Sabtu, 27 Juli 2013

Pengertian Test

BAB I
PENDAHULUAN
 
Pengajaran yang efektif menghendaki digunakannya alat-alat untuk menentukan apakah suatu hasil belajar yang diinginkan benar-benar tercapai, atau sampai dimanakah hasil belajar yang diinginkan tadi telah tercapai. Kita tidak akan dapat memberikan bimbingan yang baik dalam usaha belajar yang dilakukan oleh murid-murid kalau kita tidak memiliki alat untuk mengetahui kemajuan murid-murid dalam mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditentukan.
Ada dua metode yang dapat digunakan untuk mengetahui kemajuan-kemajuan yang dicapai oleh murid-murid dalam proses belajar yang mereka lakukan, ialah metode test dan metode non test.
Pada makalah ini, kami akan membahas metode test, tentang jenis-jenis tes hasil belajar, beserta pemeriksaan hasil tesnya.
 
 

BAB II
PEMBAHASAN
 
A.      Pengertian Tes
Secara harfiah, kata “tes” berasala dari bahasa Perancis Kuno: testum dengan arti: “piring untuk menyisihkan logam-logam mulia” (maksudnya dengan menggunakan alat berupa piring itu akan dapat diperoleh jenis-jenis logam mulia yang nilainya sangat tinggi) dalam bahasa Inggris ditulis dengan test yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan “tes”, “ujian” atau “percobaan”. Dalam bahasa Arab Imtihân (امتحان).[1]
Adapun dari segi istilah, tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.[2]
Sedangkan dalam dunia evaluasi pendidikan, yang dimaksud dengan tes adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee, nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh testee lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu.
 
B.       Fungsi Tes
Secara umum ada dua macam fungsi yang dimiliki oleh tes, yaitu:
1.        Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik. Dalam hubungan ini tes berfungsi mengukur tingkat perkembangan atau kemajuan yang telah dicapai oleh peserta didik setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu.
2.        Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran, sebab melalui tes tersebut akan dapat diketahui sudah seberapa jauh program pengajaran yang telah ditentukan, telah dapat dicapai.
 
C.       Jenis-Jenis Tes
Tes hasil belajar dapat dibedakan atas beberapa jenis. Dan pembagian jenis-jenis tes ini dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang.
Ditinjau dari bentuk pertanyaan yang diberikan tes hasil belajar yang biasa digunakan oleh guru-guru, untuk menilai hasil tes belajar anak-anak di sekolah dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu: tes obyektif dan tes essay.
1.        Tes Obyektif
Tes obyektif disebut pula “short-answer” tes atau “new-type” tes. Tes obyektif terdiri dari item-item yang dapat dijawab dengan jalan memilih salah satu alternatife yang benar dari sejumlah alternatife yang tersedia, atau dengan mengisi jawaban yang benar dengan beberapa perkataan atau simbol.
Sebagai salah satu jenis tes hasil belajar, tes obyektif dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu: 
a.        Tes obyektif Bentuk Benar-Salah (True - False Test)
b.       Tes obyektif Bentuk Menjodohkan (Matching Test)
c.        Tes obyektif Bentuk Melengkapi (Completion Test)
d.       Tes obyektif Bentuk Isian (Fill in Test)
e.        Tes obyektif Bentuk Pilhan Ganda (Multiple Choice Item Test).[3]
Sedangkan menurut Wetherington pembagian tes obyektif terbagi atas empat tipe tes obyektif, yaitu:
1.        True – False
2.        Multiple Choice
3.        Matching Test
4.        Fill in.[4]
 
a.        Tes Obyektif  Bentuk Benar-Salah (True - False Test)
True – false adalah suatu bentuk tes yang item-itemnya berupa statemen-statemen. Sebagian daripada statemen-statemen itu merupakan statemen yang benar dan sebagian lagi merupakan statemen yang salah. Murid-murid supaya memilih mana statemen yang benar dan mana statemen yang salah. Pada nomor jawaban dari statemen yang benar supaya diisi huruf B (benar) atau Y (ya) atau tanda-tanda lain yang disediakan untuk itu. Pada nomor jawaban yang salah supaya diisi huruf S (salah) atau T (tidak), atau tanda lain yang disediakan untuk itu. Berikut ini kami kemukakan beberapa item tes true – false.[5]
Jadi, tes obyektif itu bentuknya adalah kalimat atau pertanyaan yang mengandung dua kemungkinan jawab: benar atau salah, dan testee diminta menemukan pendapatnya mengenai pernyataan-pernyataan tersebut dengan cara seperti yang ditentukan dalam petunjuk cara mengerjakan. Contoh:
True –False
1.        The telegraph is a device for communication
2.        The world only seems larger
3.        An earth quake is a disaster
4.        Education affects a person’s future
5.        Good job were easy to find in this country
 
Tes obyektif bentuk true – false memiliki berbagai keunggulan, diantara keunggulannya ialah:
1.        Pembuatannya mudah.
2.        Dapat dipergunakan berulang kali.
3.        Dapat mencakup bahan pelajaran yang jelas.
4.        Tidak terlalu banyak memakan lembaran kertas.
5.        Bagi testee, cara mengerjakannya mudah.
6.        Bagi testee, cara mengoreksinya juga mudah.
Adapun kelemahan-kelemahan yang disandang oleh tes obyektif bentuk true – false antara lain adalah:
1.        Tes obyektif bentuk true – false membuka peluang bagi testee untuk berspekulasi dalam memberikan jawaban.
2.        Sifatnya amat terbatas.
3.        Reliabilitasnya rendah.
 
b.       Tes Obyektif  Menjodohkan (Matching Test)
Tes obyektif bentuk matching sering dikenal dengan istilah tes menjodohkan, tes mencari pasangan, tes menyesuaikan, tes mencocokkan, dan tes memperbandingkan.
Contoh:
1. To co operate           a. Not strict, free
2. Liberal                      b. Something that is practical or logical
3. Attitude                    c. To work together with someone
4. Common sense         d. To find out about things
5. To explore                e. To choose or propose
                                    f. Way of behaving
 
Tes obyektif bentuk matching ini memiliki beberapa kebaikan, diantaranya ialah:
1.        Pembuatannya mudah.
2.        Dapat dinilai dengan mudah, cepat dan obyektif.
3.        Apabila tes jenis ini dibuat dengan baik, maka faktor menebak praktis dapat dihilangkan.
4.        Tes jenis ini sangat berguna untuk menilai berbagai hal, misalnya:
●        Antara problem dan penyelesaiannya
●        Antara teori dan penemunya
●        Antara sebab dan akibatnya
●        Antara singkatan dan kata-kata lengkapnya
●        Antara istilah dan definisinya
Adapun segi-segi kelemahan yang dimiliki oleh tes obyektif bentuk matching antara lain ialah:
1.        Lebih banyak mengungkap aspek hafalan atau daya ingat saja.
2.        Karena mudah disusun.
3.        Karena jawaban yang pendek-pendek, maka tes jenis ini kurang baik untuk mengevaluasi pengertian dan kemampuan membuat tafsiran (interprestasi).
4.        Tanpa disengaja atau masuk akal hal-hal yang sebenarnya kurang perlu untuk diujikan.
 
c.        Tes Obyektif  Melengkapi (Completion Test)
Tes ini sering dikenal dengan istilah tes melengkapi atau menyempurnakan. Contoh:
1.        Does your company print its own newspaper? … Yes, we do all our own                 .
2.        Are there many fish in the river? … Yes, I go           there every Saturday.
3.        Do your new boots have buttons? … Yes, they          at the sides.
4.        Do you want to take a rest before you start? … No, thank you.                  I’ve           enough already.
5.        Every nation should be proud of its           flag.
 
Diantara segi-segi kebaikan yang dimiliki oleh tes ini adalah:
1.        Sangat mudah dalam penyusunannya.
2.        Lebih menghemat tempat.
3.        Untuk mengukur berbagai taraf kompetensi dan tidak sekedar mengungkap taraf pengenalan atau hafalan saja.
Adapun kekurangannya adalah:
1.        Untuk mengungkap daya ingat atau aspek hafalan saja.
2.        Kurang relevan untuk diujikan.
3.        Karena pembuatannya mudah, maka testee sering menjadi kurang berhati-hati dalam menyusun kalimat-kalimat soalnya.
 
d.       Tes Obyektif  Bentuk Isian (Fill in Test)
Tes ini biasanya berbentuk cerita atau karangan. Kata-kata penting dalam cerita atau karangan itu beberapa diantaranya dikosongkan (tidak dinyatakan). Sedangkan tugas testee adalah mengisi bagian-bagian yang telah dikosongkan itu. Contoh:
1.        Have you seen my bag? … it is, on the floor.
2.        It is my birthday tomorrow,, and we’re going to have a …
3.        Katie isn’t married. She is still a…
4.        Marry is … a birthday next week
 
Adapun segi-segi kelemahan yang disandang oleh obyektif fill ini adalah:
1.        Cenderung lebih banyak mengungkap aspek pengetahuan atau pengenalan saja.
2.        Banyak memakan waktu.
3.        Terbuka peluang bagi testee untuk bermain tebak terka.
4.        Tes obyektif bentuk fill ini sifatnya kurang komprehensif, sebab hanya dapat mengungkap sebaiannya saja dari bahan yang seharusnya diteskan.
Sedangkan dari segi kebaikannya adalah:
1.        masalah yang diujikan tertuang secara keseluruhan dalam konteksnya.
2.        Berguna untuk mengungkap pengetahuan testee secara bulat atau utuh mengenai suatu hal atau bidang.
3.        Cara penyusunannya mudah.
 
e.        Tes Obyektif  Pilhan Ganda (Multiple Choice Item Test)
Tes obyektif bentuk multiple choice item sering dikenal dengan istilah tes obyektif bentuk pilihan ganda, yaitu salah satu bentuk tes obyektif yang terdiri atas pertanyaan atau pernyataan yang sifatnya belum selesai dan harus memilih salah satu dari beberapa jawaban yang disediakan. Contoh:
1.        Pat       : I guess you are a new student. My name is Patricia, call me Pat.
Julia      : I am Julia …
Pat : Nice to meet you too.
a.        How do you do
b.       How are you
c.        Glad to see you
d.       Nice to meet you
2.        It’s 9.00 P.M. Nancy is going to bed, so she says to the other members of the family “…”
a.        Bye-bye
b.       Goodbye
c.        Good night
d.       See you soon
3.        Susan         : My mother … to London next week.
Erni            : So, you will be alone, won’t you?
a.        Will go
b.       Is going
c.        Go
d.       Went
 
2.        Tes Essay
Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suatu suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relative panjang.
a.        Kebaikan tes essay
Kebaikan-kebaikan dari bentuk tes essay dapat kami uraikan sebagai berikut:
1.        Bentuk tes ini sangat cocok untuk mengukur atau menilai hasil dari suatu proses belajar yang kompleks, yang sukar diukur dengan menggunakan tes obyektif.
2.        Penggunaan tes essay memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menyusun jawaban sesuai dengan jalan pikirannya.
b.       Kelemahan tes essay
Di samping segi-segi kebaikannya bentuk essay mempunyai beberapa segi kelemahan. Antara lain kelemahan tersebut adalah sebagai berikut:
1.        Pemberian skor terhadap jawaban tes essay kurang reliable. Dalam tes essay tidak hanya satu jawaban yang bisa diterima.
2.        Tes essay menghendaki jawaban-jawaban yang relative panjang.
3.        Mengoreksi tes essay memerlukan waktu yang cukup lama, serta menghabiskan energi yang lebih banyak, sebab tiap jawaban harus dibaca satu persatu secara teliti.
c.        Menyusun item-item tes essay
Dalam penyusunan item-item tes essay ada beberapa saran yang dapat kami kemukakan, seperti tersebut ini:
1.        Periksalah terlebih dahulu bagian-bagian mana dari materi pelajaran  yang akan diukur dengan mempergunakan tes essay. Bagian-bagian pelajaran yang akan diukur dengan tes essay hendaknya hanya bagian-bagian pelajaran yang kurang cocok diukur dengan menggunakan tes obyektif, seperti yang disarankan oleh Remmers sebagai berikut: “Use essay question objectives that short-answer forms do not test as well or better (Remmers, 1997, hal. 211).
2.        Item-item tes essay hendaknya dibuat cukup jelas dan definitif sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan pada murid-murid, apa kira-kira yang dimaksudkan oleh guru dengan pertaanyaan tersebut. Item seperti: “Jelaskan tentang PBB”. Merupakan item yang kurang baik karena item tersebut masih kabur karena terlalu luas. Jawaban murid-murid terhadap pertanyaan yang demikian akan sangat berbeda-beda sekali antara anak yang satu dengan anak yang lain.
Oleh karena itu item tersebut perlu didefinitifkan dengan menambahkan aspek aspek yang ingin diukur dengan materi tersebut. Misalnya jelaskan tujuan PBB.
3.        Semua anak harus mengerjakan soal yang sama.
 
3.        Cara Memeriksa Tes Obyektif
Untuk memeriksa jawaban-jawaban tes obyektif digunakan kunci jawaban. Kunci jawaban ini ada beberapa macam jenisnya. Beberapa diantaranya adalah seperti yang diuraikan di bawah ini.
a.        Kunci berdamping (strip keys)
Kunci jawaban ini terdiri dari jawaban-jawaban yang benar yang ditulis dalam satu kolom yang lurus dari atas ke bawah. Oleh karena itu kunci jawaban ini digunakan untuk memeriksa jawaban-jawaban yang juga ditulis dalam suatu yang lurus dari atas ke bawah. Cara menggunakannya ialah dengan jalan meletakkan kunci jawaban tersebut berjejer dengan lembar jawaban yang akan diperiksa. Selanjutnya cocokkan jawaban-jawaban tersebut dengan jawaban-jawaban yang terdapat pada kunci jawaban.
Jawaban yang cocok dengan kunci diisi tanda positif (+), jawaban yang tidak cocok diisi tanda negatife (-), sedangkan ruang yang dikosongkan tidak diisi apa-apa. (Lihat pada contoh berikut ini!).
Contoh:
 
 
 
 
 
Lembaran Jawaban
 
No.
1.        B –
2.        B +
3.        S –
4.        S +
5.        S –
6.        B –
dst.
 
No.
1.        c +
2.        e +
3.        a –
4.        b –
5.        d –
6.        e +
dst
 
 
Kunci jawaban
 
No.
1.        S
2.        B
3.        B
4.        S
5.        B
6.        S
dst.
 
No.
1.        c
2.        e
3.        b
4.        d
5.        a
6.        e
dst.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
b.       Kunci sistem karbon (carbon system keys)
Kunci jawaban dengan sistem karbon ini digunakan untuk memeriksa jawaban dari item-item yang mengemukakan alternatif-alternatif. Murid-murid disuruh untuk mengisi tanda silang (X) pada pilihan yang benar dari alternatif yang disediakan. Di bawah lembar jawaban diisi karbon dan kunci jawaban yang diikat (attached) menjadi satu. Kunci jawaban-jawaban telah berisi lingkaran tempat jawaban- jawaban yang benar.
Contoh:
 
 
 
 
 
Lembar jawaban                                      Lembar Jawaban
No
T
F
1
X
 
2
X
 
3
 
X
4
 
X
5
 
X
6
X
 
dst
 
 
 
No
T
F
1
X
 
2
X
 
3
 
X
4
 
X
5
 
X
6
X
 
dst
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
No
a
b
c
d
e
1
 
 
X
 
 
2
 
 
 
 
X
3
X
 
 
 
 
4
 
X
 
 
 
5
 
 
 
X
 
6
 
 
X
 
 
dst
 
 
 
 
 
 

No
a
b
c
d
e
1
 
 
X
 
 
2
 
 
 
 
X
3
X
 
 
 
 
4
 
X
 
 
 
5
 
 
 
X
 
6
 
 
X
 
 
dst
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Contoh       : Pekerjaan Murid     Tembusan pada kunci jawaban
 
c.        Kunci sistem tusukan (pinprick system keys)
Kunci sistem tusukan pada hakekatnya hampir sama dengan sistem karbon. Dalam sistem ini pilihan yang benar dari alternative yang disediakan ditusuk dengan jarum. Tusukan ini akan menembus kunci jawaban yang ada di bawahnya. Apabila pilihan benar, maka lubang yang terjadi pada kunci jawaban akan tepat di tengah lingkaran yang disediakan. Apabila pilihannya salah, maka lubang yang terjadi akan berada di luar lingkaran.
d.       Kunci berjendela (window keys)
Kunci berjendela ini dibuat dari sebuah blangko jawaban yang masih kosong. Pilihan yang benar dalam alternative yang disediakan dilubangi. Cara menggunakannya ialah dengan meletakkan kunci jawaban yang telah berlubang ini di atas lembar jawaban yang diperiksa. Melalui lubang-lubang pada kunci jawaban kita buat garis-garis vertikal. Dalam membuat garis-garis vertikal ini sebaiknya digunakan pensil berwarna. Apabila garis-garis vertikal tersebut tepat pada tanda silang yang dibuat oleh murid berarti jawaban murid bersangkutan benar. Apabila garis-garis vertikal tersebut tidak tepat pada tanda silang yang dibuat oleh murid, berarti jawaban murid bersangkutan salah.
Contoh:
Lembar Jawaban
 
No
T
F
1
 
X
2
X
 
3
 
X
4
 
X
5
X
 
6
X
 
dst
 
 
 
 
Kunci Jawaban
 
No
T
F
1
 
 
2
 
 
3
 
 
4
 
 
5
 
 
6
 
 
dst
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
No
a
b
c
d
e
1
X
 
 
 
 
2
 
 
 
X
 
3
 
 
X
 
 
4
 
 
X
 
 
5
 
 
 
 
X
6
 
 
 
 
X
7
 
X
 
 
 
8
 
 
 
X
 
dst
 
 
 
 
 
 
Lembar jawaban yang telah diperiksa
 
No
a
b
c
d
e
1
 
 
 
 
 
2
 
 
 
 
 
3
 
 
 
 
 
4
 
 
 
 
 
5
 
 
 
 
 
6
 
 
 
 
 
7
 
 
 
 
 
8
 
 
 
 
 
dst
 
 
 
 
 
 
Kunci jawaban di atas lembar jawaban
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
4.        Cara Memberi Skor Obyektif dan Essay
Setelah lembar jawaban murid-murid kita periksa, maka selanjutnya kita hitung berapa jumlah betulnya dan berapa jumlah salahnya. Berdasarkan jumlah betul dan salah ini, dengan menggunakan rumus-rumus skor tertentu, dan dengan memperhitungkan bobot skor untuk tiap-tiap item dapat kita hitung berapa jumlah skor yang diperoleh seorang murid. Rumus skor yang digunakan tergantung kepada tipe tes yang digunakan. Di bawah ini akan kami kemukakan rumus skor untuk tiap-tiap tipe tes.
a.        Rumus skor untuk “true-false”
S    =  (R – W) x Wt
Keterangan:
S    = Skor
R    = Jumlah jawaban yang benar
W  = Jumlah jawaban yang salah
Wt = Weight/bobot
 
b.       Rumus skor untuk “multiple choice”
S    =  (R – W) x Wt
                    o-1
Keterangan:
o    =  Jumlah option (alternative) yang disediakan pada tiap-tiap item.
 
c.        Rumus skor untuk “matching type”
S    =   R – (      W       ) x Wt
                     (St-1)(o-1)
Keterangan:
St   = Jumlah stem pada kolom sebelah kiri
o    = Jumlah option pada kolom sebelah kanan
 
Catatan:
Oleh karena bilangan (      W      )
(St-1)(o-1)
merupakan bilangan yang sangat kecil, sering bilangan tersebut diabaikan saja sehingga rumus matching menjadi:
                  S =  R x Wt
 
d.       Rumus skor untuk “completion type”
S =  R x Wt
 
e.        Memberi Skor Tes Essay
Ada dua metode yang dapat digunakan untuk memberi skor terhadap tes menguraikan, yaitu metode analisa (analytical method) dan metode sorter (sorting method). Metode analisa adalah suatu cara menilai dengan menyiapkan sebuah model jawaban, di mana jawaban tersebut dianalisa menjadi beberapa step atau element dan tiap step atau element disediakan skor tertentu. Setelah satu model jawaban tersusun, jawaban masing anak-anak dibandingkan dengan model jawaban tersebut dan diberikan skor sesuai dengan tingkat kebenarannya.
Baik pemberian skor itu dilakukan secara analisa maupun secara sortir beberapa saran perlu diperhatikan untuk mempertahankan reliabilitas dari tes essay.
1.        Sebelum mulai memberi skor siapkanlah terlebih dahulu sebuah model jawaban. Tentukanlah berapa jumlah skor yang akan diberikan pada tiap-tiap item. Kalau menggunakan metode analisa, tetapkan beberapa skor yang akan diberikan untuk setiap step atau element jawaban yang benar. Kalau menggunakan metode sortir, tentukan berapa skor yang akan diberikan untuk tiap-tiap klasifikasi.
2.        Setiap jawaban hendaknya diperiksa tanpa melihat identitasnya terlebih dahulu. Kalau guru mengetahui identitas jawaban yang diperiksa, maka hal ini dapat mempengaruhi obyektifitasnya.
3.        Periksalah jawaban anak-anak secara item demi item. Misalnya apabila suatu tes essay terdiri dari lima item, maka periksalah item pertama saja dulu untuk semua anak. Setelah item pertama selesai diperiksa untuk semua anak barulah memeriksa item kedua dan selanjutnya.
Dengan cara ini reliabilitas skor dapat terpenuhi.
 
BAB III
PENUTUP
 
Simpulan                                                      
            Tes adalah cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang perlu ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas sehingga dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee, nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai yang dicapai oleh testee lainnya, atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu.
Secara umum ada dua fungsi tes, yaitu:
1.        Sebagai alat pengukur terhadap peserta didik.
2.        Sebagai alat pengukur keberhasilan program pengajaran.
Ditinjau dari bentuk pertanyaan yang diberikan tes hasil belajar yang biasa digunakan oleh guru-guru, untuk menilai hasil tes belajar anak-anak di sekolah dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu:
1.        Tes Obyektif
Tes obyektif disebut pula “short-answer” tes atau “new-type” tes. Tes ini dapat dibedakan menjadi lima golongan, yaitu:
1.        Tes obyektif Bentuk Benar-Salah
2.        Tes obyektif Bentuk Menjodohkan
3.        Tes obyektif Bentuk Melengkapi
4.        Tes obyektif Bentuk Isian
5.        Tes obyektif Bentuk Pilhan Ganda
Cara memeriksa tes objektif ada beberapa macam, yaitu:
e.        Kunci berdamping (strip keys)
f.         Kunci sistem karbon (carbon system keys)
g.       Kunci sistem tusukan (pinprick system keys)
h.       Kunci berjendela (window keys)
 
2.        Tes Essay
            Tes essay adalah suatu bentuk tes yang terdiri dari suatu pertanyaan atau suruhan yang menghendaki jawaban yang berupa uraian-uraian yang relatif panjang.
 
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
●        Nurkancana, Wayan dan P.P.N. Sumartana. Evaluasi Pendidikan. Usaha Nasional: Surabaya, 1986.
●        Sudijono, Anas. Pengantar Evaluasi Pendidikan. PT. Raja Grafindo Persada: Jakarta, 2001.
●        Nurkancana, Wayan dan P.P.N. Sumartana. Evaluasi Hasil Belajar. Usaha Nasional: Surabaya, 1990.

[1] Prof. Dr. Anas Sudijono, PengantarEvaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada) h. 66
[2] Drs. Wayan Nurkanca
[3] Prof. Drs. Anas Sudijono, op.cit., h. 107  
[4] Drs. Wayan Nurkanca, op.cit., h. 38
[5] Ibid., h. 38 

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites