Senin, 04 Februari 2013

ALIRAN PROGRESIVISME


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai hasil dari pemikiran para filosuf, filsafat telah melahirkan berbagai macam pandangan dan aliran yang berbeda-beda.  Pandangan-pandangan filosuf itu ada kalanya saling menguatkan dan ada juga yang saling berlawanan.  Hal ini antara lain disebabkan oleh pendekatan yang mereka pakai juga berbeda-beda walaupun untuk objek dan masalah yang sama.  Karena perbedaan dalam pendekatan itu, maka kesimpulan yang di dapat juga akan berbeda.  Perbedaan pandangan filsafat tersebut juga terjadi dalam pemikiran filsafat pendidikan, sehingga muncul aliran-aliran filsafat pendidikan.
Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seseorang filosuf, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya.
Di dalam makalah ini akan membahas salah satu dari aliran dalam filsafat pendidikan, yaitu aliran progresivisme.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian aliran progresivisme?
2. Bagaimana sifat-sifat aliran progresivisme?
3. Apa dasar filosofis progresivisme?
4. Bagaimana pendidikan progresivisme?

C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian aliran progresivisme
2. Mengetahui bagaimana sifat-sifat aliran progresivisme
3. Mengetahui dasar filosofis progresivisme
4. Mengetahui bagaimana pendidikan progresivisme



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Aliran Progresivisme
Progresivisme menurut bahasa dapat diartikan sebagai aliran yang menginginkan kemajuan-kemajuan secara cepat. Dalam konteks filsafat pendidikan progresivisme adalah suatu aliran yang menekankan, bahwa pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan pengetahuan kepada subjek didik, tetapi hendaklah berisi aktivitas-aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berfikir mereka sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berfikir secara sistematis melalui care-care ihniah seperti memberikan analisis, pertimbangan, dan perbuatan kesimpulan menuju pemilihan alternatif yang paling memungkinkan untuk pemecahan masalah yang dihadapi.
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan disekolah berpusat pada anak (child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).
Aliran progresivisme adalah suatu aliran filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20 ini.  Pengaruh itu terasa di seluruh dunia, terlebih-lebih di Amerika Serikat.  Usaha pembaharuan di dalam lapangan pendidikan pada umumnya terdorong oleh aliran progresivisme ini.
Biasanya aliran progresivisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup liberal “The liberal road to culture”.  Maksudnya adalah pandangan hidup yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: fleksibel (tidak kaku, tidak menolak perubahan, tidak terikat oleh suatu doktrin tertentu), curious (ingin mengetahui, ingin menyelidiki), toleran dan open-minded ( mempunyai hati terbuka).



B. Sifat-Sifat Aliran Progresivisme
Sifat-sifat umum aliran progresivisme dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok :
1.         Sifat-sifat negatif
Sifat itu dikatakan negative dalam arti bahwa, progresivisme menolak otoritarisme dan absolutism dalam segala bentuk, seperti misalnya terdapat dalam agama, politik, etika, dan epistemologi.
2.         Sifat-sifat positif
Positif dalam arti, bahwa progresivisme menaruh kepercayaan terhadap kekuatan alamiah dari manusia, kekuatan-kekuatan yang diwarisi oleh manusia dari alam sejak ia lahir “man’s natural powers”. Terutama yang dimaksud ialah kekuatan-kekuatan manusia untuk terus menerus melawan dan mengatasi kekuatan-kekuatan, takhayul-takhayul dan kegawatan-kegawatan yang timbul dari lingkungan hidup yang selamanya mengancam.
Progresivisme yakin bahwa manusia mempunyai kesanggupan-kesanggupan untuk mengendalikan hubungannya dengan alam, sanggup meresapi rahasia-rahasia alam, sanggup menguasai alam. Namur disamping keyakinan-keyakinan tersebut ada juga kesangsian dimana apakah manusia itu sendiri mampu belajar bagaimana mempergunakan kesanggupan itu, tetapi meskipun demikian progresivisme tetap bersikap optimis, tetap percaya bahwa manusia dapat menguasai seluruh lingkungannya, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial.

C. Sejarah Perkembangan Aliran Progresivisme
Secara historis, progresivisme ini telah muncul pada abad ke-19, namun perkembangannya secara pesat bare terlihat pada awal abad ke-20, terutama di negara Amerika Serikat.
Dalam kesejarahannya, progersivisme muncul dari tokoh-tokoh filsafat pragmatisme seperti Charles S. Pierce, William James dan John Dewey dan eksprimentalisme, seperti Prancis Bacon. Tokoh lain yang memicu lahimya aliran ini adalah John Locke dengan ajaran tentang teori kebebasan politiknya dan J.J Rousseau dengan keyakinannya bahwa kebaikan berada dalam dirt manusia dan telah dibawanya sejak lahir dan ialah yang mesti mempertahankan kebaikan itu agar selalu ada dalam dirinya. Tuhan menganugerahkan manusia freedom sebagai suatu kapasitas yang akan menggerakkan manusia untuk memilih dan menetapkan mana perbuatan yang baik dan bajik dan mana yang tidak baik dan tidak bajik untuk dirinya.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dimulai sejak zaman renaisance juga turut ambit bagian dalam membentuk pola pikir manusianya. Munculnya aliran progresivisme ini pun merupakan salah satu jawaban atas berbagai persoalan yang berkenaan dengan problem pendidikan sebagai upaya menjadikan manusia sebagai manusia sejatinya.
Dalam ruang politik, gerakan-gerakan progresivisme ini di antaranya dipelopori dua tokoh, yaitu Robert La Follete dan Woodrow Wilson yang sepanjang waktu keduanya terus melakukan upaya-upaya pleasure pada kekuasaan-kekuasaan politik yang dipandang kontraproduktif dengan kepentingan-kepentingan masyarakat umum.  Sementara, di sisi yang lain, gerakan ini berupaya pula menghilangkan monopoli-monopoli ekonomi, termasuk berbagai pengupayaan pada hunian-hunian masyarakat pinggiran.  Dari itulah awal mula istilah lahirnya progresivisme.  Dalam perkembangannya, istilah ini kemudian digunakan pula dalam ruang pendidikan untuk menyebut aliran pendidikan yang mencoba mengkritisi pendidikan tradisional.
Progresivisme lahir sebagai pembaharuan dalam dunia (filsafat) pendidikan, terutama sebagai lawan terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan konvensional yang diwarisi dari abad kesembilan belas.
Pengaruh intelektual utama yang melandasi pendidikan progresif adalah John Dewey, Sigmund Freud, dan Jean Jacques Rousseau.  Dewey menjadikan sumbangan pemikirannya sebagai seorang fisuf aliran pragmatik yang menuliskan banyak hal tentang landasan-landasan filosofis pendidikan dan berupaya menguji keabsahan gagasan-gagasannya dalam laboratorium sekolahnya di Universitas Chicago.  Pengaruh kedua adalah teori psikoanalisis Freud.  Teori Freudian menyokong banyak kalangan progresif dalam mencuatkan suatu kebebasan yang lebih bagi ekspresi diri di antara anak-anak dan suatu lingkungan pembelajaran yang lebih terbuka di mana anak-anak dapat melepaskan energi dorongan-dorongan instingtif mereka dalam cara-cara yang kreatif.  Pengaruh ketiga adalah karya Emile (1762) Rousseau.  Karya ini secara khusus menarik hati kalangan progresif yang menentang terhadap adanya campur tangan orang-orang dewasa dalam menetapkan tujuan-tujuan pembelajaran atau kurikulum subjek didik.

D. Dasar Filosofis Progresivisme
Progresivisme beranggapan bahwa kemajuan -kemajuan yang telah dicapai oleh manusia tidak lain adalah karena kemampuan manusia dalam mengembangkan berbagai ilmu pengetahuan berdasarkan tata logic dan sistematisasi berfikir ilmiah. Oleh karena itu, tugas pendidikan adalah melatih kemampuan-kemampuan subjek didiknya dalam memecahkan masalah kehidupan yang mengarah pada pengembangan ilmu pengetahuan yang berguna bagi kehidupannya dalam masyarakat.
Ilmu pengetahuan diperoleh manusia dari proses interaksinya dengan berbagai realita, baik melalui pengalaman langsung ataupun tidak langsung. sebagai pragmatisme, aliran ini memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang bermanfaat, karena pengetahuan itu adalah saran bagi kemajuan manusia.
Dengan demikian, ilmu pengetahuan disini sangat dinamis dan berubah sesuai dengan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Ilmu pengetahuan adalah bukti nyata suatu kemajuan manusia dalam menjalani kehidupan. Semakin banyak ilmu pengetahuan dan teknologi yang dihasilkan oleh manusia maka semakin maju pulalah suatu masyarakat.
Aliran ini memandang, bahwa yang rill adalah segala sesuatu yang dapat dialami dan dipraktekkan dalam kehidupan nyata. Manusia adalah makhluk fisik yang berevolusi secara biologic, social dan psikologis dan karena itu manusia terus menerus akan berkembang ke arah yang lebih baik dan pengembangan, karena memang ia adalah organisms yang aktif, yang secara terus menerus merekonstruksi, menginterpretasi dan mereorganisasikan kembali berbagai pengalamannya, sehingga manusia akan selalu menemukan pengetahuan untuk, kemajuan dirinya tanpa henti. Jadi, manusia sesuatu yang hakikatnya ini akan selalu menunjuk ke arah kemajuan. Esensi kemanusiaan adalah semangat untuk mengadakan perubahan-perubahan menuju kemajuan-kemajuan. Dan oleh karena itu, lembaga pendidikan mestilah berfungsi sebagai wahana penumbuhkembangan days kreafivitas subjek didiknya agar memiliki kemampuan dalam mengatasi berbagai problem diri dan masyarakatnya, sehingga memiliki semangat mengadakan pembaharuan-pembaharuan yang berguna bagi pengembangan diri dan masyarakatnya progresivisme berpendapat bahwa akal manusia bersifat aktif dan selalu ingin mencari tabu dan meneliti, sehingga ia tidak mudah menerima begitu saja suatu pandangan atau pendapat sebelum ia benar-benar membuktikan kebenarannya secara empiris.
Untuk merealisasikan harapan tersebut, mendasarkan diri pada prinsip-prinsip dasar progresivisme oleh George F. Kneller, dapat dirincikan menjadi enam yaitu:
1. Pendidikan harus lebih "aktif' dan berkaitan dengan minat anak Progresivisme menekankan perlunya memusatkan pendidikan pada anak sebagaimana adanya. Anak sebagai suatu keutuhan pribadi mempunyai dunianya sendiri yang mesti dihormati dan dijadikan pangkal tolak untuk kegiatan pendidikan. Sekolah mesti berpusat pada anak sehingga proses belajar dan bahan atau mated belajar tidak hanya ditemukan oleh guru melainkan didasarkan pada minat dan kebutuhan anak sendiri.
2. Belajar melalui pemecahan masalah mesti menggantikan cars belajar yang menekankan penerimaan beban jadi. Bagi progresivisme pengetahuan merupakan alat untuk menangani situasi yang terus menerus dimunculkan oleh gerak perubahan hidup. Bermakna, maka kits mesti dapat berbuat sesuatu dengan pengetahuan tersebut.
3. Pendidikan mesti merupakan beban hidup sendiri dan bukan hanya suatu persiapan untuk hidup. Semua hidup yang dinalar merupakan suatu kegiatan belajar karena hal itu melibatkan penafsiran dan penataan kembali pengalaman.
4. Peranan guru lebih sebagai pendamping dan penasehat daripada sebagai penentu pokok Minas dan kebutuhan anak didiklah yang mesti menjadi pokok tentang apa yang semestinya mereka pelajari. Anak-anak mesti dibimbing untuk merencanakan kegiatan belajar mereka. Guru menyediakan fasilitas dengan memberikan pengetahuan dan pengalamannya yang lebih luas untuk mereka gunakan, dan apabila mengalami kemacetan guru perlu menolong.
5. Sekolah mesti mendorong adanya kerjasama di antara murid-murid dan bukan persaingan. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk sosial dan mendapatkan kepuasannya terbesar dari hubungan-hubungan mereka satu sama lain.
6. Demokrasi memungkinkan dan mendorong adanya pencaturan bebas gagasan dan pencaturan macam-macam pribadi yang merupakan syarat penting untuk pertumbuhan. Bagi kaum progresif kerjasama dan demokrasi merupakan pengalaman yang dijalani bersama, seperti dinyatakan oleh Dewey: "suatu demokrasi itu lebih daripada sekedar suatu bentuk pemerintahan. Demokrasi pertama-tama merupakan suatu bentuk kehidupan bersama; suatu pengalaman komunikatif yang digabungkan.”

E. Pendidikan Progresivisme
1. Tujuan Pendidikan
Filsafat progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang mempunyai kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.
2. Asas Belajar
Asas progresivisme dalam belajar bertitik tolak dari asumsi bahwa anak didik bukan manusia kecil, tetapi manusia seutuhnya yang mempunyai potensi untuk berkembang, setiap anak didik berbeda kemampuannya, individu atau anak didik adalah insane yang aktif kreatif dan dinamis dan anak didik punya motivasi untuk memenuhi.
3. Kurikulum
Filsafat progresivisme menghendaki sekolah memiliki kurikulum di mana bersifat pleksibilitas (tidak kaku, tidak menolak  perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu), luas dan terbuka.  Jadi kurikulum itu bisa diubah dan dibentuk sesuai dengan zamannya.  Kurikulum dipusatkan pada pengalaman atau kurikulum eksperimental di dasarkan atas manusia dalam hidupnya selalu berinteraksi di dalam lingkungan yang komplek.
4. Metode Pendidikan
Metode pendidikan yang biasanya dipergunakan oleh aliran progresivisme diantaranya adalah: (1) Metode Pendidikan Aktif, pendidikan progresif lebih berupaya penyediaan lingkungan dan fasilitas yang memungkinkan berlangsungnya proses belajar secara bebas pada setiap anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya; (2) Metode Memonitor Kegiatan Belajar, mengikuti proses kegiatan anak belajar sendiri, sambil memberikan bantuan-bantuan apabila diperlukan yang sifatnya memperlancar berlangsung kegiatan belajar tersebut; (3) Metode Penelitian Ilmiah, pendidikan progresif merintis digunakannya metode penelitian ilmiah yang tertuju pada penyusunan konsep; (4) Pemerintahan Pelajar, pendidikan progresif memperkenalkan pemerintahan pelajar dalam kehidupan sekolah dalam rangka demokratisasi dalam kehidupan sekolah; (5) Kerjasama Sekolah dengan Keluarga, pendidikan progresif mengupayakan adanya kerjasama antara sekolah dengan keluarga dalam rangka menciptakan kesempatan yang seluas-luasnya bagi anak untuk mengekspresikan secara alamiah semua minat dan kegiatan yang diperlukan anak; (6) Sekolah sebagai Laboratorium Pembaharuan Pendidikan, sekolah tidak hanya tempat untuk belajar, tetapi berperan pula sebagai laboratorium dan pengembangan gagasan baru pendidikan.
5. Pelajar
Kaum progresif menganggap subjek-subjek didik adalah aktif, bukan pasif, sekolah adalah sebuah dunia kecil (miniatur) masyarakat besar, aktivitas ruang kelas difokuskan pada pemecahan masalah, serta atmosfer di sekolah diarahkan pada situasi yang kooperatif dan demokratis.
Hal yang harus diperhatikan guru adalah “anak didik bukan manusia dewasa yang kecil” yang dapat diperlakukan sebagaimana layaknya orang dewasa.  Pertolongan pendidikan dilaksanakan selangkah demi selangkah (step by step) sesuai dengan tingkat dan perkembangan psikologis anak.
6. Pengajar
Guru dalam melakukan tugasnya mempunyai peranan sebagai penasihat, pembimbing, dan pemandu.  Peran guru dapat dilihat sebagai peran membantu subjek didik belajar bagaimana belajar mandiri sehingga ia akan menjadi sosok orang dewasa yang mandiri dalam lingkungan yang berubah.
Para pendidik aliran ini sangat menentang praktik sekolah tradisional, khususnya dalam lima hal: (1) guru yang otoriter, (2) terlampau mengandalkan metode berbasis buku teks, (3) pembelajaran pasif dengan mengingat fakta, (4) filsafat empat tembok, yakni terisolasinya pendidikan dari kehidupan nyata, dan (5) penggunaan rasa takut atau hukuman badan sebagai alat untuk menanamkan disiplin pada siswa.





BAB III
PENUTUP

Simpulan
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan disekolah berpusat pada anak (child centered), sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang berpusat pada guru (teacher-centered) atau bahan pelajaran (subject-centered).  Progresivisme bermaksud menjadikan anak didik yang mempunyai kualitas dan terus maju (progress) sebagai generasi yang akan menjawab tantangan zaman peradaban baru.
Aliran progresivisme adalah suatu aliran filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh dalam abad ke 20.  Progresivisme lahir sebagai pembaharuan dalam dunia (filsafat) pendidikan, terutama sebagai lawan terhadap kebijaksanaan-kebijaksanaan konvensional yang diwarisi dari abad kesembilan belas.  Tokoh-tokoh progresivisme diantaranya adalah John Dewey, Sigmund Freud, dan Jean Jacques Rousseau.
Progresivisme menghendaki sekolah memiliki kurikulum di mana bersifat fleksibilitas (tidak kaku, tidak menolak  perubahan, tidak terikat oleh doktrin tertentu), luas dan terbuka.  Metode pendidikan yang biasa mereka pergunakan diantaranya adalah metode pendidikan aktif, metode memonitor kegiatan belajar, metode penelitian ilmiah, pemerintahan pelajar, kerjasama sekolah dengan keluarga, sekolah sebagai laboratorium pembaharuan.  Mereka menganut prinsip pendidikan berpusat pada anak (child-centered).  Guru dalam melakukan tugasnya mempunyai peranan sebagai penasihat, pembimbing, dan pemandu.




DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Chaedar. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset. 2010
As Said, Muhammad. Filsafat Pendidikan Islam. Barabai: Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Washliyah. 2009
Gandhi HW, Teguh Wangsa. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media. 2011
http://kangwansetiawan.blogspot.com/2011/07/aliran-pragmatisme-dan-progresivisme.html
Jalaluddin dan Abdullah Idi. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Gaya Media Pratama. 1997
Knight, George R. Filsafat Pendidikan, Yogyakarta: Gama Media, 2007
Muhmidayeli. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Pekanbaru: LSFK2P Zuhairini.  Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. 2008
Thoib, Ismail. 2008. Wacana Baru Pendidikan Meretas Filsafat Pendidikan Islam.  Jakarta: Genta Press

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites