konpensi semacam ini di pakai oleh ilmuwan karena konvensi ini mendorong penemuan kebenaran ilmiah. Popper membandingkan keputusan ini dengan keputusan juri : persetujuan juri bukan bukti kebenaran, tetapi merupakan keputusan berdasarkan prosedur yang di rancang untuk mendorong penemuan kebenaran.
Menurut Popper (1968:104) kita perlu bersepakat menyangkut pernyataan-pernyataan dasar : “Setiap pengujian sebuah teori, apakah menghasilkan bukti-bukti yang menguatkan atau memalsukan, harus berhenti pada suatu pernyataan dasar yang kita putuskan untuk di terima. Jika kita tidak sampai pada keputusan dan tidak menerima suatu pernyataan dasar, maka pembuktian itu tidak akan membawa pada kemajuan apapun . Tetapi jika di pertahankan dari sudut pandang logika, situasinya tidak pernah memaksa kita untuk berhenti pada suatu pernyataan dasar, atau meninggalkan pembuktian sama sekali kerena setiap pernyataan dasar pada gilirannya dapat kembali di buktikan, dengan menggunakan salah satu pernyataan dasar sebagai batu pijakannya, yang deduksi dengan bantuan suatu teori yang sedang dalam pembuktian. Prosedur ini tidak memiliki keberakhiran alami jika pembuktian akan mengarahkan kita pada suatu tempat dan ini berarti untuk sementara kita terpuaskan.
Cukup mudah untuk di lihat bahwa kita hanya sampai pada keadaan ini melalui sebuah prosedur yang akan membuat kita berhenti pada suatu jenis pernyataan yang sangat mudah di buktikan. Dengan ini,  maka berarti kita berhenti pada pernyataan menerima atau menolak berbagai penelitian yang memungkinkan kita mencapai kesepakatan. Dan jika pernyataan-pernyataan itu tidak bisa sampai pada kesepakatan, maka akan di teruskan dengan pembuktian, atau di ulang dari awal. Jika ini juga tidak membawa hasil, maka kita mungkin mengatakan bahwa pernyataan tersebut tidak dapat di buktikan secara intersubjek, atau bahwa kita sama sekali tidak sedang menangani peristiwa-peristiwa yang sedang di amati. Jika suatu hari nanti para pengamat ilmiah tidak bisa lagi mencapai kesepakatan tentang pernyataan dasar, maka ini sama dengan kegagalan bahasa sebagai alat komunikasi universal.
Konsep dasar dari menerima laporan pengamatan atau pernyataan-pernyataan dasar, akan menyesampingkan setiap asumsi bahwa para ilmuwan mengambil kesimpulan dengan induksi. Tentu, Popper, dengan pandangannya tentang psikologi belajar, akan mengatakan bahwa hal semacam itu tidak akan terjadi, meskipun ia mendukung bahwa pengalaman subyektif dari ilmuwan memainkan peran dalam pernyataan awal dan penerimaan yang perlahan-lahan terhadap sebuah laporan.


BAB III
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Kesimpulan
Metode ilmiah terdiri atas serangkaian kegiatan yang berupa : pengenalan dan perumusan masalah, pengumpulan informasi yang relevan, perumusan hipotesis, pelaksanaan eksperimen dan publikasi atau penyebaran informasi.
Ada dua asas yang mendasari teori metode ilmiah, yaitu : Pertama, penyelidikan harus fokus pada satu persoalan; Kedua, usaha untuk menemukan sebuah solusi harus merupakan usaha untuk menggabungkan dugaan yang berani dengan kritisisme yang tajam. Kedua asas ini berasal dari pandangan Popper tentang hakeket belajar, terutama hakekat berpikir yang kreatif.
Sikap positif terhadap penolakan ini memiliki dua aspek. Pertama, adalah pelarangan untuk menghindari penolakan yang Kedua, adalah rekomendasi untuk belajar sebanyak mungkin dari penolakan.
Dalam kegiatan ilmiah Popper merekomendasikan langkah-langkah sebagai berikut, yaitu : Pertama-tama kita harus fokuskan pada masalah, mengembangkan teori alternatif untuk memecahkannya, dan baru kemudian mengembangkan eksperimen untuk membuktikan mana teori yang lebih baik.
Sedangkan paradigma yaitu pandangan yang mendasar para ilmuwan tentang apa yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajasri oleh suatu cabang ilmu pengetahuan (discipline). Paradigma membantu para ilmuwan dalam merumuskan apa yang harus dipelajari, persoalan-persoalan apa yang mesti dijawabnya, bagaimana seharusnya menjawabnya, dan aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menafsirkan, memberi makna atas informasi yang dikumpulkan dalam rangka menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Revolusi ilmiah merupakan proses peralihan dari paradigma lama keparadignia baru. Dengan perubahan paradigma ini cara pandang ilmuwan dalam menentukan masalah, menetapkan metode dan teknik, dan penarikan kesimpulan terhadap kenyataan alarn akan berbeda dari sebelumnya.
Dalam hal standar menilai teori-teori ilmiah Popper menyatakan, bahwa sebuah teori di katakan lebih baik jika ia mengandung pelajaran tentang pembelajaran; sebuah teori dapat masuk kedalam wacana ilmiah jika dapat di buktikan; selanjutnya dalam menerima pernyataan dasar tidak boleh berdasarkan paksaan, tetapi lebih merupakan keputusan bebas dari pihak komunitas peneliti ilmiah.

B. Rekomendasi
Belajar dari kritisisme yang di kembangkan oleh Popper dan revolusi ilmiah dari Thomas Kuhn, sikap positif terhadap penolakan dan belajar sebanyak mungkin dari penolakan, kita selayaknya terutama yang bergerak dalam bidang penelitian, pendidikan, dan akademisi harus siap di kritik dan juga siap mengkritik. Selain itu belajar dari penolakan pun bukan sesuatu yang jelek, tetapi justru akan memacu kita untuk menghasilkan yang lebih baik.
Disini kita akan di uji “ Apabila kita siap untuk berbeda pendapat “. Perbadaan pendapat bukan sesuatu yang di haramkan, tetapi justru merupakan suatu rahmat. Kata sebuah pepatah, benturan pendapat itu akan memercikan kebenaran, asalkan tujuannya tidak sekedar berbeda pendapat, melainkan untuk bersama-sama mencari kebenaran.














DAFTAR FUSTAKA

Anna  Poedjiadi, 2001, Pengantar Filsafat Ilmu Bagi Pendidik, Bandung: Yayasan Cendrawasih.
George Ritzer, 2003, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Popper, R. Karl, 1961, The Logic of Scientific Discovery, New York: Science Editions. Inc.
Kumpulan Sari Kuliah Filsafat Ilmu, 2003. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
M, Arief Achmad, 2001, Revolusi Intelektual dan Dampaknya, Bandung: Makalah.
Thomas Kuhn. 1970, The Studture of Scientific Revolution. Chicago: The University of Chicago Press.
Uyoh Sadulloh, 2003, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Alfabeta.














KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Illahi Robbi, karena berkat Taupik dan Hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ Metode Ilmiah ditinjau dari Filsafat Ilmu”.
Melalui makalah ini penulis bermaksud mengajak para pembaca untuk mengkaji Teori Metode Ilmiah dan standar dalam menilai teori-teori ilmiah di mana teori-teori tentang metode ilmiah banyak mendapat perhatian dari para peneliti dan akademisi.
Penulis menyadari, bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu saran-saran yang bersifat membangun untuk bahan perbaikan sangat penulis harapkan.
Tersusunnya makalah ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih, terutma kepada Ibu Prof. Dr. Hj. Rochiati Wiriaatmadja, M.A. selaku Dosen Filsafat Ilmu yang telah memberikan dorongan dan bimbingan dalam penyusunan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa S2 PPS UPI Bandung program studi pendidikan IPS Atas kerja samanya yang terjalin dengan baik. Semoga apa yang telah di berikan kepada penulis menjadi amal baik yang akan mendapat balasannya. Amin.  

DIMENSI KAJIAN FILSAFAT ILMU


1. Pendahuluan

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafat.  Pada perkembangan selanjutnya, ilmu terbagi dalam beberapa disiplin, yang membutuhkan pendekatan, sifat, objek, tujuan dan ukuran yang berbeda antara disiplin ilmu yang satu dengan yang lainnya (Semiawan, 2005).
Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia (The Liang Gie, 2004). Sedangkan menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu bertujuan membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan nilai dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia untuk lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis maupun aksiologi.
Tujuan makalah ini adalah membahas tentang dimensi kajian filsafat ilmu yang terbagi menjadi tiga poin utama, sehingga diharapkan dapat memahami pentingnya ilmu dalam kehidupan umat manusia.

2. Pembahasan
Ketika kita membicarakan tahap-tahap perkembangan pengetahuan tercakup pula telaahan filsafat yang menyangkut pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Pertama, dari segi ontologis, yaitu tentang apa dan sampai di mana yang hendak dicapai ilmu. Ini berarti sejak awal kita sudah ada pegangan dan gejala sosial. Dalam hal ini menyangkut yang mempunyai eksistensi dalam dimensi ruang dan waktu, dan terjangkau oleh pengalaman inderawi. Dengan demikian, meliputi fenomena yang dapat diobservasi, dapat diukur, sehingga datanya dapat diolah, diinterpretasi, diverifikasi, dan ditarik kesimpulan. Telaah yang kedua adalah dari segi epistimologi, yaitu meliputi aspek normatif mencapai kesahihan perolehan pengetahuan secara ilmiah, di samping aspek prosedural, metode dan teknik memperoleh data empiris. Kesemuanya itu lazim disebut metode ilmiah, meliputi langkah-langkah pokok dan urutannya, termasuk proses logika berpikir yang berlangsung di dalamnya dan sarana berpikir ilmiah yang digunakannya.  Telaah ketiga ialah dari segi aksiologi yaitu terkait dengan kaidah moral pengembangan penggunaan ilmu yang diperoleh.
Berikut ini digambarkan batasan ruang lingkup atau bidang garapan tahapan Ontologi, Epistimologi,  dan Aksiologi

2.1. Ontologi

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis yang terkenal diantaranya Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum mampu membedakan antara penampakan dengan kenyataan.

2.1.1. Pengertian Ontologi
a. Menurut Bahasa :
Ontologi berasal dari Bahasa Yunani, yaitu on / ontos = being atau ada, dan logos = logic atau ilmu.
Jadi, ontologi  bisa diartikan :
The theory of being qua being (teori tentang keberadaan sebagai keberadaan), atau  Ilmu tentang yang ada.

b. Pengertian menurut istilah :
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality yang berbentuk jasmani / kongkret maupun rohani / abstrak (Bakhtiar, 2004).


2.1.2. Term ontologi
Term ontologi pertama kali diperkenalkan oleh Rudolf Goclenius pada tahun1636 M untuk menamai teori tentang hakikat yang ada yang bersifat metafisis. Dalam perkembangan selanjutnya Christian Wolf (1679 – 1754 M) membagi Metafisika menjadi 2 yaitu :


a. Metafisika Umum : Ontologi
Metafisika umum dimaksudkan sebagai istilah lain dari ontologi. Jadi metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
b. Metafisika Khusus : Kosmologi, Psikologi, Teologi (Bakker, 1992).

2.1.3. Paham–paham dalam Ontologi
Dalam pemahaman ontologi dapat diketemukan pandangan-pandangan pokok/aliran-aliran pemikiran antara lain: Monoisme, Dualisme, Pluralisme, Nihilisme, dan Agnotisisme.
a. Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua, baik yang asal berupa materi ataupun rohani. Paham ini kemudian terbagi kedalam 2 aliran :
1). Materialisme
Aliran materialisme ini menganggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani. Aliran pemikiran ini dipelopori oleh Bapak Filsafat yaitu Thales (624-546 SM). Dia berpendapat bahwa sumber asal adalah air karena pentingnya bagi kehidupan. Aliran ini sering juga disebut naturalisme. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta. Yang ada hanyalah materi/alam, sedangkan jiwa /ruh tidak berdiri sendiri. Tokoh aliran ini adalah Anaximander (585-525 SM).  Dia berpendapat bahwa unsur asal itu adalah udara dengan alasan bahwa udara merupakan sumber dari segala kehidupan. Dari segi dimensinya paham ini sering dikaitkan dengan teori Atomisme. Menurutnya semua materi tersusun dari sejumlah bahan yang disebut unsur. Unsur-unsur itu bersifat tetap tak dapat dirusakkan. Bagian-bagian yang terkecil dari itulah yang dinamakan atom-atom. Tokoh aliran ini adalah Demokritos (460-370 SM). Ia berpendapat bahwa hakikat alam ini merupakan atom-atom yang banyak jumlahnya, tak dapat di hitung dan amat halus. Atom-atom inilah yang merupkan asal kejadian alam.
2). Idealisme
Idealisme diambil dari kata idea, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Idelisme sebagai lawan materialisme, dinamakan juga spiritualisme. Idealisme berarti serbacita, spiritualisme berarti serba ruh.
Aliran idealisme beranggapan bahwa hakikat kenyataan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang.
Tokoh aliran ini diantaranya :
- Plato (428 -348 SM) dengan teori ide-nya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada dialam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari setiap sesuatu.
- Aristoteles (384-322 SM), memberikan sifat keruhanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide itu sebagai sesuatu tenaga yang berada dalam benda-benda itu sendiri dan menjalankan pengaruhnya dari dalam benda itu.
- Pada Filsafat modern padangan ini mula-mula kelihatan pada George Barkeley (1685-1753 M) yang menyatakan objek-objek fisis adalah ide-ide.
- Kemudian Immanuel Kant (1724-1804 M), Fichte (1762-1814 M), Hegel (1770-1831 M), dan Schelling (1775-1854 M).

b. Dualisme
Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari 2 macam hakikat sebagai asal sumbernya yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit.
Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern. Ia menamakan kedua hakikat itu dengan istilah dunia kesadaran (ruhani) dan dunia ruang (kebendaan).
Tokoh yang lain : Benedictus De spinoza (1632-1677 M), dan Gitifried Wilhelm Von Leibniz (1646-1716 M).

c. Pluralisme
Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Lebih jauh lagi paham ini menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur.
Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang menyatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara.
Tokoh modern aliran ini adalah William James (1842-1910 M) yang terkenal sebagai seorang psikolog dan filosof Amerika. Dalam bukunya The Meaning of  Truth, James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Apa yang kita anggap benar sebelumnya dapat dikoreksi/diubah oleh pengalaman berikutnya.

d. Nihilisme
Nihilisme berasal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Doktrin tentang nihilisme sudah ada semenjak zaman Yunani Kuno, tokohnya yaitu Gorgias (483-360 SM) yang memberikan 3 proposisi tentang realitas yaitu: Pertama, tidak ada sesuatupun yang eksis, Kedua, bila sesuatu itu ada ia tidak dapat diketahui, Ketiga, sekalipun realitas itu dapat kita ketahui ia tidak akan dapat kita beritahukan kepada orang lain. Tokoh  modern aliran ini diantaranya: Ivan Turgeniev (1862 M) dari Rusia dan Friedrich Nietzsche (1844-1900 M), ia dilahirkan di Rocken di Prusia dari keluarga pendeta.

e. Agnotisisme
Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun ruhani. Kata Agnoticisme berasal dari bahasa Greek yaitu Agnostos yang berarti unknown A artinya not Gno artinya know. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti: Soren Kierkegaar (1813-1855 M), yang terkenal dengan julukan sebagai Bapak Filsafat Eksistensialisme dan Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof Jerman, serta Jean Paul Sartre (1905-1980 M), seorang filosof dan sastrawan Prancis yang atheis (Bagus, 1996).

2.2. Epistimologi
Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Dalam pembahasan filsafat, epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. Epistemologi adalah teori pengetahuan, yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. Ketika kita membicarakan epistemologi, berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya, cara, atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi.

2.2.1. Pengertian Epistemologi
Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).
Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.
Pengertian lain, menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun S.Suriasumantri, 2005).
Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan, P.Hardono Hadi menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengendaian dan dasarnya, serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Sedangkan D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
Selanjutnya, pengertian epistemologi yang lebih jelas diungkapkan Dagobert D.Runes. Dia menyatakan, bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan. Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan”..

2.2.2. Ruang Lingkup Epistemologi

M.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat, sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok; masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat perhatian yang layak.
Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan, bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik, seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman, sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran, ontologi sebagai objek pemikiran, sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran, sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai, baik yang bercorak positif maupun negatif. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi.

2.2.3. Objek Dan Tujuan Epistemologi

Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. Objek material adalah sarwa-yang-ada, yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan, hakikat alam dan hakikat manusia. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya, sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwa-yang-ada).
Objek epistemologi ini menurut Jujun S.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan, sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Tanpa suatu sasaran, mustahil tujuan bisa terealisir, sebaliknya tanpa suatu tujuan, maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali.
Tujuan epistemologi menurut Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan, apakah saya dapat tahu, tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. Hal ini menunjukkan, bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari, akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu, yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.

2.2.4. Landasan Epistemologi

Kholil Yasin menyebut pengetahuan dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge), sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa, juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari, atau pengalaman sehari-hari. Pada bagian lain, disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah, juga sering disebut ilmu dan sains. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah, sedangkan substansisnya relatif sama, kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan, misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut, sumber-sumbernya, batas-batasanya, dan sebagainya.
Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah, karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sesuatu fenomena pengetahuan logis, tetapi tidak empiris, juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan, melaikan termasuk wilayah filsafat. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan, yaitu rasio dan fakta secara integratif.

2.2.5. Hubungan Epistemologi, Metode dan Metodologi

Lebih jauh lagi Peter R.Senn mengemukakan, “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. Secara sederhana dapat dikatakan, bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu, maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual prosedur tersebut. Implikasinya, dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode.
Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode, kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan, sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Padahal mestinya dia harus benar-benar memahami, bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme, sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime, sesuatu yang ditentukan oleh yang lain), sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Dengan demikian, metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi.
Oleh karena itu, dapat dijelaskan urutan-urutan secara struktural-teoritis antara epistemologi, metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi, dilanjutkan dengan merinci pada metodologi, yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat, maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Filsafat mencakup bahasan epistemologi, epistemologi mencakup bahasan metodologis, dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. Jadi, metode merupakan perwujudan dari metodologi, sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat.

2.2.6. Hakikat Epsitemologi
Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan, membedakan cabang-cabangnya yang pokok, mengidentifikasikan sumber-sumbernya dan menetapkan batas-batasnya. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi, tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. Pandangan yang lebih ekstrim lagi menurut Kelompok Wina, bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat, melainkan termasuk dalam kajian psikologi. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia, the workings of human mind. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia, karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. Kemudian jika diingat, bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu, maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia, terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain, kecuali psikologi, padahal realitasnya banyak sekali.
Oleh karena itu, epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat, walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik, justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis.
Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Honer dan Thomas C.Hunt yang menilai, epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. Sejak semula, epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit, sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri, sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. Selain itu, pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja, maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita.
Epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan, apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidang-bidangnya; apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui; apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui; dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Tidak semua objek mesti dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar, sehingga tidak perlu diketahui, meskipun memungkinkan untuk diketahui. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri, sehingga tidak mungkin bisa diketahui.
Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya, berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Sebaliknya, ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama, baruk ditarik kesimpulan secara umum, berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh, ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang, yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis, sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia, karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek, jika dilihat dari kepentingan jangka panjang, maka tindakannya itu justru merugikan.
Pada bagian lain dikatakan, bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran, sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam, yakni pikiran dan indera. Oleh sebab itu, epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional, sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. Hal ini juga bisa dikatakan, bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi, sedangkan usaha membuktikan berkaitan dengan induksi. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah.
Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi, maka menimbulkan pemahaman, bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme, atau deduktif dengan induktif), dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya, karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali, sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius.

2.2.7. Pengaruh Epistemologi
Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Suatu peradaban, sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia, dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh, ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu—dipandang dari keyakinan, kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara, karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam, sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains, tetapi jika dilacak lebih jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.
Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis, yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu, perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu, dan sebagainya.

2.3 . Aksiologi
2.3.1. Pengertian Aksiologi
Menurut Kamus Filsafat, Aksiologi Berasal dari bahasa Yunani Axios (layak, pantas) dan Logos (Ilmu). Jadi aksiologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari nilai. Jujun S.Suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.
Aksiologi berkaitan dengan kegunaan dari suatu ilmu, hakekat ilmu sebagai suatu kumpulan pengetahuan yang didapat dan berguna untuk kita dalam menjelaskan, meramalkan dan menganalisa gejala-gejala alam. (Cece Rakhmat, 2010)
Dari pendapat diatas dapat dikatakan bahwa Aksiologi merupakan  ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan.
2.3.2. Penilaian Aksiologi
Bramel (Jalaluddin dan Abdullah,1997) membagi aksiologi dalam tiga bagian. Pertama, moral conduct, yaitu tindakan moral. Bidang ini melahirkan disiplin khusus yakni etika. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan. Didalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta.
Bagian kedua dari aksiologi adalah esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan. Estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya.
Mengutip pendapatnya Risieri Frondiz (Bakhtiar Amsal, 2004), nilai itu objektif ataukah subjektif adalah sangat tergantung dari hasil pandangannya yang muncul dari filsafat. Nilai akan menjadi subjektif, apabila subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi tolak ukur segalanya; atau eksistensinya, maknanya dan validitasnya tergantung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian tanpa mempertimbangkan apakah ini bersifat psikis ataupun fisik. Dengan demikian nilai subjekif akan selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan, intelektualitas dan hasil nilai subjektif akan selalu mengarah pada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Selanjutnya nilai itu akan objektif, jika tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Nilai objektif muncul karena adanya pandangan dalam filsafat tentang objektivisme. Objektivisme ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, sesuatu yang memiliki kadar secara realitas benar-benar ada (Bakhtiar Amsal, 2004).
Bagian ketiga dari Aksiologi adalah , sosio-political life, yaitu kehidupan social politik yang akan melahirkan filsafat sosiopolitik. Manfaat dari ilmu adalah sudah tidak terhitung banyaknya manfaat  dari ilmu bagi manusia dan makhluk hidup secara keseluruhan. Mulai dari zamannya Copernicus sampai Mark Elliot Zuckerberg , ilmu terus  berkembang dan memberikan banyak manfaat bagi manusia.  Dengan ilmu manusia bisa sampai ke bulan, dengan ilmu manusia dapat mengetahui bagian-bagian tersembunyi dan terkecil dari sel tubuh manusia. Ilmu telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi peradaban manusia, tapi dengan ilmu juga manusia dapat menghancurkan peradaban manusia yang lain.
Mengutip pendapatnya Francis Bacon dalam Suriasumantri (1999) yang mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah kekuasaan”. Apakah kekuasaan itu akan merupakan berkat atau malapetaka bagi umat manusia, semua itu terletak pada system nilai dari orang yang menggunakan kekuasaan tersebut.  Ilmu itu bersifat netral, ilmu tidak mengenal sifat baik atau buruk, dan si pemilik pengetahuan itulah yang harus mempunyai sikap.
Selanjutnya  Suriasumantri juga mengatakan bahwa kekuasaan ilmu yang besar ini mengharuskan seorang ilmuwan mempunyai landasan moral yang kuat.
Untuk merumuskan aksiologi dari ilmu,  Jujun S Sumantri merumuskan kedalam 4 tahapan yaitu:
- Untuk apa ilmu tersebut digunakan?
- Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral?
- Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?
- Bagaimana kaitan antara teknik procedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral / professional.
Dari apa yang dirumuskan diatas dapat dikatakan bahwa apapun jenis ilmu yang ada, kesemuanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai moral yang ada di masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana. Bagi seorang ilmuwan, nilai dan norma moral yang dimilikinya akan menjadi penentu apakah ia sudah menjadi ilmuwan yang baik atau belum.

3. Kesimpulan
Setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Secara detail, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik, justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan.
Keterkaitan antara ontologi, epistemologi, dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain, sebab ketiga-tiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran.
Demikian juga, setiap jenis pengetahuan selalu mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Ketiga landasan ini saling berkaitan; ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu, epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Pembahasan mengenai epistemologi  harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi. Secara jelas, tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Dalam membahas dimensi kajian filsafat ilmu didasarkan model berpikir sistemik, sehingga harus senantiasa dikaitkan.





DAFTAR PUSTAKA

A.M. Saefuddin, et.al. 1991.  Desekularisasi Pemikiran: Landasan Islamisasi. Bandung: Mizan, hal. 35.

Abdullah , Muhammad Husein, 1990. Ad-Dirosah fi al-fikry-al Islamy. Aman: Dar al-Bayariq haal. 74.

Abdullah, Amin. 2005. Desain Pengembangan Akademik IAIN Menuju UIN SunanKalijaga dari Pendekatan Pola Dikotonomis-Akademik ke Arah Integratif-Interdisciplinary dalam Zainal Abidin Bagir, et.al,Integrasi Ilmu dan Agama Interpretasi dan Aksi. Bandung: Mizan.

Amin Abdullah. 2006.Pendekatan Integratif- Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Amsal, Bakhtiar. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Asy’ari, H. M dkk. 1992.Filsafat. Yogyakarta: RSFI.
Azra,  Azyumardi. 1993. Tradisionalisme Nasr: Eksposisi dan Refleksi. Ulumul Qur”an, no. 4, vol. IV.
Bagus Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Bakhtiar , Amsal. 2006. Filsafat Ilmu. Jakarta:PT Raja Grafindo Persada.

Bakker, Anton.1992. Ontologi Metafisika Umum. Yogyakarta: Pustaka Kanisius

D.W. Hamlyn. History of Epistemology. in Pauld Edwards, editor in chief, The Encyclopedia of Philosophy, vol. 3 (New York and London, Macmillan Publishing Co., 1972) hal. 8-38.

Gruber, T. 2008.Ontology. Springer-Verlag. ISBN 978-0-387-49616-0.

Hadi, P. Hardono. 1994. Epistemologi: Filsafat Pengetahuan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Honer, Stanley M. dan Hunt, Thomas C. 1987. Metode dalam Mencari
  Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia,

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 1997. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama.

Jujun S. Suriasumantri. 2005 Filsafat Ilmu : Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar Harapan.

M. Arifin. 1991. Psikologi Dakwah: Suatu Pengantar Studi. Jakarta: Bumi Aksara, hal. 6.

Maritain, Jacques. 1959. The Degrees of Knowledge. New York: Scribner Pengetahuan:Rasionalisme, Empirisme, dan Metode Keilmuan, dalam Jujun S.Suryasumantri [penerjemah].

Peter R. Senn, Struktur Ilmu, dikutip dari buku Social Science and its Methods (Holbrook, 1971), hal, 9-35.

Rakhmat Cece. 2010. Membidik Filsafat Ilmu. Bandung.
Runes, Dagobert D. 1971. Dictionary of Philosophy. New Jersey: Adams and Co.
Sahakian, W.S dan Mabel Lewis Sahakian. 1965. Realms of Philosophy. Schenkman Pub Co.

Semiawan, C. dkk. 2005. Panorama Filsafat Ilmu Landasan Perkembangan Ilmu Sepanjang Zaman. Jakarta : Mizan Publika.

Surasumantri, Jujun, S. 1999.  Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

The Liang Gie. 2004. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta : Liberty.

Makalah Filsafat Ilmu

BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Fenomena perkembangan abad mutakhir menghendaki adanya suatu sistem pengetahuan yang komprehensif dengan demikian berdampak pada ilmu pengetahuan yang berkembang terus menerus tanpa berhenti seiring dengan perkembangan pengetahuan manusia. Perkembangan pengetahuan manusia tentang kehidupan, alam semesta dan hal-hal yang bersifat abstrak merupakan tantangan dan tujuan dari pencarian kebenaran sejati.
Perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan manusia yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengatahuan, kecerdasan, keterampilan, kemampuan komunikasi, dan kesadaran akan ekologi lingkungan dengan tujuan menjadikan manusia tidak hanya berintelektual tingggi, tetapi juga memilki akhlak mulia.
Hal-hal demikian menjadikan seseorang untuk berfikir secara mendalam, merenung, menganalisis dan menguji coba, serta merumuskan sesuatu kesimpulan yang dianggap benar sehingga dengan melakukan kegiatan terebut dengan tidak sadar sudah melakukan kegiatan berfilsafat, maka dari itu ilmu lahir dari filsafat atau dapat dikatakan filsafat merupakan induk dari sebuah ilmu, oleh karena itu filsafat mempunyai kesamaan dan perbedaan dengan ilmu. Adapun pengertian dari filsafat dapat dilihat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu. Filsafat merupakan sesuatu yang digunakan untuk mengkaji hal-hal yang ingin dicari kebenaranya dengan menerapkan metode-metode filsafat.
 B.  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat disimpulkan rumusan masalahnya yaitu:
1. Apa pengertian dari filsafat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu?
2. Apa dasar-dasar filsafat sebagai ilmu?
C.  TUJUAN
Makalah ini ditulis dengan tujuan untuk:
1.  Mengetahui pengertian dari filsafat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu.
2.  Mengetahui apa dasar-dasar filsafat sebagai ilmu.

D.  MANFAAT
Manfaat dari makalah ini yakni:
1.  Manfaat teoritis
Makalah ini dapat melengkapi kajian pustaka dari pengertian filsafat
2.  Manfaat praktis
Menambah wawasan dan pengetahuan penulis dan pembaca berkenaan dengan materi pengertian filsafat.

BAB II
PEMBAHASAN

1.      Pengertian Filsafat
Pengertian filsafat menurut Rustanto (2005) mengungkapkan bahwa tidak ada gunanya mendefinisikan tentang filsafat, karena pertanyaan “Apa itu filsafat?” sudah merupakan pertanyaan filosofis, berkenaan dengan itu daripada mendefinisikan tentang filsafat, maka lebih produktif menanyakan mengenai apa yang dicari filsafat. Menurut Keraf (2001:13-14) menunjukan bahwa pertanyaan pertama kali muncul pada saat seseorang mempelajari filsafat adalah “Apa filsafat?” pengajuan pertanyaan ini menandakan seseorang sedang berfilsafat. 
Filsafat dikembangkan oleh bangsa Yunani diberbagai kota. Masyarakat Yunani mengembangkan Filsafat dikarenakan adanya beberapa faktor yakni pertama, adanya perubahan pada masyarakat Yunani pada abad ke-6 SM yakni dari masyarakat agraris menjadi masyarakat yang hidup dari sektor perdagangan internasional yang berdampak muncul puluhan kota yang mandiri contohnya Athena. Kedua, kondisi tersebut mendukung perkembangan rasionalitas yang baru karena adanya kemakuran sehingga menciptakan iklim yang kondusif bagi manusia untuk berpikir lebih baik guna mencari jawaban atas berbagai masalah. Ketiga, berkembangya bentuk kenegaraan demokratis sehingga orang bisa berpikir lebih bebas dalam menganalisis dan atau mencari tahu jawaban atas masalah yang dihadapi maupun yang menarik baginya. Maka dari itu, kata Filsafat  berasal dari bahasa Yunani. Adapun pengertian dari filsafat dapat dilihat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu.
a.     Pengertian filsafat secara etimologis
Kata Filsafat  berasal dari bahasa Yunani yang merupakan kata majemuk Philosophia atau Philosophos. Kata tersebut terdiri dari dua kata yakni philos (philein) dan Sophia. Kata Philos berarti cinta (love), sedangkan Sophia atau sophos berarti pengetahuan, kebenaran, hikmat atau kebijaksanaan (wisdom). Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta akan pengetahuan, kebenaran ayau kebijaksanaan. Makna cinta yang seluas-luasnya menganduk arti keinginan secara mendalam, atau bahkan kehausan luar biasa untuk mendapatkan pengetahuan atau kebijaksanaan sampai keakar-akarnya atau pada taraf yang radikal. Suhartono (2005:50-51) kata cinta (Philos) dan kebijaksanaan (sophia) bisa bermakna secara terus-menerus menyatu dengan pengetahuan yang mengandung nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan guna mewujudkan kebijaksanaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Gagasan ini terkait dengan sasaran orang berfilsafat yakni mencari pengetahuan, aneka gagasan/ide, atau konsep yang mendasar kesemuanya berfungsi teoritis praktis bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara(Budianto, 2005).
Kata filsafat juga terdapat pada bahasa Arab yakni falsafah atau falsafat. Selain itu ada juga dari negara India yang memakai kata dharsana yang bermakna memandang, memperhatikan, merenungkan, memahami diteruskan dengan kontemplasi, kemudian membentuk persepsi untuk memberi kesimpulan, visi dan keyakinan (Pendit, 2005:2). Berfilsafat akan terkait dengan kegiatan merenung atau kontemplatif guna mendapatkan kesimpulan yang benar, maka secara etimologi kata filsafat dalam bahasa Yunani, maupun Arab begitu juga dari India (dharsana) pada intinya memiliki makna yang sama yakni aktifitas berfikir kontemplatif guna mendapatkan kebenaran yang hakiki dalam konteks menjadikan manusia sebagai makhluk yang bijaksana. 
b.    Pengertian filsafat secara terminologis
Pemahaman pengertian filsafat secara terminologis sangat beragam tergantung pada sudut pandang orang ang melihatnya. Contohnya pengertian filsafat secara terminologi dari Poedjawiatna (1982) yang mngemukakan filsafat adalah ilmu yang mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.

Karakterisik flsafat:
1)      Filsafat adalah bagian dari pengetahuan yang berkaitan dengan hakikat, prinsip, dan asas dari seluruh realitas/objek materi filsafat.
2)      Ada objek materi filsafat, bisa ada skala (nyata), niskala (tidak nyata).
3)      Pengetahuan filsafat didapat dari aktifitas akal budi dengan menggunakan pemikiran rasional, pemahaman, penafsiran, spekulasi, penilaian kritis, logis, menyeluruh, dan sistematis.
4)      Filsafat sebagai ilmu bertujuan mencari kebijaksanaan melalui penggalian kebenaran secara mendalam yang menyangkut sebab-sebab pertama ataupun sebab-sebag terakhir.
5)      Filsafat merupakan pertanyaan bukan pernyatan yang tak pernah berahir ataupun dapat dikatakan seni kritik atau ilmu kritis guna membangun suatu gudang teoritis yang menjadikan manusia insan yang philosopos.
Gabungan antara akal budi, panca indra, kesangsian (keraguan), keheranan, kesadaran akan keterbatasan, rasa kagum, ketidak puasan, kemampuan mengambil jarak dengan objek, dan keingintahuan (hasrat bertanya) yang tiadk pernah pudar mengakibatkan manusia secara terus-menerus ingin mengetahui, berfikir, belajar bahkan berfilsafat. Karena itu, tepat gagasan dari aristoteles bahwa mengetahui, berpikir, berjalan, dan berfilsafat adalah bagian integral dari kehidupan manusia (Riyanto, 2004:11).
c.     Pengertian filsafat sebagai pandangan hidup
Seseorang yang acap/bijaksana harus memiliki anutan atas suatu filsafat (Woodhouse, 2000). Hal ini berarti bahwa dia memiliki suatu pandangan, seperangkat pedoman hidup atau nilai-nilai yang meresapinya adalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara guna mewujudkan tujuan hidup yang diidealkan. Pemaknaan filsafat dapat diterima berkenaan filsafat sebagai hasil olah pikir yang kritis, interogatif, dan reflektif, memang berwujud ide, gagasan atau teori dalam konteks pemaknaan akan apa yang ada di kekinian, dikelampauan, dan sekaligus juga mimpi-mimpi masa depan.  
Gagsan ini dapat ditunjukan pada Pancasila yang menurut pendapat Ismail (1999) Pancasila adalah refleksi kritis para pendiri republik terhadap dinamika sejarah dan kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan politis masyarakat Indonesia yang terjajah yang bercorak multikultural, tanpa mengabaikan gagasan lain yang berkembang pada lingkungan global, misalnya nasionalisme, kapialisme, sosialisme, marxisme, Islam, dll.
Contoh lain dalam filsafat adalah Upanisad dalam agama Hindu yang berartikan pada kajian reflektif tentang ketuhanan (Brahman) yang transendal dan berimanensi di dalam makrokosmos dan mikrokosmos (manusia), yakni berwujud roh kehidupan (Atman) (Tatib, 1994: Zaehner, 2004). Gagasan ini melahirkan filsafat tat twam asi-persaudaraan universal yang berlanjut pada filsafat ahimsa, yakni tidak saling menyakiti antara manusia (makhluk hidup) dalam pikiran, perkataan, dan tindakan sosial. Kemudian ajaran Syeh Siti Jenar tentang Tuhan, jiwa, akal, jalan kehidupan (Mulkan, 2004, Sobary, 2004). Gagasan Upanisad dan Syeh Siti Jenar yang terkait dengan filsafat manunggaling kawula dan Gusti sangat kuat pengaruhnya pada masyarakt Jawa hal ini membentuk filsafat Jawa atau Ilmu Kejawen.
d.    Pengertian filsafat sebagai ilmu
Filsafat sebagai ilmu emiliki beberapa persyaratan antaralain dasar ontologis, epistimologis, dan aksiologis. Menurut Prawironegoro (2010:19) ilmu pengetahuan merupakan kumpulan pengetahuan yang disusun secara sistematis yang memberikan jawaban atas pertanyaan: (1) ontologi yakni “Apa” yang ingin diketahui, (2) epistimologi yakni “Bagaimana” cara memperoleh pengetahuan, dan (3) aksiologis yakni untuk apa “Kegunaan” dari ilmu pengetahuan bagi kehidupan umat manusia.

2.      Dasar-Dasar Filsafat Sebagai Ilmu
a.    Dasar ontologi
1)   Objek materi.
Objek filsafat pertama-tama adalah objek materi. Objek materi adalah sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran, sesuatu yang diselidiki atau sesuatu yang dipelajari oleh filsafat, yang sangat luas yakni mencakup segala realitas, kenyataan atau sesuatu yang ada atau mungkin ada baik yang nyata (Skala) maupun yang abstrak (Niskala).  Verhak dan Imam (1999) menunjukan bahwa objek materi filsafat dibagi menjadi tiga (3) yakni manusia, alam dan Tuhan. Ketiganya dilihat dari hakikat yang skala (nyata) dan niskala (tidak tampak). Manusia dan tindakannya beserta hasil tindakannya dan alam merupakan objek filsafat yang nyata (Skala) sedangkan Tuhan termasuk objek materi filsafat yang niskala.
2)   Objek formal filsafat
Objek formal yakni segi khusus, aspek, tema, prespektif atau prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengkaji objek materi (Leahy, 1981). Objek Formal merupakan cara memandang, cara meninjau yang dilakukan oleh seseorang peneliti terhadap objek materialnya beserta prinsip-prinsip yang digunakannya (Mudhofir, 2002:22). Jadi, objek formal filsafat adalaj segi khusus, aspek, tema, persepektif, atau prinsip-prinsip yang digunakan dalam mengkaji objek materi.
3)   Persamaan dan perbedaan antara Filsafat dengan Ilmu
Berkenaan dengan itu filsafat dengan ilmu bisa mempunyai obyek material yang sama, namun yang membedakannya adalah objek formalnya. Contohnya biologi dan filsafat, sama-sama mempelajari manusia sbagai objek materi, tetapi yang membedakannya adalah objek formalnya yakni biologi mempelajari manusia dalam konteks fungsi-fungsi organ tubuh sedangkan filsafat mempertanyakan hal yang lebih mendasar contohnya apa hakikat manusia. Berkenaan hal itu tidak semua masalah dapat dikaji secara filsafat, melainkan memerlukan suatu persyaratan yakni: (1) besifat umum, (2) tidak menyangkut fakta, (3) bersangkutan dengan nilai, (4) bersifat kritis, (5) bersifat sinoptis, (6) bersifat implikatif.
Pada dasarnya permasalahan dalam filsafat dapat dijawab dengan menggunakan pemikiran rasional adapun tujuan dari berpikir rasional yakni mendapatkan kebenaran atas suatu realitas. Berfikir filsafat harus memenuhi sejumlah persyaratan yaitu: (1) bersifat rasional radikal, mencari kejelasan atau kebenaran yang bersifat esensial (the first causes dan teh last causes) dan non-fragmentaris atau bercorak holistika, dan menyangkut suatu realitas atau hal-hal yang mengacu pada ide-ide dasar.
b.      Dasar epistimologi
Dasar epistimlogi yang dimiliki filsafat mencakup antara metode yang digunakan untuk pedoman mengkaji ilmu. Tujuan berfilsafat adalah mencari the first causes dan the last causes, maka dari itu filsafat mengenal berbagai metode filsafat yakni:
1)  Metode kritis reflektif
Metode kritis reflektif yakni cara memahami suatu objek filsafat secara mendalam dan mendasar. Kegiatan ini dilakukan secara berulang-ulang sehingga memerlukan proses pemikiran secara terus-menerus sampai menemui kebenaran/telah puas atas jawaban masalah yang dikajinya.
2)  Metode dialektika-dialog/dialektika-kritis.
Proses dialektik mengandung arti dialog antara dua pendirian yang bertentangan pemikiran dengan memakai pertemuan antara ide, sedang kan kritis meupakan sikap yang tidak mau menerima sebelum dilakukan pengujian. Dengan demikian dapat disimpulkan metode dialektika-dialog merupakan metode yang menekankan pada dialog kritis untuk membedah masalah guna melahirkan pengetahuan yang benar berlandaskan pada argumentasi/alasan yang kuat.
3)  Metode dialeka hegel
Metode ini berintikan pada pemecahan masalah dengan mengikuti tiga langkah yakni tesa, antitesa, dan sintesa. Menurut (Budianto, 2005:16-17; Supono, 2007; Russel, 2007) mengemukakan bahwa prinsip dasar metode dialektika ala Hegel adalah mengembangkan suatu proses berpikir yang dinamis dalam memecahkan suatu masalah, lewat argumen yang kontradiktif atau berhadapan guna mewujudkan suatu kesepakatan yang rasional atau logis.
4)  Metode intuitif
Intuisi adalah apa yang oleh sebagian orang disebut perasaan hati, hati nurani, firasat, supra kesadaran, dorongan yang mengatakan kepada Anda untuk menempuh suatu arah atau arah lain, dan yang bila digabung dengan latihan akan memberi anda alat dalam membuat keputusan yang mantap.
5)  Metode skeptis
Metode ini berintikan pada gagasan bahwa, untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, maka seseorang harus meragu-ragukan segalanya. Dalam rangka mencapai kebenaran yang pasti, rasio harus berperan semaksimal mungkin. Descrates memberikan pedoman dalam rangka mendapatkan pengetahuan yang benar yaitu Pertama, metode keragu-raguan harus digunakan sebagai strategi dalam melihat sesuatu, segala sesuatu harus dilihat sebagai tipuan, dan jangan tergesa-gesa menerimanya sebagai sesuatu yang benar, jika tidak diketahui bahwa hal itu benar. Kedua, pemecahan masalah yang kompleks, harus dipilah ke dalam bagian-bagian yang lebih sederhana agar mudah memahaminya, Ketiga, pikiran harus diatur sedemikian rupa, dengan bertitik tolak dari objek dan pengertian yang sederhana dan mutlak, sampai pada objek dan pengertian yang kompleks dan nisbi. Keempat, setiap masalah ditinjau secara menyeluruh, sehingga tidak ada yang ketinggalan.
6)  Metode fenomenologi
Metode ini berarti ilmu tentang fenomena yang pada dasarnya adalah hakikat atau edios tentang suatu penampakan diri atau tampil sebagaimana adanya dalam kesadaran manusia.

7)  Metode eksistensialisme
Filsafat ini memandang gejala berpangkal pada eksistensi atau cara manusia berada didunia. Prinsip dasar adalah lebih menghargai subjektifitas daripada objektifitas, dalam prinsip ini nilai lebih diposisikan lebih penting dari pada fakta.
8)  Metode analitik
Filsafat ini adalah suatu metode yang khas dalam filsafat untuk menjelaskan, menguraikan, dan mengji kebenaran-kebenaran ungkapan dari filosofis.
c.    Dasar aksiologis
Dasar aksiologis mengukap tentang apakah kegunaan dari ilmu bagi kita? Adapun dasar-dasar pemikiran filsafat antaralain:
1)      Makna kata filsafat, yang menyiratkan bahwa berfilsafat memberikan peluang untuk menjadi lebih bijaksana dan lebih berwawasan luas dalam melihat dan memecahkan permasalahan.
2)      Memunculkan ide yang toleran terhadap sudut pandang dan semakin membebsakan diri dari dogmatisme.
3)      Pengkajian membawa perubahan pada keyakinan nilai-nilai dasar seseorang yang pada gilirannya dapat mempengaruhi arah kehidupan pribadi maupun profesinya
4)      Tidak sebatas tambahan kognisi tetapi mengembangkan pemikiran kritis, luas, dan holistika.
5)      Posisi kepemimpinan yang memikul tanggungjawab dalam berbagai profesi,  dan permasalahan makna hidup.

BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Filsafat  berasal dari bahasa Yunani. Philosophia atau Philosophos. Kata tersebut terdiri dari dua kata yakni philos (philein) dan Sophia. Kata Philos berarti cinta (love), sedangkan Sophia atau sophos berarti pengetahuan, kebenaran, hikmat atau kebijaksanaan (wisdom). Jadi secara etimologi filsafat berarti cinta akan. Adapun pengertian dari filsafat dapat dilihat dari segi etimologis, terminologis, filsafat sebagai pandangan hidup, dan filsafat sebagai ilmu.
Dasar ontologi filsafat meliputi objek materi yakni sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran, sesuatu yang dipelajari oleh filsafat yang sangat luas yakni mencakup segala realitas, kenyataan atau sesuatu yang ada atau mungkin ada baik yang nyata (Skala) maupun yang abstrak (Niskala). Berfikir filsafat harus memenuhi sejumlah persyaratan yaitu: (1) bersifat rasional radikal, mencari kejelasan atau kebenaran yang bersifat esensial (the first causes dan teh last causes) dan non-fragmentari, dan menyangkut suatu realitas atau hal-hal yang mengacu pada ide-ide dasar.
Dasar epistimlogi yang dimiliki filsafat mencakup antara metode yang digunakan untuk pedoman mengkaji ilmu dengan menggunakan metode filsafat, yakni metode kritis reflektif, metode dialektika-dialog/dialektika-kritis, metode dialeka hegel, metode intuitif, metode skeptis, metode fenomenologi, metode eksistensialisme, dan metode analitik. Filsafat mempunyai dasar aksiologis yang mengukap tentang apakah kegunaan dari ilmu.
B.  Saran

Filsafat merupakan induk dari segala ilmu yang diharapkan dapat menjadikan pedoman bagi manusia untuk mencari sebuah kebenaran yang hakiki, dengan demikian diharapkan manusia dapat lebih bisa berpikir kritis yang positif serta dapat menjadi manusia yang bijaksana dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan.

PERANAN FILSAFAT DALAM ILMU PENGETAHUAN



Kata Pengantar
Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada tuhan yang maha esa, karena atas berkat dan limpahan rahmatnyalah maka kami boleh menyelesaikan sebuah karya tulis dengan tepat waktu.
Berikut ini penulis mempersembahkan sebuah makalah dengan judul "Peranan Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan ", yang menurut kami dapat memberikan manfaat yang besar bagi kita untuk mempelajari peranan filsafat ilmu dalam ilmu pengetahuan

            Melalui kata pengantar ini kami lebih dahulu meminta maaf dan memohon permakluman bila mana isi makalah ini ada kekurangan dan ada tulisan yang kami buat kurang tepat atau menyinggung perasaan pembaca.

            Dengan ini kami mempersembahkan makalah ini dengan penuh rasa terima kasih dan semoga Allah SWT memberkahi makalah ini sehingga dapat memberikan manfaat.




Medan 07,05,2013



"Penulis"








DAFTAR ISI
          Kata Pengantar ........................................................................................ i
            Daftar Isi .................................................................................................. ii
            BAB I  Pendahuluan
A.     Latar Belakang .........................................................................  1
B.     Rumusan Masalah ...................................................................   2
C.     Tujuan ........................................................................................2
D.    Manfaat ......................................................................................2
BAB II Pembahasan
A.     Pengertian Filsafat .....................................................................3
B.     Pengertian Filsafat Ilmu ............................................................4
C.     Pengertian Ilmu Pengetahuan ..................................................4
1.      Karakteristik Ilmu Pengetahuan ......................................   5
2.      Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan ..............................................    6
3.      Syarat-Syarat Ilmu ............................................................   6
D.    Peranan filsafat dalam Ilmu pengetahuan .............................    7
BAB III Penutup
A.     Kesimpulan ................................................................................ 10
B.     Daftar Pustaka ..........................................................................  11







BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG
Pada awalnya yang pertama muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus merupakan bagian dari filsafat. Sehingga dikatakan bahwa filsafat merupakan induk atau ibu dari semua ilmu (mater scientiarum).  Karena objek material filsafat bersifat umum yaitu seluruh kenyataan, pada hal ilmu-ilmu membutuhkan objek khusus.  Hal ini menyebabkan berpisahnya ilmu dari filsafat.
Dalam perkembangan berikutnya, filsafat tidak saja dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendiri, yang juga mengalami spesialisasi.  Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan, tetapi sudah menjadi sektoral. Contohnya filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang tertentu. Dalam konteks inilah kemudian ilmu sebagai kajian filsafat sangat relevan untuk dikaji dan didalami (Bakhtiar, 2005).
Meskipun pada perkembangannya masing-masing ilmu memisahkan diri dari filsafat, ini tidak berarti hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu khusus menjadi terputus. Dengan ciri kekhususan yang dimiliki setiap ilmu, hal ini menimbulkan batas-batas yang tegas di antara masing-masing ilmu. Dengan kata lain tidak ada bidang pengetahuan yang menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah. Di sinilah filsafat berusaha untuk menyatu padukan masing-masing ilmu. Tugas filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusian yang luas.
Ada hubungan timbal balik antara ilmu dengan filsafat. Banyak masalah filsafat yang memerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya tidak ingin dikatakan dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah (Siswomihardjo, 2003).
Akumulasi penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan menjadi semakin rasional. Akan tetapi, salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir rasional, sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional. Oleh sebab itu, hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara.
Berfilsafat sesungguhnya dilakukan dalam masyarakat. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pada hakekatnya filsafat pun membantu masyarakat dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan. Salah satu tujuan tulisan ini adalah menunjukkan bantuan apa yang dapat diberikan filsafat kepada hidup masyarakat.
Selain filsafat, ilmu-ilmu pengetahuan pun pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia. Akan tetapi, ilmu-ilmu pengetahuan, seperti biologi, kimia, fisiologi, ekonomi, dan lain sebagainya secara hakiki terbatas sifatnya. Untuk menghasilkan pengetahuan yang setepat mungkin, semua ilmu tersebut membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Untuk meneliti bidang itu secara optimal, ilmu-ilmu semakin mengkhususkan metode-metode mereka.
Dengan demikian, ilmu-ilmu tersebut tidak membahas pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut manusia sebagai keseluruhan dan sebagai kesatuan yang utuh. Padahal pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus dikemukakan manusia dan sangat penting bagi praksis kehidupan manusia.
Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa arti dan tujuan hidup manusia, apa kewajiban dan tanggung jawab saya sebagai manusia, atau pun pertanyaan tentang dasar pengetahuan kita, tentang metode-metode ilmu-ilmu, dan lain sebagainya, tidak mampu ditangani ilmu-ilmu pengetahuan. Padahal jawaban yang diberikan secara mendalam dapat mempengaruhi penentuan orientasi dasar kehidupan manusia. Di sinilah filsafat memainkan peranannya.
 Tulisan ini merupakan ulasan tentang filsafat, peranan dan kontribusi filsafat berhadapan dengan ilmu-ilmu pengetahuan, serta bagaimana filsafat membantu masyarakat menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan fundamental yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia.  Tulisan ini juga mengulas tentang  hubungan filsafat dengan kebenaran.

B.RUMUSAN MASALAH
A.     Pengertian Filsafat.
B.     Pengertian Filsafat ilmu.
C.     Pengertian ilmu pengetahuan.
D.     Peranan Filsafat dalam ilmu pengetahuan
C.    TUJUAN

      Adapun tujuan dari rumusan masalah dalam makalh ini adalah:
1.      Untuk mengetahui peranan antara filsafat Ilmu dalam ilmu pengetahuan
2.      Untuk mengetahui manfaat mempelajari filsafat
3.      Pemenuhan sebagai tugas kelompok
D.   MANFAAT
     Manfaat yang di dapat dari makalah ini adalah:
1.      Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Filsafat
2.      Mahasiswa dapat mengetahui tentang peranan antara filsafat Ilmu dalam ilmu pengetahuan

BAB II
PEMBAHASAN

A.Pengertian Filsafat
              Perkataan Inggris philosophy yang berarti filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan. Namun, cakupan pengertian sophia yang semula itu ternyata luas sekali. Dahulu sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikkan dalam memutuskan soal-soal praktis (The Liang Gie, 1999).
Banyak pengertian-pengertian atau definisi-definisi tentang filsafat yang telah dikemukakan oleh para filsuf. Menurut Merriam-Webster (dalam Soeparmo, 1984), secara harafiah filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Maksud sebenarnya adalah pengetahuan tentang kenyataan-kenyataan yang paling umum dan kaidah-kaidah realitas serta hakekat manusia dalam segala aspek perilakunya seperti: logika, etika, estetika dan teori pengetahuan.
Kalau menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama memakai istilah philosophia dan philosophos ialah Pytagoras (592-497 S.M.), yakni seorang ahli matematika yang kini lebih terkenal dengan dalilnya dalam geometri yang menetapkan a2 + b2 = c2. Pytagoras menganggap dirinya “philosophos” (pencinta kearifan). Baginya kearifan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan. Selanjutnya, orang yang oleh para penulis sejarah filsafat diakui sebagai Bapak Filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang Filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos, filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya, unsur-unsurnya dan kaidah-kaidahnya (The Liang Gie, 1999).
           Menurut sejarah kelahiran istilahnya, filsafat terwujud sebagai sikap yang ditauladankan oleh Socrates. Yaitu sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran (Soeparmo, 1984).
             Timbulnya filsafat karena manusia merasa kagum dan merasa heran. Pada tahap awalnya kekaguman atau keheranan itu terarah pada gejala-gejala alam. Dalam perkembangan lebih lanjut, karena persoalan manusia makin kompleks, maka tidak semuanya dapat dijawab oleh filsafat secara memuaskan. Jawaban yang diperoleh menurut Koento Wibisono dkk. (1997), dengan melakukan refleksi yaitu berpikir tentang pikirannya sendiri. Dengan demikian, tidak semua persoalan itu harus persoalan filsafat.

B.Pengertian Filsafat Ilmu
Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
          Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.

C.Pengertian  Ilmu pengetahuan        

Ilmu pengetahuan adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.




Beberapa pendapat para ahli tentang ilmu pengetahuan :

                  Harold H. Titus mendefinisikan “Ilmu (Science) diartikan sebagai common science yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis).
                  Dr. Mohammad Hatta mendefinisikan “Tiap-tiap ilmu pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya, baik menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunannya dari dalam.”

                  J. Habarer  mendefinisikan “ Suatu hasil aktivitas manusia yang merupakan kumpulan teori, metode dan praktek dan menjadi pranata dalam masyarakat.”
                  Louis Leahy mendefinisikan “Pengetahuan merupakan suatu kekayaan dan kesempurnaan. Seseorang yang tahu lebih banyak adalah lebih baik kalau dibanding dengan yang tidak tahu apa-apa
                  The Liang Gie mendefinisikan “Ilmu sebagai pengetahuan, artinya ilmu adalah sesuatu kumpulan yang sistematis, atau sebagai kelompok pengetahuan teratur mengenai pokok soal atau subject matter. Dengan kata lain bahwa pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantif yang terkandung dalam ilmu.

1.     Karakteristik Ilmu Pengetahuan

       Karakteristik ilmu pengetahuan di antaranya sebdagai berikut :
1.      Konkrit, yaitu dapat diukur kebenarannya.
2.      Kehadiran objek dan subjek tidak dapat dipisahkan atau memiliki keterkaitan satu sama lainnya.
3.       Tidak terbatas sehingga masih banyak ilmu pengetahuan yang harus digali lagi dan tidak mempunyai keterbatasan tertentu.
4.      Metodologi yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan
5.      Rasionalis ; Penalarannya berdasarkan ide yang dianggap jelas dan dapat diterima oleh akal.
6.      Wahyu ; Tidak menggunakan penalaran, tetapi menggunakan wahyu sebagai sumber pengetahuan.
7.      Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama
8.      Kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan
9.      Obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi




2.      Ciri-Ciri Ilmu Pengetahuan

      Menurut The Liang Gie (1987) ilmu pengetahuan mempunyai   5 ciri pokok yaitu :  
1.      Empiris, pengetahuan itu diperoleh berdasarkan pengamatan dan percobaan
2.      Sistematis, berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan ketergantungan dan teratur
3.      Objektif, ilmu berarti pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan dan kesukaan pribadi
4.      Analitis, pengetahuan ilmiah berusaha membeda-bedakan pokok soalnya ke dalam bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu
5.      Verifikatif, dapat diperiksa kebenarannya oleh siapa pun juga.

      Menurut Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut :
1.      Obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif,
2.      Koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan;
3.      Reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi,
4.      Valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal,
5.      Memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum,
6.      Akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan
7.      Dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.


3.     Syarat-Syarat Ilmu :
Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut
1.      Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial).
2.      Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu.
3.      Pokok permasalahan (subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji.

               Jadi seluruh bentuk ilmu pengetahuan dapat digolongkan kedalam kategori ilmu pengetahuan dimana masing-masing bentuk dapat dicirikan oleh karakterristik obyek ontologis, landasan epistemologis, dan landasan aksiologis.



 Salah satu dari bentuk ilmu pengetahuan ditandai dengan :
1.      Obyek Ontologis : yaitu pengalaman manusia yakni segenap wujud yang dapat dijangkau lewat panca indra atau alat yang membantu kemampuan panca indra.
2.      Landasan Epistemologis : metode ilmiah yang berupa gabungan logika deduktif dengan pengajuan hipotesis atau yang disebut logico hypotetico verifikasi.
3.      Landasan Aksiologis : kemaslahatan umat manusia artinya segenap wujud ilmu pengetahuan itu secara moral ditujukan untuk kebaikan hidup manusia.


D.Peranan filsafat dalam Ilmu pengetahuan
Semakin banyak manusia tahu, semakin banyak pula pertanyaan yang timbul dalam dirinya. Manusia ingin tahu tentang asal dan tujuan hidup, tentang dirinya sendiri, tentang nasibnya, tentang kebebasannya, dan berbagai hal lainnya. Sikap seperi ini pada dasarnya sudah menghasilkan pengetahuan yang sangat luas, yang secara metodis dan sistematis dapat dibagi atas banyak jenis ilmu.
Ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya membantu manusia dalam mengorientasikan diri dalam dunia dan memecahkan berbagai persoalan hidup. Berbeda dari binatang, manusia tidak dapat membiarkan insting mengatur perilakunya. Untuk mengatasi masalah-masalah, manusia membutuhkan kesadaran dalam memahami lingkungannya. Di sinilah ilmu-ilmu membantu manusia mensistematisasikan apa yang diketahui manusia dan mengorganisasikan proses pencariannya.
Pada abad modern ini, ilmu-ilmu pengetahuan telah merasuki setiap sudut kehidupan manusia. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena ilmu-ilmu pengetahuan banyak membantu manusia mengatasi berbagai masalah kehidupan. Prasetya T. W. dalam artikelnya yang berjudul “Anarkisme dalam Ilmu Pengetahuan Paul Karl Feyerabend” mengungkapkan bahwa ada dua alasan mengapa ilmu pengetahuan menjadi begitu unggul. Pertama, karena ilmu pengetahuan mempunyai metode yang benar untuk mencapai hasil-hasilnya. Kedua, karena ada hasil-hasil yang dapat diajukan sebagai bukti keunggulan ilmu pengetahuan. Dua alasan yang diungkapkan Prasetya tersebut, dengan jelas menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memainkan peranan yang cukup penting dalam kehidupan umat manusia.
Akan tetapi, ada pula tokoh yang justru anti terhadap ilmu pengetahuan. Salah satu tokoh yang cukup terkenal dalam hal ini adalah Paul Karl Feyerabend. Sikap anti ilmu pengetahuannya ini, tidak berarti anti terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri, tetapi anti terhadap kekuasaan ilmu pengetahuan yang kerap kali melampaui maksud utamanya. Feyerabend menegaskan bahwa ilmu-ilmu pengetahuan tidak menggunguli bidang-bidang dan bentuk-bentuk pengetahuan lain. Menurutnya, ilmu-ilmu pengetahuan menjadi lebih unggul karena propaganda dari para ilmuan dan adanya tolak ukur institusional yang diberi wewenang untuk memutuskannya.
Sekalipun ada berbagai kontradiksi tentang keunggulan ilmu pengetahuan, tidak dapat disangkal bahwa ilmu pengetahuan sesungguhnya memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah-masalah hidupnya, walaupun kadang-kadang ilmu pengetahuan dapat pula menciptakan masalah-masalah baru.
Meskipun demikian, pada kenyataannya peranan ilmu pengetahuan dalam membantu manusia mengatasi masalah kehidupannya sesungguhnya terbatas. Seperti yang telah diungkapkan pada bagian pendahuluan, keterbatasan itu terletak pada cara kerja ilmu-ilmu pengetahuan yang hanya membatasi diri pada tujuan atau bidang tertentu. Karena pembatasan itu, ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang keseluruhan manusia. Untuk mengatasi masalah ini, ilmu-ilmu pengetahuan membutuhkan filsafat. Dalam hal inilah filsafat menjadi hal yang penting.
C.Verhaak dan R.Haryono Imam dalam bukunya yang berjudul Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah Atas Cara Kerja Ilmu-ilmu, menjelaskan dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu. Pertama, filsafat ikut menilai apa yang dianggap “tepat” dan “benar” dalam ilmu-ilmu. Apa yang dianggap tepat dalam ilmu-ilmu berpulang pada ilmu-ilmu itu sendiri. Dalam hal ini filsafat tidak ikut campur dalam bidang-bidang ilmu itu. Akan tetapi, mengenai apa kiranya kebenaran itu, ilmu-ilmu pengetahuan tidak dapat menjawabnya karena masalah ini tidak termasuk bidang ilmu mereka. Hal-hal yang berhubungan dengan ada tidaknya kebenaran dan tentang apa itu kebenaran dibahas dan dijelaskan oleh filsafat. Kedua, filsafat memberi penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia guna mencapai kebenaran.
             Dari dua penilaian filsafat atas kebenaran ilmu-ilmu di atas, dapat dillihat bahwa ilmu-ilmu pengetahuan (ilmu-ilmu pasti) tidak langsung berkecimpung dalam usaha manusia menuju kebenaran. Usaha ilmu-ilmu itu lebih merupakan suatu sumbangan agar pengetahuan itu sendiri semakin mendekati kebenaran. Filsafatlah yang secara langsung berperan dalam usaha manusia untuk mencari kebenaran. Di dalam filsafat, berbagai pertanyaan yang berhubungan dengan kebenaran dikumpulkan dan diolah demi menemukan jawaban yang memadai.
              Franz Magnis Suseno mengungkapkan dua arah filsafat dalam usaha mencari jawaban dari berbagai pertanyaan sebagai berikut: pertama, filsafat harus mengkritik jawaban-jawaban yang tidak memadai. Kedua, filsafat harus ikut mencari jawaban yang benar. Kritikan dan jawaban yang diberikan filsafat sesungguhnya berbeda dari jawaban-jawaban lain pada umumnya. Kritikan dan jawaban itu harus dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.
               Pertanggungjawaban rasional pada hakikatnya berarti bahwa setiap langkah harus terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan, serta harus dipertahankan secara argumentatif dengan argumen-argumen yang objektif. Hal ini berarti bahwa kalau ada yang mempertanyakan atau menyangkal klaim kebenaran suatu pemikiran, pertanyaan dan sangkalan itu dapat dijawab dengan argumentasi atau alasan-alasan yang masuk akal dan dapat dimengerti.
Dari berbagai penjelasan di atas, tampak jelas bahwa filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.
Inilah yang menunjukkan kekhasan filsafat di hadapan berbagai ilmu pengetahuan yang ada. Filsafat selalu terbuka untuk berdialog dan bekerjasama dengan berbagai ilmu pengetahuan dalam rangka pencarian akan kebenaran. Baik ilmu pengetahuan maupun filsafat, bila diarahkan secara tepat dapat sangat membantu kehidupan manusia.
Membangun ilmu pengetahuan diperlukan konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya. Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman, karena ilmu pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat kepada kehidupan dunia
Hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah kehidupan.antara ilmu Pengetahuan dan ilmu Filsafat ada persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan bersifat Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang sedangkan Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa pengujian,sebab Filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang dimiliki ilmu karena Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya perbedaan antara ilmu dengan filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran.Ilmu memiliki tugas melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakat itu darimana awalnya dan akan kemana akhirnya






BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
            Filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia” yang lazim diterjemahkan sebagai cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan sophia (kearifan). Menurut pengertiannya yang semula dari zaman Yunani Kuno itu filsafat berarti cinta kearifan.sedangkan filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru dan Ilmu pengetahuan atau Knowledge ini merupakan terminologi generik yang mencakup segenap bentuk yang kita ketahui seperti filsafat, sosial, seni, beladiri, dan ilmu sains itu sendiri.
             Peranan filsafat dalam ilmu pengetahuan adalah filsafat memberi penilaian tentang sumbangan ilmu-ilmu pada perkembangan pengetahuan manusia guna mencapai kebenaran tapi filsafat tidak ikut campur dalam ilmu-ilmu tersebut dimana filsafat selalu mengarah pada pencarian akan kebenaran. Pencarian itu dapat dilakukan dengan menilai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada secara kritis sambil berusaha menemukan jawaban yang benar. Tentu saja penilaian itu harus dilakukan dengan langkah-langkah yang teliti dan dapat dipertanggungjawabkan secara rasional. Penilaian dan jawaban yang diberikan filsafat sendiri, senantiasa harus terbuka terhadap berbagai kritikan dan masukan sebagai bahan evaluasi demi mencapai kebenaran yang dicari.
           Antara ilmu Pengetahuan dan ilmu Filsafat ada persamaan dan perbedaannya.Ilmu Pengetahuan bersifat Posterior kesimpulannya ditarik setelah melakukan pengujian-pengujian secara berulang-ulang sedangkan Filsafat bersifat priori kesimpulannya ditarik tanpa pengujian,sebab Filsafat tidak mengharuskan adanya data empiris seperti yang dimiliki ilmu karena Filsafat bersifat Spekulatif.Disamping adanya perbedaan antara ilmu dengan filsafat ada sejumlah persamaan yaitu sama-sama mencari kebenaran.Ilmu memiliki tugas melukiskan filsafat bertugas untuk menafsirkan kesemestaan aktivitas ilmu digerakkan oleh pertanyaan bagaimana menjawab pelukisan fakta sedangkan filsafat menjawab atas pertanyaan lanjutan bagaimana sesungguhnya fakta itu darimana awalnya dan akan kemana akhirnya.



   DAFTAR PUSTAKA
Bahm, Archie, J., 1980., “What Is Science”, Reprinted from my Axiology; The Science Of Values; 44-49, World Books, Albuquerqe, New Mexico, p.1,11.
Bertens, K., 1987., “Panorama Filsafat Modern”, Gramedia Jakarta, p.14, 16, 20-21, 26.
Koento Wibisono S. dkk., 1997., “Filsafat Ilmu Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan”, Intan Pariwara, Klaten, p.6-7, 9, 16, 35, 79.
Koento Wibisono S., 1984., “Filsafat Ilmu Pengetahuan Dan Aktualitasnya Dalam Upaya Pencapaian Perdamaian Dunia Yang Kita Cita-Citakan”, Fakultas Pasca Sarjana UGM Yogyakarta p.3, 14-16.
____________________., 1996., “Arti Perkembangan Menurut Filsafat Positivisme Auguste Comte”, Cet.Ke-2, Gadjah Mada University Press Yogyakarta, p.8, 24-26, 40.
____________________., 1999., “Ilmu Pengetahuan Sebuah Sketsa Umum Mengenai Kelahiran Dan Perkembangannya Sebagai Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu”, Makalah, Ditjen Dikti Depdikbud – Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta, p.1.
Nuchelmans, G., 1982., “Berfikir Secara Kefilsafatan: Bab X, Filsafat Ilmu Pengetahuan Alam, Dialihbahasakan Oleh Soejono Soemargono”, Fakultas Filsafat – PPPT UGM Yogyakarta p.6-7.
Sastrapratedja, M., 1997., “Beberapa Aspek Perkembangan Ilmu Pengetahuan”, Makalah, Disampaikan Pada Internship Filsafat Ilmu Pengetahuan, UGM Yogyakarta 2-8 Januari 1997, p.2-3.
Soeparmo, A.H., 1984., “Struktur Keilmuwan Dan Teori Ilmu Pengetahuan Alam”, Penerbit Airlangga University Press, Surabaya, p.2, 11.
The Liang Gie., 1999., Pengantar Filsafat Ilmu”, Cet. Ke-4, Penerbit Liberty Yogyakarta, p.29, 31, 37, 61, 68, 85, 93, 159, 161.
Van Melsen, A.G.M., 1985., “Ilmu Pengetahuan Dan Tanggung Jawab, Diterjemahkan Oleh K.Bartens”, Gramedia Jakarta, p.16-17, 25-26.
Van Peursen, C.A.,1985., “Susunan Ilmu Pengetahuan Sebuah Pengantar Filsafat Ilmu, Alih Bahasa Oleh J.Drost”, Gramedia Jakarta, p.1, 4, 1

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites