Makalah

Blog ini berisi berbagai macam makalah kuliah.

Perangkat Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Modul Pembelajaran

Masih dalam pengembangan.

Skripsi

Masih dalam pengembangan.

Lain-lain

Masih dalam pengembangan.

Jumat, 12 Mei 2023

Strategi Inovasi Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN


A . Latar Belakang


    Inovasi berasal dari kata latin innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya innovo yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju ke arah perbaikan, yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana. (Ihsan: 1991). Inovasi ialah suatu perubahan yang baru dan bersifat kualitatif, berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan dalam rangka pencapaian tujuan tertentu dalam pendidikan. Istilah perubahan dan pembaruan ada perbedaan dan persamaannya. Perbedaannya, kalau pada pembaruan ada unsur kesengajaan. Persamaannya yakni sama–sama memiliki unsur yang baru atau lain dari sebelumnya.


Kata “baru“ dapat juga diartikan apa saja yang baru dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi, meskipun bukan baru lagi bagi orang lain. Namun setiap yang baru itu belum tentu baik untuk setiap situasi, kondisi dan tempat. Jadi inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil invention (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.

Berdasarkan pengertian inovasi di atas, maka inovasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu perubahan (baru), gagasan, dan bersifat kualitatif dalam rangka memecahkan masalah pendidikan. Pembahasan tentang model inovasi seperti model "Top-Down" dan "Bottom-Up" telah banyak dilakukan oleh para peneliti dan para ahli pendidikan. Sudah banyak pembahasan tentang inovasi pendidikan yang dilakukan misalnya perubahan kurikulum dan proses belajar mengajar. White (1988) menguraikan beberapa aspek yang berkaitan dengan inovasi seperti tahapan-tahapan dalam inovasi, karakteristik inovasi, manajemen inovasi dan sistem pendekatannya. Kennedy (1987) juga membicarakan tentang strategi inovasi mengemukakan tiga jenis strategi inovasi, yaitu: power coercive (strategi pemaksaan), rational empirical (empirik rasional), dan normative-re-educative (pendidikan yang berulang secara normatif).

B. Rumusan Masalah

Sesuai latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:

1.    Sebutkan dan jelaskan strategi dalam inovasi pendidikan ?

2.    Bagaimana strategi penerapan dalam inovasi pendidikan ?

C. Tujuan Penulisan

     Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka yang menjadi tujuan pembahasan dalam makalah adalah sebagai berikut:

1.    Mengetahui strategi dalam inovasi pendidikan

2.    Mengetahui strategi penerapan dalam inovasi pendidikan

 

D. Metode Penulisan

     Adapun metode penulisan makalah yang digunakan adalah dengan cara study pustaka, yaitu mempelajari buku-buku yang kami jadikan referensi dalam pengumpulan informasi dan data yang ada kaitannya dengan masalah yang akan kami bahas serta pencarian informasi dengan melalui jalur internet .

E. Sistematika Penulisan

    Adapun sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

B.    Rumusan Masalah

C.    Tujuan Penulisan

D.    Metode Penulisan

E.    Sistematika Penulisan

BAB II  PEMBAHASAN

A.    Strategi dalam Inovasi Pendidikan

B.    Penerapan Strategi dalam Inovasi Pendidikan

BAB III  PENUTUP

A.    Kesimpulan

B.    Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB II

PEMBAHASAN


A . Strategi Dalam Inovasi Pendidikan

1.    Strategi fasilitatif ( facilitative strategis)

     Pelaksanaan program perubahan sosial dengan menggunakan strategi fasilitatif artinya untuk mencapai tujuan perubahan-perubahan sosial yang telah ditentukan, diutamakan penyediaan fasilitas dengan maksud agar program sosial akan berjalan dengan mudah dan lancar.

     Strategi fasilitatif ini akan dapat dilaksanakan dengan tepat jika diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a)    Strategi fasilitatif akan dapat digunakan dengan tepat jika:

•    Mengenal masalah yang dihadapi serta menyadari perlunya mencari target perubahan (tujuan) .

•    Merasa perlu adanya perubahan atau perbaikan 

•    Bersedia menerima bantuan dari luar dirinya 

•    Memiliki kemauan untuk berpartisipasi dalam usaha merubah atau memperbaiki dirinya

b)    Sebaiknya strategi fasilitatif dilaksanakan dengan disertai program menimbulkan kesadaran pada klien atas tersedianya fasilitas atau tenaga bantuan yang diperlukan

c)    Strategi fasilitatif tepat juga digunakan sebagai kompensasi motivasi yang rendah terhadap usaha perubahan sosial

d)    Menyediakan berbagai fasilitas akan sangat bermanfaat bagi usaha perbaikan sosial jika klien menghendaki berbagai macam kebutuhan untuk memenuhi tuntutan perubahan sesuai yang di harapkan

e)    Penggunaan strategi fasilitatif dapat juga dengan cara menciptakan peran yang baru dalam masyarakat jika ternyata peran yang sudah ada di masyarakat tidak sesuai dengan penggunaan sumber atau fasilitas yang diperlukan.

f)    Usaha perubahan dengan menyediakan berbagai fasilitas akan lebih lancar pelaksanaanya jika pusat kegiatan organisasi pelaksana perubahan sosial, berada di lokasi tempat tinggal sasaran (klien).

g)    Strategi fasilitatif dengan menyediakan dana serta tenaga akan sangat diperlukan jika klien tidak dapat melanjutkan usaha perubahan sosial karena kekurangan sumber dana dan tenaga.

h)    Perbedaan sub bagian dalam klien akan menyebabkan perbedaan fasilitas yang diperlukan untuk penekanan perubahan tertentu pada waktu tertentu.

i)    Strategi fasiltatif kurang efektif jika:

•    Digunakan pada kondisi sasaran perubahan yang sangat kurang untuk menentang adanya perubahan sosial

•    Perubahan diharapkan berjalan dengan cepat, serta sikap terbuka dari klien untuk menerima perubahan

2. Strategi Pendidikan (re-educative strategies)

     Dengan strategi ini orang harus belajar lagi tentang sesuatu yang dilupakan yang sebenarnya telah dipelajarinya sebelum mempelajari tingkah laku atau sikap baru.

    Strategi pendidikan akan dapat digunakan secara tepat dalam kondisi dan situasi sebagai berikut :

1)    Apabila perubahan sosial yang diinginkan, tidak harus terjadi dalam waktu yang singkat (tidak ingin segera cepat berubah) 

2)    Apabila sasaran perubahan (klien) belum memiliki keterampilan atau pengetahuan tertentu yang diperlukan untuk melaksanakan perogram perubahan sosial 

3)    Apabila menurut perkiraan akan terjadi penolakan yang kuat oleh klien terhadap perubahan yang diharapkan 

4)    Apabila dikehendaki perubahan yang sifatnya mendasar dari pola tingkah laku yang sudah ada ke tingkah laku yang baru 

5)    Apabila alasan atau latar belakang perlunya perubahan telah diketahui dan dimengerti atas dasar sudut pandang klien sendiri, serta diperlukan adanya kontrol dan klien.

    Strategi pendidikan dapat berlangsung efektif, perlu mempertimbangkan hal-hal berikut ini: 

1)    Digunakan untuk menanamkan prinsip-prinsip yang perlu dikuasai untuk digunakan sebagai dasar tindakan selanjutnya sesuai dengan tujuan perubahan sosial yang akan dicapai

2)    Disertai dengan keterlibatan berbagai pihak, misalnya dengan adanya: sumbangan dana, donator, serta penunjang yang lain.

3)    Digunakan untuk menjaga agar klien tidak menolak perubahan atau kembali ke keadaan sebelumnya

4)    Digunakan untuk menanamkan pengertian tentang hubungan antara gejala dan masalah, menyadarkan adanya masalah dan memantapkan bahwa masalah yang dihadapi dapat dipecahkan dengan adanya perubahan 

    Strategi pendidikan akan kurang efektif,  jika:

1)     Tidak tersedia sumber yang cukup untuk menunjang kegiatan pendidikan.

2)     Digunakan dengan tanpa dilengkapi strategi yang lain.

3. Strategi Bujukan (persuasive strategies)

    Program perubahan sosial dengan menggunakan strategi bujukan artinya  untuk mencapai tujuan perubahan sosial dengan cara membujuk (merayu), agar sasaran perubahan (klien) mau mengikuti perubahan sosial yang direncanakan.

    Untuk berhasilnya penggunaan strategi bujukan perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

a.    Strategi bujukan tepat digunakan bila klien (sasaran perubahan):

a)    Tidak berpartisipasi dalam proses perubahan sosial 

b)    Berada pada tahap evaluasi atau legitimasi dalam peroses pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak perubahan sosial 

c)    Diajak untuk mengalokasikan sumber penunjang perubahan dari suatu kegiatan atau program ke kegiatan atau program yang lain 

b.    Strategi bujukan tepat digunakan jika:

a)    Masalah dianggap kurang penting atau jika cara pemecahan masalah kurang efektif 

b)    Pelaksana program perubahan tidak memiliki alat kontrol secara langsung terhadap klien

c)    Sebenarnya perubahan sosial sangat bermanfaat tetapi menganggap mengandung suatu resiko yang dapat menimbulkan pemecahan

d)    Perubahan tidak dapat dicobakan, sukar dimengerti, dan tidak dapat diamati kemanfaatannya secara langsung 

e)    Dimanfaatkan untuk melawan penolakan terhadap perubahan pada saat awal diperkenalkannya perubahan sosial yang diharapkan  

4. Strategi Paksaan (power strategies)

    Pelaksanaan program perubahan sosial dengan menggunakan strategi paksaan, artinya dengan cara memaksa klien (sasaran perubahan) untuk mencapai tujuan perubahan.

    Penggunaan strategi paksaan perlu mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1.    Strategi paksaan dapat digunakan apabila partisipasi klien terhadap proses perubahan sosial rendah dan tidak mau meningkatkan partisipasinya

2.    Strategi paksaan juga tepat digunakan apabila klien tidak merasa perlu untuk berubah atau tidak menyadari perlunya sosial

3.    Strategi paksaan tidak efektif jika klien tidak memiliki sarana penunjang untuk mengusahakan perubahan dan pelaksana perubahan juga tidak mampu mengadakannya

4.    Strategi paksaan tepat digunakan jika perubahan sosial yang diharapkan harus terwujud dalam waktu yang singkat. Artinya tujuan perubahan harus segera tercapai

5.    Strategi paksaan juga tepat dipakai untuk menghadapi usaha penolakan terhadap perubahan sosial atau untuk cepat mengadakan perubahan sosial sebelum usaha penolakan terhadapnya bergerak 

6.    Strategi paksaan dapat digunakan jika klien sukar untuk menerima perubahan sosial artinya sukar dipengaruhi 

7.    Strategi paksaan dapat juga digunakan untuk menjamin keamanan percobaan perubahan sosial yang telah direncanakan


B. Penerapan Strategi dalam Inovasi Pendidikan

    Petunjuk penerapan strategi inovasi pada suatu sekolah dapat diuraikan sebagai berikut:

1.    Buatlah rumusan yang jelas tentang inovasi yang akan diterapkan

Apa yang diperlukan sehingga perlu ada perubahan? Adakah hal lain yang ikut menunjang penerapan inovasi? Untuk mempermudah perumusan tentang kebutuhan dan inovasi yang akan diterapkan, disarankan menggunakan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

a.    Mengatur sistem kepenasehatan siswa?

b.    Mengubah cara kerja konselor?

c.    Mengumpulkan data untuk digunakan sebagai bahan mendiagnosis dirinya sendiri (self-diagnosis) oleh siswa, guru, dan supervisor yang memperhatikan bagaimana kelompok menggunakan waktu, dalam kegiatan apa saja dimana kegiatan dilakukan, dengan siapa dilakukan, dan apa hasilnya dengan tujuan agar dapat mengadakan diagnosa untuk mencapai perubahan yang konstruktif?

2.    Menggunakan metode atau cara yang memberi kesempatan untuk berpartisipasi seara aktif dalam usaha merubah pribadi maupun sekolah

Berikut ini akan diuraikan tentang bagaimana guru dan kepala sekolah yang akan mengadakan perubahan atau menerapkan inovasi:

a.    Tujuan diadakannya inovasi perlu dimengerti dan diterima oleh guru, siswa, serta orang tua dan juga masyarakat. Harus dikemukakan dengan jelas mengapa perlu ada inovasi.

b.    Motivasi positif harus digunakan untuk memberikan rangsangan agar mau menerima inovasi. Motivasi dengan ancaman, dengan mengajak agar orang mengikuti yang dilakukan oleh orang lain atau dengan menasehati agar orang menghindari kegagalan, belum tentu dapat berhasil.

c.    Harus diusahakan agar individu ikut berpartisipasi dalam mengambil keputusan inovasi. Guru, siswa, maupun orang tua siswa diberi kesempatan ikut berperan dalam mengambil keputusan menerima atau menolak inovasi.

d.    Perlu direncanakan tentang evaluasi keberhasilan program inovasi. Kejelasan tujuan dan cara menilai keberhasilan penerapan inovasi, merupakan motivasi yang kuat untuk menyempurnakan pelaksanaan inovasi.

3.    Menggunakan berbagai macam Alternatif Pilihan (Option untuk mempermudah penerapan inovasi)

Hal ini dilakukan berdasarkan pemikiran bahwa yang menerapkan inovasi baik guru maupun siswa memiliki perbedaan individual. Jika menghendaki keseragaman tentu akan mengalami kesukaran.

4.    Menggunakan Data atau Informasi yang Sudah ada untuk Bahan Pertimbangan dalam Menyusun Perencanaan dan Penerapan Inovasi.

Berdasarkan permasalahan yang ada dan kemungkinan memecahkannya, kemudian dibuatkan urutan prioritas mana yang harus di dahulukan. Dalam inovasi perlu menggunakan data hasil penelitian dan informasi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya.

5.    Menggunakan Tambahan Data untuk Mempermudah Fasilitas Terjadinya Penerapan Inovasi

 

Data-data lain yang bisa diperlukan dalam penerapan inovasi di sekolah antara lain:

a.    Pemahaman dan partisipasi individu terhadap program yang ada

b.    Pengertian tentang program yang baru

c.    Tingkat kemajuan tentang program baru

d.    Analisis kemudahan dan kesukaran

e.    Penilaian terhadap bahan media instruksional yang diproduksi sekolah.

f.    Jumlah dan macam diagnosis tes dari siswa

g.    Perubahan penampilan siswa berdasarkan instrument yang telah dibakukan

h.    Perubahan isi kurikulum dan organisasi kurikulum

i.    Pandangan para ahli tentang hasil pengamatannya terhadap program baru

6.    Gunakan Kemanfaatan dari Pengalaman Sekolah atau Lembaga yang lain

Pengalaman sekolah yang telah menerapkan inovasi dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan pelaksanaan inovasi di sekolah. Meskipun penentuan apa yang harus berdasarkan kondisi dan situasi di sekolah sendiri.

 Ada sepuluh hal yang dapat dipakai untuk melancarkan penerapan inovasi di sekolah sebagai berikut :

a.    Gunakan guru penasehat

b.    Sediakan pilihan (option)

c.    Mengembangkan material (bahan media)

d.    Merevisi kurikulum dengan menggunakan mini courses (kursus singkat)

e.    Membuat tempat belajar yang lebih baik dalam gedung yang ada

f.    Buatlah jadwal yang fleksibel

g.    Ditingkatkan penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar

h.    Diadakan penilaian program penerapan inovasi

i.    Diadakan penilaian dan pelaporan hasil belajar siswa

j.    Dibuat team supervisi

7.    Dunia Berbuatlah secara Positif Untuk Mempermudah Kepercayaan

Pendidikan sangat berat menghadapi tantangan perubahan jaman. Dunia komersial menghabiskan jutaan dolar untuk merubah kebiasaan masyarakat, dan dikalangan politik menghabiskan sejumlah besar uang untuk menjaga kesetabilan kesuksesan dan pemerintahan, tetapi di dunia pendidikan sukar untuk memperoleh dana guna mengadakan pembaharuan .

8.    Menerima Tanggungjawab Pribadi

Termasuk kelompok yang manakah anda? Apakah anda termasuk kelompok yang memuja masa depan dengan penuh gagasan indah yang belum terlaksana?

Anda perlu mendapatkan tempat dan juga peranan kepala sekolah anda dalam masyarakat yang sedang mengalami perubahan dengan sangat cepat.

9.    Usahakan Adanya Pengorganisasian Kegiatan yang Memungkinkan Terjadinya Kepemimpinan yang Efektif

Problem yang dihadapi oleh kepala sekolah sangat komplek. Perlunya kepemimpinan yang mantap dan konsisten dewasa ini sangat terasa karena kepala sekolah selalu dikepung oleh berbagai macam tantangan.

10.    Mencari Jawaban Atas Beberapa Pertanyaan Dasar Tentang Inovasi di Sekolah

Tujuan utama inovasi di sekolah ialah untuk meningkatkan kualitas sekolah.

 

BAB III

PENUTUP


A.    Kesimpulan


        Strategi dalam inovasi pendidikan :

1.    Strategi Fasilitatif (facilitative strategies)

2.    Strategi Pendidikan (re-eduation strategies)

3.    Setrategi Bujukan (persuasive strategies)

4.    Setrategi Paksaan (power strategies)

Petunjuk penerapan strategi inovasi pendidikan :

1.    Buatlah Rumusan yang jelas tentang Inovasi yang Akan Diterapkan

2.    Gunakan Metode atau Cara yang Memberi Kesempatan untuk Berpartisipasi Secara Aktif dalam Usia Merubah Pribadi Maupun Sekolah

3.    Gunakan Berbagai Macam Alternatif Pilihan (Option) untuk Mempermudah Penerapan Inovasi

4.    Gunakan Data atau Informasi yang Sudah Ada untuk Bahan Pertimbangan dalam Menyusun Perencanaan dan penerapan Inovasi

5.    Gunakan Tambahan Data untuk Mempermudah Fasilitas Terjadinya Penerapan Inovasi

6.    Gunakan Kemanfaatan dari Pengalaman Sekolah atau Lembaga yang lain

7.    Dunia Berbuatlah Secara Positif untuk Mendapatkan Kepercayaan

8.    Menerima Tanggungjawab Pribadi

9.    Usahakan Adanya Pengorganisasian Kegiatan yang Memungkinkan terjadinya Kepemimpinan yang Efektif

10.    Mencari Jawaban Atas Beberapa Pertanyaan Dasar Tentang Inovasi di Sekolah


B. Saran

- Terapkanlah strategi inovasi pendidikan dengan baik, supaya pendidikan terarah menuju yang lebih baik 



DAFTAR PUSTAKA


Syaefudin Sa’ud, Udin. 2009. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta

http://blog.unila.ac.id/lisnaini/2010/01/07strategi-dalam-inovasi-pendidikan/

http://masimamgun.blogspot.com/2010/11/inovasi-pendidikan.html

http://blog.unila.ac.id/lisnaini/2010/01/07strategi-dalam-inovasi-pendidikan-untuk-mencapai-tujuan


Proses Inovasi pendidikan

 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Semakin hari kita semakin merasakan derasnya arus globalisasi di berbagai bidang kehidupan tak terkecuali bidang pendidikan. Dalam menghadapi arus tersebut tentunya pendidikan sendiri harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan zaman yang semakin rumit. Seringkali strategi, model, cara, bahan,dll yang menyangkut proses pendidikan dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Untuk itulah para pelaku yang berkecimpung di dunia pendidikan harus mampu membuat sesuatu yang mampu pula menjawab tuntutan zaman. Hal tersebut dapat dilakukan melalui proses inovasi.

Kata inovasi berasal dari bahasa inggris yaitu innovation yang artinya segala hal yang baru atau pembaruan, kata inovasi dapat diartikan sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru,penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau sudah dikenal sebelumnya. Inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang-barang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang.


B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pengertian proses inovasi?

2. Bagaimana proses inovasi pendidikan?

3. Apa yang dimaksud dengan difusi inovasi pendidikan

4. Apa yang dimaksud dengan pengertian desiminasi

A. Tujuan Penulisan 

1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian proses inovasi.

2. Untuk mengetahui dan memahami proses inovasi pendidikan.

3. Untuk mengetahui dan memahami difusi inovasi pendidikan.

4. Untuk mengetahui dan memahami pengertian desiminasi.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Proses Inovasi

Inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, barang-barang buatan manusia, yang diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang. Proses inovasi adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar atau tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi. Kata proses mengandung arti bahwa aktivitas itu dilakukan dengan memakan waktu dan setiap saat tentu terjadi perubahan. Inovasi pendidikan adalah suatu perubahan dengan membuat gagasan baru, dimana konsep sebelumnya sudah ada tetapi dikembangkan dan menjadi berbeda dari hal sebelumnya, serta digunakan untuk mencapai tujuan tertentu pendidikan. 

B. Proses Inovasi Pendidikan

a. Pengertian

Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar atau adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan (Saud, 2015:45). Selanjutnya dijelaskan Sa'ud bahwa kata proses mengandung arti bahwa aktivitas itu dilakukan dengan memakai waktu dan setiap saat tentu terjadi perubahan. Beberapa lama waktu dipergunakan selama proses itu berlangsung akan berbeda antara orang atau organisasi satu dengan lain tergantung pada kepekaan orang atau organisasi terhadap inovasi.  Demikian pula selama proses inovasi itu berlangsung dan selalu terjadi perubahan yang berkesinambungan sampai proses itu dinyatakan berakhir.

b. Model proses inovasi pendidikan

Para ahli mengidentifikasi kegiatan apa saja yang dilakukan oleh individu ataupun organisasi selama proses berlangsung serta perubahan apa yang terjadi dalam proses inovasi, maka hasilnya ditemukan bertahapan proses yang menjadi model dari proses inovasi tersebut. Dalam hal ini Rusdiana (2014:75) mencatat dua model proses inovasi yaitu: 

1. Model proses inovasi yang berorientasi pada individual

a. Lavidge & Steiner (1961):

- Menyadari

- Mengetahui

- Menyukai

- Memilih

- Mempercayai

- Membeli

b. Colley (1961):

- Belum menyadari

- Menyadari

- Memahami

- Mempercayai

- Mengambil tindakan

c. Rogers (1962):

- Menyadari

- Menaruh perhatian

- Menilai

- Mencoba

- Menerima (Adoption)

d. Robertson (1971):

- Persepsi tentang masalah

- Menyadari

- Memahami

- Menyikapi

- Mengesahkan

- Mencoba

- Menerima

- Disonasi

e. Rogers & Shoemakers (1971):

- Pengetahuan

- Persuasi

(Sikap)

- Keputusan

- Menerima Menolak

- Konfirmasi

f. Klonglan & Coward (1970):

- Menyadari

- Informasi

- Evaluasi Menolak

Simbolik

- Menerima

Simbolik

- Mencoba Percobaan

Ditolak

- Percobaan

Diterima

- Menggunakan

g. Zaltman & Brooker (1971):

- Persepsi

- Memotivasi

- Menyikapi

- Legitimasi

- Mencoba

- Evaluasi

- Menolak Menerima

Resolusi


2. Model proses inovasi yang berorientasi pada organisasi

a. Milo (1971):

- Konseptualisasi

- Tentatif adopsi

- Penerimaan Sumber

- Implementasi

- Institusionalisasi

b. Shepard (1967):

- Penemuan ide

- Adopsi

- Implementasi

c. Hage & Aiken (1970):

- Evaluasi

- Inisiasi

- Implementasi

- Routinisasi

d. Wilson (1966):

- Konsepsi perubahan

- Pengusulan perubahan

- Adopsi dan Implementasi

e. Rogers (1983):

I. Inisiasi (permulaan) Kegiatan pengumpulan informasi, konseptualisasi, dan perencanaan untuk menerima inovasi, semuanya diarahkan untuk membuat keputusan menerima inovasi.

1. Agenda setting. Semua permasalahan umum organisasi dirumuskan guna menentukan kebutuhan inovasi, dan diadakan studi lingkungan untuk menentukan nilai potensial inovasi.

2. Penyesuaian (matching). Diadakan penyesuain antara masalah organisasi dengan inovasi yang akan digunakan, kenmudian direncanakan dan dibuat desain penerapan inovasi yang sudah sesuai dengan masalah yang dihadapi keputusan untuk menerima inovasi.

II. Implementasi Semua kejadian, kegiatan, dan keputusan dilibatkan dalam penggunaan inovas.

3. Re-definisi/Re-strukturisasi

1) Inovasi dimodifikasi dan re-invensi disesuaikan situasi dan masalah organisasi

2) Struktur organisasi disesuaikan dengan inovasi yang telah dimodifikasi agar dapat menunjang inovasi

4. Klarifikasi Hubungan antara inovasi dan organisasi dirumuskan dengan sejelas-jelasnya sehingga inovasi benar-benar dapat diterapkan sesuai yang diharapkan.

5. Rutinisasi Inovasi kemungkinan telah kehilangan sebagian identitasnya, dan menjadi bagian dari kegiatan rutin organisasi


f. Zaltman, Duncan & Holbek (1973):

- Tahap Permulaan (Inisiasi)

(1) Langkah pengetahuan dan kesadaran

(2) Langkah pembentukan sikap terhadap inovasi

- Tahap Implementasi

(1) Langkah awal implementasi

(2) Langkah kelanjutan pembinaan

C. Difusi Inovasi Pendidikan

a. Pengertian dan Konsep Dasar Difusi Inovasi Pendidikan

Kata “Difusi Inovasi Pendidikan” terdiri dari tiga kata yaitu difusi, inovasi dan pendidikan. Secara etimologi difusi memiliki arti proses penyebaran dan perembesan sesuatu (kebudayaan, teknologi, ide) dari satu pihak ke pihak lainnya atau perpindahan arus listrik dari daerah yang berkonsentrasi tinggi sampai rendah. Sedangkan inovasi berasal dari kata innovation yang artinya hal yang baru atau pembaharuan. 

Sedangkan secara istilah inovasi dapat diartikan penemuan sesuatu yang benar-benar baru sebagai karya manusia. Sedangkan kata pendidikan itu sendiri salah satunya adalah Secara etimologi kata tersebut bermula dari kata didik yaitu memelihara dan memberikan pelatihan mengenai akhlaq dan kecerdasan pikiran. Sedangkan pendidikan merupakan hasil dari perbuatan. Menurut muhibbin syah pendidikan adalah sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga orang mendapatkan ilmu pengetahuan, pemahaman dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. 

Sedangkan menurut Ruswandi mengatakan pendidikan merupakan proses pembudayaan, pelembagaan, pengalihan, memberikan, menggambarkan, menjelaskan mengarahkan, pembakuan dan lain sebagainya.  Berbagai pengertian dari kata tersebut mengacu pada sebuah konsep yaitu salah satunya difusi inovasi dan pendidikan.  Difusi inovasi merupakan teori sains sosial yang menjelaskan tentang bagaimana dan mengapa ide baru dapat meresap terhadap budaya.

Difusi Inovasi pendidikan dapat diartikan sebagai penyebar luaskan inovasi tersebut melalui proses komunikasi. yang digunakan melalui saluran tertentu dalam suatu rentan waktu tertentu diantara anggota sistem sosial dan masyarakat. Dengan demikian maka difusi inovasi pendidikan merupakan proses mengkomunikasikan untuk memberikan suatu pengertian dalam bidang pendidikan kepada sistem sosial atau masyarakat dengan berlangsung sepanjang waktu agar tercapainya suatu pemahaman yang dapat diterima dalam kalangan masyarakat.

Oleh karena itu difusi merupakan proses komunikasi untuk menyebarluaskan gagasan, ide sebagai karya dan produk inovasi maka aspek komunikasi menjadi yang sangat penting dalam menyebar luaskan gagasan, ide atau produk tersebut.Untuk menyebarkan hal tersebut maka memerlukan Difusi Inovasi pendidikan sebagai penyebar luaskan  suatu inovasi untuk kemudian diadopsi oleh kelompok masyarakat tertentu.  

b. Landasan Teori dan hal-hal yang mempengaruhi Difusi Inovasi

Difusi merupakan salah satu dari komunikasi  yaitu komunikasi yang  mana pesan yang disampaikan adalah hal yang baru. Dengan demikian Difusi memiliki dua elemen teori yaitu tahap proses adopsi dan saluran, sebagai sumber-sumber yang mempengaruhi adopsi atau ide suatu kelompok.

Teori difusi inovasi suatu proses penyebaran dan penerapan inovasi. Teori ini dalam koridor komunitas sehingga dirancang untuk membantu membuat keputusan mempengaruhi populasi besar seperti komunitas dan institusi. Hal tersebut merujuk dari kata difusi yang memiliki arti penggabungan dan pendistribusian, atau penyebar luaskan. sedangkan inovasi adalah sesuatu yang baru atau berbeda.

Dalam kaitannya dengan difusi Inovasi, Rogers mengemukakan empat ciri penting yang mempengaruhi difusi inovasi.

a.       Esensi Inovasi

b.      Komunikasi dengan saluran tertentu

c.       Faktor waktu dan proses pengambilan keputusan

d.      Warga masyarakat atau sistem sosial.


D. Desiminasi Inovasi Pendidikan

Diseminasi (bahasa inggris: dissemination) adalah suatu yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mereka memperoleh, timbul kesadaran, menerima, dan akhirnya memanfaatkan informasi tersebut. Diseminasi adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Ini berbeda dengan difusi yang merupakan alur komunikasi spontan. Dalam pengertian ini dapat juga direncanakan terjadinya difusi. Misalnya dalam penyebaran inovasi penggunaan pendekatan keterampilan proses dalam proses belajar mengajar. Setelah diadakan percobaan dan siswa aktif belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan siswa aktif belajar. Maka hasil percobaan itu perlu didesiminasikan. Untuk menyebar luaskan cara baru tersebut, dengan cara menatar beberapa gruru dengan harapan akan terjadi juga difusi inovasi antar guru disekolah masing-masing. Terjadi saling tukar informasi dan akhirnya terjadi kesamaan pendapat antara guru tentang inovasi tersebut.  

Diseminasi merupakan tindak inovasi yang disusun menurut perencanaan yang matang, melalui diskusi atau forum lainnnya yang sengaja diprogramkan, sehingga terdapat kesepakatan untuk melaksanakan inovasi. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan bentuk diseminasi, karena sebarannya berdasarkan sebuah perencanaan dengan pandangan jauh ke depan. Di dalam pelaksanaannya pun, tidak sembarang kegiatan dapat dilakukan, namun benar-benar berdasarkan sebuah program yang terarah dan terencana secara matang.














BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan oleh individu atau organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan. Macam-macam proses inovasi pendidikan diantara adalah difusi dan diseminasi inovasi. 

Difusi adalah proses komunikasi inovasi antara warga masyarakat dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu. Komunikasi yang terbentuk disini ialah terjadinya saling tukar informasi (hubungan timbal balik) antar beberapa individu, baik secara memusat (konvergen) maupun memencar (divergen) yang berlangsung secara spontan. 

Diseminasi adalah proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan, dan dikelola. Apabila difusi terjadi secara spontan, diseminasi terjadi setelah ada perencanaan. Misalnya, dalam penyebaran inovasi penggunaan teknologi komputer dapat menunjang proses belajar mengajar.

B. Saran

Kami sangat mengetahui bahwa makalah yang kami susun masih jauh dari kata sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk makalah ini dan kami harap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan kami sebagai penyusun sebagai khazanah ilmu. 





Daftar Pustaka

Azhar, Abdul Hamid, Coharuddin Alwi, Muhammad. Rekacipta Dan Inovasi Dalam Perspektif Kreativity. Jakarta: Media Kreasindo.


Ananda, Rusydi, Amiruddin. 2017. Inovasi Pendidikan. Medan: CV Widya Puspita

Ruswandi, dkk. 2010 Pengembangan Kepribadian Guru. Bandung: C.V Insan Mandiri, 

Saefudin, Udin Sa’ud. 2009. Inovasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Syaputra, Iswandi. 2011. Komunikasi Prufentik; Konsep Dan Praktik dengan Pendekatan. Bandung : Simbiosa Rekatama Media.

Sunirta. 2018. Inovasi dan teknologi pembelajaran. CV Budi Utama : Yogyakarta






Kamis, 11 Mei 2023

KONSEP DASAR INOVASI PENDIDIKAN

 DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR…………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………... ii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………... 1

1.1  Latar Belakang……………………………………………………………………….. 1

1.2  Rumusan Masalah……………………………………………………………………. 1

1.3  Tujuan Penulisan…………………………………………………………………….. 1


BAB II PEMBAHASAN…..……………………………………………………………. 3

2.1 Pengertian Inovasi Pendidikan……………….………………………………………. 3

2.2 Karakteristik Inovasi……………...………………………………………………….. 5

2.3 Tujuan Inovasi Pendidikan….………………………………………………………... 7

2.4 Faktor-faktor yang Harus Diperhatikan dalam Inovasi Pendidikan…………………. 8

2.5 Masalah-masalah yang Menuntut Diadakan Inovasi…………………………………. 9

2.6 Proses Inovasi Pendidikan……………………………………………………………. 10


BAB III PENUTUP……………………………………………………………………….. 12

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………. 12

3.2 Saran………………………………………………………………………………….. 12


DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………. 13

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat dalam berbagai aspek kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan, merupakan suatu upaya untuk menjembatani masa sekarang dan masa yang akan datang dengan jalan memperkenalkan pembaharuan-pembaharuan yang cenderung mengejar efisiensi dan efektivitas.

Pembaharuan mengiringi perputaran zaman yang tak henti-hentinya berputar sesuai dengan kurun waktu yang telah ditentukan. Kebutuhan akan layanan individual terhadap peserta didik dan perbaikan kesempatan belajar bagi mereka, telah menjadi pendorong utama timbulnya pembaharuan pendidikan. Oleh karena itu, lembaga pendidikan harus mampu mengantisipasi perkembangan tersebut dengan terus menerus mengupayakan suatu program yang sesuai dengan perkembangan anak, perkembangan zaman, situasi, kondisi, dan kebutuhan peserta didik.

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan di bahas, yaitu :

1.      Apakah pengertian inovasi pendidikan?

2.      Apakah karakteristik inovasi pendidikan?

3.      Apakah tujuan inovasi pendidikan?

4.      Apakah faktor yang harus diperhatikan dalam inovasi dalam pendidikan?

5.      Apa saja masalah-masalah yang menuntut diadakannya inovasi?

6.      Bagaimana proses dalam inovasi pendidikan?


1.3  Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini yaitu:

1.      Mengetahui pengertian inovasi pendidikan.

2.      Mengetahui karakteristik inovasi pendidikan.

3.      Mengetahui tujuan inovasi pendidikan.

4.      Mengetahui faktor yang harus diperhatikan dalam inovasi pendidikan.

5.      Mengetahui apa saja masalah-masalah yang menyebabkan adanya inovasi.

6.      Mengetahui bagaimana proses dalam inovasi

 BAB II

PEMBAHASAN


2.1  Pengertian Inovasi Pendidikan


1.      Ibrahim

Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovsi pendidikan adalah inovasi dalam bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi, inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi hasil seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa hasil inverse (penemuan baru) atau discovery (baru ditemukan orang), yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memcahkan masalah pendidikan.

2.      Santoso S. Haryono

Santoso S. Hamijoyo mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif yang berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta di sengaja untuk diusahakan dalam meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan.

3.      Tilaar

Inovasi pendidikan menurut Tilaar harus didukung oleh kesadaran masyarakat untuk menuju perubahan. Karena apabila suatu masyarakat tersebut belum berkehendak dalam suatu sistem pendidikan yang diinginkannya, maka suatu perubahan atau inovasi pendidikan tidak akan mungkin terjadi. Namun, apabila masyarakat tersebut telah merasakan bahwa inovasi pendidikan merupakan suatu keharusan dan hal yang penting, maka hal tersebut akan melahirkan pemikiran-pemikiran dan pelaksanaan inovasi pendidikan.

4.      Mattew B. Miller

”To give more concreteness the universe called ”educational innovations” some samples are described billow. They are organized according to the aspect of a social systemwhich they appear to be most clearly associated. In most cases social system involved should be taken to be that of a school or cell although some innovationstake place within the context of many larger systems.”

Dari pendapat pakar mengenai inovasi pendidikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa inovasi pendidikan, adalah ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.

Pembaharuan (inovasi) diperlukan bukan saja dalam bidang teknologi, tetapi juga di segala bidang termasuk bidang pendidikan. Pembaruan pendidikan diterapkan didalam berbagai jenjang pendidikan juga dalam setiap komponen system pendidikan.

Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.

Kemajuan suatu lembaga pendidikan sangat berpengaruh pada outputnya sehingga akan muncul pengakuan yang rill dari siswa, orang tua dan masyarakat. Namun sekolah/ lembaga pendidikan tidak akan meraih suatu pengakuan rill apabila warga sekolah tidak melakukan suatu inovasi di dalamnya dengan latar belakang kekuatan, kelemahan tantangan dan hambatan yang ada.

Istilah perubahan dan pembaharuan ada perbedaan dan persamaannya. Perbedaannya, kalau pada pembaruan ada unsur kesengajaan. Persamaannya, yakni sama-sama memiliki unsur yang baru atau lain dari sebelumnya. Pembaruan pendidikan itu sendiri adalah perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal (yang sebelumnya) serta sengaja diusahakan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. Untuk mengetahui dengan jelas perbedaan antara inovasi dengan perubahan, mari kita lihat definisi yang diungkapkan oleh Nichols (1983:4).

Nichols menekankan perbedaan antara perubahan dan inovasi sebagaimana dikatakannya di atas, bahwa perubahan mengacu kepada kelangsungan penilaian, penafsiran dan pengharapan kembali dalam perbaikan pelaksanaan pendidikan yang ada yang diangap sebagai bagian aktivitas yang biasa. 

Sedangkan inovasi menurutnya adalah mengacu kepada ide, obyek atau praktek sesuatu yang baru oleh seseorang atau sekelompok orang yang bermaksud untuk memperbaiki tujuan yang diharapkan.

2.2  Karakteristik Inovasi

Cepat lambatnya penerimaan inovasi oleh masyarakat luas dipengaruhi oleh karakteristik inovasi itu sendiri. Dalam diffusion of innovasion menurut Everett M.  Rogers (1993: 14-16) mengemukakan karakteristik inovasi sebagai berikut:

1.   Relative advantage (Keunggulan relatif)

Para pengguna inovasi akan menilai apakah suatu  inovasi  itu relatif menguntungkan atau lebih   unggul dibanding yang  lainnya atau tidak. Untuk  pengguna inovasi yang menerima secara cepat  suatu inovasi, akan melihat inovasi itu  sebagai sebuah keunggulan.

Keunggulan relatif adalah derajat dimana suatu inovasi dianggap lebih baik dan unggul dari yang pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi eknomi, sosial, kenyamanan, kepuasan dan lain-lain. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, maka semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.

2.   Compatibility (Kompatibilitas/Konsisten)

Kompatibilitas adalah derajat dimana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, maka inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible). Pengguna inovasi (adopter)  juga akan mempertimbangkan pemanfaatan inovasi berdasarkan konsistensinya pada nilai-nilai, pengalaman  dan kebutuhannya.

3.   Complexity (Kompleksitas/kerumitan)

Kompleksitas adalah derajat dimana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya.

 Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, maka semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.

4.   Trialability (Kemampuan untuk dapat diuji)

Trialability adalah derajat dimana suatu inovasi dapat diuji-coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat di uji-cobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Seberapa jauh inovasi tersebut bisa diujicobakan di sekolah-sekolah atau di lembaga pendidikan. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi sebaiknya harus mampu menunjukan (mendemonstrasikan) keunggulannya.

Kemampuan untuk dapat diuji bertujuan untuk mengurangi ketidakpastian. Mempunyai kemungkinan untuk diuji coba terlebih dahulu oleh para adopter untuk mengurangi ketidak pastian mereka terhadap inovasi itu.

5.   Observability (Kemampuan untuk dapat diamati)

Observability adalah derajat dimana hasil suatu inovasi dapat terlihat oleh orang lain. inovasi tersebut dapat diperlihatkan secara nyata hasilnya kepada para peserta didik dan Apakah kita bisa melihat variasi-variasi saat mengaplikasikan inovasi tersebut. Semakin mudah seseorang melihat hasil dari suatu inovasi, semakin besar kemungkinan orang atau sekelompok orang tersebut mengadopsi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin besar keunggulan relative, kesesuaian (compatibility); kemampuan untuk diuji cobakan dan kemampuan untuk diamati serta semakin kecil kerumitannya, maka semakin cepat kemungkinan inovasi tersebut dapat diadopsi.

Dengan kemampuan untuk diamati akan mendorong adopter untuk  memberikan penilaian apakah inovasi itu  mampu meningkatkan status sosial mereka di depan orang lain sehingga dirinya akan dianggap sebagai orang yang inovatif.

Seorang inovator pendidikan harus mengetahui dan memahami karakteristik inovasi pendidikan agar tidak sia-sia dalam pelaksanaannya. Di saat kita membuat inovasi, kita harus yakin dulu apakah inovasi tersebut efisien, dapat diuji, dapat diamati, pasti dan bermanfaat atau tidak. Jika tidak memenuhi ke lima kriteria di ats, hendaknya kita berfikir seribu kali untuk memperkenalkan produk inovasi kita kepada publik.



2.3  Tujuan Inovasi Pendidikan

Menurut santoso (1974) tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana termasuk struktur dan prosedur organisasi. Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas : sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya dengan hasil pendidikan sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat dan pembangunan) dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.

Arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap, yaitu:

•      Mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan tekhnologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan kemajuan-kemajuan tersebut.

•      Mengusahakan terselenggarakannya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga Negara, misalnya meningkatkan daya tampung usia sekolah SD, SMP, SMA dan perguruan tinggi.

Disamping itu, akan diusahakan peningkatan mutu yang dirasakan makin menurun dewasa ini. Dengan sistem penyampaian yang baru, diharapkan peserta didik menjadi manusia yang aktif, kreatif dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.

Adapun tujuan inovasi pendidikan di Indonesia pada umumnya adalah :

  Lebih meratanya pelayanan pendidikan

  Lebih serasinya kegiatan belajar

  Lebih efisien dan ekonomisnya pendidikan

  Lebih efektif dan efisiensinya sistem penyajian

  Lebih lancar dan sempurnanya sistem informasi kebijakan

  Lebih dihargainya unsur kebudayaan nasional

  Lebih kokohnya kesadaran, identitas dan kesadaran nasional

  Tumbuhnya masyarakat gemar belajar

  Tersebarnya paket pendidikan yang memikat, mudah dicerna dan mudah diperoleh

  Meluasnya kesempatan kerja


2.4  Faktor-Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Inovasi Pendidikan


1)      Guru

Guru adalah orang yang sanagat berpengaruh orang yang sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu, guru harus betul-betul membawa siswanya kepada tujuan yang ingin dicapai. Guru harus mampu mempengaruhi siswanya. Guru harus berpandangan luas dan kriteria bagi seorang guru ialah harus memiliki kewibawaan karena dapat memberikan suatu kekuatan yang dapat memberikan kesan dan pengaruh. Dengan uraian di atas dapat dikemukakan bahwa untuk mengadakan pembaharuan dalam pendidikan, kita harus meningkatkan profesionalisme guru.

2)      Siswa

Siswa merupakan objek utama dalam proses belajar mengajar. Siswa dididik oleh pengalaman belajar mereka, dan kualitas pendidikannya bergantung pada pengalamannya, kualitas pengalaman-pengalaman, sikap-sikap, temasuk sikap-sikapnya pada pendidikan. Dan belajar dipengaruhi oleh orang yang dikaguminya. Oleh karena itu, dalam mengadakan pembaharuan pendidikan, kita harus memperhatikannya dari segi murid karena murid merupakan objek yang akan diarahkan.

3)      Fasilitas

Proses belajar mengajar akan berjalan lancer kalau ditunjang oleh sarana yang lengkap. Oleh karena masalah fasilitas merupakan masalah yang esensial dalam pendidikan, maka dalam pembaharuan pendidikan kita harus serempak pula memperbaharui mulai dari gedung sekolah sampai kepada maslah yang paling dominan, yaitu alat peraga 9sebgai penjelasan dalam penyampaikan pendidikan).

4)      Program atau Tujuan

Dalam proses belajar mengajar kita harus mempunyai tujuan yang jelas. Kita harus meniliti apa tujuan pendidikan nasional kita, apa pula tujuan institusionalnya, kurikulernya sampai kepada tujuan yang sangat sepesifik sekali telnologi informasi dan komunikasi. Dalam pembaharuan pendidikan tidak akan berhasil kalau mengenyampingkan masalah tujuan. Sebaliknya dengan memperjelas tujuan akan lebih mudahlah kepada apa yang akan dilakukan.


5)  Kurikulum

Kurikulum dalam arti yang luas adalah yang meliputi seluruh program dan kehidupan dalam sekolah. Kurikulum sekolah dapat dipandang sebagai bagian dari kehidupan. Oleh karena itu, kurikulum berpengaruh sekali kepada maju mundurnya pendidikan. Apabila kita mengadakan suatu inovasi dalam pendidikan, kita harus memperhatikan kurikulum yang sudah dirumuskan. Kalau pendidikan diperbaharui, maka sudah barang tentu (otomatis) kurikulumnya pun harus berubah. Kita tidak bisa mengadakan pembaharuan tanpa perubahan padakurikulum.


6) Lingkup Sosial Masyarakat

Dalam menerapakan inovasi pendidikan, ada hal yang tidak secara langsung terlibat dalam perubahan tersebut tapi bisa membawa dampak, baik positif maupun negatif, dalam pelaksanaan pembahruan pendidikan. Masyarakat secara tidak langsung atau tidak langsung, sengaja maupun tidak, terlibat dalam pendidikan. Sebab, apa yang ingin dilakukan dalam pendidikan sebenarnya mengubah masyarakat menjadi lebih baik teutama masyarakat di mana peserta didik itu berasal. Tanpa melibatkan masyarakat sekitarnya, inovasi pendidikan tentu akan terganggu, bahkan bisa merusak apabila mereka tidak diberitahu atau dilibatkan. Keterlibatan masyarakat dalam inovasi pendidikan sebaliknya akan membantu inovator dan pelaksana inovasi dalam pelaksanakan inovasi pendidikan.

2.5  Masalah-Masalah yang Menuntut Diadakan Inovasi

Pendidikan kita dewasa ini menghadapi berbagai tantangan dan persoalan. Adapun masalah-masalah yang menuntut diadakan inovasi di Indonesia, yaitu :

a.    Bertambahnya jumlah penduduk yang sangat cepat dan sekaligus bertambahnya keinginan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang secara kumulatif menuntut tersedianya sarana pendidikan yang memadai.

b.   Berkembangnya ilmu pengetahuan yang modern menghendaki dasar-dasar pendidikan yang kokoh dan penguasaan kemampuan terus menerus dan dengan demikian menuntut pendidikan yang lebih lama sesuai dengan konsep pendidikan seumur hidup (long education).

c.    Berkembangnya tekhnologi yang mempermudah manusia dalam menguasai dan memanfaatkan alam dan lingkungannya, tetapi yang sering kali ditangani sebagai suatu ancaman terhadap kelestarian peranan manusiawi.

Tantangan-tantangan di atas lebih berat lagi dirasakan karena berbagai persoalan datang baik dari luar maupun dari dalam system pendidikan itu sendiri, yaitu di antaranya :

a.    Sumber-Sumber yang makin terbatas dan belum dimanfaatkannya sumber yang ada secara efektif dan efisien.

b.   Sistem pendidikan yang masih lemah dengan tujuan yang masih kabur, kurikulumnya belum serasi, relevan, suasana belum menarik dan sebagainya.

c.    Pengelolaan pendidikan yang belum mekar dan mantap dan belum peka terhadap perubahan dan tuntutan keadaan, baik masa kini maupun masa akan datang.




2.6  Proses Inovasi Pendidikan

Proses inovasi pendidikan adalah serangkaian aktifitas yang dilakukan oleh individu/organisasi, mulai sadar tahu adanya inovasi sampai menerapkan (implementasi) inovasi pendidikan

Kata proses mengandung arti bahwa aktivitas itu dilakukan dengan memakan waktu dan setiap saat tentu terjadi perubahan. Berapa lama waktu yang dipergunakan selama proses itu berlangsung akan berbeda antara orang atau organisasi satu dengan yang lain tergantung pada kepekaan orang atau organisasi terhadap inovasi. Demikian pula selama proses inovasi itu berlangsung akan selalu terjadi perubahan yang berkesinambungan sampai proses itu dinyatakan berakhir.

Proses inovasi pendidikan mempunyai empat tahapan, di antaranya:

a.    Invention (penemuan)

Invention meliputi penemuan-penemuan tentang sesuatu hal yang baru, biasanya merupakan adaptasi dari yang telah ada. Akan tetapi pembaharuan yang terjadi dalam pendidikan, terkadang menggambarkan suatu hasil yang sangat berbeda dengan yang terjadi sebelumnya.

b.   Development (pengembangan)

Dalam proses pembaharuan biasanya harus mengalami suatu pengembangan sebelum ia masuk dalam dimensi skala besar. Development sering sekali bergandengan dengan riset, sehingga prosedur research dan development merupakan sesuatu yang biasanya digunakan dalam pendidikan.

c.    Diffusion (penyebaran)

Konsep diffusion seringkali digunakan secara sinonim dengan konsep dissemination, tetapi disini diberikan konotasi yang berbeda. Definisi diffusion menurut Roger (Cece Wijaya, 1992: 11) adalah suatu persebaran ide baru dari sumber inventionnya kepada pemakai atau penyerap yang terakhir.



d.   Adopsion (penyerapan)

Menurut Katz dan Hamilton (Cece Wijaya, 1992: 12), definisi proses pembaharuan dan difusi dalam butir-butir berikut ini: penerimaan, melebihi waktu biasanya, dari beberapa item yang spesifik, idea tau praktek/kebiasaan, oleh individu-individu, group, atau unit-unit yang dapat mengadopsi lainnya berkaitan, saluran komunikasi yang spesifik, terhadap struktur sosial, dan terhadap sistem nilai atau kultur tertentu.

BAB III

PENUTUP


3.1 Kesimpulan

Dari pendapat pakar mengenai inovasi pendidikan tersebut, dapat disimpulkan bahwa inovasi pendidikan, adalah ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.

Sebagai pendidik, kita harus mengetahui dan dapat menerapkan inovasi-inovasi agar dapat mengembangkan proses pembelajaran yang kondusif sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal.

Karakteristik inovasi pendidikan relative advantage (keunggulan relatif), compatibility (kompatibilitas/konsisten), complexity (kompleksitas/kerumitan), trialability (kemampuan untuk dapat diuji), dan observability (kemampuan untuk dapat diamati).

Menurut santoso (1974) tujuan utama inovasi, yakni meningkatkan sumber-sumber tenaga, uang dan sarana termasuk struktur dan prosedur organisasi. Tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi, relevansi, kualitas dan efektivitas : sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya dengan hasil pendidikan sebesar-besarnya (menurut kriteria kebutuhan peserta didik, masyarakat dan pembangunan) dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat dan waktu dalam jumlah yang sekecil-kecilnya.

Adapun faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam inovasi pendidikan adalah guru, siswa, fasilitas, program dan tujuan, kurikulum, dan lingkup sosial masyarakat.

Proses inovasi pendidikan terdiri dari empat tahap yaitu: Invention (penemuan), Development (pengembangan), Diffusion (penyebaran), Adopsion (penyerapan)

3.2 Saran

Makalah ini diharapkan dapat menjadikan kita menjadi calon guru yang baik dan juga diharapkan bagi teman-teman terutama calon guru untuk memberikan kritik maupun saran yang sifatnya membangun terhadap isi makalah yang kami buat ini guna untuk perbaikan makalah kedepannya.


DAFTAR PUSTAKA


http://forum.indonesiamengajar.org/discussion/116/pengertian-dan-tujuan-inovasi-pendidikan/p1

http://seputarpendidikan003.blogspot.co.id/2013/05/pengertian-inovasi-pendidikan.html

http://inovasi-pendidikan.blogspot.co.id/

https://inopend3.wordpress.com/

http://www.marioatha.com/2013/06/pengertian-inovasi-pendidikan.html

http://xerma.blogspot.co.id/2014/02/pengertian-inovasi-menurut-para-ahli.html



Politik dan Partai Politik

 BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Setelah jatuhnya Soeharto pada bulan Mei 1998, lebih dari 200 partai politik muncul. Pada akhirnya, 48 dari partai-partai tersebut diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam pemilu pada bulan Juni 1999, pemilu yang bebas yang pertama semenjak tahun 1955. Jumlah pemilih sangat tinggi, begitu juga antusiasme dari penduduk.

Dinamika partai politik masih ditandai dengan beberapa partai politik besar masih mempunyai basis massa dan mengakar di wilayah-wilayah tertentu. Terlebih lagi, dalam waktu yang singkat partai-partai tersebut menunjukkan berbagai kelemahan. Banyak partai politik dipenuhi dengan konflik internal, sumber dananya tidak jelas, tidak memiliki platform yang jelas dan elit partainya cenderung memonopoli proses pengambilan keputusan. Jelas terlihat bahwa selain kesetiaan dan ideologi yang sudah ada sejak dahulu, banyak kekuatan lainnya yang berpengaruh.

Berdasarkan uraian di atas, penulis menyusun sebuah makalah yang berjudul: “Politik dan Partai Politik”.


B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian politik dan Politik Islam?

2. Bagaimana sejarah singkat munculnya ilmu politik di Indonesia?

3. Apa pengertian partai politik?

4. Bagaimana lahirnya partai politik?

5. Apa fungsi partai politik?

6. Apa tujuan pembentukan partai politik?

7. Bagaimana sistem partai politik?

8. Bagaimana sejarah perkembangan partai politik?





C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pengertian politik dan Politik Islam

2. Mengetahui sejarah singkat munculnya ilmu politik di indonesia

3. Mengetahui pengertian partai politik

4. Mengetahui lahirnya partai politik

5. Mengetahui fungsi partai politik

6. Mengetahui tujuan pembentukan partai politik

7. Mengetahui sistem partai politik

8. Mengetahui sejarah perkembangan partai politik


BAB II 

PEMBAHASAN


A. Politik dan Politik Islam

1. Pengertian Politik

Dalam kamus umum bahasa indonesia, karangan W.J.S Poerwa Darminza, politik di artikan sebagai pengetahuan mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan, seperti tata cara pemerintahan dan sebagainya dan dapat pula berarti segala urusan dan tindakan. Siasat dan sebagainya mengenai pemerintahan sesuatu negara atau terhadap negara lain.

Selanjutnya sebagai suatu sistem, politik adalah suatu konsepsi yang berisikan antara lain ketentuan-ketentuan tentang siapa sumber kekuasaan negara, siapa pelaksana kekuasaan tersebut, apa dasar dan bagaimana cara untuk menentukan, serta kepada siapa kewenangan melaksanakan kekuasaan itu di berikan, kepada siapa pelaksanaan kekuasaan itu bertanggung jawab dan bagaimana bentuk tanggung jawabnya.

Politik ialah cara dan upaya menangani masalah-masalah rakyat dengan seperangkat undang-undang untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah hal-hal yang merugikan bagi kepentingan manusia. 

Karl W. Duetch dalam buku Politics and Government: How People Decide Their Fate: “Politik adalah pengambilan keputusan melalui sarana umum.” (Politics is the making of decision by public means). 

Jadi politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu serta untuk kebaikan bersama dan diambilnya keputusan melalui sarana umum.

Ilmu perpolitikan atau bisa kita sebut dengan ilmu politik. Menurut J. Barents, ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan negara … yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, ilmu politik mempelajari negara-negara itu dalam melaksanakan tugas-tugasnya.  Idrus Affandi mendefinisikan: “Ilmu politik ialah ilmu yang mempelajari kumpulan manusia yang hidup teratur dan memiliki tujuan yang sama dalam ikatan negara. 

Jadi ilmu politik ialah ilmu yang mempelajari kumpulan manusia yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan mempelajari serta memiliki tujuan yang sama dalam kehidupan negara .

Hal-hal yang berkaitan dengan politik:

a. Negara

Suatu organisasi dalam satu wilayah yang memiliki kekuasaan tertinggi yang ditaati oleh rakyatnya. Dapat dikatakan negara merupakan bentuk masyarakat dan organisasi politik yang paling utama dalam suatu wilayah yang berdaulat.

b. Kekuasaan

Kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginannya. Yang perlu diperhatikan dalam kekuasaan adalah bagaimana cara memperoleh kekuasaan, bagaimana cara mempertahankan kekuasaan dan bagaimana kekuasaan itu dijalankan.

c. Pengambilan keputusan

Politik adalah pengambilan keputusan melaui sarana umum, keputusan yang diambil menyangkut sektor publik dari suatu negara. Yang perlu diperhatikan dalam pengambilan keputusan politik adalah siapa pengambil keputusan itu dan untuk siapa keputusan itu dibuat. 

d. Kebijakan umum

Suatu kumpulan keputusan yang diambill oleh seseorang atau kelompok politik dalam memilih tujuan dan cara mencapai tujuan itu.

e. Distribusi

Pembagian dan pengalokasian nilai-nilai (values) dalam masyarakat. Nilai adalah sesuatu yang diinginkan dan penting, nilai harus dibagi secara adil. Politik membicarakan bagaimana pembagian dan pengalokasian nilai-nilai secara mengikat.

2. Politik Islam

Politik Islam (bahasa Arab: سياسي إسلامي) adalah Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama dikenal istilah siyasah syar’iyyah. Dalam Al Muhith, siyasah berakar kata sâsa - yasûsu. Dalam kalimat Sasa addawaba yasusuha siyasatan bererti Qama ‘alaiha wa radlaha wa adabbaha (mengurusinya, melatihnya, dan mendidiknya). Bila dikatakan sasa al amra ertinya dabbarahu (mengurusi / mengatur perkara). Bererti secara ringkas maksud Politik Islam adalah pengurusan atas segala urusan seluruh umat Islam.

Politik Islam ialah aktivitas politik sebagian umat Islam yang menjadikan Islam sebagai acuan nilai dan basis solidaritas berkelompok. Pendukung perpolitikan ini belum tentu seluruh umat Islam (baca: pemeluk agama Islam). Karena itu, mereka dalam kategori politik dapat disebut sebagai kelompok politik Islam, juga menekankan simbolisme keagamaan dalam berpolitik, seperti menggunakan perlambang Islam, dan istilah-istilah keislaman dalam peraturan dasar organisasi, khittah perjuangan, serta wacana politik.

Politik Islam secara substansial merupakan penghadapan Islam dengan kekuasan dan negara yang melahirkan sikap dan perilaku (political behavior) serta budaya politik (political culture) yang berorientasi pada nilai-nilai Islam. Sikap perilaku serta budaya politik yang memakai kata sifat Islam, menurut Dr. Taufik Abdullah, bermula dari suatu keprihatinan moral dan doktrinal terhadap keutuhan komunitas spiritual Islam.

Politik islam didasarkan kepada tiga prinsip, yaitu tauhid, risalah, dan khalifah. Tauhid berarti mengesakan Allah SWT selaku pemilik kedaulatan tertinggi. Oleh karna itu manusia sebagai pengemban amanah, sehingga tindak tanduk politik yang dilakukan muslim terkait erat dengan keyakinan kepada Allah SWT.

Secara konseptual di kalangan ilmuwan dan pemikir politik Islam era klasik, menurut Mumtaz Ahmad dalam bukunya State, Politics,  and Islam, menekankan tiga ciri penting sebuah negara dalam perspektif Islam, yakni adanya masyarakat Muslim (ummah),  hukum Islam (syari’ah), dan kepemimpinan masyarakat    Muslim  (khilafah).

Prinsip-prinsip politik yang tertuang dalam Al Qur’an dan Al Hadist merupakan dasar politik islam yang harus diaplikasikan kedalam system yang ada. Diantaranya prinsip-prinsip dasar politik islam tersebut:

Keharusam mewujudkan persatuan dan kesatuan umat (Al Mu’min:52).

Keharusan menyelesaikan masalah ijtihadnya dengan damai (Al Syura:38 dan Ali Imran:159)

Ketetapan menunaikan amanat dan melaksanakan hukum secara adil (Al Nisa:58)

Kewajiban menaati Allah dan Rosulullah serta ulil amr (Al Nisa:59)

Kewajiban mendamaikan konflik dalam masyarakat islam (Al Hujarat:9)

Kewajiban mempertahankan kedaulatan negara dan larangan agresi (Al Baqarah:190)

Kewajiban mementingkan perdamain dari pada permusuhan (Al Anfal:61)

Keharusan meningkatkan kewaspadaan dalam pertahanan dan keamanan (Al Anfal:60)

Keharusan menepati janji (An Nahl:91)

Keharusan mengutamakan perdamaian diantara bangsa-bangsa (Al Hujarat:13)

Keharusan peredaran harta keseluruh masyarakat (Al Hasyr:7)

Keharusan mengikuti pelaksanaan hukum


B. Sejarah Singkat Munculnya Ilmu Politik di indonesia

Menurut prof Dan Nimmo dalam bukunya yang berjudul “komunikasi politik” yang menyatakan bahwa orang-orang yang pertama kali di indonesia yang menyandang gelar doktornya dalam bidang politik adalah Dr. Astrid, Dr.Alwi dahlan dan Dr. S sunarjo, di indonesia ilmu politik merupakan disiplin ilmu yang telah lama tercantum dalam kurikulum ilmu sosial baik dalam kajian ilmu komunikasi ataupun dalam ilmu politik, atas dasar  tokoh-tokoh politik inilah ilmu politik mulai di ajarkan kepada pelajar khususnya dalam perguruan tinggi

Dan pada saat ini perkembangan politik di indonesia berkembang dengan pesat, sehingga ketiga tokoh inilah di sebut sebagai reformer dalam bidang politik di indonesia.


C. Pengertian Partai Politik

Partai politik sesungguhnya merupakan sebuah kendaraan, yang fungsinya untuk menyatukan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama dalam penyelenggaraan negara. Berdasarkan visi dan misi tersebut, partai politik memiliki program-program politik yang dilakukan dengan bersama-sama dari setiap masing-masing anggotanya, serta memiliki tujuan untuk menduduki jabatan politik di pemerintahan

Menurut Miriam Budiardjo dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar Ilmu Politik” pengertian partai politik adalah:  Suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kekuasaan politik dengan cara konstutisional untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanan mereka.  

Sedangkan definisi partai politik menurut ilmuwan politik yaitu:

1. Friedrich : partai politik sebagai kelompok manusia yang terorganisasikan secara stabil dengan tujuan untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan dalam pemerintahan bagi pemimpin partainya, dan berdasarkan kekuasaan tersebut akan memberikan kegunaan materil dan idil kepada para anggotanya. 

2. Soltau : partai politik sebagai kelompok warga negara yang sedikit banyak terorganisasikan, yang bertindak sebagai suatu kesatuan politik dan dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk memilih, bertujuan untuk menguasai pemerintahan dan menjalankan kebijakan umum yang mereka buat. 

Tujuan dari pembentukan partai polik ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik – (biasanya) dengan cara konstitusionil – untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka. 


D. Lahirnya Partai Politik

Partai politik pertama-tama lahir di negara-negara Eropa Barat bersamaan dengan gagasan bahwa rakyat merupakan fakta yang menentukan dalam proses politik. Dalam hal ini partai politik berperan sebagai penghubung antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di lain pihak . Maka dalam perkembangannya kemudian partai politik dianggap sebagai menifestasi dari suatu sistem politik yang demokratis, yang mewakili aspirasi rakyat.

Pada permulaannya peranan partai politik di negara-negara Barat bersifat elitis dan aristokratis, dalam arti terutama mempertahankan kepentingan golongan bangsawan terhadap tuntutan raja, namun dalam perkembangannya kemudian peranan tersebut meluas dan berkembang ke segenap lapisan masyarakat. Hal ini antara lain disebabkan oleh perlunya dukungan yang menyebar dan merata dari semua golongan masyarakat. Dengan demikian terjadi pergeseran dari peranan yang bersifat elitis ke peranan yang meluas dan populis.

Perkembangan selanjutnya adalah dari Barat, partai politik mempengaruhi dan berkembang di negara-negara baru, yaitu di Asia dan Afrika. Partai politik di negara-negara jajahan sering berperan sebagai pemersatu aspirasi rakyat dan penggerak ke arah persatuan nasional yang bertujuan mencapai kemerdekaan. Hal ini terjadi di Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda) serta India. Dan dalam perkembanganya akhir-akhir ini partai politik umumnya diterima sebagai suatu lembaga penting terutama di negara-negara yang berdasarkan demokrasi konstitusional, yaitu sebagai kelengkapan sistem demokrasi suatu negara.


E. Fungsi Partai Politik

Partai politik menjalankan fungsi sebagai alat mengkomunikasikan pandangan dan prinsip-prinsip partai, program kerja partai, gagasan partai dan sebagainya. Agar anggota partai dapat mengetahui prinsip partai, program kerja partai atau pun gagasan partainya untuk menciptakan ikatan moral pada partainya, komunikasi politik seperti ini menggunakan media partai itu sendiri atau media massa yang mendukungnya. 

o Partai sebagai sarana komunikasi politik. Partai menyalurkan aneka ragam pendapat dan aspirasi masyarakat. Partai melakukan penggabungan kepentingan masyarakat (interest aggregation) dan merumuskan kepentingan tersebut dalam bentuk yang teratur (interest articulation). Rumusan ini dibuat sebagai koreksi terhadap kebijakan penguasa atau usulan kebijakan yang disampaikan kepada penguasa untuk dijadikan kebijakan umum yang diterapkan pada masyarakat.

o Partai sebagai sarana sosialisasi politik. Partai memberikan sikap, pandangan, pendapat, dan orientasi terhadap fenomena (kejadian, peristiwa dan kebijakan) politik yang terjadi di tengah masyarakat. Sosialisi politik mencakup juga proses menyampaikan norma-norma dan nilai-nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahkan, partai politik berusaha menciptakan image (citra) bahwa ia memperjuangkan kepentingan umum.

o Partai politik sebagai sarana rekrutmen politik. Partai politik berfungsi mencari dan mengajak orang untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai.

o Partai politik sebagai sarana pengatur konflik. Di tengah masyarakat terjadi berbagai perbedaan pendapat, partai politik berupaya untuk mengatasinya. Namun, semestinya hal ini dilakukan bukan untuk kepentingan pribadi atau partai itu sendiri melainkan untuk kepentingan umum.


F. Tujuan Pembentukan Partai Politik

Tujuan dari pembentukan partai politik menurut Undang-undang no.2 tahun 2008 tentang partai politik, yaitu:

1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pembukaan undang-undang dasar negara republik Indonesia tahun 1945

2. Menjaga dan memelihara keutuhan negara kesatuan republik Indonesia

3. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan pancasila dengan menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam negara kesatuan republik Indonesia

4. Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan kegiatan politik dan pemerintahan

6. Memperjuangkan cita-cita partai politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

7. Membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

Selain itu ada juga tujuan partai politik menurut basis sosial dibagi menjadi empat tipe yaitu :

1. Partai politik berdasarkan lapisan masyarakat yaitu bawah, menengah dan lapisan atas.

2. Partai politik berdasarkan kepentingan tertentu yaitu petani, buruh dan pengusaha.

3. Partai politik yang didasarkan pemeluk agama tertentu.

4. Partai politik yang didasarkan pada kelompok budaya tertentu. 


G. Sistem Partai Politik

Maurice Duverger membagi sistem partai politik menjadi tiga sistem utama yaitu :

1. Sistem partai Tunggal

Sistem partai ini biasanya berlaku di dalam negara-negara Komunis seperti Cina dan Uni Soviet.

2. Sistem dua partai

Sistem partai seperti ini dianut sebagian negera yang menggunakan paham liberal pemilihan di negara-negara tersebut mengguanakan sistem distrik. Negara yang menganut sistem dua partai adalah Amerika Serikat dan Inggris.

3. Sistem Multipartai

Sistem partai seperti ini dianut oleh negara Belanda, Perancis, di dalam ssitem ini menganut partai mayoritas dan minoritas dan diikuti oleh lebih dari dua partai.


H. Sejarah Perkembangan Partai Politik

Perkembangan partai politik di Indonesia dapat digolongkan dalam beberapa periode perkembangan, dengan setiap kurun waktu mempunyai ciri dan tujuan masing-masing, yaitu : Masa penjajahan Belanda, Masa pedudukan Jepang, masa merdeka,  dan masa reformasi.

1. Masa Penjajahan Belanda.

Masa ini disebut sebagai periode pertama lahirnya partai politik di Indoneisa (waktu itu Hindia Belanda). Lahirnya partai menandai adanya kesadaran nasional. Pada masa itu semua organisasi baik yang bertujuan sosial seperti Budi Utomo dan Muhammadiyah, ataupun yang berazaskan politik agama dan sekuler seperti Serikat Islam, PNI dan Partai Katolik, ikut memainkan peranan dalam pergerakan nasional untuk Indonesia merdeka.

Kehadiran partai politik pada masa permulaan merupakan menifestasi kesadaran nasional untuk mencapai kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Setelah didirikan Dewan Rakyat , gerakan ini oleh beberapa partai diteruskan di dalam badan ini. Pada tahun 1939 terdapat beberapa fraksi di dalam Dewan Rakat, yaitu Fraksi Nasional di bawah pimpinan M. Husni Thamin, PPBB (Perhimpunan Pegawai Bestuur Bumi Putera) di bawah pimpinan Prawoto dan Indonesische Nationale Groep di bawah pimpinan Muhammad Yamin.

Di luar dewan rakyat ada usaha untuk mengadakan gabungan partai politik dan menjadikannya semacam dewan perwakilan rakyat. Pada tahun 1939 dibentuk KRI (Komite Rakyat Indoneisa) yang terdiri dari GAPI (Gabungan Politik Indonesia) yang merupakan gabungan dari partai-partai yang beraliran nasional, MIAI (Majelis Islami) yang merupakan gabungan partai-partai yang beraliran Islam yang terbentuk tahun 1937, dan MRI (Majelis Rakyat Indonesia) yang merupakan gabungan organisasi buruh.

2. Masa Pendudukan Jepang

Pemerintahan militer Jepang mula- mula melarang dan membubarkan partai- partai politik yang telah ada. Namun kemudian disetujui berdirinya partai politik yang bernama Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di bawah pimpinan “ Empat Serangkai “, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hadjar Dewantara, K.H Mansyur. Atas perintah pemerintah Jepang partai ini kemudian dibubarkan pada bulan Maret 1944. 

Pada masa ini, semua kegiatan partai politik dilarang, hanya golongan Islam diberi kebebasan untuk membentuk partai Masyumi, yang lebih banyak bergerak di bidang sosial. Selama Jepang berkuasa di Indonesia, kegiatan Partai Politik dilarang, kecuali untuk golongan Islam yang membentuk Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI).

3. Masa Merdeka (mulai 1945).

Beberapa bulan setelah proklamsi kemerdekaan, terbuka kesempatan yang besar untuk mendirikan partai politik, sehingga bermunculanlah parti-partai politik Indonesia. Dengan demikian kita kembali kepada pola sistem banyak partai.

Pemilu 1955 memunculkan 4 partai politik besar, yaitu : Masyumi, PNI, NU dan PKI. Masa tahun 1950 sampai 1959 ini sering disebut sebagai masa kejayaan partai politik, karena partai politik memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara melalui sistem parlementer.  Sistem banyak partai ternyata tidak dapat berjalan baik. Partai politik tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik, sehingga kabinet jatuh bangun dan tidak dapat melaksanakan program kerjanya. Sebagai akibatnya pembangunan tidak dapat berjaan dengan baik pula. Masa demokrasi parlementer diakhiri dengan Dekrit 5 Juli 1959, yang mewakili masa masa demokrasi terpimpin.

Pada masa demokrasi terpimpin ini peranan partai politik mulai dikurangi, sedangkan di pihak lain, peranan presiden sangat kuat. Partai politik pada saat ini dikenal dengan NASAKOM (Nasional, Agama dan Komunis) yang diwakili oleh NU, PNI dan PKI. Pada masa Demokrasi Terpimpin ini nampak sekali bahwa PKI memainkan peranan bertambah kuat, terutama memalui G 30 S/PKI akhir September 1965).

Setelah itu Indonesia memasuki masa Orde Baru dan partai-partai dapat bergerak lebih leluasa dibanding dengan msa Demokrasi terpimpin. Suatu catatan pada masa ini adalah munculnya organisasi kekuatan politik bar yaitu Golongan Karya (Golkar). Pada pemilihan umum thun 1971, Golkar munculsebagai pemenang partai diikuti oleh 3 partai politik besar yaitu NU, Parmusi (Persatuan Muslim Indonesia) serta PNI.

Pada tahun 1973 terjadi penyederhanaan partai melalui fusi partai politik. Empat partai politik Islam, yaitu : NU, Parmusi, Partai Sarikat Islam dan Perti bergabung menjadi Partai Persatu Pembangunan (PPP). Lima partai lain yaitu PNI, Partai Kristen Indonesia, Parati Katolik, Partai Murba dan Partai IPKI (ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia) bergabung menjadi Partai Demokrasi Indonesia. Maka pada tahun 1977 hanya terdapat 3 organisasi keuatan politik Indonesia dan terus berlangsung hinga pada pemilu 1997. 

4. Masa Reformasi

Reformasi lahir setelah runtuhnya rezim orba yang ditandai dengan mundurnya Presiden Suharto pada 21 Mei 1998. Pada jaman reformasi, peran parpol sangat besar dalam pemerintahan. Keberadaan parpol sangat berhubungan erat dengan kiprah para elite politik. Intinya, hakikat reformasi adalah tampilnya partisipasi penuh kekuatan-kekuatan masyarakat yang disalurkan lewat parpol sebagai pilar demokrasi. Dengan keluarnya UU no 2 tahun 1999 dan disempurnakan UU no 3 tahun 2002, maka tidak heran dapat muncul berbagai parpol sehingga jumlah parpol sangat banyak. 

Untuk Kemudian dibuatlah peraturan perundang-undangan yang mengatur sistem Politik Indonesia yakni Undang-undang No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, Undang-undang No. 23 tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dan Undang-undang No. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD dan DPRD.

BAB III

PENUTUP


Simpulan

Politik adalah bermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu serta untuk kebaikan bersama dan diambilnya keputusan melalui sarana umum. Ilmu politik ialah ilmu yang mempelajari kumpulan manusia yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat dan mempelajari serta memiliki tujuan yang sama dalam kehidupan negara.

Politik Islam ialah aktivitas politik sebagian umat Islam yang menjadikan Islam sebagai acuan nilai dan basis solidaritas berkelompok. Pendukung perpolitikan ini belum tentu seluruh umat Islam (baca: pemeluk agama Islam). Karena itu, mereka dalam kategori politik dapat disebut sebagai kelompok politik Islam, juga menekankan simbolisme keagamaan dalam berpolitik, seperti menggunakan perlambang Islam, dan istilah-istilah keislaman dalam peraturan dasar organisasi, khittah perjuangan, serta wacana politik.

Menurut prof Dan Nimmo dalam bukunya yang berjudul “komunikasi politik” yang menyatakan bahwa orang-orang yang pertama kali di indonesia yang menyandang gelar doktornya dalam bidang politik adalah Dr. Astrid, Dr.Alwi dahlan dan Dr. S sunarjo, di indonesia ilmu politik merupakan disiplin ilmu yang telah lama tercantum dalam kurikulum ilmu sosial baik dalam kajian ilmu komunikasi ataupun dalam ilmu politik, atas dasar  tokoh-tokoh politik inilah ilmu politik mulai di ajarkan kepada pelajar khususnya dalam perguruan tinggi, sehingga ketiga tokoh inilah di sebut sebagai reformer dalam bidang politik di indonesia.

Menurut Miriam Budiardjo dalam bukunya yang berjudul “Dasar-dasar Ilmu Politik” pengertian partai politik adalah:  Suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kekuasaan politik dengan cara konstutisional untuk melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanan mereka.

Partai politik pertama-tama lahir di negara-negara Eropa Barat bersamaan dengan gagasan bahwa rakyat merupakan fakta yang menentukan dalam proses politik. Dalam hal ini partai politik berperan sebagai penghubung antara rakyat di satu pihak dan pemerintah di lain pihak. Maka dalam perkembangannya kemudian partai politik dianggap sebagai menifestasi dari suatu sistem politik yang demokratis, yang mewakili aspirasi rakyat.

Partai politik menjalankan fungsi sebagai alat mengkomunikasikan pandangan dan prinsip-prinsip partai, program kerja partai, gagasan partai dan sebagainya. Agar anggota partai dapat mengetahui prinsip partai, program kerja partai atau pun gagasan partainya untuk menciptakan ikatan moral pada partainya, komunikasi politik seperti ini menggunakan media partai itu sendiri atau media massa yang mendukungnya.

Tujuan dari pembentukan partai politik, yaitu:

1. Mewujudkan cita-cita nasional bangsa Indonesia 

2. Menjaga dan memelihara keutuhan negara kesatuan republik Indonesia

3. Mengembangkan kehidupan demokrasi berdasarkan pancasila 

4. Mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

5. Meningkatkan partisipasi politik anggota dan masyarakat 

6. Memperjuangkan cita-cita partai politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

7. Membangun etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara

Maurice Duverger membagi sistem partai politik menjadi tiga sistem utama yaitu:

1. Sistem partai Tunggal

2. Sistem dua partai

3. Sistem Multipartai

Perkembangan partai politik di Indonesia dapat digolongkan dalam beberapa periode perkembangan, dengan setiap kurun waktu mempunyai ciri dan tujuan masing-masing, yaitu : Masa penjajahan Belanda, Masa pedudukan Jepang, masa merdeka, dan masa reformasi.



DAFTAR PUSTAKA


Al-Bahnasawi, Salim Ali. Tt. Wawasan Sistem Politik Islam Cet. I. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar

Budiardjo, Miriam. 2008. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Deutsch, Karl W. 1972. Politics and Government: How People Decide Their Fate. Boston: Houghton Mifflin Company

Friedrich. 1998. Pengantar Ilmu Politik. Surabaya

http://djokoyuniarto.multiply.com/journal/item/6/Partai_Politik, diakses 11 Februari 2014

http://philosophiaofdikaiosune.wordpress.com/2012/05/18/sejarah-partai-politik-di-dunia-dan-di-indonesia, diakses 11 Februari 2014

http://ruhcitra.wordpress.com/2008/11/21/pengertian-politik/, diakses 11 Februari 2014

http://www.kamushukum.com/kamushukum_entries.php?_tujuan%20partai%20politik_ &ident=9242, diakses 11 Februari 2014

http://www.slideshare.net/Hennov/partai-politik-11868590, diakses 11 Februari 2014

J. Barents. 1965. Ilmu Politik: Suatu Perkenalan Lapangan, Terj. L.M. Sitorus. Jakarta: PT. Pembangunan

Siregar. 1999. Ilmu Politik. Solo: PT. Raja Grafindo Persada

Undang-undang Republik Indonesia NO. 27 Tahun 2003, BAB II Pasal, Undang-undang Politik 2003. Jakarta.  Sinar Grafika. 2005

Winara, Kusumo. 2003. Politik Indonesia. Jakarta. Bumi Aksara

Jumat, 17 April 2015

PENULISAN KARYA ILMIAH SEBAGAI MEDIA PENGEMBANGAN PROFESI GURU


1.        Pendahuluan Pentingnya karya ilmiah

Guru SD sebagai salah satu komponen pendidik di Indonesia memegang peranan penting dalam mengemban tugas nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan dasar seharusnya memberikan fondasi yang amat kokoh baik yang menyangkut aspek fisik, mental, dan kepribadian anak. Tugas  tersebut merupakan tugas yang tidak mudah karena guru SD mempunyai peran yang penting dalam menumbuh kembangkan anak di masa yang akan datang. Oleh karena itu para guru SD dituntut sanggup bekerja secara professional di semua aspek baik aspek kompetensi professional maupun aspek kompetensi penguasaan akademik.
Searah dengan pengembangan kompetensi guru tersebut, Menpan telah menerbitkan suatu aturan khusus  bagi guru (termasuk guru SD) dengan SK MENPAN No 26 Th 1989 tentang Angka kredit bagi guru. Angka kredit adalah symbol dari prestasi kerja guru.
Di lingkungan Dinas P dan K Kabupaten Bantul, di SD-SD banyak dijumpai masalah dan salah satunya adalah kenaikan pangkat untuk ke golongan IV/a dan i IV/b  relative sedikit. Hal ini karena guru menghadapi kendala pengumpulan angka kredit pada komponen penulisan karya ilmiah. Menurut SK MENPAN No 84 Th 1993 telah dirinci bahwa penulisan karya ilmiah meliputi :
a.       Karya ilmiah hasil penelitian yang dipublikasikan
b.      Karya ilmiah hasil penelitian yang tidak dipublikasikan
c.       Karya ilmiah hasil gagasan sendiri berbentuk buku atau makalah yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasi oleh penulis
d.      Tulisan ilmiah populer   
Setiap guru hendaknya mau dan mampu menghasilkan karya tulis ilmiah seperti artikel, makalah, buku teks, modul,  penelitian dan lain-lain. Karya tulis ilmiah ini  sangat bermanfaat bagi pengembangan profesi guru dan juga proses pendidikan.


2.  Kelompok Karya Tulis Ilmiah
Macam karya tulis ilmiah di bidang pendidikan menurut Suharsimi Arikunto dalam makalah yang disampaikan sebagai bahan penyerta pelatihan/ penyegaran bagi guru dan Kepala sekolah dalam rangka penigkatan pangkat/jabatan IV/a sampai dengan IV/c dibedakan sebagai berikut :
a.       Karya tulkis/karya ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey  dan atau evaluasi
b.      Karya tulis/makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri.
c.       Tulisan ilmiah popular yang dimuat dalam media massa atau media lain yang mendapat ijin terbit.
d.      Prasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah
e.       Buku pelajaran atau modul
f.       Diktat pelajaran
g.      Tulisan hasil alih bahasa asing ke bahasa Indonesia atau sebaliknya selama berfungsi untuk pembelajaran
Dalam Pedoman Penyusunan Karya Tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru (2001; 5-6) macam karya tulis ilmiah sebagai berikut:
a.       Karya tulkis ilmiah hasil penelitian, pengkajian, survey  dan atau evaluasi di bidang pendidikan
b.       Karya tulis/makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri
c.       Tulisan ilmiah popular di bidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa
d.      Prasaran yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah
e.       Buku pelajaran atau modul
f.        Diktat pelajaran
g.       Karya penerjemahan buku pelajaran/karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan.

Dari ketujuh macam karya tulis ilmiah dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu
1.      laporan hasil penelitian yaitu karya ilmiah yang berupa hasil, kajian penelitian
2.      Tulisan ilmiah yang berujud artikel, makalah, naskah yang penyajiannya menggunakan format atau aturan tertentu
3.      Buku karya ilmiah yang berisi bahan pelajaran yang berguna meningkatkan kualitas pembelajaran yang dapat berujud buku pelajaran, modul, diktat dan karya terjemahan.
            Kelompok karya tulis ilmiah di atas  secara jelas dapat dilihat pada table di bawah sebagai berikut;
Tabel 1 : Pengelompokan karya tulis ilmiah

No
Kelompok Karya Ilmiah
Jenis karya Ilmiah
1
Laporan hasil kegiatan ilmiah
Karya tulis hasil penelitian, survey, kajiann dan evaluasi bidang pendidikan
2.
Tulisan Ilmiah
Karya tulis atau makalah yang berisi gagasan sendiri; karya ilmiaj popular di bidang pendidikan yang dipublikasikan; prasaran yang berupa tinjauan, gagasan, atau ulasan yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah
3.
Buku
Buku pelajaran, modul, diktat pelajaran, karya penerjemahan

3. Kerangka Karya Tulis Ilmiah
     Menurut Petunjuk Praktis Pengembangan Profesi  bagi Jabatan Fungsional Guru (Depdinas, 2001) kerangka karya tulis ilmiah sebagai berikut :
1). Karya  tulis ilmiah hasil penelitian survey, kajian atau evaluasi di bidang pendidikan
      a. judul penelitian
      b. latar belakang penelitian
      c. tujuan penelitian
      d. landasan teori atau pustaka
      e. metode atau prosedur penelitian
      f. hasil-hasil/ penyajian data
      g. analisis atau pembahasan
      h. simpulan dan saran
2). Kerangka karya tulis atau makalah yang berisi  gagasan sendiri; karya ilmiaj popular di bidang pendidikan yang dipublikasikan; prasaran yang berupa tinjauan, gagasan, atau ulasan di bidang pendidikan.
     
      a. judul
      b latar belakang masalah
      c.kerajinan teori/tinjaunan pustaka
.      d.metodologi yang dipakai
       e.penyajian data
        f.analisis data
        g.simpulan dan saran

3).kerangka buku pelajaran
    a.tujuan pembelajaran umum
    b.tujuan pembelajaran khusus
    c.judul/sub judul
    d.uraian singkat isi pokok bahasan
     e.uraian isi pelajaran
     f.ringkasan isi/rangkuman
     g.latihan/tugas/soal

 4).kerangka penulisan modul
     a.tujuan pembelajaan umum
     b.tujuan pembelajaran khusus
     c.rincian kegiatan belajar
     d.petunjuk belajar
     e.materi pokok
     f.uraian materi
     g.contoh
     h.latihan dan kunci
     i.rangkuman
     j.tugas/tes
     k.tes akhir modol
     l.kunci tes/tugas
     m.rangkuman seluruh modul

5).kerangka penulisan diktat pelajaran
    a.judul/sub judul
    b.tujuan pembelajaran umum
    c.tujuan pembelajaran khusus
    d.uraian materi

4. Bahasa Karya Tulis Ilmiah        
Bahasa yang digunakan dalam menulis ilmiah adalah bahasa Indonesia ilmiah, atau bahasa tulis ilmiah. Cirri bahasa ilmiah adalah:
a. Lugas. Bahasa yang lugas akan menghindari kesalah pahaman, kesalahan menafsirkan isi kalimat. Contoh  siswa banyak mendapat tugas yang tidak dapat dikatakan ringan  
b. Jelas.
c. Baku, formal, contoh
Kata baku/formal
Kata tidak baku/formal
Wanita
Cewek
Daripada
Ketimbang
Hanya
Cuma
Membuat
Bikin
Bagaimana
Gimana
Matahari
Mentari
e.       obyektif. Sifat obyektif tidak cukup sebagai pokok gagasan. Kata yang ekstrim dapat menunjukkan kesan subyektif contoh , harus, wajib, pasti, selalu, dan tidak mungkin.
f.       Ringkas, padat. Ringkas membuat kalimat tidak panjang dan padat artinya kandungan dalam gagasan padat
            Proses menulis pada suatu karya ilmiah menuntut cara berpikir sistematis; pemikiran bahasa harus secara tepat menyatakan buah pikiran.. penuangan-penuangan pikiran dituliskan dalam satu paragraph. Di dalam tulisan merupakan kesatuan terkecil. Satu pragraf terdiri dari beberapa kaliamat. Kalimat –kalimat dalam satu paragraph saling berhubungan secara structural tatabahasa dan struktur cara berpikir.    
    
5. Jabatan Profesional Guru
Profesi guru sarat dengan berbagai kegiatan-kegiatan yang mendukung penciptaan dan pengembangan pengetahuan ilmiah seperti membaca, mendidik, meneliti, mengobservasi, menganalisis, dan lain-lain. Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan di sekolah dituntut harus professional. Dalam melaksanakan tugas pengajarannya, guru harus menguasi ilmu pengetahuan, menguasai metode pembelajaran, dan mengenal baik anak didiknya. Guru harus menguasai latar belakang kehidupan anak didik, lingkungan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian seorang guru dalam menjalankan tugasnya harus mampu  a). berkomunikasi dengan baik, b). menganalisis anak didik dan lingkungan masyarakat sekitar, c). menulis hasil analisis tersebut, d) menyajikan proses pemebeljaran dengan tepat, e) melakukan evaluasi hasil belajar.
Dalam SK MENPAN No 26 Th 1989  menegaskan bahwa jabatan fungsional guru dapat dicapai melalui kenaikan pangkat pilihan yang terdiri dari bidang a). pendidikan, b). proses belajar mengajar, c). pengembangan profesi, d) kegiatan penunjang PBM. Sebagaimana telah ditetapkan bahwa kenaikan pangkat pilihan adalah kenaikan pangkat berdasarkan prestasi kerja, bukan berdasar pada masa kerja.
Penetapan angka kredit bagi guru dapat memberi makna baik dan tetap berkompitisi secara sehat dalam mengembangkan karier mencapai pangkat setinggi-tingginya. Penetapan angka kredit dapat menyeleksi guru yang betul-betul berprestasi. Dan terciptanya pola pembinaan prestasi dan karir guru secara obyektif, terkoordinasi, terpadu dan konseptual ( Wahjosumidjo, 2001; 304)
Kemauan guru menulis karya ilmiah juga sangat bermanfaat bagi guru itu sendiri. Kemauan guru menulis akan meningkatkan pengetahuan dan wawasan guru, karena guru akan senantiasa terdorong untuk mengumpulkan bahan-bahan tulisan dari berbagai sumber sesuai dengan karya yang ditulisnya, kemudian mempelajarinya.. Karir guru pun dapat meningkat seiring meningkatnya keterampilan guru dalam menghasilkan karya tulis yang banyak dan berkualitas. Ini berarti akan ada peningkatan dari aspek kesejahteraan yaitu peningkatan penghasilan (gaji dan tunjangan). Lebih dari itu semua, hasil dan dampak positif dari kemauan dan kemampuan menulis karya ilmiah guru akan menjadi pintu masuk ’dunia prestasi’ sehingga guru lebih termotivasi untuk berprestasi.
 Penetapan angka kredit  bagi jabatan guru, apabila diperhatikan dapat sebagai alat untuk memotivasi para guru dalam mencapai prestasi setinggi-tingginya. Berikut disajikan table rincian kegiatan guru dan angka kreditnya (dikutip dari sebagian lampiran1) pada SK MENPAN No 84 Th 1993.
Unsur      : Pengembangan Profesi
Subunsur: melaksanakan kegiatan karya tulis ilmiahdi bidang pendidikan
Ukuran penilaian
Angka kredit
1.Karya tulis hasil penelitian, survey, kajiann dan evaluasi bidang pendidikan yang dipublikasikan
a. dalam bentuk buku yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional
b. dalam majalah ilmiah yang diakui oleh Departemen yang bersangkutan
Setiap karya



Setiap karya

12,5



6
2.Karya tulis hasil penelitian, survey, kajiann dan evaluasi bidang pendidikan yang tidak dipublikasikan, tetapi didokumentasi di perpustakaan sekolah
a.       dalam bentuk buku
b.      dalam bentuk makalah




Setiap buku
Setiap  makalah




8
4
3. karya tulis berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan yang dipublikasikan
a.       dalam bentuk buku yang diterbitkan dan diedarkan secara nasional
b.      dalam majalah ilmiah yang diakui oleh Departemen yang bersangkutan



Setiap buku

Setiap majalah




8

4
4.Karya tulis berupa tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan yang tidak dipublikasikan tetapi didokumentasi di perpustakaan sekolah
a.       dalam bentuk buku
b.      dalam bentuk majalah




Setiap buku
Setiap majalah




7
3,5
5. tulisan ilmiah popular di bidang penelitian dan kebudayaan yang disebarluakan melalui media massa
Setiap tulisan yang merupakan satu kesatuan
2

Daftar Pustaka
Proyek Pengembangan Profesi Tenaga Kependidikan, 2001, Petunjuk praktis Pengembangan Profesi Bagi Jabatan Fungsional Guru, Jakarta. 
Depdiknas. 2001, Pedoman Penyususnan Karya tulis Ilmiah di Bidang Pendidikan dan angka Kredit Pengembangan Profesi Guru . Jakarta, Depdiknas

Suharsimi Arikunto, 2005, Penulisan karya Tulis Ilmiah Bagi jabatan Fungsional Guru,  Makalah Pelatihan

Wahjosumidjo, 2002, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada

  
Consuelo G Sevilla, 1993, Pengantar Metode Penelitian, UI Press Jakarta
Cristina P Carel, 1973, Sampling Desain and Prosedure Paper of Survey Research Methodology, trial edition PSSC Social Servey series I

Suharsimi Arikunto, 1993, Prosedur Penelitian, Rineka Cipta, Jakarta 
Sutrisno Hadi, 1991, Pokok-Pokok  metodelodi Penelitian Ilmiah, makalah penataran Metode penelitian Tenaga Pengajar ISI Yogyakarta

-------------- , 1988 Statistik jilid 2 Andi Offset, Yogyakarta
Winarno Suracmad, 1978, Pengantar Metodologi Ilmiah, Tarsito , Bandung
















Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites