Senin, 20 Mei 2013

Keimanan (Iman, Islam, Ihsan dan Hari Kiamat)



BAB I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang Masalah
Di antara perbendaharaan kata dalam agama ialah iman, islam dan ihsan. Berdasarkan sebuah hadits yang terkenal, ketiga istilah itu memberi umat Islam ide tentang Rukun Iman yang enam, Rukun Islam yang lima dan ajaran tentang penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Hadir dalam hidup. Dalam penglihatan itu terkesan adanya semacam kompartementalisasi antara pengertian masing-masing istilah itu, seolah-olah setiap satu dari ketiga noktah itu dapat dipahami secara tersendiri, dapat bentuk sangkutan tertentu dengan yang lain.
Makalah kami ini membahas tentang keimanan yang mana Iman adalah sebuah pengakuan dalam hati, sikap percaya pada masing-masing rukun iman yang enam. Keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir dan beriman kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

B.       Rumusan Masalah
Untuk membatasi pembahasan dan mempermudah dalam penyajian makalah ini, penulis menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
1.    Bagaimana keimanan dalam agama islam?
2.    Apakah hubungan iman, islam dan ihsan?
3.    Apakah kadar iman berkurang karena maksiat?
4.    Apakah rasa malu sebagian dari iman?

C.       Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui :
1.    Mengetahui bagaimana keimanan dalam agama islam
2.    Mengetahui apakah hubungan iman, islam dan ihsan
3.    Mengetahui apakah kadar iman berkurang karena maksiat
4.    Mengetahui apakah rasa malu sebagian dari iman


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Keimanan dalam Agama Islam
Keimanan sering disalahpahami dengan 'percaya', keimanan dalam Islam diawali dengan usaha-usaha memahami kejadian dan kondisi alam sehingga timbul dari sana pengetahuan akan adanya Yang Mengatur alam semesta ini, dari pengetahuan tersebut kemudian akal akan berusaha memahami esensi dari pengetahuan yang didapatkan. Keimanan dalam ajaran Islam tidak sama dengan dogma atau persangkaan tapi harus melalui ilmu dan pemahaman.
Iman menurut bahasa adalah membenarkan. Adapun menurut istilah Syariát adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikannya dengan anggota badan. Iman adalah keyakinan yang menghunjam dalam hati, kokoh penuh keyakinan tanpa dicampuri keraguan sedikit pun.[1] Sedangkan keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir dan beriman kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.[2]
Implementasi dari sebuah keimanan seseorang adalah ia mampu berakhlak terpuji. Allah sangat menyukai hambanya yang mempunyai akhlak terpuji. Akhlak terpuji dalam islam disebut sebagai akhlak mahmudah. Beberapa contoh akhlak terpuji antara lain adalah bersikap jujur, bertanggung jawab, amanah, baik hati, tawadhu, istiqomah dll. Sebagai umat islam kita mempunyai suri tauladan yang perlu untuk dicontoh atau diikuti yaitu nabi Muhammad SAW. Ia adalah sebaik-baik manusia yang berakhlak sempurna. Ketika Aisyah ditanya bagaimana akhlak Rasul, maka ia menjawab bahwa akhlak Rasul adalah Al-quran. Artinya Rasul merupakan manusia yang menggambarkan akhlak seperti yang tertera di dalam Al-quran
"Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan." (QS. Yunus: 36)
Adapun sikap 'percaya' didapatkan setelah memahami apa yang disampaikan oleh mu'min mubaligh serta visi konsep kehidupan yang dibawakan. Percaya dalam Qur'an selalu dalam konteks sesuatu yang ghaib, atau yang belum terrealisasi, ini artinya sifat orang yang beriman dalam tingkat paling rendah adalah mempercayai perjuangan para pembawa risalah dalam merealisasikan kondisi ideal bagi umat manusia yang dalam Qur'an disebut dengan 'surga', serta meninggalkan kondisi buruk yang diamsalkan dengan 'neraka'. Dalam tingkat selanjutnya orang yang beriman ikut serta dalam misi penegakkan Din Islam. Adapun sebutan orang yang beriman adalah Mu'min.
Tahap-tahap keimanan dalam Islam adalah:
•       Dibenarkan di dalam qalbu (keyakinan mendalam akan Kebenaran yang disampaikan)
•       Diikrarkan dengan lisan (menyebarkan Kebenaran)
•       Diamalkan (merealisasikan iman dengan mengikuti contoh Rasul)

B.       Hubungan Iman, Islam dan Ihsan
Iman, Islam dah ihsan hubungannya sendiri sangat erat. Sebagaimana dalam hadits nabi SAW:
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا إِذَا وَلَدَتْ الْأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الْإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ فِي خَمْسٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا اللَّهُ ثُمَّ تَلَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ } الْآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ جَعَلَ ذَلِك كُلَّهُ مِنْ الْإِيمَانِ
Terjemah:
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Abu Hayyan At Taimi dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah berkata; bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari muncul kepada para sahabat, lalu datang Malaikat Jibril 'Alaihis Salam yang kemudian bertanya: "Apakah iman itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Iman adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, pertemuan dengan-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan kamu beriman kepada hari berbangkit". (Jibril 'Alaihis salam) berkata: "Apakah Islam itu?" Jawab Nabi shallallahu 'alaihi wasallam: "Islam adalah kamu menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan suatu apapun, kamu dirikan shalat, kamu tunaikan zakat yang diwajibkan, dan berpuasa di bulan Ramadlan". (Jibril 'Alaihis salam) berkata: "Apakah ihsan itu?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Kamu menyembah Allah seolah-olah melihat-Nya dan bila kamu tidak melihat-Nya sesungguhnya Dia melihatmu". (Jibril 'Alaihis salam) berkata lagi: "Kapan terjadinya hari kiamat?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya. Tapi aku akan terangkan tanda-tandanya; (yaitu); jika seorang budak telah melahirkan tuannya, jika para penggembala unta yang berkulit hitam berlomba-lomba membangun gedung-gedung selama lima masa, yang tidak diketahui lamanya kecuali oleh Allah". Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membaca: "Sesungguhnya hanya pada Allah pengetahuan tentang hari kiamat" (QS. Luqman: 34). Setelah itu Jibril 'Alaihis salam pergi, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata; "hadapkan dia ke sini." Tetapi para sahabat tidak melihat sesuatupun, maka Nabi bersabda; "Dia adalah Malaikat Jibril datang kepada manusia untuk mengajarkan agama mereka." Abu Abdullah berkata: "Semua hal yang diterangkan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam dijadikan sebagai iman".[3]
Kosa Kata:
telah mengabarkan kepada kami
:
أَخْبَرَنَا
Apakah iman itu?
:
مَا الْإِيمَانُ
kamu beriman
:
أَنْ تُؤْمِنَ
pertemuan dengan-Nya
:
وَبِلِقَائِهِ
hari berbangkit
:
الْبَعْثِ
kamu menyembah Allah
:
أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ
tidak menyekutukan
:
لَا تُشْرِكَ
kamu dirikan
:
تُقِيمَ
kamu tunaikan
:
تُؤَدِّيَ
Kamu menyembah
:
أَنْ تَعْبُدَ
seolah-olah melihat-Nya
:
كَأَنَّكَ تَرَاهُ
Penjelasan:
Hadis di atas mengetengahkan 4 (empat) masalah pokok yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu iman, Islam, ihsan, dan hari kiamat. Pernyataan Nabi saw. di penghujung hadis di atas bahwa “itu adalah Malaikat Jibril datang mengajarkan agama kepada manusia” mengisyaratkan bahwa keempat masalah yang disampaikan oleh malaikat Jibril dalam hadis di atas terangkum dalam istilah ad-din (baca: agama Islam). Hal ini menunjukkan bahwa keberagamaan seseorang baru dikatakan benar jika dibangun di atas pondasi Islam dengan segala kriterianya, disemangati oleh iman, segala aktifitas dijalankan atas dasar ihsan, dan orientasi akhir segala aktifitas adalah ukhrawi.
Atas dasar tersebut di atas, maka seseorang yang hanya menganut Islam sebagai agama belumlah cukup tanpa dibarengi dengan iman. Sebaliknya, iman tidaklah berarti apa-apa jika tidak didasari dengan Islam. Selanjutnya, kebermaknaan Islam dan iman akan mencapai kesempurnaan jika dibarengi dengan ihsan, sebab ihsan mengandung konsep keikhlasan tanpa pamrih dalam ibadah. Keterkaitan antara ketiga konsep di atas (Islam, iman, dan ihsan) dengan hari kiamat karena karena hari kiamat (baca: akhirat) merupakan terminal tujuan dari segala perjalanan manusia tempat menerima ganjaran dari segala aktifitas manusia yang kepastaian kedatangannya menjadi rahasia Allah swt.
Ketiga hal di atas merupakan suatu cerminan dari tingkatan kemuliaan kaum muslim. Bahwa tidaklah seorang manusia mencapai tingkatan Iman sebelum melalui tingkatan Islam sebagai bentuk aksi dari dasar beragama. Begitu juga selanjutnya, Ihsan sebagai perwujudan dari keImanan dan keIslaman yang akan memberi penilaian atas kadar Islam dan Iman seseorang.

C.       Kadar Iman Berkurang Karena Maksiat
Iman bagi seseorang hamba mempunyai kedudukan yang luhur dan tinggi. Dia adalah kewajiban yang paling wajib dan kepentingn yang paling penting. Setiap kebaikan dunia dan akhirat tergantung dalam kebaikan dan keselamatan iman.
Iman itu bisa berkurang karena melakukan maksiat dan lenyap karena selalu menggelimang dalam perbuatan maksiat. Dalam sebuah Hadits disebutkan :
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ ذَكْوَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَالتَّوْبَةُ مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ
Terjemah:
Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al A'masy dari Dzakwan dari Abu Hurairah mengatakan, Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: Tidaklah berzina orang yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah mencuri orang yang mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dan ia dalam keadaan beriman, dan taubat terhampar setelah itu."[4]
Kosa Kata:
Tidaklah berzina
:
لَا يَزْنِي
dalam keadaan beriman
:
وَهُوَ مُؤْمِنٌ
tidaklah mencuri
:
لَا يَسْرِقُ
tidaklah ia meminum
:
لَا يَشْرَبُ
Taubat
:
التَّوْبَةُ
Terhampar
:
مَعْرُوضَةٌ
setelah itu.
:
بَعْدُ
Penjelasan:
Bertambah ataupun berkurangnya keimanan dipengaruhi banyak faktor. Salah satunya adalah lingkungan keimanan itu sendiri. Sudahkah keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat sekitar kita bisa menjadi tempat yang menyemaikan keimanan seluruh keluarga kita?  Iman adalah nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang wajib disyukuri dan dijaga. Iman seseorang bisa bertambah dan berkurang. Hal ini berdasarkan banyak dalil dari Al-Qur’an dan As-sunnah.
Ada beberapa sebab-sebab bertambah dan turunnya sebuah iman. Sebab Bertambahnya Iman:
1.    Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena, semakin seorang mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, serta sifat-sifat-Nya akan semakin bertambah keimanannya.
2.    Melihat ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kauniyah maupun syar’iyah.
3.    Banyak berbuat taat dan kebaikan. Karena amalan termasuk dalam iman, sehingga banyak melakukan amal baik akan memperbanyak/ meningkatkan keimanan.
4.    Meninggalkan maksiat (perbuatan buruk) dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”[5]
Sebab Melemahnya Iman:
1.    Berpaling dari mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya.
2.    Berpaling dari melihat ayat-ayat Allah kauniyah dan syar’iyah, karena hal itu akan menyebabkan kelalaian dan kerasnya hati.
3.    Kurang beramal shalih.
4.    Berbuat maksiat. Semakin banyak maksiat dilakukannya, akan semakin mengurangi keimanannya.[6]
Jadi apabila orang mukmin melakukan perbuatan maksiat maka imannya akan sedikit berkurang karena seorang mukmin tidak akan melakukan maksiat dalam keadaan mukmin. Untuk itu kita harus bisa menghindari dari perbuatan maksiat karena maksiat itu termasuk perbuatan setan yang itu bisa menyesatkan orang-orang yang beriman.


D.      Rasa Malu  Sebagian dari Iman
Hadits Rasa Malu Sebagian dari Iman:
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ وَهُوَ يَعِظُ أَخَاهُ فِي الْحَيَاءِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْهُ فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ
Terjemah:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari bapaknya, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan melewati seorang sahabat Anshar yang saat itu sedang memberi pengarahan saudaranya tentang malu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tinggalkanlah dia, karena sesungguhnya malu adalah bagian dari iman".[7]
Kosa Kata:
berjalan melewati
:
مَرَّ عَلَى
memberi pengarahan
:
يَعِظُ
tentang malu
:
الْحَيَاءِ
Tinggalkanlah dia
:
دَعْهُ
Penjelasan:
Ar-Raghib berkata, malu adalah menahan diri dari perbuatan buruk (maksiat). Sifat tersebut merupakan salah satu ciri khusus manusia yang dapat mencegah dari perbuatan yang memalukan dan membedakannya dari binatang. Sifat tersebut merupakan gabungan dari sifat takut dan iffah (menjaga kesucian).
Imam Nawawi berkata, Malu hakikatnya adalah perangai yang dapat mendorong meninggalkan keburukan dan mencegah teledor dalam menunaikan hak orang lain.
Qadhi Iyadh berkata, Ungkapan malu sebagai kebaikan seluruhnya atau malu tidak membawa kecuali kebaikan agaknya controversial bila diartikan secara umum begitu saja. Karena pemikik sifat malu tampak enggan menghadapi orang yang mengerjakan kemungkaran dengan alas an malu. Malu juga kerap mendorong seseorang melakukan pelanggaran terhadap suatu hak. Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan malu dalam hadits di atas adalah malu yang sesuai dengan syara’ (hukum agama). Sementara malu yang memicu pelanggaran terhadap hak bukanlah malu yang sesuai dengan syara’ melainkan malu karena serupa dengan malu secara syara’ yaitu perangai yang dapat mendorong meninggalkan keburukan.
Ibnu hajar berkata,”bisa jadi makna malu adalah kebaikan yang sangat dominan ada pada diri orang yang memiliki sifat malu, maka hilang lenyaplah kemungkinan dia tergelincir dan kebaikan sebagai buah dan sifat malu pada dirinya yang membawa kebaikan.[8]
Sahabat Ali bin Abu Thalib berkata, “Barang siapa memakai baju malu niscaya masyarakat tidak akan melihat aibnya.”
Malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak yang terpuji yang ada pada diri seseorang lelaki dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikitpun dalam dirinya. Rasa manis seorang wanita salah satunya adalah buah dari adanya sifat malu dalam dirinya.
Ada pula yang berpendapat bahwa malu tersebut adalah menahan diri, karena takut melakukan sesuatu yang dibenci oleh syariat, akal maupun adat kebiasaan. Orang yang melakukan sesuatu yang dibenci oleh syariat, maka ia termasuk orang yang fasik. Jika ia melakukan hal yang dibenci oleh akal, maka ia termasuk dalam kategori orang gila. Sedangkan jika ia melakukan hal yang dibenci oleh adat, maka dia termasuk orang bodoh.[9]
Pada prinsipnya sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Wafii syarah Arbain Nawawi, rasa malu dalam diri manusia bisa dibagi dari pertumbuhannya kepada dua: pertama, rasa malu yang ada secara fitrah. Rasa ini timbul secara otomatis dalam diri manusia. Malu untuk melakukan keburukan sebenarnya adalah fitrah manusia. Karena memang setiap anak manusia itu lahir dalam keadaan fitrah. Namun rasa malu ini akan dipengaruhi dalam proses selanjutnya.
Kedua, rasa malu yang ditimbulkan. Rasa malu ini bisa ditumbuhkembangkan dalam jiwa seseorang. Karena rasa malu merupakan bagian dari akhlak, dan akhlak adalah sesuatu yang bisa diupayakan dalam diri manusia.
Ada satu langkah yang utama dan pertama untuk menumbuhkan rasa malu yang terpuji, yaitu mengenal Allah swt, untuk selanjutnya akan menumbuhkan rasa pengawasan-Nya. Mengenal Allah swt kita bisa membaca dan merenungi Al-Qur’an untuk mengenal Allah swt.
Seorang muslim harus berhias dengan perilaku malu yang utama tersebut sebab malu adalah kategori agama seluruhnya. Etika itu termasuk cabang keimanan dan termasuk bagian dari Etika Islam. Setiap agama memilki etiaka dan sesungguhnya etiaka Islam adalah malu.
Sifat malu termasuk kunci segala kebaikan, bila sifat malunya kuat, maka kebaikan menjadi dominan dan keburukan menjadi melemah. Bila sifat malunya lemah, maka kebaikan melemah dan perilaku buruk dominan, Karena malu adalah penghalang antara seseorang dengan hal-hal yang dilarang.[10]
Oleh karena itu, kewajiban setiap Muslim adalah menjaga diri dan keimanannya agar selamat dari ancaman azab dunia sebelum akhirat. Ada dua hal yang harus dilakukan, sebagaimana yang dinyatakan Syaikh as-Sa’di rahimahullâh :
1.         Pertama, merealisasikan keimanan dan menyempurnakan seluruh cabangnya dengan mempelajari dan mengamalkannya.
2.         Kedua, memelihara iman dari unsur-unsur yang merusak dan mengurangi kesempurnaannya, dan segera mengobati kelemahan iman yang terjadi dengan taubat.
Inilah tugas seorang Mukmin terhadap keimanan di hatinya, yaitu, menjaga dan memperbaharuinya agar senantiasa kuat dan selalu menyala-nyala.
BAB III
PENUTUP

Simpulan
Iman menurut bahasa adalah membenarkan. Adapun menurut istilah Syariát adalah meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikannya dengan anggota badan. Iman adalah keyakinan yang menghunjam dalam hati, kokoh penuh keyakinan tanpa dicampuri keraguan sedikit pun. Sedangkan keimanan dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya, hari akhir dan beriman kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Seseorang yang hanya menganut Islam sebagai agama belumlah cukup tanpa dibarengi dengan iman. Sebaliknya, iman tidaklah berarti apa-apa jika tidak didasari dengan Islam. Selanjutnya, kebermaknaan Islam dan iman akan mencapai kesempurnaan jika dibarengi dengan ihsan, sebab ihsan mengandung konsep keikhlasan tanpa pamrih dalam ibadah. Keterkaitan antara ketiga konsep di atas (Islam, iman, dan ihsan) dengan hari kiamat karena karena hari kiamat (baca: akhirat) merupakan terminal tujuan dari segala perjalanan manusia tempat menerima ganjaran dari segala aktifitas manusia yang kepastaian kedatangannya menjadi rahasia Allah swt.
Ada beberapa sebab-sebab bertambah dan turunnya sebuah iman. Sebab Bertambahnya Iman: Mengenal Allah swt dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya; melihat ayat-ayat Allah swt yang kauniyah maupun syar’iyah; banyak berbuat taat dan kebaikan. Meninggalkan maksiat (perbuatan buruk) dengan niat taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Sebab melemahnya iman: berpaling dari mengenal Allah swt, nama-nama, dan sifat-sifat-Nya; berpaling dari melihat ayat-ayat Allah kauniyah dan syar’iyah; kurang beramal shalih; dan berbuat maksiat.
Sifat malu termasuk kunci segala kebaikan, bila sifat malunya kuat, maka kebaikan menjadi dominan dan keburukan menjadi melemah. Bila sifat malunya lemah, maka kebaikan melemah dan perilaku buruk dominan, Karena malu adalah penghalang antara seseorang dengan hal-hal yang dilarang.


DAFTAR PUSTAKA

Asqanali, Ibnu Hajar Al-, 2002. Fathul Baari Jilid 10, Jakarta: Pustaka Azzam
Bukhari. Shahih Bukhari
Busyra, Zainuddin Ahmad, 2010. Buku Pintar Aqidah Akhlaq dan Qur’an Hadis. Yogyakarta: Azna Books
Haqqi, Ahmad Muadz. 2003. 40 Hadits Akhlaq. Surabaya: As-Sunnah
Jazairi, Abu Bakar Jabir Al-. 2011. Minhajul Muslim. Kertosuro: Penerbit Insan Kamil,
Tuwaijiri, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah At-, 2010. Ensiklopedia Islam Al-Kamil. Jakarta: Darus Sunnah Press
Ustaimin, Muhammad bin Sholeh Al-. 2007. Prinsip-Prinsip Dasar Keimanan. Ebook islamhose.com
Wahab, Muhammad Bin Abdul. 2007. Tiga Landasan Utama. Ebook islamhose.com

[1] Busyra, Zainuddin Ahmad, Buku Pintar Aqidah Akhlaq dan Qur’an Hadis, (Yogyakarta: Azna Books, 2010), h. 33
[2] At-Tuwaijiri, Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah, Ensiklopedia Islam Al-Kamil, (Jakarta: Darus Sunnah Press, 2010), h. 89
[3] Bukhari, Kitab Iman, Bab Pertanyaan malaikat Jibril kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam tentang iman, Islam, Ihsan dan pengetahuan akan hari qiyamat, No. Hadist: 48
[4] Bukhari, Kitab Hukum hudud, Bab Dosa orang yang berzina, No. Hadist: 6312
[5] Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu, Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah
[6] Ibid
[7] Bukhari, Kitab Iman, Bab Malu bagian dari iman, No. Hadist : 23
[8] Ibnu Hajar Al-Asqanali, Fathul Baari Jilid 10, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), hal. 522
[9] Ibid, hal. 130-131
[10] Ahmad Muadz Haqqi, 40 Hadits Akhlaq, (Surabaya: As-Sunnah, 2003), hal. 6

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites