Kamis, 25 Juli 2013

TAUHID RUBUBIYAH, TAUHID ULUHIYAH DAN TAUHID UBUDIYAH

BAB I
PENDAHULUAN
 
            Segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusannya. Selamat dan sejahtera semoga melimpah kepadanya, kepada keluarganya, para sahabatnya dan para pengikutnya.
            Sesungguhnya ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, megetahui dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah SWT, tentang asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas semua hamba-Nya. Ilmu tauhid juga merupakan kunci jalan menuju Allah, serta dasar syariat-Nya. Oleh karena itu para Rasul bersepakat untuk mendakwahkannya kepada seluruh manusia. Allah mempersaksikan keesaan pada diri-Nya. Demikian juga para malaikat dan ahli ilmu. Allah berfirman:
                         
“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Imran: 18).
 
 
BAB II
TAUHID RUBUBIYAH, TAUHID ULUHIYAH DAN TAUHID UBUDIYAH
 
Kata tauhid berasal dari kata wahhada yuwahhidu tauhîdan, yang berarti menjadikan-Nya satu. Kata tauhid secara istilah didefenisikan sebagai “mengesakan Allah SWT” Tuhan sembahan dengan segala nama, sifat dan perbuatan-Nya.
Berdasarkan produk sejarah, permasalahan-permasalahan dalam ilmu kalam, dan untuk memudahkan dalam mempelajari dan memahami tentang tauhid, serta secara teoritis tauhid dapat diklarifikasikan dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
 
Pertama: Tauhid Rububiyah
Rububiyah adalah kata yang dinisbatkan kepada salah satu nama Allah SWT, yaitu “Rabb”. Nama ini mempunyai beberapa arti, antara lain: al-Murabbi (pemelihara), al-Nashir (penolong), al-Malik (pemilik), al-Muslih (yang memperbaiki), al-Sayyid (tuan), dan al-Wali (wali). Sedangkan menurut istilah tauhid rububiyah berarti “percaya bahwa hanya Allah-lah satu-satunya pencipta, pemilik, pengendali alam raya yang dengan takdirnya Ia menghidupkan dan mematikan serta mengendalikan alam dengan sunnah-sunnah-Nya.[1]
Allah SWT berfirman:
          
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha suci Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-A’raaf: 54).[2]
 
Tauhid Rububiyah mencakup dimensi-dimensi keimanan berikut ini:
Pertama          : Beriman kepada perbuatan-perbuatan Allah yang bersifat umum. Misalnya menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, menguasai, dan lain-lain.
Kedua              : Beriman kepada takdir Allah.
Ketiga             : Beriman kepada Zat Allah SWT.[3]
Landasan Tauhid Rububiyah adalah dalil-dalil berikut ini:
    
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al-Fatihah: 1).
         
Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (QS. At-Thuur: 35).
Runtut pembuktian akal sehat atas ayat ini adalah bahwa ada tiga asumsi yang mungkin dapat diterima secara logis disini, yaitu:
Asumsi pertama          : Mereka diciptakan dari ketiadaan. Ini secara mutlak jelas tidak mungkin, karena ketiadaan kontra kewujudan.
Asumsi kedua              : Mereka adalah pencipta-pencipta. Ini tentu mustahil karena mengansumsikan kewujudan sesuatu pada saat ketiadaannya.
Asumsi ketiga              : Ada pencipta selain mereka, yaitu Allah SWT. Asumsi inilah yang harus diterapkan.
            Dalil akal sehat (logika) lainnya adalah “at-Tamanu” (pertentangan) yaitu jika diasumsikan ada dua pencipta, maka ada dua kemungkinan:
Pertama          : Derajat mereka sama, jika derajat mereka sama maka ada kemungkinan tindakan salah satu dari keduanya adalah syarat bagi tindakan yang lain. Yakni bila yang satu menginginkan satu benda bergerak, sementara yang lain menginginkan tidak bergerak. Ini tentu mustahil, maka otomatis hal ini gugur.
 Kedua             : Derajat mereka berbeda atau bertingkat, maka yang terkuatlah mengendalikan, hal ini bukti kelemahan dan menyebabkan kerusakan. Asumsi ini jelas salah, alam semesta memiliki keteraturan yang kokoh dan sempurna tanpa cacat, maka benar adanya bahwa Tuhan itu hanya satu yakni Allah SWT.
 
Kedua: Tauhid Uluhiyah
            Kata Uluhiyah diambil dari akar kata Illah yang berarti: Yang disembah dan Yang ditaati. Kata ini digunakan untuk menyebut sembahan yang hak dan yang batil. Untuk sembahan yang hak misalnya dalam firman Allah SWT:
      
“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” (QS. Al-Baqarah: 255).
            Dengan kata lain Tauhid Uluhiyah ialah percaya sepenuhnya, bahwa Allah-lah yang berhak menerima semua peribadatan makhluk, dan hanya Allah sajalah yang sebenarnya dan yang harus disembah.
Allah SWT berfirman:
           
“ Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163).
       
“Sesungguhnya Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia.” (QS. Thaaha: 98).
       
“Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu, dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri". (QS. Al-Ankabut: 46).
          Singkatnya, keyakinan tentang Allah SWT sebagai Tuhan satu-satunya, baik zat-Nya, maupun sifat dan perbuatan-Nya itulah yang disebut Tauhid Uluhiyah. Uluhiyah kata nisbat dari Al-Illah. (اُلُوْلُهِيَّةُ) (الاله – الاله)
          Al-Illah berarti: Tuhan yang wajib ada, yaitu Allah, sedangkan Uluhiyah berarti: Mengakui dan meyakini Allah sebagai satu-satunya Tuhan.
            Satu atau Esa dalam sifatnya berarti:
1.  Satu persatunya sifat Allah itu hanya satu, tidak terdiri dari bagian-bagian. Misalnya sifat Kudrat itu satu dan tidak terbagi-bagi, sifat ilmu satu dan tidak terbagi-bagi. Begitu juga lain-lain sifat. Berbeda dengan sifat manusia, misalnya kekuatan atau kekuasaan yang selal terbagi-bagi, sebab kekuatan dan kekuasaan manusia tidak bisa meliputi segala keadaan, segala suasana dan segala zaman. Ilmu alam, ilmu ukur….dan sebagainya.
2.  Tidak ada yang memiliki sifat Allah. Kekuatan/kemampuan atau kekuasaan atau kudrat manusia tidak sama dengan kekuasaan atau Kudrat Allah. Pokoknya, segala perkiraan yang mempersamakan sifat Allah dengan sifat makhluk-Nya itu tidak benar.
Allah berfirman:
     
“Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” (QS. Al-An’am: 100)
          Kemudian yang dimaksud dengan Satu atau Esa dalam perbuatan-perbuatan ialah bahwa alam semesta ini seluruhnya ciptaan Allah. Tidak ada bagian-bagian alam yang diciptakan oleh selain Allah SWT.[4]
            Oleh karena itu, realisasi yang benar dari Tauhid Uluhiyah hanya bisa terjadi dengan dua dasar:
Pertama          : Memberikan   semua bentuk ibadah hanya kepada Allah SWT semata tanpa adanya sesuatu yang lain.
Kedua              : Hendaklah semua ibadah itu sesuai dengan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya yang disimpulkan dengan kata “Ikhlas dan Mutaba’ah”.
            Dengan begitu, maka Tauhid Uluhiyah merupakan jenis tauhid yang terpenting dan paling mendasar karena dengan Tauhid Uluhiyah kehidupan dijalankan dan syariat ditegakkan. Tauhid Uluhiyah merupakan dasar fitrah dan sejarah manusia, sejak manusia diciptakan Allah menanamkan pada diri manusia yang memungkinkannya menerima dan mencintai kebenaran, memilih Tauhid atas Syirik atau Iman atas Kufur.
Allah berfirman:
                                
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." (QS. Al-A’raf: 172).
 
Ketiga: Tauhid Ubudiyah
            Sebagai konsekuensi dari keyakinan kita, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah SWT (Tauhid Uluhiyah) dan bahwa tidak ada yang mencipta, mengurus dan mengatur alam semesta ini selain Allah SWT (Tauhid Rububiyah), maka kita pun harus meyakini bahwa tidak ada yang berhak mendapat pengabadian (ibadah) dari kita selain Allah SWT. Itulah yang dimaksud dengan Tauhid Ubudiyah. Kata Ubudiyah berasal dari kata kerja “abada” yang berarti mengabdikan diri (ibadah), beribadah kepada Allah menyembah kepada-Nya. Penyembahan di sini bukan bermaksud Allah berhajat disembah hambanya karena Allah tidak ingin disembah akan tetapi penyembahan di sini merupakan ketaatan, kepatuhan ketumbuhan antara hamba dengan Tuhannya,, antara makhluk dengan Khaliknya tidak ubahnya kita atau kepatuhan ketundukannya seorang anak terhadap orang tua. Seorang karyawan kepada pimpinannya, yang semua kewajibannya dikerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab, hanya saja di dalam ketaatan menjalankan kewajiban tidak terdapat unsur benci sedikitpun kepadanya. Dengan selalu memelihara dan menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.
            Maka dengan demikian, baik yang beribadah langsung kehadirat Allah SWT seperti sembahyang dan puasa, maupun ibadah sosial melalui amal kebaikan untuk kesejahteraan masyarakat tempat kita hidup seperti zakat, sedekah, penyantunan fakir miskin dan lain-lain, semua itu untuk keselamatan dan kebahagiaan kita sendiri.
وَاتَّقُوْا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 181).
            Sebaliknya Allah SWT tidak perlu kepada ibadah kita, sebab sebagaimana yang telah difirmankan, bahwa Allah SWT tidak butuh kepada alam semesta ini, sehingga walaupun kita bersikap kufur, sama sekali tidak akan mengurangi keagungan Allah SWT.
Dalam praktek, ibadah itu dilakukan karena mengingat Allah sebagai Penguasa Tunggal dan Maha pencipta, dan juga karena didorong oleh keinginan menyatakan syukur itu bukan hanya dengan ucapan syukur atau terima kasih atau yang lazim dengan ucapan alhamdulillah saja, tetapi terutama dengan cara mentaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya atau dengan kata lain harus takwa dan sekaligus menyatakan syukur atas nikmat dan karunia-Nya.
Ibadah yang semata-mata mengingat perintah Allah SWT seperti dalam firman-Nya, antara lain:
       
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Isra: 23).
        
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyat: 56).
           
“Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus.” (QS. Az-Zukhruf: 64).
            Ketiga macam tauhid itu satu sama lain saling berkaitan. Artinya, sahnya Tauhid Uluhiyah tergantung kepada ada dan sahnya Tauhid Rububiyah dan Ubudiyah. Tauhid Rububiyah sah kalau disertai Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Ubudiyah.
            Ketiga-tiganya tidak bisa dipisah-pisahkan, baik dalam teori (ilmu) maupun dalam praktek (amal) harus secara terpadu dan merupakan tiga serangkai.
 
BAB III
PENUTUP
 
Simpulan
Hukum mempelajari Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Ubuditah adalah wajib ‘ain, karena semua manusia diwajibkan atau diperintahkan untuk mengenal Allah dan mengakui keesaan-Nya. Hubungan antara tiga tauhid ini seperti sebuah segitiga sama sisi, yang sisi-sisinya saling menopang sisi yang lain, tanpa adanya satu sisi tauhid tertentu maka tauhid seseorang belum sempurna.
 Dasar pengklasifikasian tiga tauhid ini adalah karena adanya permasalahn ilmu kalam atau produk sejarah, dan pengklasifikasian ini juga berfungsi untuk mempermudah seseorang dalam memahami tauhid.
Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Ubudiyah memiliki makna yang identik, tetapi sebenarnya berbeda, Tauhid Uluhiyah adalah sebuah pengakuan akan keesaan Allah (Iman dan Islam) sedangkan Tauhid Ubudiyah merupakan konsekuensi dari Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah itu sendiri dalam pengabdian kepada Allah swt melalui praktek dalam keseharian (Iman, Islam dan Ihsan).
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Al-Utsaimin, Muhammad bin Shaleh. 2003. Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Riyadh: Haiatul Iqhatsah Al-Islamiah Al-Alamiah.
Ahmad, Muhammad. 1997. Tauhid Ilmu Kalam. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Zainuddin. 1992. Ilmu Tahid Lengkap. Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.
Al-Buraikan, Muhammad Ibrahim bin Abdullah. 1998. Pengantar Studi Aqidah Islam. Jakarta: Robbani Press.
 

[1] Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, 2003, Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan, Riyadh: Haiatul Iqhatsah Al-Islamiah Al-Alamiah.
[2] Muhammad Ahmad, 1997, Tauhid Ilmu Kalam, Bandung: CV. Pustaka Setia.
[2]
[3] Zainuddin, 1992, Ilmu Tahid Lengkap, Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.
[4] Muhammad Ibrahim bin Abdullah Al-Buraikan, 1998, Pengantar Studi Aqidah Islam, Jakarta: Robbani Press.
[4]

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites