Selasa, 21 Mei 2013

Islam Di Bawah Kepemimpinan Khulafaurrasyidin


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Sejarah adalah suatu rujukan saat kita akan membangun masa depan. Namun, kadang orang malas untuk melihat sejarah. Sehingga orang cenderung berjalan tanpa tujuan dan mungkin mengulangi kesalahan yang pernah ada dimasa lalu. Disnilah sejarah berfungsi sebagai cerminan bahwa dimasa silam telah terjadi sebuah kisah yang patut kita pelajari untuk merancang masa depan.
Khulafa al-Rasyidun sebagai sahabat-sahabat yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad kiranya pantas untuk dijadikan sebagai rujukan saat kita akan melaksanakan sesuatu dimasa depan. Karena peristiwa yang terjadi sungguh beragam. Dari mulai cara pengaangkatan sebagai khalifah, sistem pemerintahan, pengelolaan administrasi, hubungan sosial kemasyaratan dan lain sebagainya ( Siti Maryam, dkk.2004 : 45)
Dalam memahami sejarah kita dituntut untuk dapat berpikir kritis. Sebab, sejarah bukanlah sebuah barang mati yang tidak dapat dirubah. Akan tetapi sejarah bisa saja dirubah kisahnya oleh sang penulis sejarah. Nalar kritis kita dituntut untuk mampu membaca sejarah dan membandingkan dengan pendapat lain. Saat kita sudah mampu untuk menyibak tabir sejarah dari berbagai sumber, barulah kita dapat melakukan rekonstruksi sejarah.
Rekonstruksi sejarah perlu dilakukan agar kita dapat memisahkan antara peradaban Arab dan peradaban islam. Sebab, kita sering memakan mentah-mentah peradaban yang datang dari Arab sebab semuanya dianggap sebagai peradaban islam. Kita perlu memandang peradaban dari berbagai aspeknya. Langkah ini agar kita tidak hanya sekedar ”bangga” dan larut dalam historisisme yang seringkali ”menjebak” pemikiran progressif kita.1

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ni adalah sebagai berikut :
Apa yang di maksud dengan khulafaurrosidin ?
Siapa para pemimpin khulafaurrosidin ?
Bagaimanakah sejarah kepemimpinan khulafaurrosidin ?
Bagaiman system politik dan pemerintahan khulafaurrosidin ?

1.3  Tujuan Masalah
Adapun tujuan masalah dalam pembuatan makalah ni adalah sebagai berikut :
Untuk mengetahui  apa yang di maksud dengan khulafaurrosidin.
Untuk mengetahui siapa para pemimpin khulafaurrosidin.
Untuk mengetahui  bagaimanakah Sejarah kepemimpinan khulafaurrosidin.
Untuk mengetahui bagaiman system politik dan pemerintahan khulafaurrosidin.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian khulafaurrosidin
Khulafaurrasyidin adalah pecahan dari kata Khulafa’ dan Al – Rasyidin, Kata Khulafa’ mengandung pengertian  : cerdik, pandai dan pengganti. Sedangkan kata, Al – Rasyidin mengandung pengertian  : Lurus Benar dan Mendapat petunjuk.
Pengertian Khulafaurrasyidin adalah “ Pengganti yang cerdik dan benar serta para pemimpin pengganti Rasulullah dalam urusan kehidupan kaum muslimin, yang sangat adil dan bijaksana, pandai dan cerdik, dan dalam menjalankan tugasnyasenantiasa pada jalur yang benar serta senantiasa mendapatkan hidayah dari Allah SWT.
2.2 Para pemimpin khulafaurrosidin
Para pemimpin Khulafaurrasyidin terdiri dari empat orang sahabat Rasulullah Yaitu:
Abu Bakar Siddiq
Umar Ibn Khattab
Utsman Ibn Affan.
Ali Ibn Abi Thalib.
Dalam pemerintahannya mereka berjuang terus untuk agama Islam . mereka tidak pernah memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadinya ataua untuk mengeruk harta. Mereka adalah pemimpin – pemimpin yang baik dalam melaksanakan kekuasaan. Mereka mau menerima dan mengemban kekhalifahan, bukan karena untuk mengharapkan sesuatu  yang akan menguntungkan pribadiya, tetapi semata – mata karena pengabdiannya terhadap Islam dan mencari Keridhaan Allah SWT semata.
Setiap langkah yang dilakukan oleh Khulafaurrasyidin tidak pernah bertentangan dengan kemauan kaum muslimin selalu berjalan pada jalur yang benar. (Mohamed Abed Al-Jabiri,2004:5)

2.3 Sejarah hidup  para pemimpin khulafaurrosidin
2.3.1 Abu Bakar As-Shiddiq 11-3 H/ 632-634 M
2.3.1.1  Riwayat Hidup Abu Bakar
Sebelum memeluk agama Islam , beliau bernama Abdul ka’bah, setelah masuk Islam oleh rasulullah Namanya diganti menjadi Abdullah Ibn  Abu Quhafah At – Tamimi. Ibunya bernama Ummul Khoir Salma Binti Sakhir Ibn Amir. Beliau Lahir dua tahun setelah Kelahiran Nabi Muhammad.
Abdullah kemudian digelari Abu Bakar Asy Siddiq yang artinya “ Abu (Bapak ) dan Bakar ( Pagi ), gelar Ash Siddiq diberikan kepada beliau karena beliau orang senantiasa membenarkan segala tindakan Rasulullah, terutama dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.

2.3.1.2  Abu Bakar menjadi Khalifah
Rasulullah, Sebagai utusan Allah mengemban dua jabatan , yakni sebagai Rasulullah dan sebagai kepala Negara. Jabatan Beliau yang pertama selesai bersamaan dengan wafatnya. Namun jabatan kedua perlu  ada penggantinya,
Belum lagi rasulullah dikebumikan , disebuah tempat yang bernama “ Saqifah bani Sa’idah telah terjadi perselisihan pendapat antara golongan Anshor dan golongan muhajirin , tentang pengganti rasul dalam pemerintahan.
Berita perdebatan dua golongan ini kemudian terdengar oleh sahabat – sahabat terkemuka seperti Abu Bakar, Umar Ibn Khattab dan Utsman Ibn Affan yang sedang berada di rumah Rasulullah, sedang sahabat Ali sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah.
Mendegar berita ini akhirnya sahabat Abu baker dan Umar ibn Khattab sangat terkejut, kemudian keduanya  cepat – cepat mendatangi dimana kedua golongan tersebut yang sedang berdebat, untuk itu mereka mendatangi Saqifah Bani Sa’idah.
Abu baker berpidato dihadapan mereka dengan mengemukakan kelebihan – kelebihan Anshor dan Golongan Muhajirin, Abu Bakar Mengusulkan agar hadirin memilih salah satu dari sahabat  yaitu Umar Ibn Khattab dan Abu Ubaidah, namun keduanya menolak, dan keduanya berkata, “Demi Allah kami tidak akan menerima pekerjaan besar ini selama engkau m,asih ada , hai abu bakar! …. Engkaulah Orang Muhajirin yang paling mulia , Engkaulah satu – satunya orang yang menyertai Rasulullah di Gua ketika dikejar – kejar oleh orang – orang Quraisy engkaulah satu – satu nya orang yang pernah Rasulullah untuk menjadi Imam Shalat waktu Rasulullah Sakit…Untuk itu tengadahkanlah tanganmu wahai abu baker, kami hendak membaiatmu.
Pada awalnya Abu bakar sendirimerasa keberatan, kemudian Umar ibn Khattab memegang tangan Abu bakar sebagai tanda pembaiatan  dan diikuti oleh sahabat Abu Ubaidillah, setelah kedua sahabat selesai maka diikuti oleh seluruh sahabat yang ada di balairung itu baik kaum Muhajirin maupun Anshor.
Kemudia Abu Bakar berpidato ; “ Wahai Manusia ! saya telah diangkat untuk mengandalikan urusanmu padahal aku bukanlah orang terbaik diantara kamu , maka jikalau aku menjalankan tugasku dengan baik maka ikutilah aku, tetapi jika aku berbuat salah , maka luruskanlah ! orang yang kamu pandang kuat saya pandang lemah, sehingga aku dapat mengambil hak darinya, sedag orang yang kau pandang lemah aku pandang kuat , sehingga aku dapat mengambalikan hak kepadanya. Hendaklah kamu taat kepadaku selama aku Taat kepada Allah dan RasulNya., tetapi bilamana aku tidak mentaati Allah dan rasulnya, kamu tidak perlu mentaatiku. (H. Munawir Sjadzali, M.A.1993:25 )

2.3.1.3  Langkah langkah Khalifah Abu Bakar.
Diawal pemerintahannya muncul tiga golongan, Golongan pertama menyatakan dirinya keluar dari Islam (Murtad), Golongan kedua yaitu golongan yang tidak puas dengan Islam, mereka menganggap karena , pemimpinnya sama dengan para budak. Maka muncul Musailamah Al Kazzab dari bani Hanifah di yamamah., Sajah dari bani Tamim, Al Aswad al Ansi dari yaman dan Thulaihah ibn Khuwailid dari Bani Asad. Mereka ini mengaku dirinya sebagai Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.  Kemudian golongan ketiga adalah mereka yang ketiga adalah mereka yang salah memahami  ayat – ayat Al – Qur’an. Mereka mengatakan bahwa yang berhak memungut zakat  adalah Nabi, untuk itu setelah Nabi Wafat maka tidak seorang pun yang berhak memungut zakat.
Menghadapi golongan – golongan ini Abu bakar setelah bermusyawarah dengan sahabat – sahabat lainnya mengambil tindakan tegas. Beliau membentuk pasukan yang dibagi ke dalam 11 batalion yang masing masing dipimpin oleh seorang panglima, yaitu:
Khalid ibn Walib ditugaskan untuk memerangi Thulaihah Ibn Khuwailid dan para pengikutnya.
Ikrimah bin Abi jahl ditugaskan untuk memerangi Musailamah Al kazzab dan Para pengikutnya.
Syarahbil bin Hasanah bertugas mendampingi ikrimah.
Al Muhajjir Ibn abi Umayyah ditugaskan utuk memerangi Aswad Al Ansi dan para pengikutnya.
Huzaifah ibn Muhsin bertugas untuk menaklukkan Negeri Daba di Umman.
Arfajah Ibn Hartsamah ditugaskan ke Negeri Muhrah.
Suaid Ibn Muqrin ditugaskan ke Yaman.
Al Ula Ibn Al Hadromy ditugaskan ke Bahrein.
Thuraifah Ibn hajiz ditugaskan ke Negri Bani Sulaim dan Bani Hawazin.
Amru Ibn Al Ash ditugaskan ke Negeri Qudhoah
Kholid Ibn Sa’id ditugaskan ke tanah –tanah tinggi Syam.
Sebelum Pasukan itu dikerahkan kenegeri masing – masing, Khalifah Abu bakar terlebih dahulu mengirimkan surat kepada golongan – golongan itu agar mereka kembali ke Islam. Namun sebagian besar merka tetap bersikeras, maka pasukan ini pun dikerahkan , dan dalam waktu yang relative singkat , pasukan Abu Bakar telah sukses dengan gemilang.
Dengan suiksesnya pasukan Khalifah Abu Bakar ini , maka keadaan Negara Arab tenag kembali.
Langkah kedua yang dilakukan Khalifah Abu bakar adalah mengirimkan pasukan ke Negri Persia dan Syam dibwah pimpinan Panglimanya. Yakni Kholid Ibn Walid. Penyerangan ini dilakukan karena pada saat Abu bakar sedang menghadapi golongan – golongan pembngkang Persia dan syam banyak memberi dukungan dan bantuan kepada mereka , disamping itu Persia dan syam selalu mengancam terhadap Islam.
Kholid Ibn Walid sebelum menyerang terlebih dahulu mengirim surat kepada Hormoz ( Kaisar Persia ) untuk memeluk agama Islam, Namu Kaisar Hormoz membalasnya dengan mengirimkan pasukan, maka pertempuranpun tak terelakkan. Dalam pertempuran ini panglima kholid ibn walid berhasil menaklukkan psukan Persia dan raja Hormoz sendiri terbunuh. Dengan demikian Persia menjadi wilayah Islam.
Langkah selanjutnya adalah mengumpulkan ayat – ayat al Qur’an . Usaha ini awalnya muncul dari  usul umar Ibn Khattab, beliau melihat banyaknya penghafal alqur’an yang gugur dalam pernag yamamah.,Mulanya Abu Bakar Menolak, Kemudian khalifah Abu bakar memerintah sahabat Zaid Ibn Tsabit untuk mengumpulkan Al Qur’an, karena beliau paling bagus Hafalannya.
Demikian perjuangan Khalifah Abu Bakar selama dua tahun , dan pada tanggal 21 Jumadil Akhir 13 H bertepatan dengan 12 Agustus 634 M Beliau wafat.

2.3.4      Biografi Umar Ibn Khattab.
Ayahnya bernama Nufail Al Quraisy dan Ibunya bernama Hantamah Binti Hasim. Beliau berasal dari bani Adiy.
Dimasa Jahiliyah Umar adalah seorang saudagar yang berpengaruh mulia dan berkedudukan tinggi.
Masuknya Umar ke barisan Umat islam telah membawa perubahan baru bagi masyarakat Islam.umat Islam berani menjalankan Sholat dirumahnya masing – masing. Tidak takut menghadapi kaum Quraisy.
Umar Ibn Khattab diangkat menjadi Khalifah setelah wafatnya khalifah abu baker ,Yaitu tahun 634 M- 644/13 H-23 H
2.3.5      Perjuangan Khalifah Umar Ibn Khattab.
Memperbaiki Struktur dan lembaga Negara.
Beliau sorang yang adil dan jujur .pada masa pemerintahannya.negara menjadi Aman. Beliau mengangkat dewan hakim, badan permusyawaratan para sahabat. Badan keuangan
Untuk daerah-daerah, karena wilayah kekuasaan islam semangkin luas,beliau mengangkat Gubernur
Lembaga kepentingan msyarakat
Yaitu diadakannya jawatan pos yang akan menyampaikan berita dari kota madina ke daerah – daerrah lainnya, begitu juga sebaliknya.
Perbaikan jalan – jalan umum juga mendapat perhatian , memberi santunan anak yatim , orang tua dan wanita menyusui, khalifah umar juga menetapkan tanggal 1 muharram sebagai tahun baru Hijriyah. Dan menetapkan bulan sabit sebagai lambing Negara.
Menaklukkan beberapa Negara kedalam Islam
-         Menakklukkan Damaskus.
Dibawah pimpinan khalid Ibn Walid, pasukan Islam bergerak ke damaskus. Saat pasukan islam masuk ke damaskus prajurit Islam dalam keadaan mabuk – mabukan sehingga dengan mudah dapat ditaklukkan.
Sementara panglima Abu Ubaidah bersama pasukannya juga sukses menaklukkan daerah sekitar syam.
Dan di daerah tersebut Khalifah umar memerintahkan Khalid iIbn Walid dan Abu ubaidah agar memberi kebebasan beragama kepada penduduknya.
-         Membebaskan Baitul Maqdis
Saat itu baitul maqdis dikuasai oleh kerajaan romawi, maka khalifah umar ibn Khattab mengirim bala tentaranya dibawah pimpinan Amr Ibn Ash.
Pasukan Romawi yang dipimpin Artabun  tidak mampu menghadapi pasukan Islam, setelah pasukan romawi dikepung selama 4 bulan mereka menyerah.
-         Menaklukkan Persia
Khalifah Umar mengirim pasukannya ke Persia dibawah pimpinn Khalid Ibn Walid yang dibantu oleh Mutsanna Ibn Haritsah, akan tetapi Khalid ibn walid diperintahkan untuk membantu pasukan Abu ubaidah di roma dan Mutsanna tetap di Persia. Dengan begitu kekauatan kaum muslimin di Persia berkurangh dan tidak dapat menaklukkan Persia.
Setelah romawi tunduk pada Islam Khalifah Umar mengirimkan kembali pasukan Islam ke Persia berjumlah 8000 orang dibawah pimpinan Sa’ad Ibn Abi Waqosh, dan bertemu dengan pasukan Persia dengan kekauatan 30000 pasukan, namun kaum muslimin memperoleh kemenangan yang gemilang.
-         Menaklukkan Mesir
Mesir saat itu dikuasai oleh tentara Romawi, maka khalifah umar mengirim pasuknnya ke mesir dibawh pimpinn Amr ibn Ash.
Dibeberapa daerah kaum muslimin mendapat kemenangan, namuan di Ummu Dunain, kaum muslimin tidak dapat menundukkan  kekuatan tentara Romawi, maka Amr Ibn Ash memint bantuan kepada khalifah umar Ibn Khattab. Kemudian khalifah umar mengirim pasukannya yang berjumlah 4000 orang dimana terdapat Zubai, Ubadah Ibn Shamit, dan Al Miqdad Ibn Aswad., dan kaum muslimin harus berjuang menghadapi lawan yang berjumlah 20000 orang maka amr ibn ash mengatur siasat perang.
Khalifah Umar Ibn Khattb wafat tanggal 1 Muharram 23 H ( 644 ) beliau wafat akibat tikaman, saat menjalankan sholat subuh. Oleh Fairuz atau Abu Lulu karena Dendam tak beralasan. Beliau menjadi khalifah selama 10 tahun. Dan dimakamkan di madinah disamping makam Rasulullah dan Abu Bakar As – Siddiq

2.1 Kelahiran Khalifah Usman bin Affan
Nama lengkapnya adalah Usman bin Affan bin Abil Ash bin Abi Umayyah bin Abdi Syam bin Abdi Manafbin Qushiy bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Gholib Al-Qurosyiyy[1].  Lahir pada tahun 576 M. Enam tahun setelah penyerangan ka’bah oleh pasukan bergajah atau setelah enam tahun setelah kelahiran Rasulullah SAW. Ibu khalifah Ustman bin Affan  adalah Urwy bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdi Asy-syam[2]. Usman bin affan masuk islam pada usia 30 tahun atas ajakan Abu Bakar. Sesaat setelah masuk islam , ia sempat mendapatkan siksaan dari pamannya, Hakam bin Abi Abil Ash. Ia di juluki Dzun Nurain, karena dia menikahi dua putri Rasululloh SAW. secara berurutan setelah yang satu meninggal,  yakni Ruqayah dan Ummu Kulsum[3].
Khalifah Usman bin Affan ikut berhijrah bersama istrinya ke Abesinia dan termasuk muhajir pertama ke Yatsrib. Ia termasuk orang yang shaleh ritual dan sosial. Siang hari ia gunakan untuk shaum dan malamnya untuk shalat. Ia sangat gemar al-Qur’an. Sehingga Khalid Muh Khalid menulis bahwa untuk shalat dua rakaat saja, Ustman menghabiskan waktu semalaman karena banyaknya ayat  al-Quran yang di baca, dan pada saat khalifah Ustman wafat,al-qur’an berada di pangkuannya. Kesalehan sosialnya terbukti dan membeli telaga milik yahudi seharga 12.000 dirham menghibahkannya kepada kaum muslimin pada saat hijrah ke Yatsrib. Mewakafkan tanah seharga 15.000 dinar untuk perluasan masjid nabawi. Menyerahkan 940 ekor unta, 60 ekor kuda, 10.000 dinar unuk keperluan jaisyul ushrah pada perang tabuk. Setiap hari jum’at, Usman bin Affan membebaskan seorang budak laki-laki dan seorang budak perempuan. Pada massa paceklik, massa pemerintahan abu bakar, ustman menjual barang sehari-hari dengan harga yang sangat murah, bahkan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin. Usman termasuk orang yang penyayang, sehingga pernah suatu pagi, ia tidak tega membangunkan pelayannya untuk mengambil air wudhu, padahal ia sedang sakit dan sudah udzur.
Pada zaman nabi Muhammad SAW, Usman bin Affan mengikuti beberapa peperangan, di antaranya perang uhud, khaibar pembebasan kota mekkah, perang tha’if, hawazin dan tabuk. Perang badar, tidak ia ikuti karena di suruh oleh Rasululloh SAW. menunggu istrinya yang sedang sakit sampai meninggalkannya.

2.2 Proses Pengangkatan Khalifah Utsman bin Affan
Sebelum meninggal, Umar telah memanggil tiga calon penggantinya, yaitu Ustman, Ali, dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Dalam pertemuan dengan mereka secara bergantian, Umar berpesan agar penggantinya tidak mengangkat kerabat sebagai pejabat [munawwir sadzali,1993: 30]. Di samping itu, Umar telah membentuk dewan formatur yang bertugas memilih penggantinya kelak. Dewan formatur  yang di bentuk umar berjumlah 6 orang. Mereka adalah Ali, Ustman, Sa’ad bin Waqqash, Abdur Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah. Di samping itu Abdullah bin Umar dijadikan anggota, tetapi tidak memiliki hak suara[4].
Mekanisme  pemilihan khalifah ditentukan sebagai berikut, pertama, :Yang berhak menjadi khalifah adalah yang  dipilih oleh anggota formatur  dengan suara terbanyak. Kedua, apabila suara terbagi secara berimbang (3:3), Abdullah bin Umar yang berhak menentukannya. Ketiga, apabila campur tangan Abdullah bin Umar tidak diterima, calon yang dipilih oleh Abd Ar-Rahman bin Auf harus diangkat menjadi khalifah. Kalau masih ada yang menantangnya, penentang tersebut hendaklah dibunuh (Hasan Ibrahim Hasan,1954: 254-5).
Anggota yang khawatir dengan tata tertib pemilihan tersebut adalah Ali.  Ia khawatir Abd Ar-Rahman (yang mempunyai kedudukan strategis ketika pemilihan (deadlock) tidak bisa berlaku adil karena antara Usman dan Abd  Ar-Rahman terdapat hubungan kekerabatan. Akhirnya, Ali mengikuti kemauan sendiri, tidak memihak, tidak mengistimewakan keluarga, Ali menyetujuinya Abd Ar-Rahman berjanji berlaku adil, tidak memihak, tidak mengikuti kemauan sendiri, tidak mengistimewakan keluarga, dan tidak menyulitkan umat.  Setelah Abd Ar-Rahman berjanji, Ali menyetujuinya (Ath Thabari, l, t.th, :36).
Masa pemerintahan Usman bin Affan termasuk yang paling lama apabila dibandingkan   dengan khalifah yang lainnya, yaitu selama 12 tahun; 24-36 H/644-656 M. Umar 10 tahun 13-23 H/656-661 M. Abu Bakar 2 tahun 11-13 H/632-634 M, dan Ali 5 tahun 36-41 H./656-661 M. Awal pemerintahan Utsman, atau kira-kira 6 tahun masa pemerintahannya penuh berbagai prestasi.
Perluasan pemerintahan islam telah mencapai Asia dan Afrika, seperti daerah Herat, Kabul, Ghazani , dan Asia Tengah, juga Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, dan bagian yang tersisa dari Persia, dan berhasil menumpas pemberontakan yang dilakukan orang Persia. Dalam bidang sosial budaya, Usman bin Affan telah  membangun bendungan besar untuk mencegah banjir dan mengatur pembagian air ke kota. Dan membangun jalan, jembatan, masjid, rumah dan penginapan.
Peperangan di masa  ini adalah Perang  Zatis Sawari  yaitu “Perang Tiga Kapal”, suatu peperangan di tengah lautan yang belum pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para khalifah yang terdahulu-terdahulu. Dan disebut Zatis Sawari, karena pada perang tersebut dilakukan di Laut Tengah dekat kota Iskandariyah antara tentara Romawi di bawah pimpinan kaisar Constantine dengan Laskar kaum Muslimin di bawah pimpinan Abdullah bin Abi Sarah, umat islam mengerahkan kurang lebih 200 kapal[5].

2.3 Visi Dan Misi Khalifah Usman Bin Affan
Mengetahui visi dan misi khalifah Usman bin Affan dalam melanjutkan kekhalifahannya, dapat dilihat dari isi pidato setelah Usman bin Affan dilantik atau dibai’at menjadi khalifah ketiga negara Madinah, beliau menyampaikan isi pidato penerimaan jabatan sebagai berikut.
“Sesungguhnya kamu sekalian berada dalam  negeri yang tidak kekal dan dalam pemerintahan yang selalu berganti. Maka bergegaslah kamu berbuat baik menurut kemampuan kamu untuk menyongsong waktu akhir kamu. Maka sampailah waktunya untuk saya berkhidmat kepada kamu setiap saat. Ingatlah sesungguhnya dunia ini diliputi kepalsuan maka janganlah kamu di permainkan kehidupan dunia dan janganlah kepalsuan mempermainkan kamu terhadap Allah. Beriktibarlah kamu dengan orang yang telah lalu, kemudian bersungguh-sungguhlah dan jangan melupakannya, karena sesungguhnya masa ini tidak akan melupakan kamu. Dimanakah di dunia ini terdapat pemerintahan yang bertahan lama? Jauhkanlah dunia sebagaimana Allah memerintahkannya, tuntutlah akhirat. Sesungguhnya Allah telah memberikannya sebagai tempat yang lebih baik bagi kamu. Allah berfirman, ‘Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang di terbangakan oleh angin. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (Q.S AL-KAHFI/18:45)”[6].
Pidato diatas, menggambarkan dirinya sebagai sufi, dan citra pemerintahannya lebih bercorak agama daripada bercorak politik, dalam pidato itu Usman mengingatkan  beberapa hal penting :
1)    Agar umat islam selalu berbuat baik sesuai kemampuan sebagai bekal     menghadapi hari kematian dan hari akhirat sebagai tempat yang lebih baik yang disediakan oleh Allah ;
2)      Agar umat islam tidak terpedaya kemewahan hidup dunia yang penuh kepalsuan sehingga membuat mereka lupa kepada Allah ;
3)      Agar umat  islam mau mengambil ikhtibar pelajaran dari masa lalu, mengambil yang baik dan menjauhkan yang buruk ;
4)      Sebagai khalifah ia akan melaksanakan perintah Al-Qur’an dan sunnah Rasul. Umat islam boleh mengkritikinya bila ia menyimpang oleh ketentuan hukum.
Untuk pelaksanaan administrasi pemerintahan di daerah, khalifah Usman pada masanya, wilayah kekuasaan Negara dibagi menjadi sepuluh provinsi:
Nafi’ bin Al-Haris Al Khuza’i, Amir wilayah Makkah
Sufyan bin Abdullah Ats Tsaqafi, Amir wilayah Thaif
Ya’la bin Munabbah Halif  Bani Naufal bin Abd Manaf, Amir wilayah Shan’a
Abdullah bin Abi Rabiah, Amir wilayah Al Janad
Usman bin Abi Al Ash, Amir wilayah Al Janad
Al Mughiroh bin Syu’bah Ats Tsaqafi, Amir wilayah Kuffah
Abu Musa Abdullah bin Qais Al Asy’ari, Amir wilayah Bashrah
Muawiyah bin Abi Shofyan, Amir wilayah Damaskus
Umar bin Sa’ad, Amir wilayah Hims
Amr bin Ash As Sahami, Amir wilayah Mesir[7]
1.      Sistem politik dan pemerintahan khulafaurrosidin
Abu Bakar As-Shiddiq 11-3 H/ 632-634 M
Abu Bakar memangku jabatan khalifah berdasarkan pilihan yang berlangsung sangat demokratis di muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah, memenuhi tata cara perundingan yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekankan pada persyaratan jasa (merit), mereka mengajukan calon Sa’ad Ibn Ubadah. Kaum muhajirin menekankan pada persyaratan kesetiaan, mereka mengajukan Abu Ubaidah Ibn Jarrah.2 Sementara itu Ahlul bait menginginkan agar Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah atas dasar kedudukannya dalam islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Hampir saja perpecahan terjadi. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya Abu Bakar disetujui oleh jama’ah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah.
Sebagai kahlifah pertama, Abu Bakar dihadapkan pada keadaan masyarakat sepeninggal Muhammad SAW. Meski terjadi perbedaan pendapat tentang tindakan yang akan dilakukan dalam menghadapi kesulitan yang memuncak tersebut, kelihatan kebesaran jiwa dan ketabahan batinnya. Seraya bersumpah dengan tegas ia menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran (orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat dan mengaku diri sebagai nabi).
Kekuasaan yang dijalankan pada massa khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasululllah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum,. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabatnya bermusyawarah.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengririm kekuatan ke luar Arabia. Khalid Ibn Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hiyah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi dibawah pimpinan empat jendral yaitu Abu Ubaidah, Amr Ibn ’Ash, Yazid Ibn Abi Sufyan, dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun.
Umar Ibn Al-Khaththab 13-23 H/634-644 M
Umar Ibn Al-Khaththab diangkat dan dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetujui oleh jama’ah kaum muslimin. Pada saat menderita sakit menjelang ajal tiba, Abu Bakar melihat situasi negara masih labil dan pasukan yang sedang bertempur di medan perang tidak boleh terpecah belah akibat perbedaan keinginan tentang siapa yang akan menjadi calon penggantinya, ia memilih Umar Ibn Al-Khaththab. Pilihannya ini sudah dimintakan pendapat dan persetujuan para pemuka masyarakat pada saat mereka menengok dirinya sewaktu sakit.
Pada masa kepemimpinan Umar Ibn Al-Khaththab, wilayah islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Karena perluasan daerah terjadi dengan begitu cepat, Umar Ibn Al-Khaththab segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi pemerintahan, dengan diatur menjadi delapan wialayah propinsi : Mekah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga Yudikatif dengan Eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Jawatan kepolisian dibentuk. Demikian juga jawatan pekerjaan umum, Umar Ibn Al-Khaththab juga mendirikan Bait al-Mall. Dalam menyelesaikan permasalahan yang berkembang dimayarakat Umar selalu berkomunikasi dengan orang-orang yang memang dianggap mampu dibidangnya.3
Ustman Ibn Affan 23-35 H/644-656 M
Ustman Ibn Affan dipilih dan diangkat dari enam orang calon yang diangkat oleh khalifah Umar saat menjelang wafatnya karena pembunuhan. Keenam orang tersebut adalah: Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abu Waqqash, Abd al-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, serta Abdullah bin Umar, putranya, tetapi ”tanpa hak suara”.4 Umar menempuh cara sendiri yang berbeda dengan cara Abu Abakar. Ia menunjukkan enam orang calon pengganti yang menurutnya dan pengamatan mayoritas kaum muslimin memang pantas menduduki jabatan Khalifah. Oleh sejarawan islam mereka disebut Ahl al-Hall a al’aqd pertama dalam islam., merekalah yang bermusyawarah untuk menentukan siapa yang menjadi khalifah. Dalam pemilihan lewat perwakilan tersebut Ustman Ibn Affan mendapatkan suaran lebih banyak, yaitu 3 suara untuk Ali dan 4 suara untuk Ustman Ibn Affan.
Pemerintah khalifah Ustman Ibn Affan mengalami masa kemakmuran dan berhasil dalam beberapa tahun pertama pemerintahannya. Ia melanjutkan kebijakan-kebijakan Khalifah Umar. Pada separuh terakhir masa pemerintahannya, muncul kekecewaaan dan ketidakpuasaan dikalangan masyarakat karena ia mulai mengambil kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Ustman Ibn Affan mengangkat keluarganya (Bani Ummayyah) pada kedudukan yang tinggi. Ia mengadakan penyempurnaan pembagian kekuasaan pemerintahan, Ustman Ibn Affan menekankan sistem kekuasaan pusat yang mengusaai seluruh pendapatan propinsi dan menetapkan seorang juru hitung dari keluarganya sendiri.
Ali Ibn Abi Thalib 35-40 H/656-661 M
Ali Ibn Abi Thalib tampil memegang pucuk kepemimpinan negara di tengah-tengah kericuhan dan huru-hara perpecahan akibat terbunuhnya Usman oleh kaum pemberontak. Ali Ibn Abi Thalib dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin di madinah dalam suasana sangat kacau, dengan pertimbangan jika khalifah tidak segera dipilih dan di angkat, maka ditakutkan keadaan semakin kacau. Ali Ibn Abi Thalib di angkat dengan dibaiat oleh masyarakat.
Dalam masa pemerintahannya, Ali Ibn Abi Thalib mengahadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Ibn Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh Usman dan mereka menuntut bela’ terhadap daerah Usman yang telah ditumpahkan secara dhalim. Perang ini dikenal dengan nama perang jamal.5
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Ibn Abi Thalib juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah. Yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaannya. Pertempuran yang terjadi dikenal dengan perang shiffin, perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelsaikan maslah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga Al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).6

DAFTAR PUSTAKA
Al-Jabiri, Mohamed Abed. 2004. Problem peradaban: penelusuran atas jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur. Yogyakarta: Belukar.
Engineer, Asghar Ali. Devolusi Negara Islam. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Maryam, Siti dkk (Ed.). 2004.Sejarah Peradaban Islam dari masa klasik hingga masa modern. Yogyakarta: LESFI.
Sjadzali, Munawir. 1993. Islam dan Tata Negara ajaran, sejarah dan pemikiran.Jakarta: UI-Press.
Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Footnote
1 Mohamed Abed Al-Jabiri, Problem peradaban: penelusuran atas jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur, Yogyakarta: Belukar, 2004, Hlm. 5
2 Siti Maryam, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam dari masa klasik hingga masa modern, Yogyakarta: LESFI, 2004, Hlm 45
3 Asghar Ali Engineer, Devolusi Negara Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000, Hlm. 77
4 H. Munawir Sjadzali, M.A., Islam dan Tata Negara ajaran, sejarah dan pemikiran,Jakarta: UI-Press, 1993, Hlm. 25
5 Dr. Badri Yatim, M.A. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Jakarta: PT RjaGrafindo Persada, 2006, Hlm. 39-40
 [1] Buku Duruus Tarikh Al Islami. Syeh Muhyiddin Al Khoyyati. Hal 78-79
[2] Buku Asadul Ghobah fi Ma’rifatus Shohabah. ‘Izzuddin ibn Astir Abi Hasan Ali. Hal 578
[3] Buku Najumul Islam. Ahmad bin Salim. Hal 70-71
[4] Buku Sejarah Peradaban Islam. Dedi Supriyadi, M.Ag. Hal 87
[5] Buku Sejarah Peradaban Islam. Dedy Supriyadi, M.Ag. Hal 89
[6] Buku Sejarah Peradaban Islam. Dedi Supriyadi, M.Ag. Hal 90
[7] Buku Tarikh Amamil Islamiah. Syekh Khudhori Baek. Hal 27

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites